Suara tangisan itu bukan berasal dari anak saya, melainkan jeritan histeris seorang wanita. Jantung saya berdegup kencang, memukul-mukul dada seperti burung yang terperangkap dalam sangkar. Saya melangkah masuk ke ruang tengah dengan napas tertahan.
Pemandangan di depan mata saya meruntuhkan logika.
Di ruang tamu yang dulu sering kami gunakan untuk menonton film bersama, kini penuh dengan bercak noda yang tidak bisa saya kenali. Suami saya, Aris, duduk bersimpuh di lantai. Wajahnya yang biasanya angkuh dan dingin kini sepucat kertas, matanya menatap kosong ke arah sudut ruangan. Wanita selingkuhannya itu tidak lagi duduk dengan anggun; dia tersungkur di lantai, rambutnya berantakan, dan dia sedang mencakar-cakar dinding seolah-olah mencoba melarikan diri dari sesuatu yang tak terlihat.
Anak perempuan yang dibawanya tidak ada di sana.

“Aris?” panggil saya, suara saya hampir hilang tertelan kesunyian yang mencekam.
Aris menoleh perlahan. Saat melihat saya, matanya membelalak, bukan karena lega, melainkan karena horor yang mendalam. “Kenapa kamu kembali?” bisiknya dengan suara serak. “Aku sudah bilang… aku sudah mengamankanmu.”
“Apa yang terjadi di sini?” tanya saya, langkah saya mundur selangkah.
Tiba-tiba, dari arah dapur, muncul seorang pria dengan setelan jas hitam yang sangat rapi, memegang sebuah map kulit. Dia tidak terlihat seperti polisi, melainkan seseorang yang memiliki aura kekuasaan yang menekan. Dia berhenti tepat di depan saya.
“Anda pasti istrinya,” kata pria itu dengan nada datar. “Saya pengacara dari keluarga besar mendiang kakek Aris.”
Kakek Aris? Kakeknya adalah seorang pengusaha properti yang sangat tertutup dan meninggal dunia sebelum kami menikah. Kami bahkan tidak pernah mendapatkan warisan apa pun, atau setidaknya itulah yang selalu Aris katakan.
“Aris,” lanjut pria itu, menatap suami saya dengan dingin, “karena Anda telah melanggar persyaratan ‘Perjanjian Darah’, hak Anda atas seluruh aset keluarga telah dicabut seketika. Termasuk rumah ini, properti di luar kota, dan seluruh rekening bank yang Anda gunakan untuk membiayai… gaya hidup Anda.”
Ternyata, selama ini, Aris hidup dalam sebuah skenario yang rumit. Rumah ini bukan miliknya. Rumah ini adalah properti yang dipinjamkan oleh perwalian keluarga dengan satu syarat mutlak: Kesetiaan. Ternyata, kakeknya telah memasang sistem pengawasan tersembunyi yang canggih di setiap sudut rumah, dan dia memiliki detektif swasta yang mengawasi Aris setiap saat untuk memastikan Aris tidak “mengotori” nama baik keluarga.
Aris mengusir saya bukan karena dia sudah tidak mencintai saya, melainkan karena dia tahu bahwa para pengawas keluarga itu sudah mencium aroma perselingkuhannya. Dia tahu bahwa jika saya tetap di sana saat keluarga besar datang untuk melakukan “penyitaan”, saya akan ikut terseret dalam kehancuran finansial dan hukum yang akan menimpanya. Uang lima ribu yang dia berikan—itu adalah satu-satunya uang tunai yang tersisa di dompetnya setelah semua rekeningnya dibekukan secara otomatis saat sensor mendeteksi orang asing masuk ke rumah.
“Kenapa kamu tidak memberitahuku?” teriak saya, air mata akhirnya jatuh.
“Karena aku pengecut!” Aris meraung, air mata mengalir di pipinya. “Aku ingin menjaga martabatku sebagai kepala keluarga. Aku ingin menjadi pria yang bisa menghidupimu. Aku mencoba mengusir kalian agar kalian bisa hidup jauh dari kehancuranku. Aku pikir, jika aku berpura-pura berselingkuh dan mengusir kalian, kalian akan benar-benar pergi jauh sebelum hukum datang untuk menghancurkanku.”
Namun, rahasia yang sebenarnya baru saja terungkap. Wanita itu—selingkuhannya—bukanlah wanita simpanan biasa. Dia adalah seorang agen dari perusahaan pesaing yang ditugaskan untuk menghancurkan Aris dengan memancingnya melanggar aturan perjanjian. Dia sengaja membawa anak orang lain agar Aris terlihat sangat tidak bermoral dan memicu klausa pemutusan kontrak dengan cepat.
“Anak itu?” tanya saya, menunjuk ke arah wanita itu yang kini sedang diringkus oleh dua orang berjas hitam lainnya.
“Dia bukan anakku,” kata Aris getir. “Dia hanya alat untuk menghancurkanku. Dan hari ini, dia kehilangan segalanya karena aku berhasil membuktikan bahwa dia melanggar privasi keluarga besar dengan membawa orang asing ke properti terlarang.”
Keadaan hening seketika. Saya menatap rumah yang dulu terasa hangat, kini terasa seperti penjara kaca yang pecah.
Pria berjas hitam itu menyerahkan sebuah kunci kepada saya. “Ibu, berdasarkan wasiat terakhir, aset ini tidak akan diberikan kepada Aris, melainkan kepada ahli waris yang memiliki ‘hati bersih’. Perjanjian menyatakan bahwa jika istri tidak tahu-menahu tentang pelanggaran ini, maka hak pengelolaan rumah dan aset dasar dialihkan sepenuhnya kepadanya.”
Saya tertegun. Saya tidak pernah meminta harta, saya hanya ingin kehidupan yang tenang.
Aris menunduk, siap menerima pengusiran dari rumah itu. Dia sudah kehilangan segalanya: pekerjaannya, reputasinya, dan mungkin, istrinya. Dia berjalan perlahan menuju pintu, membelakangi saya.
“Aris,” panggil saya pelan.
Dia berhenti.
“Uang lima ribu yang kamu berikan padaku tujuh hari yang lalu…” Saya mengeluarkan uang kusut itu dari kantong baju saya. “Masih ada sisa.”
Dia berbalik, menatap saya dengan tatapan penuh penyesalan. “Pergilah. Cari kehidupan yang lebih baik. Aku bukan pria yang pantas untukmu.”
Saya menatapnya, lalu menatap rumah besar itu, dan akhirnya menatap anak saya yang tidur dengan tenang di gendongan saya. Saya menyadari satu hal: hidup ini memang penuh dengan sandiwara, tetapi terkadang, orang harus kehilangan segalanya untuk bisa melihat siapa yang sebenarnya memegang kendali.
Saya melangkah mendekati Aris, menyodorkan kunci rumah itu kembali ke tangannya.
“Kamu bilang kamu ingin menjadi pria yang bisa menghidupiku?” tanya saya tajam. “Kalau begitu, ambil kunci ini. Bekerjalah, bayar hutangmu kepada keluarga, dan tunjukkan padaku bahwa kamu bisa membangun rumah ini dengan keringatmu sendiri, bukan dengan warisan atau sandiwara. Jika kamu bisa melakukannya dalam satu tahun… mungkin aku akan mempertimbangkan untuk kembali.”
Aris menatap kunci di tangannya, seolah itu adalah benda paling berat di dunia. Dia menangis seperti anak kecil.
Saya berbalik dan berjalan keluar, melewati pria-pria berjas hitam itu, melangkah ke jalanan di bawah sinar matahari yang mulai muncul setelah hujan badai selama satu minggu. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi besok, tetapi untuk pertama kalinya, saya tidak lagi takut.
Karena ternyata, kejutan terbesar bukanlah kehancuran Aris, melainkan kenyataan bahwa saya—wanita yang selama ini dia anggap lemah—adalah satu-satunya orang yang memegang nasibnya di tangan saya. Dan saya memilih untuk memberikan dia kesempatan terakhir, bukan sebagai istri yang patuh, melainkan sebagai penentu hidupnya.
Saat saya melangkah pergi, saya mendengar satu suara dari dalam rumah: “Terima kasih.”
Saya tidak menoleh. Saya tahu, perjalanan hidup saya yang sebenarnya baru saja dimulai. Dan kali ini, saya tidak akan membiarkan siapa pun mengusir saya lagi.
