Teh jahe panas menyiram tepat ke wajah ibuku.
Dalam hitungan detik, seluruh ruangan VIP restoran seafood itu berubah sunyi. Semua mata tertuju pada ibuku yang hanya menundukkan kepala sambil menahan perih di pipinya. Tidak ada teriakan, tidak ada tangisan. Hanya napas yang sedikit bergetar dan tangan yang berusaha mengusap sisa teh yang masih menetes.
Aku merasakan dadaku sesak.
Bukan karena malu.

Melainkan karena perempuan yang telah mengorbankan seluruh hidupnya demi membesarkanku baru saja dihina di depan begitu banyak orang.
Saat Adrian, pria yang tiga tahun kucintai, memilih mengatakan bahwa kami tidak pantas bersama dan membatalkan pernikahan, sesuatu di dalam diriku benar-benar mati.
Aku tidak lagi melihatnya sebagai laki-laki yang pernah berjanji akan menjagaku.
Yang kulihat hanyalah seorang anak yang terlalu takut kehilangan warisan sehingga rela mengorbankan perempuan yang dicintainya.
Aku menekan tombol pengeras suara.
Suara Pak Ramon memenuhi ruangan.
“Selamat siang, Bu Mara. Seluruh jajaran direksi SilverBridge sedang menunggu keputusan final dari Ibu.”
Aku menarik napas panjang.
“Pak Ramon, batalkan seluruh negosiasi dengan Alcantara Group.”
Hening.
Tidak ada seorang pun yang bergerak.
Lalu Pak Ramon menjawab tanpa ragu.
“Baik, Bu. Apakah seluruh kerja sama investasi senilai delapan ratus miliar rupiah juga kami hentikan?”
“Ya.”
“Baik. Saya akan umumkan sekarang juga kepada seluruh direksi.”
Panggilan terputus.
Suasana mendadak berubah.
Felisa yang sejak tadi tersenyum angkuh kini memucat.
“Apa maksud semua ini?”
Aku memasukkan ponsel kembali ke dalam tas.
“Tidak ada yang perlu dijelaskan.”
Seorang paman Adrian berdiri.
“SilverBridge? Maksudmu SilverBridge Technology?”
Aku mengangguk pelan.
“Itu perusahaan tempatku bekerja.”
Felisa langsung tertawa sinis.
“Kamu hanya pegawai.”
Aku menatapnya tenang.
“Benar. Tapi saya juga pemegang saham terbesar kedua setelah pendiri perusahaan.”
Semua orang terdiam.
Adrian menggeleng pelan.
“Itu… tidak mungkin.”
Aku tersenyum tipis.
“Dulu memang tidak.”
Lima tahun lalu, saat masih kuliah, aku memenangkan kompetisi pengembangan kecerdasan buatan tingkat Asia. Teknologi yang kukembangkan kemudian dibeli oleh seorang pengusaha Indonesia bernama Ramon Hartono.
Alih-alih membayarku penuh, beliau menawarkan saham.
Semua orang menganggap aku bodoh karena menerima saham perusahaan rintisan yang bahkan belum dikenal.
Aku menerimanya.
Selama lima tahun terakhir SilverBridge berkembang menjadi salah satu perusahaan teknologi terbesar di Asia Tenggara.
Nilai sahamku meningkat ribuan kali lipat.
Aku tetap hidup sederhana.
Ibuku tetap berjualan karena beliau mencintai pekerjaannya.
Kami tidak pernah merasa perlu menunjukkan kekayaan kepada siapa pun.
Felisa menelan ludah.
“Tapi… kenapa kamu tidak pernah bilang?”
Aku tersenyum.
“Karena saya ingin menikah dengan seseorang yang mencintai saya, bukan rekening saya.”
Tatapan Adrian mulai dipenuhi penyesalan.
“Mara… aku tidak tahu.”
“Aku memang tidak pernah ingin kamu tahu.”
Saat itu ponsel Adrian berdering.
Ia mengangkat telepon dengan wajah bingung.
Beberapa detik kemudian ekspresinya berubah drastis.
“Apa?”
Suara dari seberang terdengar cukup keras hingga kami bisa mendengarnya.
“Pak Adrian, SilverBridge resmi menarik seluruh investasinya. Dewan direksi juga menghentikan pembicaraan akuisisi. Harga saham perusahaan kita langsung turun.”
Adrian memejamkan mata.
Felisa mulai panik.
“Tidak mungkin hanya karena satu kerja sama.”
Aku memandangnya tanpa emosi.
“SilverBridge bukan satu-satunya.”
Aku kembali membuka ponsel.
Beberapa pesan masuk hampir bersamaan.
Pak Ramon mengirimkan laporan singkat.
Seluruh mitra strategis yang sebelumnya bergabung melalui rekomendasiku memilih meninjau ulang kerja sama dengan Alcantara Group.
Felisa mulai kehilangan keseimbangan.
“Kamu… kamu melakukan ini karena dendam?”
Aku menggeleng.
“Tidak.”
“Lalu kenapa?”
“Karena saya tidak mau perusahaan tempat saya membangun karier bekerja sama dengan keluarga yang menganggap harga diri orang lain bisa dibeli.”
Ibuku menyentuh lenganku pelan.
“Cukup, Mara.”
Aku menoleh.
Beliau masih tersenyum meski pipinya memerah.
“Jangan balas keburukan dengan kebencian.”
Aku menggenggam tangannya.
“Ma, aku tidak sedang membalas. Aku hanya sedang mengambil keputusan bisnis.”
Kami berdiri meninggalkan meja.
Saat hampir mencapai pintu, Adrian mengejarku.
“Mara.”
Aku berhenti.
“Tolong dengarkan aku.”
Aku menoleh.
Air mata mulai memenuhi matanya.
“Aku salah.”
Aku hanya diam.
“Aku takut kehilangan keluargaku.”
Aku tersenyum pahit.
“Dan karena itu kamu memilih kehilangan perempuan yang mencintaimu.”
“Aku masih mencintaimu.”
“Tidak.”
Aku menggeleng.
“Kalau benar kamu mencintaiku, sejak teh itu menyentuh wajah ibuku, kamu sudah berdiri di sampingku.”
Adrian tidak mampu menjawab.
Kami pergi meninggalkan restoran.
Di dalam mobil, ibuku justru meminta berhenti di sebuah minimarket.
Aku bingung.
Beliau membeli salep untuk pipinya lalu tersenyum kepadaku.
“Jangan sedih.”
“Aku tidak sedih, Ma.”
“Kamu bohong.”
Aku memeluknya erat.
“Aku hanya menyesal pernah memilih orang yang salah.”
Ibuku mengusap rambutku.
“Orang yang salah sering kali datang supaya kita belajar menghargai orang yang benar.”
Hari-hari berikutnya berita mengenai batalnya kerja sama SilverBridge dengan Alcantara Group menjadi pembicaraan di dunia bisnis.
Media tidak pernah mengetahui alasan sebenarnya.
Yang mereka tahu hanyalah negosiasi besar tiba-tiba dibatalkan.
Nilai perusahaan Alcantara terus menurun.
Beberapa investor menarik diri.
Bank mulai memperketat pinjaman.
Tiga bulan kemudian aku menerima undangan dari sebuah forum teknologi nasional.
Tanpa sengaja aku kembali bertemu Adrian.
Wajahnya tampak jauh lebih kurus.
Ia menghampiriku setelah acara selesai.
“Apa kabar?”
“Baik.”
“Aku dengar ibumu sudah membuka restoran sendiri.”
Aku tersenyum.
“Ya.”
Setelah kejadian itu, aku meminta beliau berhenti berjualan di pinggir jalan.
Kami membuka restoran sederhana dengan resep yang selama puluhan tahun beliau masak sendiri.
Setiap hari penuh.
Bukan karena aku kaya.
Melainkan karena masakan beliau memang enak.
Adrian menunduk.
“Aku ingin meminta maaf langsung kepada ibumu.”
“Aku akan sampaikan.”
“Apa masih ada kesempatan untuk kita?”
Aku memandangnya cukup lama.
Lalu menggeleng perlahan.
“Ada hal yang bisa diperbaiki dengan permintaan maaf.”
Aku berhenti sejenak.
“Tapi ada kepercayaan yang hanya hancur satu kali.”
Ia tersenyum pahit.
“Aku mengerti.”
Beberapa bulan berlalu lagi.
Suatu sore seorang perempuan tua datang ke restoran ibuku.
Aku langsung mengenalinya.
Felisa.
Namun penampilannya sangat berbeda.
Tidak ada gaun mahal.
Tidak ada kalung mutiara.
Ia hanya mengenakan pakaian sederhana.
Matanya tampak lelah.
Begitu melihat ibuku, ia langsung berdiri.
“Saya datang untuk meminta maaf.”
Seluruh restoran mendadak sunyi.
Felisa membungkukkan badan.
“Saya sudah terlalu sombong.”
Air matanya jatuh.
“Saya kehilangan banyak hal sebelum sadar bahwa yang paling berharga ternyata bukan uang.”
Ibuku hanya tersenyum.
“Luka di wajah saya sudah sembuh.”
“Tapi luka yang saya buat di hati Ibu?”
Ibuku mendekat.
“Luka itu juga akan sembuh kalau kita berhenti menyiraminya dengan kebencian.”
Felisa menangis semakin keras.
Aku melihat semuanya tanpa berkata apa-apa.
Saat hendak pulang, Felisa berhenti di depanku.
“Terima kasih.”
“Apa?”
“Karena kamu tidak menghancurkan keluarga kami meski sebenarnya kamu bisa.”
Aku tersenyum tipis.
“Ayah saya pernah mengajarkan satu hal sebelum beliau meninggal.”
“Apa itu?”
“Orang yang benar-benar kuat tidak menikmati kehancuran orang lain. Mereka hanya memastikan keadilan tetap berjalan.”
Felisa mengangguk pelan lalu pergi.
Setelah ia menghilang dari pandangan, ibuku menatapku sambil tersenyum bangga.
“Mara.”
“Ya, Ma?”
“Hari ini Ibu baru sadar.”
“Sadar apa?”
“Ternyata keberhasilan terbesar Ibu bukan membesarkan anak yang kaya.”
Aku menggenggam tangannya.
“Lalu?”
“Ibu berhasil membesarkan anak yang tidak kehilangan hati nuraninya saat memiliki segalanya.”
Aku memandang restoran kecil yang dipenuhi pelanggan.
Mereka tertawa, menikmati makanan hangat, tanpa peduli siapa yang kaya atau miskin.
Saat itulah aku akhirnya memahami bahwa kehormatan seseorang tidak pernah ditentukan oleh mahalnya pakaian, besarnya perusahaan, atau panjangnya daftar kekayaan.
Kehormatan lahir dari cara seseorang memperlakukan orang lain, terutama mereka yang tidak memiliki kekuasaan untuk membalas.
Dan sejak hari ketika secangkir teh panas menghina ibuku, aku belajar bahwa harga diri bukan sesuatu yang diberikan oleh orang lain.
Harga diri adalah sesuatu yang kita jaga sendiri, bahkan ketika seluruh dunia mencoba merampasnya.
