Suamiku meninggal dunia secara tiba-tiba. Tiga hari kemudian, tanpa sengaja aku mencium bau busuk yang berasal dari kulkas. Saat kubuka pintunya, tubuhku hampir roboh karena apa yang kulihat di dalamnya… karena ternyata yang ada di sana adalah suamiku sendiri…

Pintu kulkas dua pintu itu terbuka perlahan, mengeluarkan derit engsel yang terdengar begitu nyaring di tengah keheningan dapur yang mencekam. Udara dingin bercampur aroma busuk yang pekat langsung menerpa wajahku, membuat perutku mual seketika. Namun, bukan bau menyengat itu yang membuat darahku mendadak berhenti mengalir, melainkan sosok yang tertekuk kaku di dalam ruang sempit pendingin tersebut.

Tubuhku limbung, hampir roboh ke lantai keramik yang dingin. Tanganku berpegangan erat pada tepi meja dapur untuk menjaga keseimbangan, sementara mataku menatap nanar ke arah dalam kulkas. Di sana, di antara rak-rak yang setengah kosong dan beberapa botol minuman, suamiku meringkuk dalam posisi yang tidak wajar. Kulitnya pucat pasi, membiru di beberapa bagian, dan matanya terbelalak menatap kosong ke depan dengan ekspresi ketakutan yang abadi.

Pikiran langsung berputar liar, menghantam kesadaranku dengan gelombang kebingungan yang luar biasa. Bagaimana mungkin? Pria yang kulihat terbujur kaku di dalam peti mati dan telah dimakamkan tiga hari lalu di TPU, kini berada di sini? Di dalam kulkas rumah kami sendiri?

Lamunanku kembali ke hari Sabtu sore yang kelam itu. Suamiku tiba-tiba ambruk di lantai dapur ketika sedang menyiapkan makan malam. Saat itu, aku panik setengah mati. Dalam keadaan histeris, aku memanggil ambulans dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Dokter UGD menyatakan dia telah meninggal dunia akibat pendarahan otak yang masif. Jenazahnya kemudian diurus oleh pihak rumah sakit dan dibawa pulang untuk disemayamkan.

Selama tiga hari berikutnya, rumah kami dipenuhi oleh para pelayat. Peti jenazah berwarna cokelat gelap itu berada di ruang tamu, dikelilingi oleh karangan bunga duka cita. Aku terus duduk di sampingnya, menangis histeris, menggenggam tangannya yang dingin, hingga akhirnya peti itu ditutup dan dimasukkan ke dalam liang lahat. Aku bahkan sempat melihat wajahnya untuk terakhir kalinya sebelum tanah menutupinya.

Lalu, siapa pria yang kumakamkan hari itu?

Pertanyaan itu berputar-putar di kepalaku, menciptakan teror yang jauh lebih menakutkan daripada hantu atau cerita mistis apa pun. Ini adalah kenyataan yang jauh lebih kelam, kenyataan tentang kejahatan manusia yang bersembunyi di balik kedok duka cita.

Aku mundur perlahan, napasku memburu dan air mata kembali tumpah membasahi pipi. Kaki gemetar hebat saat aku berusaha menjauh dari dapur, meraih ponsel di atas meja ruang keluarga dengan tangan yang tidak bisa dikendalikan. Aku harus menelepon polisi, aku harus mencari bantuan. Namun, sebelum jari-jariku sempat menekan nomor darurat, sebuah suara langkah kaki yang familier terdengar dari arah pintu depan.

Kunci berputar di anak kunci, dan pintu utama terbuka.

Jantungku seakan copot dari tempatnya. Di ambang pintu, berdiri ibu mertuaku, wanita paruh baya yang selama tiga hari terakhir ini begitu sabar merawatku dan kedua anakku. Di sebelah kirinya, berdiri adik ipar laki-lakiku yang bungsu dengan tatapan mata yang tampak kosong namun menyiratkan ketegangan luar biasa.

“Ibu…” suaraku tercekat, nyaris tak keluar dari tenggorokan.

Ibu mertuaku menatapku lekat-lekat. Tidak ada lagi raut wajah sedih atau penuh iba seperti yang ia tunjukkan kepada para tetangga di pemakaman. Wajahnya dingin, tanpa ekspresi, seperti topeng porselen yang retak. Ia melangkah masuk perlahan, sementara adik iparku langsung mengunci pintu utama dari dalam dan memasang selarak besi.

“Kau sudah melihatnya, ya?” suara ibu mertuaku terdengar datar, begitu tenang hingga membuat bulu kudukku meremang.

Aku mundur hingga punggungku membentur dinding ruang tamu. “Apa… apa maksud Ibu? Siapa yang ada di dalam kulkas? Dan… lalu siapa yang kita makamkan tiga hari yang lalu?” tanyaku dengan suara bergetar hebat, mencerminkan ketakutan yang teramat sangat.

Ibu mertuaku menarik napas panjang, lalu berjalan mendekati meja dapur, diikuti oleh adik iparku yang kini memegang sebilah pisau dapur bermata lebar di tangan kanannya. Pemandangan itu membuat darahku mendadak dingin. Rasa ngeri yang luar biasa menjalar di setiap jengkal tubuhku.

“Kau tidak pernah benar-benar mengenal anakku, dan kau tentu saja tidak mengenal keluarga kami sepenuhnya,” ujar ibu mertuaku dengan nada dingin yang menusuk tulang. “Suamimu yang sebenarnya, anak kandungku yang sah, telah lama terlibat dalam lingkaran hitam perjudian dan utang piutang yang besar. Seminggu yang lalu, para penagih utang datang ke rumah ini dan menghabisinya di hadapan kami karena dia gagal membayar.”

Dunia seakan runtuh seketika mendengar pengakuan itu. Jadi, cerita tentang pendarahan otak di dapur itu…

“Ya, itu semua kebohongan yang kami karang,” sambung adik iparku dengan suara dingin. “Kami butuh waktu untuk menyelamatkan diri dari kejaran mereka, sekaligus memastikan masa depan kami aman. Suamimu tewas pada malam itu, dan kami menyembunyikan jasadnya di dalam kulkas besar ini sementara kami merencanakan semuanya.”

“Tapi… lalu siapa yang ada di dalam peti mati?” tanyaku histeris, air mata mengalir deras tak terbendung.

Ibu mertuaku tersenyum tipis, sebuah senyuman paling mengerikan yang pernah kulihat seumur hidupku. “Malam sebelum ambulans datang, kami menemukan seorang tunawisma yang tidak memiliki identitas tewas karena overdosis di dekat gang belakang rumah kita. Kami membawanya masuk, mendandaninya dengan pakaian suamimu, merusak wajahnya sedikit agar tidak dikenali, dan memastikan tubuhnya dimasukkan ke dalam peti mati dalam keadaan tertutup rapat selama tiga hari pemakaman.”

Rasa mual kembali menyerangku, kali ini jauh lebih parah hingga aku hampir muntah di tempat. Selama tiga hari ini, aku menangisi orang asing di dalam peti mati, sementara suami kandungku sendiri membusuk di dalam kulkas di rumah yang sama tempat aku tinggal. Dan yang lebih mengerikan, keluarganya sendiri yang merencanakan semua sandiwara keji ini untuk menutupi kematian akibat utang sekaligus mungkin demi mengincar asuransi jiwa suamiku yang nilainya sangat besar.

“Kami tidak punya pilihan,” kata adik iparku sambil melangkah mendekat, pisau di tangannya berkilat memantulkan cahaya lampu dapur. “Kau sudah melihat sesuatu yang seharusnya tidak pernah kau ketahui. Dan rahasia ini terlalu besar untuk dibiarkan hidup.”

Aku menoleh ke arah jendela samping, berniat meneriakkan nama tetangga sekuat tenaga. Namun, sebelum suaraku sempat keluar dari mulut, tangan kuat adik iparku sudah mencekam leherku dari belakang, membekap mulutku rapat-rapat sementara kegelapan mulai merayap menutupi pandanganku. Di detik-detik terakhir kesadaranku sebelum semuanya menjadi hitam, aku menyadari bahwa rumah yang tadinya penuh dengan cinta ini telah berubah menjadi kuburan rahasia, tempat di mana aku dan suamiku sama-sama menemui akhir tragis yang tak pernah kami bayangkan dalam mimpi buruk terburuk sekalipun.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang