“Tiga keping replika logam mulia sepuluh gram. Tolong carikan yang warnanya paling mirip dengan aslinya.”

Aku mematung beberapa detik. Jantungku berdegup begitu keras hingga telingaku sendiri berdenging. Jadi selama ini bukan karena sertifikat rumah. Bukan pula karena utang. Semua sandiwara itu hanya untuk memenuhi gengsi Saira yang ingin segera berangkat umrah.

Tanganku gemetar, tetapi bukan karena sedih. Air mata yang selama ini kutahan justru mengering begitu saja. Yang tersisa hanyalah rasa muak.

Aku mengangkat ponselku sendiri secara perlahan. Dengan hati-hati, tanpa menimbulkan suara, kupotret layar ponsel Baskara yang masih menyala. Bukti pertama berhasil kusimpan.

Beberapa detik kemudian muncul pesan lain.

“Jangan sampai Naya curiga. Besok setelah emas laku, langsung transfer ke rekening Saira. Bilang saja bonus kantor.”

Aku kembali memotret layar itu.

Lalu layar ponsel kembali gelap.

Aku memejamkan mata. Dalam hati, aku mengucapkan terima kasih kepada ibuku. Kalau saja aku tidak mendengar percakapan mereka pagi tadi, mungkin seluruh peninggalan Ibu benar-benar sudah hilang.

Pagi harinya, Baskara bangun lebih awal. Ia tampak jauh lebih ceria daripada biasanya. Bahkan ia sempat bersiul kecil sambil menyetrika kemeja kerjanya.

“Kamu nggak jadi masuk siang?” tanyanya.

“Aku izin setengah hari.”

“Bagus. Nanti sore jangan lupa datang ke rumah Ibu.”

Aku hanya mengangguk.

Sebelum berangkat, ia mencium keningku seperti suami penuh kasih.

“Cepat sembuh ya. Jangan terlalu dipikirkan soal uang.”

Aku hampir tertawa.

Begitu pintu tertutup, aku langsung mengambil tas dan keluar rumah.

Aku tidak menuju kantor.

Aku menuju pasar.

Di sana sudah ada toko emas yang disebutkan Bu Laras dalam pesannya semalam.

Aku memilih duduk di warung kopi di seberang toko. Topi dan masker menutupi sebagian wajahku.

Sekitar pukul sembilan lewat sepuluh menit, Baskara muncul.

Ia turun dari motornya sambil membawa tas kerja hitam.

Jantungku berdebar.

Tanpa ragu ia masuk ke toko emas.

Aku segera mengaktifkan kamera ponsel.

Sepuluh menit kemudian, pintu toko terbuka.

Namun ekspresi Baskara membuatku terkejut.

Wajahnya pucat.

Ia terlihat kebingungan sambil memegang kembali kantong beludru merah.

Beberapa saat kemudian seorang pria paruh baya berkemeja putih mengejarnya dari dalam toko.

“Mas! Tunggu sebentar!”

Baskara berhenti.

“Ada apa, Pak?”

Pria itu membuka kantong beludru lalu mengeluarkan tiga keping logam.

“Ini bukan emas.”

Baskara langsung membeku.

“Maksud Bapak?”

“Ini kuningan. Bahkan bukan lapis emas. Dari warna dan beratnya saja sudah beda.”

Wajah Baskara berubah putih seperti kertas.

“Mustahil…”

Pemilik toko menggeleng.

“Kalau Mas merasa tertipu, silakan lapor yang menjual. Tapi kami tidak bisa membeli barang seperti ini.”

Baskara mengambil kembali ketiga keping itu dengan tangan gemetar.

Aku merekam semuanya dari kejauhan.

Begitu ia pergi, aku baru masuk ke toko emas.

“Permisi, Pak.”

Pemilik toko menoleh.

“Saya istri laki-laki yang tadi.”

Beliau tampak terkejut.

“Saya ingin meminta bantuan.”

Aku menjelaskan semuanya tanpa menutupi sedikit pun kenyataan.

Pria itu menghela napas panjang.

“Saya sudah dua puluh lima tahun berdagang emas. Baru kali ini melihat suami menjual warisan istrinya diam-diam.”

Aku tersenyum pahit.

“Bolehkah saya meminta rekaman CCTV kalau nanti dibutuhkan?”

“Tentu. Selama untuk proses hukum.”

Aku mengucapkan terima kasih lalu pulang.

Sore harinya aku datang ke rumah Bu Laras.

Rumah itu jauh lebih ramai daripada biasanya.

Tetangga berdatangan membawa makanan.

Beberapa anak yatim duduk rapi di ruang tamu.

Saira tampil dengan gamis baru berwarna krem. Wajahnya dipenuhi riasan tipis.

“Alhamdulillah,” katanya keras-keras kepada para tetangga. “Insyaallah minggu depan saya sudah daftar umrah.”

Semua orang mengucapkan selamat.

Bu Laras tersenyum bangga.

Saat Baskara masuk, wajahnya masih kusut.

Bu Laras segera menghampiri.

“Gimana? Sudah laku?”

Baskara melirikku sekilas sebelum berbisik.

“Bukan sekarang, Bu.”

“Apa maksudmu?”

“Nanti saja.”

Bu Laras mulai panik.

Aku menunggu hingga pengajian selesai.

Ketika semua tamu mulai menikmati hidangan, aku berdiri.

“Maaf, Bu. Saya ingin menyampaikan sedikit.”

Semua mata langsung tertuju kepadaku.

Bu Laras tersenyum tipis.

“Silakan, Naya.”

Aku mengeluarkan ponsel.

“Sebelum itu saya ingin bertanya kepada Mas Baskara.”

Ia tampak gelisah.

“Ada apa?”

“Semalam jam satu dini hari, Mas ke mana?”

“Aku… ke kamar mandi.”

“Benarkah?”

“Iya.”

Aku tersenyum.

“Lalu kenapa CCTV rumah kontrakan merekam Mas membuka laci meja rias?”

Ruangan mendadak sunyi.

Wajah Baskara langsung berubah.

“Kamu pasang CCTV?”

“Iya.”

Sebenarnya aku berbohong.

Yang kumiliki hanyalah rekaman dari toko emas dan foto pesan di ponselnya.

Namun kebohongan kecil itu berhasil membuatnya panik.

“Aku…”

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, aku menampilkan foto pertama ke layar televisi menggunakan fitur berbagi layar.

Semua tamu dapat membacanya dengan jelas.

“Emasnya sudah kamu ambil kan, Bas? Besok pagi langsung jual…”

Ruangan langsung gempar.

Wajah Bu Laras pucat.

Saira buru-buru berdiri.

“Itu fitnah!”

Aku mengganti ke foto berikutnya.

“Uangnya mau dipakai Saira buat bayar DP umrah…”

Beberapa tetangga saling berpandangan.

Salah seorang ibu yang sejak tadi memuji Bu Laras perlahan meletakkan gelasnya.

“Bu Laras… ini benar?”

Bu Laras terbata-bata.

“Itu… cuma bercanda…”

Aku tersenyum tipis.

“Lalu bagaimana dengan rekaman dari toko emas pagi tadi?”

Aku memutar video Baskara ditolak karena emas itu ternyata palsu.

Semua orang menyaksikan sendiri bagaimana ia mencoba menjual warisan istrinya.

Baskara menutup wajahnya.

Saira mulai menangis.

Dewa yang sejak tadi diam langsung berdiri.

“Bas, kamu bilang itu emas milikmu.”

“Aku…”

“Kamu bohong sama kami juga?”

Ruangan berubah kacau.

Bu Laras memegang dadanya.

“Naya… Ibu bisa jelaskan…”

Aku menggeleng.

“Tidak perlu.”

Aku mengeluarkan map cokelat dari dalam tas.

“Ini surat gugatan cerai.”

Semua orang kembali terdiam.

“Aku sengaja datang hari ini bukan untuk membuat keributan. Aku datang supaya semua orang tahu kenapa aku memilih pergi.”

Baskara mendekat.

“Naya… maafkan aku.”

“Maaf?”

Air mataku akhirnya jatuh.

“Waktu ibuku meninggal, beliau menitipkan tiga keping emas itu sebagai tanda kasih terakhir. Kamu tahu itu.”

Ia tertunduk.

“Tapi kamu tetap mengambilnya.”

“Aku khilaf…”

“Bukan sekali. Berkali-kali.”

Aku mengeluarkan buku tabungan.

“Lima tahun menikah, seluruh gajiku habis untuk keluargamu. Tujuh puluh lima juta rupiah hilang. Tabunganku kosong. Bahkan perhiasan pemberian ibuku pun ingin kalian jual hanya supaya adikmu bisa pamer berangkat umrah.”

Tak ada seorang pun yang mampu menyela.

“Aku tidak marah karena uangnya. Aku marah karena kalian mengatasnamakan agama untuk menutupi keserakahan.”

Kalimat itu membuat beberapa tamu langsung menundukkan kepala.

Aku menyerahkan map gugatan kepada Baskara.

“Mulai hari ini, kita selesai.”

Ia mencoba meraih tanganku.

Namun aku mundur.

“Warisan ibuku masih aman.”

Baskara terbelalak.

“Apa?”

“Yang kamu curi hanya tiga keping kuningan.”

Ia terduduk lemas.

Bu Laras menatapku dengan mata membesar.

“Kamu…”

“Aku sudah tahu rencana kalian sejak sebelum semalam.”

Untuk pertama kalinya, mereka sadar bahwa rencana yang mereka susun begitu rapi justru menjadi perangkap bagi diri mereka sendiri.

Beberapa minggu kemudian, proses perceraian berjalan jauh lebih cepat daripada perkiraanku.

Rekaman video, tangkapan layar pesan, dan bukti percobaan penjualan barang milikku menjadi dasar yang cukup kuat.

Baskara berkali-kali mencoba meminta maaf.

Ia datang ke kantor.

Ia mengirim bunga.

Ia bahkan menunggu di depan kontrakan.

Namun semua sudah terlambat.

Aku pindah ke kota lain.

Tiga keping emas peninggalan ibuku tetap kusimpan di safe deposit box.

Bukan karena nilainya.

Melainkan karena setiap kali melihatnya, aku teringat pesan terakhir Ibu.

“Jangan pernah menyerahkan harga dirimu kepada orang yang tidak tahu cara menghargainya.”

Kini aku akhirnya benar-benar memahami maksud kalimat itu.

Yang paling berharga ternyata bukan emas yang beliau tinggalkan, melainkan keberanian untuk melepaskan orang yang menganggap cinta hanyalah sesuatu yang bisa dijual demi memenuhi gengsi keluarga.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang