Suamiku Menyiapkan Rumah Warisanku untuk Karyawannya, Lalu Satu Dokumen Membuat Mereka Kehilangan Semuanya dalam Semalam

Aku tidak langsung menampar Arman, meskipun pada saat itu seluruh tubuhku gemetar menahan amarah. Aku juga tidak menangis seperti yang mungkin dia harapkan. Aku hanya berdiri di tengah ruang keluarga, memandangi foto suamiku bersama perempuan yang selama ini kuanggap sebagai karyawan biasa.

“Jadi, selama ini kalian merencanakan pernikahan?” tanyaku pelan.

Rani menggigit bibir. Ibunya duduk di sofa dengan wajah pucat, bergantian menatap putrinya dan Arman.

“Bu, ini salah paham,” kata Arman terburu-buru. “Saya dan Nadira sedang ada masalah rumah tangga. Kami belum resmi berpisah.”

“Kalau belum berpisah, kenapa kamu menjanjikan rumah ini kepada anak saya?” tanya ibu Rani.

Arman terdiam.

Aku menatapnya lekat-lekat. Selama sembilan tahun, aku mengenal berbagai ekspresi wajahnya, mulai dari senyum ketika mendapat pelanggan besar hingga tatapan lelah saat usahanya hampir bangkrut. Namun baru kali itu aku melihat ketakutan yang tidak bisa dia sembunyikan.

“Aku ingin mendengar jawabanmu juga, Man. Rumah ini milik siapa?”

“Nadira, kita bicarakan berdua saja.”

“Tidak. Kamu sudah membicarakan masa depan rumahku dengan orang lain. Sekarang jawab di depan mereka.”

Dia menghela napas panjang, lalu berkata dengan suara rendah, “Aku hanya ingin membantu Rani. Hubungan kita sudah lama tidak baik. Aku pikir kamu akan mengerti kalau suatu hari kita berpisah.”

Aku tersenyum getir.

“Hubungan kita tidak baik karena kamu mengkhianatiku, atau kamu mengkhianatiku karena hubungan kita tidak baik?”

Tidak ada jawaban.

Aku berbalik menuju tangga. Lemari jati peninggalan Ibu sudah tidak ada di gudang. Meja jahitnya juga hilang. Bahkan beberapa kotak berisi surat dan foto keluarga telah dipindahkan tanpa seizinku.

Aku menemukan sebuah map cokelat di atas meja kerja Arman. Di dalamnya ada rancangan renovasi, daftar pembelian perabot, dan dokumen yang membuatku berhenti bernapas sejenak.

Dokumen itu berjudul Surat Pernyataan Penyerahan Hak Penggunaan Rumah.

Namaku tercantum sebagai pemilik rumah, tetapi tanda tangan di bagian persetujuan tampak seperti tanda tanganku yang ditiru dengan tergesa-gesa.

Di bawahnya terdapat tanda tangan Arman sebagai saksi dan nama Rani sebagai penerima hak penggunaan rumah selama dua puluh tahun.

Aku membaca tanggalnya dua kali.

Dokumen itu dibuat tiga bulan lalu, ketika aku masih percaya bahwa suamiku sedang bekerja keras membangun masa depan kami.

“Ini apa?” tanyaku.

Arman merebut map itu dari tanganku.

“Dokumen internal. Kamu tidak mengerti urusan bisnis.”

“Kalau begitu, jelaskan kenapa tanda tanganku ada di sini.”

“Itu cuma rancangan.”

“Rancangan yang memakai tanda tangan palsu?”

Rani mulai menangis. Namun yang membuatku terkejut bukan air matanya, melainkan perkataannya berikutnya.

“Aku tidak tahu tanda tangan itu palsu, Mbak. Mas Arman bilang Mbak sudah setuju.”

Aku menatapnya. Untuk pertama kalinya, aku melihat bahwa perempuan itu mungkin bukan satu-satunya orang yang dibohongi.

Namun aku belum siap memaafkannya.

“Kalau kamu tidak tahu, kenapa ibumu sudah tinggal di sini? Kenapa barang-barangku dibuang? Kenapa kamu memakai pakaianku?”

Rani menunduk dan tidak menjawab.

Aku mengambil ponsel, memotret dokumen itu, lalu menyimpannya. Arman mencoba meraih ponselku, tetapi aku mundur.

“Jangan macam-macam, Nadira,” katanya dengan nada mengancam. “Kamu tidak tahu berapa banyak uang yang sudah aku keluarkan untuk rumah ini.”

“Uangmu?”

“Ya. Aku membayar tukang, membeli bahan, mengurus semuanya. Kamu bahkan tidak pernah datang memeriksa pekerjaan.”

Aku menatapnya dengan tenang.

“Karena aku percaya kepada suamiku.”

Kalimat itu membuatnya terdiam lebih lama daripada semua bentakanku.

Malam itu aku pergi tanpa membawa apa pun selain dua kardus berisi pakaian Ibu yang berhasil kuselamatkan. Aku menginap di rumah sahabatku, Maya, dan keesokan paginya menghubungi seorang pengacara bernama Bu Ratih yang pernah membantu Ibu mengurus warisan.

Setelah memeriksa sertifikat dan dokumen yang kukirim, Bu Ratih mengatakan bahwa kepemilikan rumah secara sah masih tercatat atas namaku. Surat pernyataan yang ditemukan di rumah itu tidak otomatis memindahkan hak milik, apalagi jika tanda tanganku dipalsukan.

“Jangan menandatangani apa pun lagi,” pesannya. “Simpan semua bukti. Kita harus memastikan tidak ada dokumen lain yang diajukan tanpa sepengetahuanmu.”

Aku juga meminta Dimas menunda penjualan rumah sampai persoalan itu jelas. Aku tidak ingin bertindak gegabah. Rumah itu menyimpan terlalu banyak kenangan untuk dijadikan alat balas dendam.

Tiga hari kemudian, Arman datang ke rumah Maya.

Dia membawa bunga dan sekotak martabak kesukaanku, seolah-olah kami hanya bertengkar karena perkara sepele.

“Nad, aku salah,” katanya. “Aku memang terlalu dekat dengan Rani. Tapi aku masih sayang kamu.”

Aku tidak menyentuh bunga itu.

“Kalau masih sayang, kenapa kamu menyiapkan rumahku untuknya?”

Arman duduk di kursi, menunduk, lalu mulai bercerita. Usahanya sedang terlilit utang. Beberapa bulan terakhir, dia menggunakan uang perusahaan untuk menutup pinjaman yang terus membesar. Rani mengetahui sebagian masalah itu karena mengurus administrasi toko.

Dia mengaku bahwa hubungan mereka dimulai setahun lalu, ketika aku sibuk merawat Ibu yang sakit. Awalnya hanya percakapan, lalu perjalanan bisnis, kemudian janji-janji tentang kehidupan baru.

Rumah ibuku menjadi bagian dari janji itu.

Arman mengira, setelah renovasi selesai, dia bisa membuatku menerima keadaan atau memaksaku pergi dengan alasan bahwa sebagian besar biaya telah dia keluarkan.

“Aku panik,” katanya. “Aku tidak tahu bagaimana keluar dari semua ini.”

“Jadi kamu memilih mengambil satu-satunya rumah yang Ibu tinggalkan untukku?”

Dia menangis.

Dulu, tangisannya selalu membuatku ingin memeluknya. Kali ini, aku hanya merasa lelah.

“Aku butuh waktu,” jawabku.

Namun sebelum aku sempat mengambil keputusan, sebuah panggilan masuk dari Bu Ratih.

Dia menemukan sesuatu yang lebih serius.

Selain surat pernyataan tersebut, Arman telah menggunakan salinan sertifikat rumah untuk mengajukan pinjaman kepada sebuah perusahaan pembiayaan. Rumah itu dicantumkan sebagai jaminan pendukung dalam berkas pengajuan, disertai dokumen yang menyatakan bahwa pemiliknya menyetujui transaksi tersebut.

Pengajuan itu belum sepenuhnya selesai, tetapi pemeriksaan dokumen sudah berjalan.

Aku segera mendatangi kantor Bu Ratih. Kami mengirimkan pemberitahuan resmi kepada perusahaan pembiayaan bahwa aku tidak pernah menyetujui penggunaan rumah tersebut sebagai jaminan. Kami juga menyiapkan laporan atas dugaan pemalsuan dokumen dan meminta seluruh proses yang berkaitan dengan rumah dihentikan sampai persoalannya diperiksa.

Sementara itu, aku mengirimkan surat resmi kepada Arman agar dia dan siapa pun yang tinggal di rumah itu tidak membuat perubahan atau perjanjian baru atas namaku.

Arman meneleponku berkali-kali.

Awalnya dia memohon.

Kemudian dia marah.

Pada malam yang sama, dia mengirim pesan bahwa aku telah menghancurkan hidupnya.

Aku membaca pesan itu tanpa membalas.

Selama bertahun-tahun, aku mengira menjaga pernikahan berarti menahan diri, memaafkan, dan selalu memberi kesempatan kedua. Baru kali itu aku memahami bahwa kepercayaan tanpa batas bisa berubah menjadi jalan bagi seseorang untuk menghancurkan kita.

Dua minggu kemudian, aku kembali ke rumah Ibu bersama Bu Ratih dan seorang petugas yang mendampingi proses pemeriksaan dokumen. Rani dan ibunya sudah tidak berada di sana. Sebagian barang mereka telah diangkut, sedangkan Arman datang belakangan dengan wajah kusut.

Dia membawa map hitam yang sama seperti yang pernah kulihat di ruang kerjanya.

“Aku sudah menyelesaikan semuanya,” katanya. “Kita tidak perlu melanjutkan masalah ini. Aku akan mengembalikan rumahmu seperti semula.”

Bu Ratih meminta map itu diperiksa sebelum ada pembicaraan lain.

Di dalamnya terdapat surat dari perusahaan pembiayaan yang menyatakan bahwa pengajuan pinjaman Arman ditolak setelah keberatan resmi diajukan. Pemeriksaan internal juga menemukan ketidaksesuaian pada dokumen kepemilikan dan persetujuan yang diserahkan.

Namun ada satu lembar lagi.

Surat pengunduran diri Rani dari perusahaan Arman, disertai pernyataan bahwa dia tidak akan mengklaim hak apa pun atas rumah tersebut.

Aku menatap Arman.

“Jadi, kalian sudah berpisah?”

Dia mengangguk dengan pahit.

“Dia meninggalkanku setelah tahu pinjamannya gagal.”

Aku hampir merasa kasihan kepadanya. Hampir.

Lalu Bu Ratih menemukan sebuah amplop kecil di dasar map.

Di dalamnya ada surat tulisan tangan Ibu yang ditujukan kepadaku. Surat itu rupanya terselip di antara dokumen lama yang dipindahkan dari lemari jati.

Nadira, tulis Ibu, jika suatu hari kamu membaca surat ini karena seseorang membuatmu merasa tidak punya tempat untuk pulang, ingatlah bahwa rumah bukan hanya bangunan. Rumah adalah tempat kamu boleh berkata tidak tanpa takut kehilangan kasih sayang.

Aku menutup mata.

Ibu menulis surat itu beberapa minggu sebelum meninggal. Dia tidak mungkin mengetahui apa yang akan dilakukan Arman. Namun kalimat-kalimatnya terasa seperti tangan yang kembali menggenggam tanganku.

Aku melipat surat itu dengan hati-hati.

Arman berdiri di dekat pintu.

“Nad, apa kita masih bisa memperbaiki pernikahan ini?”

Aku memandang lelaki yang pernah kujanjikan akan kucintai seumur hidup. Aku tidak membencinya. Justru itulah yang membuat keputusanku terasa begitu berat. Masih ada kenangan tentang malam-malam ketika kami makan mi instan di kontrakan, tentang perjuangannya membangun usaha, dan tentang caranya menggenggam tanganku saat aku kehilangan Ibu.

Namun kenangan baik tidak menghapus pengkhianatan.

“Tidak semua yang pernah kita cintai harus kita pertahankan,” kataku.

Aku memulai proses perceraian. Rumah itu tetap menjadi milikku, sementara dugaan pemalsuan dokumen dan penyalahgunaan berkas diserahkan kepada pihak berwenang untuk ditangani sesuai hukum. Arman harus menghadapi akibat dari keputusan yang dibuatnya sendiri, termasuk utang dan persoalan usahanya yang selama ini dia sembunyikan.

Beberapa bulan kemudian, aku memperbaiki rumah itu perlahan-lahan. Aku memasang kembali meja jahit Ibu di dekat jendela dan memesan lemari jati sederhana untuk menggantikan yang hilang. Aku juga mengecat ruang keluarga dengan warna yang dulu dipilih Ibu, krem hangat yang membuat cahaya sore terasa lembut.

Pada hari pertama aku kembali tidur di rumah itu, hujan turun deras. Aku duduk di lantai kamar, memegang surat Ibu sambil mendengarkan suara air di atap.

Ponselku bergetar.

Pesan dari nomor yang tidak kukenal.

Aku Rani. Aku tahu aku tidak pantas meminta maaf. Ada satu hal yang perlu Mbak tahu. Sebelum Ibu Mbak meninggal, beliau pernah datang ke toko untuk mencari Mas Arman. Beliau melihat aku bersamanya. Aku tidak tahu apakah beliau sempat mengatakan sesuatu kepadanya. Tapi beliau meninggalkan sebuah amplop di meja kantor.

Aku segera menelepon Rani, tetapi nomornya tidak aktif.

Keesokan harinya, aku menemui mantan pegawai toko yang kini mengurus gudang. Setelah mendengar ceritaku, dia menyerahkan sebuah kotak arsip yang ditemukan ketika kantor direnovasi.

Di dalamnya ada satu amplop bertuliskan namaku.

Tulisan tangan Ibu.

Aku membukanya dengan tangan gemetar.

Isinya bukan peringatan tentang Arman, bukan pula rahasia tentang perselingkuhan. Hanya salinan dokumen warisan dan catatan singkat bahwa Ibu telah meminta seorang notaris memastikan rumah itu tidak dapat dialihkan tanpa persetujuanku secara sah.

Di halaman terakhir terdapat satu kalimat yang membuatku menangis.

Jika suatu hari seseorang mengaku mencintaimu sambil meminta kamu menyerahkan hak atas dirimu sendiri, jangan buru-buru percaya. Cinta yang baik tidak membutuhkan kamu kehilangan tempat untuk berdiri.

Aku memeluk surat itu lama sekali.

Selama ini, aku mengira Ibu meninggalkan rumah agar aku memiliki tempat untuk berlindung. Ternyata, dia juga meninggalkan sesuatu yang lebih penting: keberanian untuk melindungi diriku sendiri.

Setahun kemudian, rumah itu tidak lagi menjadi simbol pengkhianatan. Aku membuka ruang kecil di bagian depan untuk kelas menjahit gratis bagi perempuan yang ingin belajar keterampilan baru. Meja jahit Ibu kembali digunakan, kali ini oleh tangan-tangan yang datang dengan cerita dan harapan masing-masing.

Di dinding ruang keluarga, aku memasang foto Ibu seorang diri, tersenyum di bawah pohon mangga halaman belakang.

Tidak ada foto pernikahan yang kubakar. Tidak ada barang Arman yang kujadikan sasaran kemarahan. Aku menyimpan semuanya dalam satu kotak dan meletakkannya di gudang, bukan karena aku ingin melupakan, melainkan karena aku tidak ingin masa lalu terus menentukan bagaimana aku menjalani hari esok.

Suatu sore, seorang murid bertanya mengapa aku begitu keras mempertahankan rumah itu.

Aku tersenyum dan menjawab, “Karena dulu aku hampir percaya bahwa menjadi istri yang baik berarti harus selalu mengalah. Sekarang aku tahu, kita boleh mencintai seseorang tanpa menyerahkan seluruh hidup kita kepadanya.”

Dia mengangguk, lalu kembali menjahit.

Di luar, hujan mulai turun. Aku menutup jendela dan menyalakan lampu meja di sudut ruangan.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak merasa sedang tinggal di rumah peninggalan ibuku.

Aku merasa sedang pulang ke rumahku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang