Tiga bulan aku hamil ketika aku sendiri yang memutuskan hubungan dengan tunanganku yang kaya raya di Jakarta.

Hujan turun begitu deras hingga jalanan Jakarta berubah menjadi lautan pantulan cahaya lampu. Lembar hasil USG yang selama ini kusimpan seperti nyawaku sendiri terlepas dari jemariku, berputar diterbangkan angin ke tengah jalan. Mobil-mobil mengerem mendadak. Klakson bersahutan.

“Alina!”

Suara Gabriel memecah kebisingan. Tanpa berpikir panjang, dia berlari menerobos hujan, mengabaikan mobil yang melintas hanya beberapa sentimeter dari tubuhnya. Dia menjatuhkan diri di tengah jalan dan berhasil meraih lembar USG itu tepat sebelum terlindas ban truk.

Napasnya memburu ketika membuka kertas yang sudah basah.

Wajahnya seketika membeku.

Matanya terpaku pada tulisan yang hanya terdiri dari beberapa kata sederhana, tetapi cukup untuk menghancurkan seluruh dunianya.

Kehamilan kembar.

Dua janin.

Dia mengangkat kepala perlahan, menatapku dengan mata memerah.

“Kembar…?”

Aku hanya berdiri diam.

Selama enam tahun aku selalu menjadi perempuan yang memilih mengalah, memilih percaya, memilih menunggu. Namun hari itu, semua air mata yang pernah kutahan terasa mengering begitu saja.

“Aku sudah tahu sejak satu bulan lalu,” kataku pelan.

Gabriel menggenggam kertas itu begitu erat hingga hampir robek.

“Kenapa kamu tidak bilang?”

Aku tersenyum tipis.

“Supaya kamu sempat memilih siapa yang lebih penting.”

Dia menggeleng keras.

“Bukan begitu.”

“Lalu seperti apa?”

Dia membuka mulut, tetapi tidak ada satu kalimat pun yang keluar.

Karena memang tidak ada jawaban.

Tidak ada penjelasan yang bisa menghapus malam-malam ketika dia menemani Serena sampai dini hari sementara aku muntah sendirian di apartemen.

Tidak ada alasan yang bisa menghapus sikap ibunya yang menganggap anak-anakku sebagai ancaman bagi citra keluarga.

Dan tidak ada pembelaan yang bisa menghapus kenyataan bahwa aku selalu menjadi prioritas kedua.

Serena yang sejak tadi berdiri beberapa langkah di belakang akhirnya mendekat.

“Gabriel…”

Belum sempat dia melanjutkan kalimatnya, Gabriel berbalik.

“Kamu sudah tahu dia hamil?”

Serena terdiam.

“Aku…”

“Kamu tahu dia mengandung anakku?”

Air mata Serena mulai jatuh.

“Aku baru tahu hari ini.”

Gabriel menatapnya lama.

“Lalu kenapa kamu bilang padaku kalau Alina hanya ingin pergi agar aku merasa bersalah?”

Serena menggigit bibir.

“Aku takut kehilanganmu.”

Kalimat itu meluncur begitu saja.

Tak ada lagi yang disembunyikan.

Tak ada lagi senyum polos yang selama ini selalu dia tunjukkan di depanku.

Dia memang mencintai Gabriel.

Dan selama ini, semua perhatian yang tampak tulus ternyata memiliki tujuan.

Saat itu pula sebuah Mercedes hitam berhenti di pinggir jalan.

Ibu Gabriel turun dengan payung besar di tangannya.

Begitu melihat hasil USG berada di tangan putranya, wajahnya langsung berubah.

“Kamu sudah tahu?”

Gabriel menatap ibunya.

“Kenapa Mama tidak pernah bilang kalau Alina dipaksa menyembunyikan kehamilannya?”

Wanita itu tetap tenang.

“Aku melindungi keluarga kita.”

“Dengan cara memperlakukan cucu Mama seperti aib?”

“Aku melindungi perusahaan.”

Gabriel tertawa pelan.

Tawa yang terdengar jauh lebih menyakitkan daripada tangisan.

“Selama ini aku selalu berpikir Mama hanya keras.”

Dia menatap perempuan yang telah membesarkannya.

“Ternyata Mama kejam.”

Tamparan keras mendarat di pipinya.

Namun Gabriel bahkan tidak bergeming.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia menatap ibunya tanpa rasa takut.

“Aku sudah kehilangan perempuan yang kucintai.”

“Sekarang Mama juga ingin membuatku kehilangan anak-anakku?”

Ibu Gabriel memejamkan mata beberapa detik.

“Kalau dia benar-benar mencintaimu, dia tidak akan pergi.”

Aku akhirnya ikut berbicara.

“Kalau beliau benar-benar menerima saya, saya tidak perlu pergi.”

Keheningan menyelimuti mereka.

Aku mengangkat koper.

“Tolong jangan cari aku lagi.”

Gabriel langsung memegang lenganku.

“Jangan pergi.”

Aku melepaskan tangannya perlahan.

“Sudah terlambat.”

“Aku akan memperbaiki semuanya.”

“Apa kamu bisa mengembalikan rasa aman yang hilang?”

Dia terdiam.

“Apa kamu bisa menghapus semua malam ketika aku merasa sendirian?”

Dia kembali diam.

“Apa kamu bisa membuat anak-anakku nanti tidak pernah tahu bahwa ayah mereka lebih memilih menemani perempuan lain saat ibu mereka sedang hamil?”

Air matanya akhirnya jatuh.

Aku belum pernah melihat Gabriel menangis.

Bahkan saat ayahnya meninggal beberapa tahun lalu, dia tetap tegar.

Namun hari itu, bahunya gemetar.

“Aku salah.”

“Iya.”

“Maafkan aku.”

Aku mengangguk kecil.

“Aku memaafkanmu.”

Wajahnya sedikit berbinar.

“Tapi aku tidak kembali.”

Kalimat itu menghancurkan harapan terakhirnya.

Dua hari kemudian aku terbang menuju Vancouver.

Bibiku menyambutku di bandara dengan pelukan hangat yang selama ini kurindukan.

Di rumah kecilnya yang menghadap danau, aku mulai belajar hidup tanpa bayang-bayang keluarga Wijaya.

Aku mengikuti kelas ibu hamil.

Belajar memasak.

Membuka usaha kecil secara daring menggunakan kemampuan desain yang selama ini hanya kujadikan hobi.

Sedikit demi sedikit hidupku berubah.

Setiap minggu Gabriel selalu mengirim email.

Tidak pernah sekalipun kubalas.

Dia mengirim foto kamar bayi yang sedang dia siapkan.

Kubaca, lalu kuarsipkan.

Dia mengirim hasil pemeriksaan psikolog.

Kubaca, lalu kututup.

Dia mengirim surat tulisan tangan sepanjang belasan halaman.

Tetap tidak kubalas.

Enam bulan kemudian aku melahirkan seorang bayi laki-laki dan seorang bayi perempuan.

Aku menamai mereka Gavin dan Aileen.

Tangis pertama mereka memenuhi ruang bersalin.

Saat memeluk keduanya, aku sadar bahwa keputusan meninggalkan Jakarta adalah keputusan terbaik dalam hidupku.

Di Indonesia, keadaan keluarga Wijaya ternyata berubah drastis.

Skandal hubungan antara Serena dan ibu Gabriel bocor ke media.

Seorang mantan sekretaris perusahaan membocorkan rekaman percakapan mereka.

Dalam rekaman itu terdengar jelas bagaimana ibu Gabriel meminta Serena terus berada di dekat putranya agar hubungan dengan “perempuan biasa” itu berakhir.

Reputasi keluarga yang selama ini begitu dijaga justru runtuh karena ulah mereka sendiri.

Beberapa investor menarik kerja sama.

Harga saham perusahaan turun.

Serena menghilang dari kehidupan publik.

Konon dia kembali ke Amerika.

Gabriel memilih mundur dari jabatan direktur dan mendirikan perusahaan baru dengan namanya sendiri.

Banyak media menyebutnya bodoh.

Namun dia hanya berkata satu kalimat dalam sebuah wawancara.

“Kesalahan terbesar saya bukan kehilangan jabatan. Melainkan kehilangan kepercayaan perempuan yang paling saya cintai.”

Waktu terus berjalan.

Lima tahun berlalu.

Gavin dan Aileen tumbuh menjadi anak-anak yang ceria.

Mereka sering bertanya tentang ayah mereka.

Aku tidak pernah berbohong.

Aku hanya berkata, “Ayah kalian pernah sangat mencintai kita. Tapi kadang orang dewasa membuat keputusan yang salah.”

Suatu sore musim gugur, sekolah mereka mengadakan festival keluarga.

Aku datang lebih awal.

Saat sedang membantu Aileen merapikan pita di rambutnya, seseorang memanggil namaku.

“Alina.”

Aku langsung mengenali suara itu.

Gabriel.

Dia tampak jauh berbeda.

Rambutnya sedikit lebih pendek.

Wajahnya lebih dewasa.

Tatapannya tidak lagi dipenuhi kesombongan, melainkan penyesalan yang tenang.

Di sampingnya berdiri bibiku.

Ternyata selama ini merekalah yang diam-diam berkomunikasi.

“Aku hanya ingin melihat mereka sekali saja,” katanya.

Aku menatap bibiku.

Beliau mengangguk pelan.

“Aku yang mengizinkan.”

Gabriel berjongkok ketika Gavin dan Aileen berlari ke arahku.

Dia tidak langsung memeluk mereka.

Dia hanya tersenyum.

“Halo.”

Gavin menatapku.

“Mom, siapa Om ini?”

Aku menarik napas panjang.

“Dia ayah kalian.”

Kedua anak itu saling berpandangan.

Lalu Aileen melangkah mendekat.

“Kenapa Ayah baru datang sekarang?”

Gabriel menundukkan kepala.

Karier, uang, kekuasaan, semua yang pernah dia miliki tidak mampu membantunya menjawab pertanyaan sederhana dari putrinya sendiri.

Dengan suara serak dia berkata, “Karena Ayah terlambat menyadari apa yang paling berharga.”

Aileen memiringkan kepala.

“Lain kali jangan terlambat lagi.”

Air mata Gabriel jatuh tanpa bisa ditahan.

Aku melihat pemandangan itu dengan hati yang tenang.

Bukan karena rasa cinta itu kembali.

Melainkan karena akhirnya semua luka menemukan tempatnya untuk sembuh.

Hari itu kami tidak kembali sebagai pasangan.

Tidak ada pelukan romantis.

Tidak ada janji akan menikah lagi.

Hanya ada dua orang dewasa yang akhirnya belajar bahwa cinta tidak pernah cukup jika tidak disertai keberanian untuk saling memilih.

Dan terkadang, kehilangan bukanlah akhir dari sebuah hubungan.

Melainkan awal dari kesempatan menjadi manusia yang lebih baik daripada diri kita yang dahulu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang