Tiga tahun aku hidup dalam gelap. Selama itu aku percaya bahwa kehilangan penglihatan adalah tragedi terbesar yang pernah terjadi dalam hidupku. Aku pikir kecelakaan itu telah mengambil masa depanku, impianku sebagai pianis, dan sebagian dari diriku yang tidak akan pernah kembali.
Ternyata aku salah.
Hal paling menyakitkan bukanlah ketika dunia menjadi gelap.
Melainkan ketika cahaya kembali, lalu aku melihat kenyataan yang selama ini sengaja disembunyikan dariku.
Setelah keluar dari rumah sakit, aku tidak langsung pulang. Aku duduk lama di dalam taksi yang membawaku kembali ke rumah, memandang jalanan Jakarta Selatan yang selama tiga tahun hanya bisa kukenal melalui suara dan sentuhan.

Gedung-gedung tinggi.
Lampu kendaraan.
Orang-orang yang berjalan terburu-buru.
Semuanya terasa asing, tetapi juga seperti sesuatu yang pernah kurindukan setiap malam.
Aku menggenggam map berisi dokumen dari Dokter Aditya.
Tanganku masih gemetar.
Selang rem mobil itu rusak sebelum kecelakaan.
Raka tahu.
Suamiku tahu.
Tetapi dia tetap mengajakku pergi menggunakan mobil itu.
Aku berusaha mencari alasan.
Mungkin dia lupa.
Mungkin dia tidak memahami bahayanya.
Mungkin bengkel memberikan informasi yang berbeda.
Aku masih ingin membela orang yang selama tiga tahun terakhir kupanggil rumah.
Namun sebuah kalimat dari Aditya terus terngiang.
“Laras, aku menemukan sesuatu yang lebih aneh.”
Aku menatapnya waktu itu.
“Apa?”
“Orang yang membawa mobilmu ke bengkel bukan Raka.”
Aku mengernyit.
“Siapa?”
Aditya membuka dokumen lain.
“Nadine.”
Dunia yang baru saja kembali kulihat seakan kembali gelap.
Aku tidak langsung menangis.
Tidak langsung marah.
Aku hanya merasa kosong.
Nadine.
Sahabat yang sudah kukenal sejak kuliah.
Perempuan yang selalu datang membawa makanan ketika aku pertama kali kehilangan penglihatan.
Perempuan yang duduk di samping ranjangku sambil berkata, “Laras, kamu harus kuat. Aku tahu Raka akan selalu menjagamu.”
Ternyata dia adalah orang yang berdiri paling dekat saat hidupku runtuh.
Malam itu aku pulang ke rumah tanpa memberi tahu siapa pun bahwa aku sudah bisa melihat.
Aku ingin tahu seberapa jauh kebohongan mereka.
Aku ingin melihat dengan mataku sendiri.
Dan semakin aku melihat, semakin aku menyadari bahwa tiga tahun terakhir bukan hanya tentang perselingkuhan.
Ini adalah permainan yang sudah dirancang.
Keesokan harinya, aku pura-pura tetap menjadi Laras yang sama.
Laras yang berjalan perlahan.
Laras yang membutuhkan bantuan.
Laras yang tidak bisa melihat.
Saat sarapan, aku duduk di meja makan.
Raka membuatkan kopi untukku.
Dulu hal kecil seperti itu selalu membuatku merasa dicintai.
Sekarang aku hanya melihat sebuah pertunjukan.
“Semalam tidur nyenyak?” tanyanya.
Aku tersenyum kecil.
“Sedikit.”
Dia duduk di sampingku.
“Aku minta maaf kalau akhir-akhir ini kamu merasa aku kurang perhatian.”
Aku diam.
Kalimat itu terdengar seperti permintaan maaf.
Tetapi matanya tidak menunjukkan penyesalan.
Dia hanya terdengar seperti seseorang yang takut ketahuan.
“Aku cuma ingin kamu tahu, Laras. Aku tetap sayang kamu.”
Aku hampir tertawa.
Tetap sayang?
Bagaimana seseorang bisa mencintai istrinya sambil menghancurkan hidupnya perlahan?
Ponsel Raka bergetar.
Dia melihat layar.
Nama Nadine muncul.
Aku melihat jelas.
Satu pesan masuk.
“Jangan lupa malam ini. Kita harus menyelesaikan permainan terakhir.”
Permainan terakhir.
Aku menatap wajah suamiku.
“Siapa?”
Raka langsung mematikan layar.
“Teman kantor.”
Aku mengangguk.
Sebuah kebohongan kecil.
Tetapi sekarang aku sudah tahu.
Orang yang terbiasa berbohong tidak pernah berhenti.
Malam itu aku mengikuti Raka diam-diam.
Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, aku berjalan tanpa tongkat.
Aku masih menyimpannya agar mereka tidak curiga.
Dari kejauhan aku melihat Raka masuk ke sebuah apartemen di kawasan Kuningan.
Apartemen milik Nadine.
Dadaku terasa sesak.
Aku berdiri di lorong, melihat pintu tertutup.
Dulu aku takut berjalan sendirian.
Sekarang aku takut mengetahui kebenaran.
Aku mengangkat tangan hendak mengetuk.
Namun suara mereka terdengar dari dalam.
“Aku masih tidak percaya dia belum sadar.”
Itu suara Nadine.
Raka tertawa.
“Bagaimana dia bisa tahu? Tiga tahun dia hidup dalam gelap.”
Aku membeku.
“Tapi kartu itu mulai mencurigakan,” kata Nadine.
“Tenang. Selama dia masih percaya bahwa dirinya tidak beruntung, semuanya aman.”
Kartu.
Aku menahan napas.
Aku membuka sedikit pintu yang tidak terkunci.
Di dalam ruangan itu ada meja.
Di atasnya terdapat puluhan kartu putih dan merah.
Serta sebuah catatan.
Aku mengambil foto dari celah pintu menggunakan ponsel.
Tanganku gemetar.
Empat puluh dua kali.
Empat puluh dua permainan.
Semuanya diatur.
Nadine tertawa.
“Yang paling lucu adalah dia selalu memilih sendiri.”
Raka tersenyum.
“Karena dia percaya takdir.”
Aku menutup mulut agar tidak menangis.
Selama ini aku menyalahkan keberuntungan.
Aku menyalahkan nasib.
Aku bertanya mengapa Tuhan terus mengambil sesuatu dariku.
Padahal orang yang kucintai sedang memainkan hidupku seperti permainan.
Aku pulang sebelum mereka menyadari keberadaanku.
Malam itu aku tidak tidur.
Aku membuka semua rekening.
Semua dokumen.
Semua pesan lama.
Dan satu per satu potongan puzzle mulai terlihat.
Setelah kecelakaan, Raka mengurus semua administrasi karena aku tidak bisa melihat.
Dia mengatakan biaya pengobatan sangat besar.
Dia mengatakan bisnis kami sedang mengalami masalah.
Dia mengatakan aku harus berhenti memikirkan piano karena kondisi keuanganku.
Aku percaya.
Tetapi laporan bank menunjukkan sesuatu yang berbeda.
Sebagian uang tabunganku dipindahkan.
Bukan untuk pengobatan.
Melainkan untuk membeli studio musik baru milik Nadine.
Studio yang dulu kukira hadiah dari keluarganya.
Ternyata berasal dari uangku.
Aku menutup laptop.
Air mataku jatuh.
Bukan karena kehilangan uang.
Tetapi karena sadar bahwa selama tiga tahun aku bukan istri.
Aku adalah sumber daya yang mereka manfaatkan.
Pagi berikutnya, aku menelepon Aditya.
“Aku butuh bantuan.”
Dia langsung datang.
Ketika melihat semua bukti, wajahnya berubah.
“Laras, kamu yakin ingin menghadapi mereka?”
Aku menatap keluar jendela.
Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, aku melihat langit pagi.
“Aku sudah kehilangan tiga tahun hidupku.”
Aku menggenggam dokumen.
“Aku tidak akan kehilangan masa depanku juga.”
Kami menyusun rencana.
Aku tidak akan langsung menuduh.
Aku akan membuat mereka percaya bahwa aku masih tidak tahu apa-apa.
Beberapa hari kemudian, Raka pulang dengan wajah bahagia.
Dia membawa dua kartu putih.
Aku hampir tersenyum melihatnya.
“Laras, Nadine ingin bermain lagi malam ini.”
Aku menatap kartu itu.
Dulu benda kecil itu membuatku merasa tidak berdaya.
Sekarang benda itu adalah bukti.
“Baik.”
Raka terkejut.
“Kamu mau bermain?”
Aku mengangguk.
“Sudah lama aku tidak menang.”
Dia tertawa.
“Kamu memang lucu.”
Aku mengambil kartu.
Tetapi kali ini aku tidak memilih.
Aku meletakkan kedua kartu itu di meja.
“Lihat dulu.”
Wajah Raka berubah.
Di bagian belakang kartu putih itu ada tanda kecil.
Tanda yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Karena selama ini aku tidak bisa melihat.
Aku mengangkat kepala.
“Menarik, ya?”
Ruangan menjadi sunyi.
Raka membeku.
“Kamu…”
Aku melepas kacamata gelapku perlahan.
Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, dia melihat mataku menatap langsung ke arahnya.
“Lihat aku, Raka.”
Wajahnya berubah pucat.
“Kamu sudah bisa melihat?”
Aku tersenyum tipis.
“Sudah cukup lama.”
Dia mundur satu langkah.
“Nggak mungkin.”
“Kenapa tidak mungkin?”
Aku mendekat.
“Karena selama ini kamu nyaman berpikir aku tidak akan pernah melihat kebenaran?”
Raka membuka mulut.
Tidak ada kata keluar.
Kemudian pintu rumah terbuka.
Nadine masuk.
Dia berhenti ketika melihatku berdiri tanpa tongkat.
Wajahnya langsung kehilangan warna.
“Laras…”
Aku menatapnya.
“Sahabat terbaikku.”
Suaraku bergetar.
“Bisa kamu jelaskan kenapa kamu yang membawa mobil kami ke bengkel tiga hari sebelum kecelakaan?”
Nadine membeku.
Raka langsung menoleh kepadanya.
“Apa maksudnya?”
Aku tersenyum pahit.
“Ternyata kalian tidak saling menceritakan semua kebohongan.”
Malam itu, semua rahasia terbuka.
Nadine memang membawa mobil ke bengkel.
Dia tahu selang rem bermasalah.
Namun dia tidak memberitahu Raka.
Karena saat itu mereka sudah memiliki hubungan rahasia.
Mereka ingin Raka membatalkan perjalanan.
Tetapi ketika Raka tetap pergi bersamaku, Nadine panik.
Dia menghapus beberapa pesan.
Dia menyembunyikan laporan bengkel.
Dan kecelakaan itu terjadi.
Raka memang tahu mobil itu bermasalah setelah menerima pesan dari Nadine.
Tetapi dia memilih diam.
Karena menurutnya, perjalanan itu hanya sebentar.
Karena dia merasa tidak akan terjadi apa-apa.
Kesalahan kecil.
Begitu katanya.
Tetapi kesalahan kecilnya menghancurkan hidupku.
Beberapa bulan kemudian, kasus mereka diproses.
Uangku kembali.
Nama baikku pulih.
Dan yang paling penting, aku kembali bermain piano.
Saat pertama kali tampil di panggung setelah tiga tahun, aku berdiri di depan ratusan orang.
Lampu panggung menyinari wajahku.
Aku melihat semua orang.
Aku melihat piano.
Aku melihat tanganku sendiri.
Tanganku yang dulu kukira sudah kehilangan masa depan.
Aku memainkan lagu yang dulu sering dimainkan ibuku.
Di akhir pertunjukan, semua orang berdiri memberikan tepuk tangan.
Aku tersenyum.
Bukan karena aku menang melawan Raka atau Nadine.
Tetapi karena aku akhirnya menang melawan ketakutanku sendiri.
Tiga tahun hidup dalam gelap mengajarkanku satu hal.
Kadang kehilangan sesuatu bukanlah akhir dari hidup.
Kadang itu adalah cara Tuhan membuka mata kita terhadap orang-orang yang selama ini tidak pernah benar-benar melihat kita.
