SUAMIKU TAK PERNAH MENYENTUHKU ENAM BULAN, TAPI DIA MEMBAYAR KLINIK KEHAMILAN SEORANG WANITA—LALU AKU MENEMUKAN NAMANYA DI DOKUMEN KELUARGAKU.**

Nama yang setiap pagi masih kupanggil Ayah.

Aku membaca baris itu sekali lagi, seolah mataku sedang mempermainkanku.

Kepala Keluarga: Surya Adinata.

Nama ayahku.

Di bawahnya tercantum nama ibuku, Dewi Adinata, lalu namaku, Kirana Adinata. Beberapa baris setelah itu ada nama yang tidak pernah kulihat selama dua puluh delapan tahun hidupku.

Salsabila Adinata.

Tanggal lahirnya hanya terpaut tiga tahun denganku.

Aku mengangkat wajah perlahan.

Salsabila berdiri di depanku dengan wajah pucat. Air matanya terus jatuh, tetapi dia tidak mencoba merebut kartu keluarga itu lagi.

“Siapa kamu sebenarnya?”

Dia menutup mulut dengan tangan.

“Aku minta maaf.”

“Aku tidak tanya kamu minta maaf atau tidak.”

Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri.

“Aku tanya, siapa kamu?”

Salsabila memejamkan mata.

“Adikmu.”

Ruangan itu seperti kehilangan udara.

Aku tertawa pendek karena otakku menolak menerima kalimat tersebut.

“Ayahku cuma punya satu anak.”

Salsabila menunduk.

“Itu yang selama ini kamu tahu.”

Aku ingin membantah, tetapi kartu keluarga di tanganku terlalu nyata.

“Kalau kamu benar adikku, kenapa namamu tidak pernah ada di kartu keluarga kami yang di rumah?”

“Karena yang kamu pegang itu kartu keluarga lama.”

“Kenapa aku tidak pernah tahu?”

Salsabila menarik napas gemetar.

“Ibuku meninggal waktu aku kecil. Ayah yang mengurus semuanya, tapi kemudian aku tinggal bersama tanteku di Garut. Setelah itu Ayah mengubah data keluarga. Aku tidak tahu alasan pastinya.”

Aku menatapnya tajam.

“Dan Raka?”

Wajah Salsabila kembali berubah.

“Raka tahu sejak sebelum kalian menikah.”

Jantungku seperti dihantam sesuatu.

“Apa?”

“Dia tahu siapa aku.”

“Kenapa suamiku tahu aku punya adik sementara aku sendiri tidak?”

Salsabila tidak menjawab.

Aku langsung mengambil tas.

“Aku akan bertanya kepada Ayah.”

Dia tiba-tiba memegang lenganku.

“Jangan sekarang.”

Aku menepis tangannya.

“Jangan sentuh aku.”

“Kirana, Ayah sedang sakit.”

Aku berhenti.

“Sakit apa?”

Salsabila menggigit bibir.

“Kanker pankreas.”

Kalimat itu membuat kakiku lemas.

Aku berpegangan pada tepi meja.

Ayah memang tampak lebih kurus beberapa bulan terakhir. Namun setiap kali kutanya, dia hanya mengatakan gula darahnya sedang bermasalah.

“Sejak kapan?”

“Hampir delapan bulan.”

Aku menatap Salsabila tidak percaya.

“Semua orang tahu kecuali aku?”

“Tidak semua orang.”

“Raka tahu?”

Dia mengangguk.

Aku keluar dari apartemen tanpa mengatakan apa pun lagi.

Sepanjang perjalanan menuju rumah orang tuaku, aku menelepon Raka berkali-kali.

Tidak diangkat.

Aku kemudian menelepon Ayah.

Tidak aktif.

Saat mobilku berhenti di halaman rumah, lampu ruang tengah masih menyala.

Ibu sedang duduk sendirian.

Begitu melihat wajahku, dia langsung berdiri.

“Kirana?”

Aku meletakkan fotokopi kartu keluarga di meja.

“Siapa Salsabila?”

Wajah Ibu kehilangan warna.

Itu sudah cukup menjadi jawaban.

Aku tertawa pahit.

“Hebat.”

“Kirana, dengarkan Ibu dulu.”

“Dua puluh delapan tahun, Bu.”

Air mataku akhirnya jatuh.

“Dua puluh delapan tahun aku tinggal di rumah ini dan kalian menyembunyikan bahwa aku punya adik.”

“Bukan adik kandungmu.”

Aku terdiam.

Ibu menarik kursi.

“Salsabila anak Ayahmu, tapi bukan anak Ibu.”

Dadaku kembali sesak.

Ayah ternyata pernah memiliki hubungan dengan perempuan lain sebelum menikahi Ibu. Perempuan itu hamil tanpa sepengetahuan keluarga besar. Setelah Ayah menikah dengan Ibu, barulah dia mengetahui keberadaan Salsabila.

“Ayah ingin membawanya pulang,” kata Ibu pelan. “Tapi waktu itu kamu masih kecil. Ibu marah. Ibu merasa dikhianati oleh masa lalu yang bahkan terjadi sebelum pernikahan kami.”

“Jadi Ibu menyuruh Ayah membuang anaknya sendiri?”

Ibu menangis.

“Ibu membuat banyak kesalahan.”

Aku tidak sanggup mendengarnya.

“Di mana Ayah?”

Ibu menatap jam.

“Rumah sakit.”

Aku membeku.

“Kenapa?”

“Tadi sore kondisinya menurun.”

Aku berbalik menuju pintu.

“Kirana.”

Aku berhenti.

“Ada sesuatu yang harus kamu tahu tentang Raka.”

Aku menoleh.

Ibu menggenggam kedua tangannya.

“Dia menikahimu bukan karena kesepakatan keluarga.”

Aku tertawa getir.

“Jangan bilang sekarang Ibu juga mau mengatakan dia sebenarnya mencintaiku.”

“Memang.”

Aku menatap Ibu.

“Raka sudah menyukaimu sejak kalian kuliah.”

Aku menggeleng.

“Omong kosong.”

“Dia pernah menemui Ayahmu bertahun-tahun lalu. Tapi waktu itu kamu masih bersama Dimas.”

Nama mantan tunanganku membuat tengkukku menegang.

Dimas meninggal dalam kecelakaan mobil dua tahun sebelum pernikahanku dengan Raka.

Setelah kematian Dimas, aku menutup diri hampir setahun.

Raka datang sebagai teman keluarga. Tenang. Tidak pernah memaksa.

Ketika keluarga mengusulkan pernikahan, aku menerimanya karena merasa tidak memiliki alasan untuk menolak.

“Tapi kenapa dia tidak pernah menyentuhku?”

Ibu menatapku lama.

“Karena permintaan Ayahmu.”

Aku tidak memahami kalimat itu sampai aku tiba di rumah sakit.

Raka berdiri di koridor ICU.

Begitu melihatku, dia tahu semuanya sudah terbongkar.

Aku berjalan mendekatinya.

Tamparanku mendarat di pipinya sebelum dia sempat berbicara.

Beberapa orang menoleh.

Raka tidak melawan.

“Enam bulan.”

Aku menahan tangis.

“Enam bulan aku hidup sebagai istrimu dan setiap malam aku bertanya apa aku begitu menjijikkan sampai kamu tidak mau menyentuhku.”

“Kirana.”

“Jangan panggil namaku.”

Aku menunjukkan ponsel.

“Transfer klinik. Apartemen. Perlengkapan bayi. Bohong soal rapat. Salsabila. Ayah.”

Napas Raka berat.

“Apa lagi yang belum kuketahui?”

Dia diam.

Aku tertawa.

“Masih ada?”

“Masuklah menemui Ayahmu.”

“Aku mau jawabanmu dulu.”

Raka menatap pintu ICU.

“Ayahmu yang memintaku menjaga Salsabila.”

“Kenapa kamu?”

“Karena dia tidak punya siapa-siapa lagi yang bisa dipercaya.”

“Salsabila hamil anak siapa?”

Raka menutup mata sebentar.

“Suaminya.”

Aku terpaku.

“Tapi kartu keluarganya bilang belum kawin.”

“Mereka menikah siri.”

“Di mana suaminya?”

“Meninggal empat bulan lalu.”

Aku terdiam.

Raka menjelaskan bahwa suami Salsabila adalah teknisi proyek konstruksi yang meninggal akibat kecelakaan kerja di Cimahi. Pernikahan mereka belum sempat dicatat secara administratif.

Saat Salsabila hamil, dia kehilangan pekerjaan.

Ayah diam-diam membiayai kebutuhannya.

Namun ketika kondisi Ayah memburuk, tanggung jawab itu diserahkan kepada Raka.

“Kenapa harus disembunyikan dariku?”

“Karena Ayahmu ingin memberitahumu sendiri.”

“Kapan? Setelah dia meninggal?”

Raka menunduk.

“Aku salah.”

“Dan ciuman di kening itu?”

“Dia baru menerima hasil pemeriksaan. Dokter bilang ada risiko persalinan prematur. Dia panik.”

“Aku lihat kamu tertawa bersamanya.”

“Dia memperlihatkan video suaminya sebelum meninggal.”

Aku menatap wajah Raka.

Semua penjelasannya masuk akal.

Namun rasa sakitku tidak hilang.

“Kenapa kamu tidak menyentuhku?”

Pertanyaan itu akhirnya keluar.

Raka diam cukup lama.

Kemudian dia mengambil amplop dari tas kerjanya.

“Ayahmu meminta aku memberikan ini kalau kamu mengetahui semuanya sebelum dia sempat menjelaskan.”

Di dalam amplop ada sebuah surat.

Tulisan tangan Ayah.

Kirana, maafkan Ayah karena menjadikan Raka penjaga sebuah rahasia yang seharusnya menjadi tanggung jawab Ayah sendiri.

Aku membaca dengan tangan bergetar.

Ayah menulis bahwa setelah pernikahanku, dokter menemukan kanker pankreas stadium lanjut.

Dia takut aku akan merasa kehidupan baruku hancur karena harus mengurus dirinya.

Karena itu dia meminta Raka merahasiakannya.

Namun ada satu hal lain.

Ayah juga tahu sesuatu tentangku.

Setelah kematian Dimas, aku pernah menjalani terapi psikologis.

Selama berbulan-bulan aku mengalami serangan panik ketika seseorang menyentuh tubuhku secara tiba-tiba.

Hanya keluarga yang tahu.

Aku mengira masalah itu sudah selesai.

Ternyata Ayah masih mengkhawatirkannya.

Dia meminta Raka berjanji tidak akan menyentuhku sampai aku sendiri yang menunjukkan bahwa aku benar-benar siap.

Aku menatap Raka.

“Jadi selama ini…”

“Aku menunggu kamu.”

“Kenapa kamu tidak bilang?”

“Karena aku tidak mau setiap kali kamu mendekat, kamu merasa sedang memenuhi kewajiban sebagai istri.”

Dadaku terasa sesak.

“Enam bulan, Raka.”

“Aku tahu.”

“Kamu bisa bicara.”

“Aku takut kalau aku mengatakan aku menunggumu siap, kamu justru merasa ada sesuatu yang salah denganmu.”

Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya turun.

Aku membenci bahwa sebagian diriku memahami alasannya.

Namun aku juga membenci semua orang yang merasa berhak memutuskan apa yang sanggup dan tidak sanggup kuterima.

Pintu ICU terbuka.

Seorang dokter keluar.

“Keluarga Bapak Surya?”

Aku dan Raka berdiri bersamaan.

“Kondisinya stabil sementara. Beliau sadar dan meminta bertemu putrinya.”

Aku masuk sendirian.

Ayah terlihat sangat kecil di atas ranjang.

Pria yang selama hidupku selalu tampak kuat kini memiliki selang oksigen di hidung dan tangan penuh infus.

Ketika melihatku, matanya berkaca-kaca.

“Kirana.”

Aku duduk.

Aku ingin marah.

Aku sudah menyiapkan puluhan pertanyaan.

Namun ketika melihat wajahnya, semua berubah menjadi satu kalimat.

“Kenapa Ayah tidak percaya padaku?”

Air mata mengalir dari sudut matanya.

“Ayah takut kehilanganmu.”

“Karena Salsabila?”

Dia mengangguk.

“Ayah pengecut.”

Aku terdiam.

“Ayah pikir dengan menyembunyikan satu kebohongan, Ayah bisa melindungi dua anak.”

Suara Ayah serak.

“Ternyata Ayah hanya membuat kalian tumbuh sebagai orang asing.”

Aku menggenggam tangannya.

“Dia benar-benar adikku?”

Ayah tersenyum lemah.

“Setengah darahmu. Tapi kalau kamu mau menerimanya, jangan beri dia setengah hati.”

Aku menangis.

“Kamu membiarkan dia sendirian bertahun-tahun.”

“Ayah tahu.”

“Tidak ada kata maaf yang cukup.”

“Tidak ada.”

Jawaban itu justru menghancurkanku.

Ayah tidak mencari pembenaran.

Dia tahu kesalahannya.

“Anaknya laki-laki atau perempuan?”

Untuk pertama kalinya malam itu, wajah Ayah berubah cerah.

“Perempuan.”

Aku menatapnya.

“Namanya?”

“Belum dipilih.”

Ayah tersenyum tipis.

“Katanya menunggu kakaknya.”

Aku menunduk.

Salsabila ternyata berdiri di luar pintu ICU sejak tadi.

Dia tidak berani masuk.

Aku keluar setelah hampir satu jam.

Dia langsung berdiri.

“Kirana.”

Aku memandang perutnya.

“Laki-laki atau perempuan?”

Dia tampak terkejut.

“Perempuan.”

“Sudah punya nama?”

Matanya langsung basah.

“Belum.”

Aku tidak memeluknya.

Belum.

Aku hanya berkata, “Besok kita bicara.”

Bagi kami, itu sudah merupakan awal.

Tiga hari kemudian, Ayah meninggal.

Tidak ada keajaiban.

Tidak ada dokter yang tiba-tiba menemukan pengobatan.

Kami kehilangan dia pada pukul 04.17 pagi, ketika Bandung masih gelap dan suara azan Subuh baru mulai terdengar dari kejauhan.

Setelah pemakaman, rumah kami penuh keluarga.

Dan seperti semua rahasia keluarga, kebenaran akhirnya menyebar lebih cepat daripada doa.

Ada yang menyalahkan Ayah.

Ada yang menyalahkan Ibu.

Ada pula yang memandang Salsabila seperti kesalahan yang berjalan.

Saat seorang kerabat berbisik, “Kalau aku jadi Kirana, aku tidak akan mengakui perempuan itu,” aku berdiri.

“Salsabila adik saya.”

Ruangan mendadak diam.

Aku sendiri terkejut mendengar kalimat itu keluar begitu mudah.

Salsabila menangis.

Ibu menunduk.

Untuk pertama kalinya, kami berhenti melindungi nama keluarga dan mulai melindungi orang-orang di dalamnya.

Namun masalahku dengan Raka belum selesai.

Aku pindah sementara ke kamar tamu.

Bukan karena aku ingin bercerai.

Aku hanya membutuhkan satu hal yang selama enam bulan tidak pernah diberikan siapa pun kepadaku.

Kejujuran.

Suatu malam, Raka mengetuk pintu.

“Boleh masuk?”

Aku mengangguk.

Dia duduk jauh dariku.

Tidak mendekat.

Tidak mencoba menyentuhku.

“Aku mau mengembalikan semua uang yang kupakai dari rekening bersama.”

“Aku tidak peduli uangnya.”

“Aku tahu.”

“Yang membuatku marah bukan karena kamu membantu Salsabila.”

Aku menatapnya.

“Yang membuatku marah adalah kamu ikut memutuskan bahwa aku terlalu rapuh untuk mengetahui kebenaran.”

Raka terdiam.

“Aku minta maaf.”

“Kalau kita mau melanjutkan pernikahan ini, jangan pernah melindungiku dengan kebohongan lagi.”

Dia mengangguk.

“Dan satu hal lagi.”

“Apa?”

Aku mengulurkan tangan.

Raka menatap tanganku seperti tidak yakin.

“Enam bulan kamu bilang kamu menungguku.”

Aku tersenyum tipis di antara air mata.

“Jadi sekarang jangan membuatku menunggu.”

Perlahan dia menggenggam tanganku.

Tidak lebih.

Dan anehnya, sentuhan kecil itu terasa jauh lebih intim daripada semua bayangan tentang malam pertama yang pernah kupikirkan.

Dua bulan kemudian, Salsabila melahirkan lebih cepat dari perkiraan.

Aku berada di rumah sakit ketika bayinya lahir.

Seorang bayi perempuan kecil dengan rambut hitam tebal.

Salsabila menangis ketika perawat meletakkannya di dada.

“Aku sudah punya nama,” katanya.

“Siapa?”

Dia menatapku.

“Kirana Surya.”

Aku langsung menggeleng sambil menangis dan tertawa.

“Jangan pakai namaku.”

“Kenapa?”

“Kasihan anakmu.”

Untuk pertama kalinya kami tertawa bersama.

Akhirnya namanya menjadi Aruna Surya Prameswari.

Surya untuk kakek yang terlambat mengakui banyak kesalahan tetapi setidaknya sempat meninggalkan pintu agar dua putrinya bisa menemukan satu sama lain.

Beberapa minggu kemudian, aku membantu Salsabila mengurus dokumen kelahiran Aruna.

Petugas meminta beberapa berkas lama.

Di antara tumpukan dokumen peninggalan Ayah, aku menemukan satu amplop lagi.

Di depannya tertulis namaku.

Aku membukanya.

Bukan surat.

Sebuah hasil tes DNA.

Aku membaca nama peserta pertama.

Surya Adinata.

Peserta kedua.

Salsabila Adinata.

Probabilitas hubungan biologis ayah dan anak.

0,00 persen.

Aku tidak bisa bernapas.

Di bagian bawah ada catatan tulisan tangan Ayah.

Salsabila bukan anak kandung Ayah.

Ibunya menitipkannya kepada Ayah setelah lelaki yang sebenarnya menghamilinya melarikan diri.

Ayah tetap mengakuinya karena perempuan itu pernah menyelamatkan hidup Ayah saat kecelakaan bertahun-tahun lalu.

Aku duduk di lantai.

Selama ini semua orang mengira rahasia terbesar keluarga kami adalah perselingkuhan.

Ternyata bukan.

Ayah telah membiarkan dirinya dibenci agar seorang anak tidak tumbuh dengan perasaan dibuang.

Aku membawa hasil tes itu kepada Salsabila.

Dia membaca sampai selesai.

Tangannya gemetar.

“Berarti kita bukan saudara?”

Aku menatap perempuan yang dua bulan sebelumnya bahkan tidak kukenal.

Lalu aku melihat Aruna tidur di pelukannya.

Aku merobek hasil tes itu menjadi dua.

Salsabila membelalak.

“Kirana!”

Aku memasukkan potongannya ke tempat sampah.

“Ayah benar tentang satu hal.”

“Apa?”

Aku menggenggam tangannya.

“Kalau aku menerimamu, aku tidak akan memberimu setengah hati.”

Saat itu aku akhirnya mengerti.

Keluarga ternyata tidak selalu ditentukan oleh darah yang sama.

Kadang keluarga dibentuk oleh siapa yang tetap tinggal setelah semua kebohongan terbongkar, setelah semua kesalahan diketahui, dan setelah tidak ada lagi alasan untuk berpura-pura.

Raka berdiri di pintu sambil menggendong Aruna yang baru terbangun.

Dia menatapku.

Aku menghampirinya.

Kali ini aku yang lebih dulu menggenggam tangannya.

Enam bulan pertama pernikahan kami dibangun di atas rahasia.

Aku tidak tahu berapa puluh tahun pernikahan kami akan bertahan.

Namun sejak hari itu, kami membuat satu aturan sederhana.

Tidak ada lagi kebenaran yang disembunyikan atas nama cinta.

Karena cinta yang benar tidak membuat seseorang hidup dalam kegelapan agar merasa aman.

Cinta menyalakan lampu, lalu tetap berdiri di sampingmu ketika akhirnya kamu melihat semuanya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang