Tiga Hari Setelah Pemakaman Ibu, Ayah Langsung Membawa Selingkuhannya Pergi Berlibur. Malam Harinya, Aku Menerima Pesan dari Nomor Ibu: “Aku Belum Mati, Segera Datang ke Pemakaman.” Saat Tiba di Sana, Aku Terkejut Melihat…

Tiga hari setelah pemakaman ibuku, aroma dupa masih tertinggal di ruang tengah. Foto Ibu berdiri di antara bunga-bunga putih yang mulai layu. Senyumnya di dalam bingkai terlihat begitu tenang, bertolak belakang dengan kekacauan yang memenuhi kepalaku.

Namaku Laras. Aku berusia dua puluh tujuh tahun, dan selama hampir setahun terakhir hidupku hanya berputar antara kantor, rumah sakit, dan rumah.

Ibu menderita penyakit yang membuat kondisinya perlahan memburuk. Aku yang mengantar kontrol, menemaninya menjalani pemeriksaan, membelikan obat, dan tidur di kursi rumah sakit ketika beliau harus dirawat.

Ayah hampir selalu punya alasan untuk tidak datang.

Ada rapat.

Ada perjalanan dinas.

Ada klien yang harus ditemui.

Sampai suatu malam aku mengetahui bahwa perempuan bernama Vina adalah alasan sebenarnya.

Vina jauh lebih muda daripada Ayah.

Ibu ternyata mengetahuinya.

Namun setiap kali aku ingin membicarakannya, Ibu selalu berkata, “Sudahlah, Ras. Ada hal yang lebih penting daripada memaksa seseorang untuk tetap mencintai kita.”

Aku mengira Ibu hanya sudah terlalu lelah untuk bertengkar.

Ternyata aku salah.

Tiga hari setelah pemakamannya, Ayah turun dari lantai atas sambil membawa koper. Vina menunggunya di depan rumah dengan pakaian santai dan kacamata hitam.

“Ayah mau ke Bali beberapa hari,” katanya.

Aku menatapnya tak percaya.

“Ibu baru dimakamkan tiga hari lalu.”

Wajah Ayah langsung mengeras.

“Ayah juga berduka. Setiap orang punya cara sendiri untuk menghadapi kehilangan.”

Aku hampir tertawa mendengar kalimat itu.

Pergi berlibur bersama perempuan yang menjadi selingkuhannya disebut menghadapi kehilangan?

Namun aku terlalu lelah untuk bertengkar.

Malam itu aku duduk sendirian di kamar Ibu. Lemarinya masih menyimpan aroma parfum yang biasa beliau gunakan. Di meja samping tempat tidur masih ada sisir dengan beberapa helai rambut putih tersangkut di sela-selanya.

Aku menangis sampai hampir tertidur.

Lalu ponselku bergetar.

Pesan itu berasal dari nomor Ibu.

Aku belum mati. Segera datang ke pemakaman.

Darahku seperti berhenti mengalir.

Nomor itu seharusnya tidak mungkin mengirim pesan.

Ponsel Ibu sudah kumatikan setelah beliau dinyatakan meninggal.

Aku membalas dengan tangan gemetar.

“Siapa ini? Jangan bercanda keterlaluan seperti itu.”

Tak ada jawaban.

Satu menit kemudian muncul pesan kedua.

“Datanglah ke pemakaman. Nanti kamu akan tahu kebenarannya.”

Entah keberanian atau kebodohan yang membuatku pergi malam itu.

Hujan turun tipis ketika aku tiba di pemakaman. Cahaya senter ponselku menyapu deretan nisan yang basah.

Aku berhenti di depan makam Ibu.

Tanahnya masih merah dan lembap.

Aku berlutut.

“Ibu?”

Tentu saja tak ada jawaban.

Namun kemudian terdengar suara langkah kaki dari belakang.

Aku langsung berdiri dan berbalik.

Seorang laki-laki mengenakan jas hujan hitam muncul dari balik pepohonan.

Aku hampir berteriak.

“Laras?”

Aku mengenali suara itu.

“Om Bima?”

Bima adalah adik kandung Ibu. Ia tinggal di Bandung dan selama bertahun-tahun hubungannya dengan keluarga kami tidak terlalu dekat.

“Apa Om yang mengirim pesan itu?”

Bima mengangguk.

Kemarahan langsung meledak di dadaku.

“Om gila? Kenapa memakai nomor Ibu? Kenapa mengatakan Ibu belum mati?”

“Karena itu pesan yang kakakmu minta aku kirim.”

Aku membeku.

“Kakakku?”

“Maksud Om, ibumu. Kakakku.”

Bima mengeluarkan sebuah ponsel dari sakunya.

Ponsel Ibu.

Aku mengenali retakan kecil di sudut layarnya.

“Kenapa ponsel ini ada pada Om?”

“Karena sebelum meninggal, ibumu memberikannya kepadaku.”

Aku menatapnya tanpa mengerti.

Bima kemudian menunjuk sebuah bangunan kecil di tepi pemakaman. Kami berteduh di sana.

Dari tasnya, ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal.

Di bagian depan tertulis namaku dengan tulisan tangan Ibu.

Laras.

Hanya melihat tulisan itu saja membuat dadaku sesak.

“Apa ini?”

“Buka.”

Di dalamnya terdapat beberapa lembar dokumen, sebuah flashdisk, dan surat.

Tanganku gemetar ketika membuka surat tersebut.

Laras, kalau kamu membaca surat ini, berarti Ibu sudah tidak ada.

Air mataku langsung jatuh.

Namun kalimat berikutnya membuatku terdiam.

Jangan percaya bahwa kematian Ibu terjadi secara alami sebelum kamu melihat semua bukti yang Ibu tinggalkan.

Aku menatap Bima.

“Apa maksudnya?”

“Baca sampai selesai.”

Ibu menjelaskan bahwa enam bulan sebelum meninggal, ia mulai curiga terhadap obat yang diberikan kepadanya.

Kondisinya selalu memburuk setiap kali Ayah datang membawa vitamin dan suplemen dari dokter yang katanya direkomendasikan seorang teman.

Awalnya Ibu menganggapnya kebetulan.

Sampai suatu hari beliau sengaja tidak meminum kapsul tersebut.

Tubuhnya justru terasa lebih baik.

Ibu diam-diam membawa beberapa kapsul kepada seorang kenalan lama yang bekerja di laboratorium.

Hasilnya mengejutkan.

Beberapa kandungannya tidak sesuai dengan label.

Tidak cukup untuk membunuh seseorang secara langsung, tetapi berbahaya bagi pasien dengan kondisi seperti Ibu jika dikonsumsi terus-menerus.

Tanganku mulai dingin.

“Tidak mungkin.”

Bima menatapku.

“Aku juga berharap begitu.”

Aku memasukkan flashdisk ke laptop kecil yang dibawanya.

Di dalamnya terdapat rekaman suara.

Suara Ayah terdengar jelas.

“Berapa lama lagi?”

Kemudian suara seorang perempuan.

Vina.

“Dokternya bilang kondisinya memang terus turun. Jangan terburu-buru.”

“Aku sudah muak menunggu.”

Aku menutup mulut.

Rekaman berlanjut.

“Kalau dia meninggal sebelum perubahan surat kepemilikan selesai, semuanya akan jatuh ke Laras.”

Vina menjawab, “Makanya suruh dia tanda tangan dulu.”

Dunia seperti berputar.

Selama ini kukira perselingkuhan adalah pengkhianatan terbesar Ayah.

Ternyata ada sesuatu yang jauh lebih gelap.

“Ayah menginginkan apa?”

Bima mengeluarkan dokumen lain.

Sebuah perusahaan logistik yang didirikan Ibu sebelum menikah ternyata masih memiliki aset bernilai miliaran rupiah. Selama bertahun-tahun Ayah mengelolanya dan membuatku percaya perusahaan tersebut miliknya.

Secara hukum, sebagian besar saham justru masih atas nama Ibu.

“Ayahmu punya utang besar,” kata Bima. “Investasinya gagal. Kalau ibumu meninggal dan dokumen tertentu berhasil diubah, dia bisa menguasai aset itu.”

“Tapi Ibu meninggal di rumah sakit. Dokter bilang komplikasi.”

“Benar. Karena itu ibumu tidak pernah menuduh siapa pun secara langsung. Dia hanya mengumpulkan bukti.”

Aku memandang makam Ibu dari kejauhan.

“Kenapa Ibu tidak memberitahuku?”

“Karena dia takut kamu bertindak gegabah.”

Aku menangis.

Bahkan ketika hidupnya sendiri terancam, Ibu masih memikirkan keselamatanku.

Namun ada satu hal yang belum kupahami.

“Kenapa pesannya mengatakan Ibu belum mati?”

Bima menarik napas panjang.

“Karena ada satu bagian lagi.”

Ia membuka rekaman video di ponsel.

Wajah Ibu muncul.

Video itu direkam sekitar dua minggu sebelum kematiannya.

Wajah beliau pucat dan kurus, tetapi matanya masih tajam.

“Laras, kalau kamu menonton ini, mungkin Ibu sudah pergi.”

Aku langsung menangis.

Ibu tersenyum kecil.

“Tapi jangan menangis terlalu lama. Ibu bilang Ibu belum mati karena ada sesuatu dari Ibu yang masih hidup dan harus kamu lindungi.”

Video berhenti.

Aku menatap Bima.

“Apa?”

Bima memberikan dokumen terakhir.

Aku membacanya.

Lalu membacanya sekali lagi.

Namaku tercantum sebagai penerima pengalihan saham sebuah yayasan pendidikan.

Namun ada nama lain di bawahnya.

Nadia Prameswari.

Usia sembilan belas tahun.

Hubungan keluarga tercatat sebagai anak kandung.

Aku mengangkat kepala.

“Siapa Nadia?”

Bima menjawab pelan.

“Adikmu.”

Aku merasa seluruh tubuhku kehilangan tenaga.

Aku anak tunggal.

Setidaknya itulah yang kuketahui selama dua puluh tujuh tahun.

Bima kemudian menceritakan sesuatu yang bahkan lebih sulit dipercaya.

Sebelum menikah dengan Ayah, Ibu pernah melahirkan seorang anak perempuan. Saat itu kondisi keluarga mereka sangat sulit. Ayah biologis bayi tersebut meninggal dalam kecelakaan sebelum mereka menikah.

Karena tekanan keluarga dan kondisi ekonomi, bayi itu diasuh oleh kerabat jauh.

Ketika kehidupan Ibu mulai membaik, beliau diam-diam kembali mencari anaknya.

“Nadia tahu?”

“Dia tahu siapa ibunya. Tapi ibumu meminta agar dia tidak muncul dalam hidupmu sebelum waktunya.”

“Kenapa?”

“Karena ibumu takut ayahmu mengetahui keberadaannya. Nadia juga punya hak atas beberapa aset keluarga.”

Aku menatap makam itu.

Sekarang aku mengerti.

Aku belum mati.

Bukan berarti tubuh Ibu masih hidup.

Ada bagian hidupnya yang selama ini disembunyikan.

Keesokan paginya, aku menemui Nadia.

Ia bekerja paruh waktu di sebuah kedai kopi di Bandung sambil kuliah.

Ketika melihatku masuk, tangannya langsung berhenti membersihkan meja.

Kami saling menatap lama.

Wajahnya membuat napasku tercekat.

Matanya persis seperti mata Ibu.

“Kak Laras?”

Satu panggilan itu meruntuhkan semua pertahananku.

Aku memeluknya.

Kami menangis seperti dua orang asing yang entah bagaimana telah saling kehilangan selama bertahun-tahun.

Namun persoalan belum selesai.

Aku tidak langsung menghubungi Ayah.

Bersama Bima dan seorang pengacara yang dipercaya Ibu, kami menyerahkan bukti kepada pihak berwenang dan meminta pemeriksaan lebih lanjut terhadap catatan medis serta obat-obatan yang pernah dikonsumsi Ibu.

Tiga hari kemudian Ayah pulang dari Bali.

Ia datang dengan kulit lebih kecokelatan dan wajah santai.

Begitu memasuki rumah, ia melihatku duduk di ruang tengah bersama Nadia, Bima, dan pengacara.

Senyumnya lenyap.

“Siapa mereka?”

Aku berdiri.

“Ayah kenal Om Bima.”

Aku menunjuk Nadia.

“Dan ini Nadia.”

Wajah Ayah berubah.

Hanya sepersekian detik.

Tetapi aku melihatnya.

Ia tahu nama itu.

“Kamu dapat nama itu dari mana?”

Pertanyaan tersebut keluar terlalu cepat.

Aku tersenyum pahit.

“Jadi Ayah memang tahu.”

Ayah terdiam.

Vina yang berdiri di belakangnya langsung mundur satu langkah.

Aku meletakkan salinan dokumen di atas meja.

“Perusahaan yang Ayah kira akan menjadi milik Ayah sudah dialihkan sesuai keputusan Ibu.”

“Apa-apaan ini?”

“Ada juga rekaman percakapan Ayah.”

Wajahnya memucat.

“Laras, dengarkan Ayah. Kamu tidak mengerti situasinya.”

“Aku mengerti cukup banyak.”

“Ayah tidak pernah membunuh ibumu.”

“Aku tidak mengatakan Ayah membunuh Ibu.”

Ia langsung terdiam.

Kalimatnya sendiri telah menjebaknya.

Vina mulai menangis.

“Aku tidak tahu soal obat itu. Aku cuma tahu soal dokumen.”

Ayah berbalik dengan marah.

“Diam!”

Untuk pertama kalinya aku melihat sosok yang selama ini disembunyikannya di balik wajah seorang ayah yang terhormat.

Bukan pria berduka.

Bukan suami yang kehilangan istrinya.

Melainkan seseorang yang ketakutan karena rahasianya mulai terbongkar.

Penyelidikan berlangsung berbulan-bulan.

Hasil pemeriksaan tidak pernah bisa menyimpulkan bahwa satu zat tertentu secara langsung menyebabkan kematian Ibu. Kondisi kesehatannya memang sudah sangat lemah.

Namun ditemukan cukup banyak bukti mengenai pemalsuan dokumen, penyalahgunaan dana perusahaan, manipulasi tanda tangan, dan upaya menguasai aset tanpa persetujuan Ibu.

Vina akhirnya bersedia memberikan kesaksian.

Ia mengaku mengetahui rencana Ayah memaksa Ibu menandatangani beberapa dokumen, tetapi menyangkal mengetahui seluruh persoalan obat.

Hubungan mereka berakhir bahkan sebelum proses hukum selesai.

Aku tidak merasa puas melihat hidup Ayah runtuh.

Yang kurasakan justru kosong.

Suatu sore, beberapa bulan kemudian, aku dan Nadia kembali ke makam Ibu.

Rumput hijau kini telah tumbuh menutupi tanah yang dahulu masih merah.

Nadia meletakkan bunga putih.

“Aku selalu ingin memanggilnya Ibu di depan orang lain,” katanya.

Aku menggenggam tangannya.

“Kenapa kamu tidak pernah datang?”

“Ibu bilang dia sedang berusaha membereskan semuanya. Dia berjanji suatu hari akan mempertemukan kita.”

Aku tersenyum sambil menahan air mata.

“Ternyata caranya memang seperti Ibu. Selalu membuat semuanya rumit.”

Nadia tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya sejak pemakaman, aku juga bisa tertawa ketika mengingat beliau.

Sebelum pulang, aku membuka ponsel lama Ibu.

Bima sudah memberikan kata sandinya kepadaku.

Ada satu pesan terjadwal yang belum pernah terkirim.

Pesan itu ditujukan kepadaku dan Nadia.

Aku membukanya.

Isinya hanya beberapa kalimat.

Laras dan Nadia, kalau kalian akhirnya membaca ini bersama, berarti keinginan terbesar Ibu sudah terwujud. Harta bisa hilang. Rumah bisa berpindah tangan. Nama seseorang bahkan bisa dilupakan. Tetapi keluarga bukan tentang siapa yang berdiri di samping kita ketika hidup mudah. Keluarga adalah orang yang tetap memilih menjaga kita ketika dirinya sendiri sedang terluka.

Aku menatap Nadia.

Ia menangis.

Aku memeluknya di depan makam perempuan yang telah menyimpan terlalu banyak rahasia demi melindungi kami.

Malam ketika menerima pesan dari nomor Ibu, aku datang ke pemakaman karena mengira akan menemukan sesuatu yang mengerikan.

Aku memang menemukan kebenaran yang mengerikan.

Aku kehilangan sosok ayah yang selama ini kukenal.

Aku mengetahui bahwa kehidupan keluargaku dibangun di atas kebohongan.

Namun di tempat yang sama, aku justru menemukan seorang adik.

Saat itulah aku akhirnya memahami pesan terakhir Ibu.

Beliau memang telah meninggal.

Namun cinta yang ditinggalkannya belum mati.

Dan terkadang, orang yang telah pergi masih mampu menyelamatkan mereka yang ditinggalkan, bukan dengan kembali dari kematian, melainkan dengan meninggalkan keberanian agar kebenaran akhirnya menemukan jalannya pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang