Begitu pintu Rolls-Royce Phantom tertutup, suara di luar seolah menghilang. Aku duduk bersandar sambil mengusap perutku yang membesar. Delapan bulan mengandung, baru hari ini aku benar-benar merasa bebas, meskipun hatiku masih menyimpan luka yang belum sembuh.
Paman Zhong duduk di kursi depan, lalu menyerahkan sebuah tablet kepadaku.
“Nona Wen Su, saya rasa Anda perlu melihat ini sebelum kita tiba di rumah.”
Aku membuka laporan keuangan perusahaan Jiang Chuan. Mataku langsung tertuju pada deretan transaksi bernilai miliaran rupiah yang dilakukan selama empat bulan terakhir. Dana perusahaan dialihkan ke beberapa rekening berbeda, dan salah satu penerima manfaatnya adalah Linda, perempuan yang namanya muncul di ponsel mantan suamiku tadi.

“Berapa jumlahnya?” tanyaku pelan.
“Jika seluruh transaksi yang mencurigakan dijumlahkan, nilainya mencapai hampir tiga puluh miliar rupiah. Kami masih memeriksa aliran dana lainnya.”
Aku terdiam.
Selama tiga tahun menikah, aku selalu percaya bahwa Jiang Chuan adalah lelaki yang bekerja keras membangun bisnisnya sendiri. Ketika perusahaannya hampir bangkrut dua tahun lalu, aku bahkan menggunakan koneksi bisnis keluargaku untuk memperkenalkannya kepada beberapa investor. Aku tidak meminta namaku dicantumkan dalam kontrak apa pun. Aku hanya ingin suamiku berhasil.
Ternyata, orang yang kubantu berdiri justru sedang menyiapkan jalan untuk meninggalkanku.
“Paman, apakah dia tahu siapa aku sebenarnya?”
“Sepertinya tidak, Nona. Namun, seseorang mungkin telah mengetahui hubungan Anda dengan keluarga Wen.”
Aku menoleh.
“Maksud Paman?”
Paman Zhong tidak langsung menjawab. Ia mengambil sebuah amplop dari tas kerjanya dan menyerahkannya kepadaku.
Di dalamnya terdapat foto Linda sedang memasuki sebuah hotel bersama seorang pria paruh baya. Aku mengenali pria itu. Dia adalah salah satu investor utama perusahaan Jiang Chuan, sekaligus ayah Linda.
Di balik foto tersebut terdapat salinan dokumen pengalihan saham.
Nama Jiang Chuan tercantum sebagai pihak yang menyerahkan sebagian besar saham perusahaannya kepada sebuah perusahaan investasi yang baru didirikan.
“Ini belum semuanya,” kata Paman Zhong. “Kami menduga mereka sengaja membuat perusahaan Tuan Jiang terlihat berkembang, sementara asetnya dipindahkan sedikit demi sedikit. Linda dan ayahnya kemungkinan ingin menguasai perusahaan itu setelah pernikahan mereka diumumkan.”
Aku menutup amplop.
“Kalau begitu, biarkan mereka melanjutkan rencananya. Jangan lakukan apa pun dulu.”
Paman Zhong menatapku melalui kaca spion.
“Anda yakin, Nona?”
Aku mengangguk.
“Aku ingin tahu seberapa jauh mereka berani melangkah.”
Mobil-mobil hitam itu melaju melewati jalanan Jakarta yang padat. Beberapa puluh menit kemudian, kami tiba di sebuah kediaman luas di kawasan Menteng. Gerbang tinggi terbuka, memperlihatkan taman yang terawat dan rumah besar bergaya modern klasik.
Di depan pintu, beberapa orang telah menunggu.
Seorang dokter kandungan mendekat untuk memeriksa kondisiku, sementara dua perempuan paruh baya membantuku masuk. Di ruang keluarga, seorang lelaki tua berambut putih duduk dengan tongkat di tangannya. Begitu melihatku, ia segera berdiri.
“Su, akhirnya kamu pulang.”
Itu Kakek Wen, kepala keluarga yang selama ini kupanggil Kakek.
Aku menahan air mata.
“Maaf sudah membuat Kakek menunggu.”
Ia menggenggam tanganku dengan lembut.
“Kamu tidak perlu meminta maaf. Kakek hanya menyesal membiarkanmu menjalani hidup yang begitu sulit demi seorang lelaki yang tidak pantas mendapatkan pengorbananmu.”
Aku menunduk. Selama tiga tahun, aku sengaja menyembunyikan latar belakang keluargaku karena ingin mengetahui apakah Jiang Chuan mencintaiku apa adanya. Aku tidak pernah membayangkan bahwa kesederhanaan yang kujalani justru akan dijadikan alasan untuk merendahkanku.
Kakek mengusap kepalaku.
“Mulai sekarang, pikirkan dirimu dan bayi itu. Urusan lainnya biar keluarga yang menangani.”
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidur tanpa menunggu suara pintu rumah dibuka oleh seseorang yang kucintai.
Namun, kedamaian itu hanya bertahan sampai keesokan paginya.
Pukul sembilan, ponselku berdering. Nama Jiang Chuan muncul di layar.
Aku membiarkannya berdering beberapa kali sebelum mengangkatnya.
“Wen Su, kamu di mana?”
“Ada urusan apa?”
“Kamu benar-benar membawa orang-orang itu untuk mempermalukanku kemarin?”
Aku hampir tertawa mendengar pertanyaannya.
“Kamu yang meminta cerai. Kamu juga yang mengatakan aku tidak punya siapa-siapa. Sekarang, mengapa kamu sibuk memikirkan siapa yang menjemputku?”
Dia terdiam sesaat, lalu mengubah nada suaranya.
“Aku hanya khawatir kamu sedang ditipu. Dunia ini tidak sebaik yang kamu pikirkan. Kalau kamu kesulitan, kamu bisa kembali. Kita bicarakan semuanya baik-baik.”
Aku menatap jendela.
Kemarin, dia bahkan tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan perasaanku. Sekarang, ketika melihat deretan mobil mewah, tiba-tiba dia menjadi suami yang penuh perhatian.
“Jiang Chuan, kita sudah bercerai.”
“Aku tahu. Tapi kita masih punya anak.”
“Benar. Dan justru karena anak inilah aku berharap kamu belajar bertanggung jawab.”
Aku mengakhiri panggilan.
Tidak lama kemudian, sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal. Pengirimnya adalah Linda.
Aku tahu kamu sengaja berpura-pura miskin untuk menguji Jiang Chuan. Kalau kamu memang perempuan kaya, mengapa kamu tidak membantunya sejak awal? Kamu menghancurkan hidupnya karena harga dirimu sendiri.
Aku membaca pesan itu dua kali, lalu membalas singkat.
Jika kamu yakin tidak melakukan kesalahan, kamu tidak perlu takut pada pemeriksaan apa pun.
Pesanku terkirim. Tidak ada balasan.
Sore harinya, Paman Zhong datang membawa kabar bahwa Jiang Chuan mengadakan pertemuan darurat dengan para pemegang saham. Linda dan ayahnya berusaha mempercepat pengalihan saham, tetapi beberapa dokumen yang mereka ajukan memiliki tanda tangan yang tidak sesuai.
Aku meminta tim hukum keluarga memeriksa seluruh transaksi. Pada saat yang sama, aku menyerahkan bukti yang kumiliki kepada penasihat hukum perusahaan.
Aku tidak ingin membalas dendam dengan menghancurkan seseorang secara membabi buta. Aku hanya ingin memastikan bahwa kebohongan tidak lagi menjadi senjata untuk merugikan orang lain.
Tiga hari kemudian, Jiang Chuan datang ke rumah keluarga Wen.
Kali ini, dia tidak mengenakan senyum meremehkan seperti ketika kami keluar dari kantor pengurusan perceraian. Wajahnya pucat, dasinya longgar, dan matanya dipenuhi kecemasan.
Begitu melihatku di ruang tamu, dia langsung menghampiri.
“Wen Su, aku tahu kamu bisa membantuku. Tolong bicara dengan keluargamu. Mereka pasti punya hubungan dengan para investor yang sedang memeriksa perusahaanku.”
Aku meletakkan cangkir teh.
“Jadi, sekarang kamu datang karena membutuhkan bantuanku?”
“Aku mengakui kesalahanku. Aku seharusnya tidak menceraikanmu saat kamu sedang hamil. Tapi selama tiga tahun kita bersama, bukankah kamu tahu aku juga punya kesulitan?”
“Aku tahu. Ketika bisnismu hampir gagal, aku tetap berada di sisimu. Ketika kamu kehilangan kepercayaan diri, aku meyakinkanmu bahwa kamu bisa bangkit. Aku tidak pernah meninggalkanmu saat kamu tidak punya apa-apa.”
Air mataku hampir jatuh, tetapi aku menahannya.
“Yang tidak bisa kumaafkan bukan karena kamu miskin atau gagal. Aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa kamu menganggap pengorbananku tidak berarti, lalu menjadikanku orang yang harus disingkirkan ketika kamu menemukan perempuan yang lebih menguntungkan.”
Jiang Chuan menunduk.
“Linda mengatakan ayahnya akan membantuku mengembangkan perusahaan. Aku pikir itu kesempatan terbaik untuk masa depan kita.”
“Lalu mengapa kamu mengalihkan uang perusahaan kepadanya?”
Wajahnya langsung berubah.
“Apa yang kamu bicarakan?”
Aku memberi isyarat kepada Paman Zhong. Ia menyerahkan sebuah map berisi salinan transaksi dan dokumen pengalihan saham.
Jiang Chuan membuka map itu dengan tangan gemetar.
“Dari mana kamu mendapatkan semua ini?”
“Dari orang-orang yang selama ini kamu anggap tidak ada.”
Untuk beberapa saat, dia tidak mampu berkata-kata. Kemudian dia menjatuhkan diri ke kursi.
“Aku tidak tahu mereka akan melakukan sejauh ini.”
“Apakah kamu benar-benar tidak tahu, atau kamu hanya tidak ingin tahu selama kamu masih mendapatkan keuntungan?”
Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Hari itu, Jiang Chuan akhirnya mengakui bahwa dia menyetujui beberapa transaksi tanpa memeriksa tujuan sebenarnya. Dia terlalu percaya pada Linda dan ayahnya karena ingin memperbesar bisnisnya dengan cepat. Namun, ada satu hal yang tidak dia katakan kepadaku.
Bahwa sebagian uang yang dipindahkan berasal dari dana yang dijaminkan atas nama perusahaan lain, dan keputusan itu berpotensi menyeret banyak karyawan ke dalam masalah hukum.
Aku meminta tim hukum menyampaikan seluruh bukti kepada pihak berwenang dan membantu perusahaan menyusun langkah perlindungan bagi para karyawan. Jiang Chuan harus bertanggung jawab atas keputusan yang dibuatnya sendiri. Aku tidak akan menghapus kesalahannya hanya karena pernah mencintainya.
Seminggu kemudian, penyelidikan resmi dimulai. Linda dan ayahnya dipanggil untuk memberikan keterangan. Beberapa transaksi dibekukan, sementara para pemegang saham menunjuk tim independen untuk mengaudit perusahaan.
Jiang Chuan kehilangan kendali atas sebagian besar bisnis yang dibangunnya. Namun, proses hukum tetap berjalan berdasarkan bukti, bukan keinginanku untuk melihatnya menderita.
Sebulan setelah perceraian, aku melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat.
Ketika pertama kali mendengar tangisnya, aku menangis lebih keras daripada saat menandatangani surat cerai. Kakek Wen berdiri di samping tempat tidur sambil tersenyum, sedangkan Paman Zhong menunggu di dekat pintu dengan sebuket bunga.
Aku menamai putraku Jiang An.
Bukan karena aku ingin mempertahankan hubungan dengan mantan suamiku, melainkan karena aku berharap anakku tumbuh dengan hati yang damai dan keberanian untuk memilih jalan yang benar.
Beberapa hari setelah kelahiran An, sebuah surat tiba dari Jiang Chuan.
Di dalamnya, dia meminta maaf dan mengaku bahwa selama ini dia terlalu sibuk mengejar kekayaan hingga lupa menghargai orang yang paling tulus mendukungnya. Dia tidak meminta kami kembali bersama. Dia hanya memohon kesempatan untuk mengenal putranya ketika keadaan memungkinkan dan sesuai dengan kepentingan anak itu.
Aku membaca surat tersebut sampai selesai, lalu menyimpannya di dalam laci.
Aku belum siap memaafkannya, tetapi aku juga tidak ingin menghabiskan sisa hidupku dengan kebencian.
Di halaman rumah, matahari pagi menyinari wajah kecil An yang tertidur dalam pelukanku. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku merasa tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun.
Aku pernah mengira bahwa mencintai seseorang berarti rela mengecilkan diri agar orang itu merasa lebih besar. Kini aku mengerti bahwa cinta yang sehat tidak pernah meminta seseorang mengorbankan harga dirinya demi mempertahankan sebuah hubungan.
Pada hari aku menandatangani surat cerai, Jiang Chuan mengira dia sedang membuang seorang perempuan yang tidak memiliki apa-apa.
Dia tidak menyadari bahwa perempuan yang ditinggalkannya telah memberikan hal paling berharga yang pernah dimilikinya, yaitu kepercayaan.
Dan ketika kepercayaan itu hilang, deretan Rolls-Royce, rumah besar, maupun seluruh kekayaan keluarga Wen tidak akan pernah bisa membelinya kembali.
