Keheningan selalu menjadi hukum paling mutlak di Perpustakaan Umum Jakarta. Siapa pun yang melanggarnya pasti akan berhadapan dengan seorang perempuan bernama Agatha.
“Ssst! Kalau masih berisik, saya keluarkan semuanya!”
Suara tajam itu langsung membuat seisi ruangan membeku. Anak-anak sekolah buru-buru menutup mulut, mahasiswa menghentikan obrolan mereka, bahkan suara langkah kaki terasa lebih pelan setelah teguran itu terdengar.
Di usia lima puluh lima tahun, Agatha telah menghabiskan lebih dari tiga puluh tahun hidupnya menjadi pustakawan. Ia tidak pernah menikah, tidak memiliki anak, dan nyaris tidak punya teman dekat. Hidupnya hanya terdiri dari buku-buku, rak-rak kayu, dan aturan yang harus dipatuhi semua orang.

Namun selama beberapa minggu terakhir, ada satu hal yang membuatnya terus kehilangan kesabaran.
Seorang anak laki-laki jalanan berusia sekitar tujuh tahun selalu berhasil menyelinap masuk ke perpustakaan. Tubuhnya kurus, wajahnya dipenuhi debu, rambutnya kusut, dan kedua telapak tangannya hitam oleh arang. Ia tidak pernah membuat keributan. Ia hanya duduk diam di sudut ruangan sambil memandangi buku-buku bergambar.
Tetapi bagi Agatha, kehadiran anak itu sudah merupakan pelanggaran.
Sore itu hujan turun begitu deras.
Agatha menemukan bocah itu kembali duduk di lantai bagian koleksi arsitektur Indonesia. Di pangkuannya terbuka sebuah buku besar yang berisi foto-foto rumah bersejarah.
“Pak Satpam! Anak itu lagi!”
Anak kecil itu langsung ketakutan.
“Jangan, Bu… saya cuma lihat gambarnya.”
“Perpustakaan ini bukan tempat bermain. Kamu tidak punya kartu anggota.”
“Saya tidak merusak apa-apa…”
“Serahkan bukunya!”
Agatha merebut buku itu dengan kasar.
Seketika sebuah foto tua terjatuh dari sela-sela halaman.
Bocah itu menjerit.
“Itu foto Mama saya! Tolong jangan dibuang!”
Agatha hendak memasukkan foto itu ke tempat sampah. Namun begitu matanya melihat isi foto tersebut, seluruh tubuhnya membeku.
Di sana ada dua perempuan muda berdiri di depan sebuah rumah tua di Vigan.
Perempuan yang lebih besar adalah dirinya sendiri dua puluh tahun lalu.
Yang dipeluknya adalah adik kandungnya, Clara.
Napas Agatha tercekat.
Selama dua puluh tahun ia mengira tak akan pernah melihat wajah itu lagi.
Ia masih ingat hari ketika Clara memilih menikahi seorang tukang bangunan sederhana bernama Bima. Agatha menentangnya habis-habisan karena menganggap lelaki miskin itu hanya akan menghancurkan masa depan adiknya.
Pertengkaran mereka menjadi begitu buruk hingga Clara menangis sambil berkata,
“Suatu hari nanti Kakak akan menyesal karena lebih mencintai harga diri daripada keluarga.”
Sejak saat itu mereka tidak pernah bertemu lagi.
Agatha menganggap Clara sudah bukan bagian dari hidupnya.
Kini foto itu kembali muncul di tangannya.
Sementara itu satpam telah membawa anak tersebut keluar.
Agatha tiba-tiba berteriak.
“Tunggu!”
Semua orang menoleh.
“Jangan keluarkan anak itu.”
Satpam melepaskan pegangannya.
Anak kecil itu masih menangis.
Agatha menghampiri dengan langkah yang jauh lebih pelan.
“Siapa namamu?”
“Raka.”
“Ibumu… siapa?”
“Mama Clara.”
Suara Agatha menghilang.
“Kapan ibumu meninggal?”
“Enam bulan lalu.”
Dunia Agatha terasa runtuh.
Ia membawa Raka kembali masuk ke ruangannya.
Dengan suara yang hampir berbisik ia bertanya,
“Ayahmu?”
“Sudah meninggal waktu saya umur empat tahun.”
“Jadi sekarang kamu tinggal dengan siapa?”
“Sendiri.”
Jawaban itu membuat Agatha tak mampu berkata apa-apa.
Raka menceritakan semuanya.
Sejak ibunya meninggal karena sakit ginjal, ia hidup berpindah-pindah di sekitar terminal. Kadang tidur di emperan toko, kadang di musala, kadang membantu mengangkut kardus agar bisa membeli nasi.
Yang paling ia sukai hanyalah datang ke perpustakaan.
“Mama bilang kalau mau mengubah hidup, harus rajin membaca.”
Agatha menundukkan kepala.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia merasa malu pada dirinya sendiri.
Hari-hari berikutnya berubah.
Tanpa diketahui pegawai lain, Agatha mulai menyiapkan makanan setiap pagi.
Ketika Raka datang, ia pura-pura memarahinya.
“Kamu lagi.”
Namun beberapa menit kemudian ia akan berkata pelan.
“Masuk saja. Cuci tangan dulu.”
Raka mulai belajar membaca dengan benar.
Ia ternyata sangat cerdas.
Dalam beberapa minggu ia mampu menyelesaikan buku-buku anak yang biasanya dibaca murid SD kelas atas.
Agatha juga mulai mencari informasi tentang Clara.
Ia mengunjungi rumah kontrakan terakhir adiknya.
Tetangga menceritakan bahwa Clara bekerja sebagai penjahit sampai akhir hayatnya. Ia tidak pernah sekalipun mengeluh tentang kakaknya.
Bahkan sebelum meninggal, Clara sering berkata kepada Raka,
“Kalau suatu hari kamu menemukan Tante Agatha, jangan membencinya. Dia sebenarnya orang baik. Hanya terlalu keras pada dirinya sendiri.”
Mendengar cerita itu, Agatha menangis untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.
Ia menangis begitu lama hingga tetangga itu ikut terdiam.
Rasa bersalah mulai memenuhi seluruh hidupnya.
Ia mengurus semua dokumen agar Raka bisa kembali bersekolah.
Ia membeli pakaian baru, sepatu, tas, dan perlengkapan sekolah.
Namun Raka selalu bertanya satu hal.
“Bu Agatha… kenapa Ibu baik sekali sama saya?”
Agatha belum sanggup menjawab.
Beberapa bulan berlalu.
Hubungan mereka semakin dekat.
Perpustakaan yang dulu terasa dingin kini perlahan berubah.
Anak-anak mulai berdatangan karena Agatha tidak lagi hanya memarahi mereka. Ia mulai membacakan cerita setiap Sabtu sore.
Semua orang heran melihat perubahan itu.
Suatu malam, Agatha membuka kembali kotak tua peninggalan orang tuanya.
Di dalamnya terdapat surat wasiat yang selama ini tidak pernah ia baca dengan sungguh-sungguh.
Saat membukanya kembali, sebuah amplop kecil jatuh.
Surat itu ditulis oleh ayah mereka beberapa hari sebelum meninggal.
Isinya membuat Agatha gemetar.
Ayahnya ternyata meninggalkan rumah keluarga bukan hanya untuk dirinya.
Rumah itu diwariskan kepada kedua anaknya dengan syarat mereka tetap hidup rukun.
Jika salah satu mengusir yang lain dari keluarga, seluruh hak waris otomatis menjadi milik pihak yang tersakiti beserta keturunannya.
Selama ini Agatha tidak pernah mengetahui adanya halaman tambahan pada surat tersebut.
Berarti secara hukum, rumah itu sebenarnya telah menjadi hak Clara.
Dan sekarang…
Hak itu berpindah kepada Raka.
Agatha bisa saja menyembunyikan kenyataan tersebut.
Tidak ada seorang pun yang tahu.
Tetapi malam itu ia teringat ucapan Clara.
“Kakak lebih mencintai harga diri daripada keluarga.”
Keesokan paginya Agatha menemui seorang notaris.
Ia menyerahkan semua dokumen.
“Saya ingin seluruh hak rumah ini dipindahkan kepada cucu pewaris yang sah.”
Notaris memandangnya heran.
“Ibu yakin? Nilainya lebih dari dua puluh miliar rupiah.”
“Saya sangat yakin.”
Beberapa minggu kemudian seluruh proses selesai.
Agatha mengajak Raka mengunjungi rumah tua keluarga yang telah lama kosong.
Rumah itu masih berdiri megah meski dipenuhi debu.
Begitu masuk ke halaman, Raka terdiam.
“Itu…”
“Apa?”
“Itu rumah yang selalu Mama gambar.”
Agatha mengangguk sambil menahan air mata.
Ia lalu menyerahkan sebuah map berisi sertifikat.
“Mulai hari ini rumah ini milikmu.”
Raka kebingungan.
“Saya tidak mengerti.”
Agatha akhirnya berlutut di depan anak kecil itu.
Air matanya mengalir tanpa bisa dihentikan.
“Karena aku adalah kakak ibumu.”
Raka membelalak.
“Kamu bukan anak jalanan asing bagiku.”
Agatha menggenggam kedua tangan mungilnya.
“Kamu adalah keponakanku.”
Untuk beberapa detik tidak ada suara.
Raka hanya memandang wajah perempuan yang dulu selalu mengusirnya dari perpustakaan.
“Lalu… kenapa Tante dulu membenci Mama?”
Agatha menangis semakin keras.
“Aku bodoh. Aku terlalu sombong. Aku kehilangan adikku karena tidak mau meminta maaf.”
Raka perlahan memeluk perempuan itu.
Pelukan kecil yang sederhana itu justru menghancurkan seluruh benteng yang selama puluhan tahun dibangun Agatha.
Ia menangis seperti seorang anak kecil yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Beberapa bulan kemudian, rumah tua itu tidak dijual.
Atas keinginan Agatha dan Raka, bangunan tersebut direnovasi menjadi perpustakaan gratis dan pusat belajar bagi anak-anak kurang mampu.
Di pintu masuk dipasang sebuah plakat sederhana.
“Perpustakaan Clara. Setiap anak berhak bermimpi.”
Setiap sore, anak-anak jalanan datang membaca tanpa rasa takut diusir.
Agatha yang dahulu dikenal sebagai pustakawan paling galak kini duduk di sudut ruangan sambil membacakan dongeng dengan senyum hangat.
Sementara Raka, dengan seragam sekolah yang rapi, sering membantu menyusun buku-buku baru di rak.
Suatu hari seorang anak kecil yang pakaiannya kotor ragu-ragu masuk ke perpustakaan.
Ia tampak takut.
Agatha menghampirinya.
Anak itu langsung meminta maaf.
“Saya cuma mau lihat gambar. Saya janji tidak akan mengotorinya.”
Kalimat itu persis seperti yang pernah diucapkan Raka bertahun-tahun sebelumnya.
Agatha tersenyum lembut.
Ia mengambil sebuah buku bergambar, lalu meletakkannya di tangan anak itu.
“Buku memang harus dijaga. Tapi mimpi seorang anak jauh lebih berharga daripada buku mana pun.”
Di sudut ruangan, Raka memandang bibinya sambil tersenyum.
Hari itu Agatha akhirnya memahami bahwa perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan ribuan buku. Perpustakaan adalah tempat seseorang menemukan kembali keluarga yang pernah hilang, keberanian untuk meminta maaf, dan kesempatan kedua yang terkadang datang dalam wujud seorang anak kecil yang dulu pernah ia usir tanpa belas kasihan.
