“Nadira, jawab aku! Apa yang kamu lakukan sampai bank membekukan pencairan dana perusahaan?”
Aku meletakkan cangkir teh di atas meja, lalu menarik napas panjang. Dari dapur, aroma nasi goreng buatan Ibu memenuhi ruangan. Di rumah kecil ini, tak seorang pun berteriak kepadaku. Tak seorang pun menganggap keberadaanku sebagai beban.
“Aku tidak melakukan apa pun, Raka,” jawabku tenang. “Aku hanya berhenti membantu.”
“Apa maksudmu berhenti membantu? Kamu tahu berapa banyak karyawan yang bergantung pada perusahaan ini?”
Aku memejamkan mata sebentar.
Lucu sekali. Semalam, ketika aku ditampar dan diusir, Raka tidak memikirkan bagaimana perasaanku. Namun pagi ini, ketika perusahaannya terancam, tiba-tiba ia mengingat tanggung jawab, keluarga, dan orang-orang yang bergantung kepadanya.
“Kalau kamu ingin tahu apa yang terjadi, bacalah email yang kukirim tadi malam.”
“Email apa? Aku tidak menerima apa pun!”
“Karena email itu kukirim kepada dewan direksi, bagian keuangan, dan tim hukum. Bukan kepadamu.”
Suara napasnya terdengar berat.
“Kamu sengaja mempermalukanku?”
“Tidak, Raka. Aku sedang mengakhiri hubungan profesional yang selama ini bahkan tidak pernah kamu akui di depan orang lain.”
Sebelum ia sempat menjawab, aku mengakhiri panggilan.

Tanganku gemetar setelah meletakkan ponsel. Bukan karena takut kepada Raka, melainkan karena selama empat tahun aku terbiasa mengalah setiap kali ia marah. Mengakhiri kebiasaan itu ternyata tidak semudah mengucapkan kata cukup.
Ibu keluar dari kamar membawa kotak obat.
“Pipimu masih sakit?”
Aku mengangguk.
Beliau duduk di sampingku, lalu mengoleskan salep dengan hati-hati. Matanya berhenti pada bekas kemerahan di wajahku.
“Dia yang melakukan ini?”
Aku menunduk.
Ibu tidak langsung bertanya lebih jauh. Beliau hanya mengusap rambutku, seperti ketika aku masih kecil dan pulang menangis setelah terjatuh dari sepeda.
“Nak, Ibu tidak pernah mengajarimu untuk membenci suamimu. Tetapi Ibu juga tidak membesarkanmu supaya kamu menganggap pukulan sebagai harga yang harus dibayar untuk mempertahankan pernikahan.”
Air mataku jatuh.
Selama bertahun-tahun, aku selalu menutupi perlakuan Bu Ratih dari ibuku. Aku tidak ingin beliau khawatir. Aku juga terus meyakinkan diriku bahwa setiap rumah tangga pasti memiliki masalah.
Ternyata aku telah menggunakan kata sabar untuk membenarkan terlalu banyak hal.
Pukul delapan pagi, rapat darurat PT Langit Niaga Teknologi dimulai di Jakarta.
Aku tidak hadir secara langsung. Namun, sebagai penasihat strategi yang selama dua tahun membantu perusahaan itu bertahan, aku masih menerima undangan untuk memberikan penjelasan atas keputusan penghentian dukunganku.
Sebelum rapat dimulai, direktur keuangan bernama Pak Bima meneleponku.
“Nadira, saya sudah membaca emailmu. Saya ingin memastikan satu hal. Apakah kamu benar-benar tidak akan memperpanjang fasilitas pendanaan sementara?”
“Benar, Pak. Fasilitas sebelumnya sudah berakhir sesuai jadwal. Saya tidak membatalkan perjanjian yang masih berlaku. Saya hanya tidak akan memberikan persetujuan baru sebelum seluruh kewajiban perusahaan diperiksa.”
“Kalau begitu, kita harus menyampaikan kondisi sebenarnya kepada dewan.”
“Memang itu yang seharusnya dilakukan sejak awal.”
Pak Bima terdiam.
Aku tahu ia memahami maksudku.
Selama dua tahun terakhir, aku berkali-kali memperingatkan bahwa perusahaan Raka terlalu bergantung pada pinjaman jangka pendek. Pendapatan dari dua proyek utama terus terlambat, sementara biaya operasional meningkat. Beberapa kontrak besar terlihat menguntungkan di atas kertas, tetapi pembayaran dari klien belum pernah benar-benar diterima.
Setiap kali aku menyampaikan kekhawatiran itu, Raka selalu menjawab bahwa ia mengerti bisnis lebih baik dariku.
Karena aku tidak memiliki jabatan resmi di perusahaan, ia menganggap saranku hanya bentuk kecemasan seorang istri.
Padahal, sebelum menikah dengannya, aku telah membangun karier selama hampir sepuluh tahun di bidang restrukturisasi bisnis dan manajemen risiko.
Aku sengaja tidak pernah menggunakan nama keluargaku untuk mendapatkan posisi di perusahaan Raka. Aku ingin dinilai berdasarkan kemampuanku sendiri, bukan karena siapa ayahku.
Namun, kerendahan hati yang kuinginkan justru berubah menjadi kesempatan bagi orang lain untuk meremehkanku.
Pukul sembilan lewat lima belas menit, Pak Bima menghubungiku kembali.
“Nadira, situasinya lebih buruk daripada perkiraan kami.”
“Apa yang ditemukan?”
“Ada tagihan vendor yang sudah jatuh tempo, kewajiban pajak yang belum diselesaikan, dan proyeksi pendapatan yang terlalu optimistis. Selain itu, laporan kepada bank berbeda dengan laporan internal.”
Aku menggenggam ponsel lebih erat.
“Siapa yang menyusun laporan itu?”
“Tim keuangan menyusun angka dasarnya, tetapi persetujuan akhir berada di tangan direktur utama. Kami sedang memeriksa siapa yang mengubah proyeksinya.”
“Pastikan pemeriksaan dilakukan oleh pihak independen. Jangan menutupi apa pun demi menyelamatkan jabatan seseorang.”
“Termasuk Raka?”
Aku terdiam sejenak.
“Terutama jika keputusannya memang menyebabkan kerugian.”
Setelah panggilan berakhir, aku menatap foto pernikahanku yang masih tersimpan di ponsel. Aku mengenakan kebaya putih, sementara Raka tersenyum sambil menggenggam tanganku.
Dulu, aku percaya kami akan membangun kehidupan bersama, saling menopang ketika salah satu jatuh.
Aku tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari aku harus memilih antara melindungi perusahaan yang telah kubantu dan melindungi diriku sendiri dari lelaki yang kucintai.
Menjelang siang, Raka datang ke rumah ibuku.
Aku melihat mobilnya berhenti di depan pagar melalui jendela ruang tamu. Ia turun tanpa membawa apa pun, bahkan tidak mengenakan dasi seperti biasanya. Wajahnya kusut dan matanya merah karena kurang tidur.
Ibu hendak membuka pintu, tetapi aku menahannya.
“Aku saja, Bu.”
Ketika pintu terbuka, Raka langsung masuk setengah langkah.
“Kita harus bicara.”
“Kita sedang bicara.”
“Jangan seperti ini, Nadira. Aku suamimu.”
Aku menatapnya.
“Semalam kamu menyuruhku pergi. Sekarang kamu datang karena perusahaanmu bermasalah. Bagian mana yang membuatmu merasa masih berhak mengaturku?”
Raka mengusap wajahnya.
“Aku memang salah karena menamparmu. Aku mengakuinya. Tapi kamu tidak seharusnya membawa masalah rumah tangga ke perusahaan.”
“Aku tidak membawa masalah rumah tangga ke perusahaan. Aku menghentikan dukungan profesional yang selama ini kuberikan secara pribadi. Itu dua hal berbeda.”
“Kalau kamu tidak membantuku, perusahaan bisa bangkrut!”
“Kalau sebuah perusahaan hanya bisa bertahan karena seseorang diam-diam menutup lubang keuangannya, perusahaan itu memang sedang bermasalah.”
Ia terdiam.
Aku melanjutkan, “Kamu pernah bertanya dari mana perusahaanmu mendapatkan dana talangan ketika dua proyek besar terlambat membayar?”
Raka mengangguk pelan.
“Kamu bilang itu pinjaman dari mitra investasi.”
“Benar. Mitra investasi itu adalah perusahaan yang aku kelola.”
Wajahnya berubah.
“Tidak mungkin.”
“Aku tidak pernah meminta saham tambahan sebagai imbalan. Aku juga tidak pernah meminta namaku dicantumkan dalam laporan publik. Aku memberikan pendanaan melalui perjanjian yang sah karena aku percaya kamu bisa memperbaiki keadaan.”
Raka mundur selangkah.
“Jadi, selama ini kamu yang membantu perusahaan?”
“Sebagian. Bukan seluruhnya. Jangan salah paham. Perusahaanmu tetap memiliki utang dan kewajiban yang harus diselesaikan sendiri.”
Ia menatapku seolah-olah baru mengenalku.
“Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku?”
Aku hampir menjawab bahwa aku sudah berulang kali mencoba membicarakan kondisi keuangan perusahaan, tetapi ia selalu memotong pembicaraanku.
Namun, aku mengurungkan niat itu.
Tidak ada gunanya menjelaskan sesuatu kepada orang yang baru ingin mendengar setelah kehilangan kendali.
“Aku pernah memberitahumu tentang risiko perusahaan. Kamu memilih tidak mendengarkan.”
Raka menunduk.
Untuk sesaat, aku melihat lelaki yang dahulu kucintai. Bukan CEO yang selalu ingin terlihat kuat, melainkan seorang manusia yang ketakutan menghadapi akibat dari keputusannya sendiri.
“Aku bisa memperbaiki semuanya,” katanya. “Aku akan meminta Ibu meminta maaf. Aku akan mengurus perceraian itu nanti. Kamu bisa kembali ke rumah.”
Aku menggeleng.
“Permintaan maaf bukan tiket untuk mengembalikan seseorang ke tempat yang pernah menyakitinya.”
“Lalu apa yang kamu inginkan dariku?”
“Untuk pertama kalinya, aku ingin kamu menyelesaikan masalahmu tanpa menjadikanku penanggung jawabnya.”
Raka memandangku lama. Kemudian ia mengeluarkan sebuah map dari tasnya.
“Aku membawa dokumen perusahaan. Ada sesuatu yang harus kamu lihat.”
Aku tidak langsung menerimanya.
“Apa ini?”
“Laporan pendanaan. Ada transaksi yang tidak pernah aku setujui. Aku baru mengetahuinya pagi ini.”
Aku membuka map itu.
Di antara puluhan halaman, ada satu transaksi yang membuatku terdiam. Dana perusahaan telah dialihkan ke sebuah badan usaha yang namanya sangat kukenal.
Badan usaha itu terdaftar atas nama Bu Ratih.
Aku mengangkat kepala.
“Kenapa perusahaan mentransfer uang sebanyak ini ke rekening usaha ibumu?”
Raka terlihat kebingungan.
“Katanya untuk investasi properti. Ibu bilang beliau punya mitra bisnis.”
“Apakah kamu memeriksa kontraknya?”
Ia menggeleng.
Aku menutup map perlahan.
Kini masalahnya bukan lagi sekadar perusahaan yang kekurangan modal. Ada transaksi yang harus ditelusuri, dan nama ibu mertuaku muncul di dalamnya.
Aku tidak akan menuduhnya sebelum bukti lengkap tersedia. Namun, aku tahu pemeriksaan ini tidak boleh dihentikan hanya karena hubungan keluarga.
“Raka, serahkan semua dokumen ini kepada tim audit independen. Jangan mengubah catatan atau menghubungi siapa pun untuk menyelaraskan cerita.”
“Kamu mencurigai Ibu?”
“Aku mencurigai transaksi yang tidak memiliki penjelasan memadai.”
Ia duduk di kursi teras dan menutup wajahnya.
Untuk pertama kalinya, aku melihatnya benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
Sore itu, hasil pemeriksaan awal menunjukkan bahwa sebagian dana memang digunakan untuk membeli properti atas nama perusahaan milik Bu Ratih. Namun, dokumen pendukungnya tidak lengkap. Dewan memutuskan untuk membekukan transaksi terkait dan meminta pemeriksaan hukum lebih lanjut.
Aku tidak ikut menentukan apakah Raka harus diberhentikan atau dipertahankan. Aku meminta seluruh keputusan diambil berdasarkan bukti, bukan karena aku istrinya atau karena aku sedang marah kepadanya.
Dua minggu kemudian, aku menerima panggilan dari kantor hukum yang menangani pemisahan aset kami.
Raka akhirnya mengakui bahwa rumah yang selama ini dibanggakannya tidak sepenuhnya dibiayai oleh dirinya. Uang muka rumah itu berasal dari rekening bersama, sedangkan sebagian cicilannya dibayar dari rekening pribadiku. Mobil yang ia gunakan juga dibeli dengan hasil penjualan mobil lamaku dan tambahan dana dari tabungan bersama.
Pengacara menyarankan agar seluruh aset diperiksa sebelum kesepakatan perceraian ditandatangani.
Aku menyetujuinya.
Aku tidak ingin mengambil sesuatu yang bukan hakku. Namun, aku juga tidak akan lagi menyerahkan hakku hanya supaya orang lain merasa nyaman.
Sementara itu, perusahaan Raka memasuki proses restrukturisasi. Beberapa proyek dihentikan, biaya operasional dipangkas, dan laporan keuangan diperiksa ulang. Tidak semua karyawan kehilangan pekerjaan, tetapi perusahaan harus menghadapi kenyataan bahwa pemulihan membutuhkan waktu panjang.
Raka mengirimiku pesan hampir setiap malam. Kadang ia meminta maaf. Kadang ia menceritakan tekanan yang dihadapinya. Aku membaca semuanya, tetapi tidak selalu membalas.
Aku tidak ingin membalas dendam. Aku hanya ingin hidup tanpa rasa takut bahwa setiap perbedaan pendapat akan berakhir dengan bentakan, ancaman, atau pukulan.
Sebulan setelah malam itu, aku kembali bekerja penuh waktu di perusahaan konsultan yang selama ini kujalankan dari rumah. Aku juga mulai membantu ibuku mengembangkan usaha kecil menjahit pakaian muslim. Gamis yang kubelikan sebelum diusir masih tersimpan dalam lemari beliau, dan setiap kali melihatnya, Ibu selalu mengingatkanku bahwa kebaikan tidak pernah menjadi kesalahan hanya karena orang lain tidak menyukainya.
Pada hari pengumuman hasil audit, aku dipanggil menghadiri pertemuan terakhir dengan dewan direksi Langit Niaga Teknologi.
Aku datang dengan blazer biru tua yang sama seperti malam ketika meninggalkan rumah Raka.
Ketua dewan menyambutku dengan sebuah dokumen.
“Kami ingin menawarkan posisi direktur independen untuk memimpin proses pemulihan perusahaan.”
Aku membaca tawaran itu dengan saksama.
Posisi tersebut memberiku kewenangan mengawasi restrukturisasi, memastikan keterbukaan laporan keuangan, dan melindungi kepentingan perusahaan serta para karyawannya. Aku tidak akan memiliki kewenangan untuk menghapus utang atau membebaskan siapa pun dari tanggung jawab.
Aku meminta waktu satu hari untuk mempertimbangkan.
Malamnya, Raka menelepon.
“Aku mendengar mereka ingin mengangkatmu menjadi direktur.”
“Ya.”
“Kamu akan menerima tawaran itu?”
“Aku masih mempertimbangkannya.”
Ia menarik napas panjang.
“Dulu aku selalu merasa kamu hanya ingin menjadi istri yang baik. Aku tidak pernah tahu seberapa jauh kemampuanmu.”
Aku terdiam beberapa saat.
“Masalahnya bukan kamu tidak tahu kemampuanku. Masalahnya, kamu merasa tidak perlu mengetahuinya.”
Di ujung telepon, ia tidak berkata apa-apa.
Sebelum panggilan berakhir, ia berbisik, “Aku menyesal.”
Aku percaya ia mungkin benar-benar menyesal. Namun, penyesalan tidak otomatis menghapus luka, sebagaimana cinta tidak otomatis membuat seseorang aman.
Keesokan harinya, aku menerima tawaran tersebut dengan satu syarat. Perusahaan harus memberikan perlindungan bagi pelapor pelanggaran, melakukan audit berkala, dan menerapkan kebijakan yang melarang campur tangan keluarga dalam transaksi bisnis tanpa pengungkapan yang jelas.
Dewan menyetujuinya.
Beberapa bulan kemudian, penyelidikan atas transaksi mencurigakan selesai. Temuan dan tanggung jawab masing-masing pihak diserahkan kepada pihak berwenang sesuai prosedur. Perusahaan mulai pulih perlahan, bukan karena satu orang datang menyelamatkannya, melainkan karena semua orang akhirnya dipaksa menghadapi kenyataan.
Aku dan Raka menyelesaikan perceraian kami secara resmi setelah pembagian aset disepakati berdasarkan bukti dan ketentuan hukum. Bu Ratih tidak pernah meminta maaf atas malam ketika ia mengusirku. Aku juga tidak lagi menunggu permintaan itu.
Pada hari aku menerima salinan putusan perceraian, sebuah paket tiba di kantorku. Di dalamnya terdapat gamis berwarna hijau lembut, lengkap dengan kerudung yang serasi. Tidak ada nama pengirim, hanya sebuah catatan pendek.
Aku baru mengerti sekarang bahwa selama ini aku bukan kehilangan istri yang baik. Aku kehilangan kesempatan menjadi suami yang pantas untukmu.
Aku mengenali tulisan tangan Raka.
Aku melipat catatan itu dan menyimpannya kembali ke dalam amplop. Bukan untuk mengenang kemungkinan kami kembali bersama, melainkan sebagai pengingat bahwa seseorang bisa memahami kesalahannya setelah semuanya terlambat.
Sore itu, aku mengunjungi rumah Ibu. Beliau sedang menjahit pesanan pelanggan ketika aku datang. Gamis yang kubelikan malam itu masih dikenakannya, meski warnanya mulai sedikit pudar.
“Ibu masih suka gamis itu?” tanyaku.
Ibu tersenyum.
“Suka sekali. Bukan karena harganya, Nak. Karena kamu membelinya dengan hati yang tulus.”
Aku memeluknya erat.
Dulu aku meninggalkan rumah Raka dengan satu koper, pipi yang memerah, dan hati yang hancur. Aku mengira malam itu adalah akhir dari hidup yang kubangun selama empat tahun.
Ternyata, malam itu adalah awal dari kehidupan yang akhirnya kubangun untuk diriku sendiri.
Dan ketika aku menatap Ibu yang tersenyum di bawah cahaya sore, aku memahami sesuatu yang tak pernah bisa diajarkan oleh uang, jabatan, atau kekuasaan.
Tidak semua kehilangan adalah kehancuran. Kadang, kehilangan seseorang yang tidak menghargai kita adalah cara kehidupan mengembalikan sesuatu yang jauh lebih berharga.
Diri kita sendiri.
