Dua puluh hari sejak malam itu, rumah di Bekasi tidak lagi menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi siapa pun di dalamnya, melainkan sebuah medan perang kecil di mana rasa panik dan saling tuduh mulai mengikis ikatan keluarga yang selama ini diagung-agungkan. Suara ketukan pintu yang tegas dari petugas kepolisian hari itu menjadi awal kehancuran total bagi keluarga Dimas. Citra yang semula berdiri dengan angkuh sambil memeluk tasnya langsung menjerit histeris ketika dua orang petugas melangkah masuk ke ruang tamu dan menunjukkan surat tugas resmi. Ia tidak menyangka bahwa laporan mengenai pencurian obat resep anak dengan kondisi medis khusus akan ditindaklanjuti secepat itu oleh pihak berwenang.

Bu Ratna yang panik segera melempar tanggung jawab ke pundak putrinya sendiri. Dengan suara bergetar dan napas memburu, wanita paruh baya itu bersumpah bahwa dialah yang tidak sengaja memasukkan kotak obat tersebut ke dalam tas karena mengira itu adalah vitamin biasa. Namun, Citra tidak tinggal diam. Ia merasa dikorbankan oleh ibunya sendiri dan mulai membongkar semua keburukan keluarga yang selama ini ditutupi rapat-rapat di bawah satu atap. Di hadapan para petugas dan Dimas yang terpaku tanpa bisa berbuat apa-apa, Citra berteriak histeris sambil menyebutkan bagaimana ibunya selalu mengajarkan mereka untuk memanfaatkan kebaikan Nadia demi kepentingan pribadi. Suasana rumah berubah menjadi kekacauan total dengan suara tangisan anak-anak, makian, dan saling tunjuk di antara anggota keluarga yang selama ini merasa paling benar.
Dimas mencoba meneleponku berkali-kali di tengah kekacauan itu, tetapi layar ponselku hanya menunjukkan panggilan masuk yang terus kubiarkan berdering tanpa suara. Di apartemen kecil kami yang sederhana, aku duduk bersila di samping Nara yang sedang mewarnai buku gambarnya dengan tenang. Tidak ada lagi rasa gentar atau keraguan di dadaku. Keputusan untuk meninggalkan rumah itu adalah langkah paling tepat yang pernah kuambil dalam hidupku. Pengacaraku telah mengurus seluruh dokumen perceraian beserta gugatan pembagian hak asuh anak dan perlindungan aset. Selama tiga tahun, aku membiarkan diriku terjebak dalam ilusi pengorbanan demi keutuhan rumah tangga, padahal yang kulakukan sebenarnya hanya memberi makan keserakahan orang-orang yang tidak pernah menghargai keringatku.
Kembali ke rumah di Bekasi, ketegangan semakin memuncak ketika petugas kepolisian meminta izin untuk memeriksa seluruh sudut rumah guna mengumpulkan barang bukti tambahan terkait laporan eksploitasi dan pengabaian hak anak. Saat itulah Bu Ratna berlari terbirit-birit menuju kamar tidurnya dengan membawa satu tas hitam besar berbahan kulit sintetis yang sudah kusam. Tas tersebut selalu ia kunci rapat-rapat di dalam lemari tua dan tidak pernah diizinkan disentuh oleh siapa pun, bahkan oleh Dimas sekali pun. Gerakan mencurigakannya membuat salah satu petugas langsung bergerak cepat mencegat langkahnya di dekat pintu belakang. Ketika tas hitam itu diletakkan di atas meja makan dan dibuka secara paksa di hadapan mereka, rahasia terbesar keluarga itu akhirnya terbongkar dengan cara yang paling memalukan.
Di dalam tas hitam tersebut tidak hanya tersimpan perhiasan emas palsu atau uang tunai tabungan rahasia Bu Ratna, melainkan tumpukan dokumen penting, buku tabungan lama atas nama almarhum kakekku yang selama ini dikira hilang, serta kuitansi-kuitansi transaksi mencurigakan dari rekening bersama yang diam-diam dikuras oleh Dimas untuk membiayai renovasi rumah Citra di Jakarta Timur. Yang lebih mengejutkan, terdapat pula buku catatan kecil milik Bu Ratna yang berisi daftar barang-barang milikku yang sengaja dipindahkan ke rumah putrinya selama tiga tahun terakhir, lengkap dengan tanggal dan nama penerimanya seolah-olah itu adalah inventaris barang curian yang terorganisir dengan rapi.
Dimas terbelalak menatap isi tas tersebut. Wajahnya yang pucat pasi mendadak kehilangan seluruh warnanya. Selama ini ia selalu membela keluarganya dengan alasan kekeluargaan dan kasih sayang antarsaudara, tetapi kini ia dihadapkan pada bukti nyata bahwa keluarganya sendiri telah memperlakukan istrinya seperti sapi perah yang sah secara hukum adat rumah tangga mereka. Citra yang melihat isi tas itu pun berhenti menangis. Ia menyadari bahwa ibunya menyimpan uang dan barang berharga secara sembunyi-sembunyi sementara ia sendiri sering kali harus memeras keringat suaminya untuk kebutuhan sehari-hari. Pertengkaran hebat kembali pecah, kali ini bukan lagi soal obat atau barang belanjaan, tetapi tentang siapa yang paling banyak mengambil keuntungan dari hasil kerja keras Nadia selama bertahun-tahun pernikahan.
Di tengah keributan itu, ponsel Dimas berdengung menerima pesan singkat dari bank yang mengonfirmasi bahwa seluruh fasilitas kredit, kartu tambahan, dan akses keuangan yang terhubung dengan rekeningku telah ditutup secara permanen. Tidak lama kemudian, pihak bank juga mengirimkan pemberitahuan resmi bahwa rumah yang mereka tinggali saat ini berada dalam status sanksi hukum dan tidak boleh dipindahtangankan karena jaminan kredit atas nama Dimas telah melewati batas jatuh tempo akibat penghentian pembayaran otomatis dari gajiku. Rumah megah yang selama ini menjadi lambang kebanggaan keluarga mereka kini berubah menjadi runtuhan mimpi yang siap disita oleh pihak bank.
Sore harinya, Dimas akhirnya datang seorang diri ke apartemen tempatku tinggal. Penampilannya sangat berantakan dengan kemeja kusut dan kantung mata yang sangat gelap. Tanpa kesombongan yang biasa ia tunjukkan setiap kali membela keluarganya, ia berdiri di depan pintu apartemen kecil kami dengan kepala tertunduk. Saat aku membuka pintu sedikit, ia langsung berlutut di lantai lorong apartemen tanpa memedulikan beberapa tetangga yang lalu-lalang. Air matanya tumpah begitu saja, menyesali semua perbuatan yang telah ia biarkan terjadi di bawah atap rumah kami demi menyenangkan hati ibu dan kakaknya.
Nadia yang melihat kedatangan ayahnya dari dalam sempat terdiam sejenak, lalu memeluk kakiku dengan erat. Aku menatap pria yang pernah menjadi pendamping hidupku selama lima tahun itu dengan tatapan yang sangat dingin dan kosong. Tidak ada lagi rasa marah, benci, atau kekecewaan yang tersisa di dalam hatiku. Yang ada hanyalah kelegaan yang luar biasa karena aku berhasil menyelamatkan diriku dan putri kecilku dari lingkaran toksik yang hampir menghancurkan kewarasan kami berdua.
“Nadia, kumohon… pulanglah,” bisik Dimas dengan suara serak penuh keputusasaan. “Rumah sudah hancur. Ibu dan Citra saling menyalahkan dan sekarang mereka tidak mau lagi berbicara satu sama lain. Aku menyadari semua kesalahanku. Aku berjanji akan mengubah semuanya.”
Aku menarik napas perlahan, merapikan letak jepit rambut plastik murah pemberian Citra yang masih disimpan oleh Nara di dalam tas kecilnya sebagai pengingat akan hari di mana kami memutuskan untuk pergi. Aku menatap mata Dimas untuk terakhir kalinya sebelum menjawab dengan nada suara yang tenang namun tegas.
“Rumah itu tidak hancur karena aku pergi, Dimas. Rumah itu hancur karena kalian terbiasa membangun kebahagiaan di atas penderitaan orang lain,” kataku pelan. “Surat perceraian sudah berada di tangan pengacara. Datanglah ke pengadilan minggu depan jika kamu masih memiliki sedikit harga diri sebagai seorang laki-laki.”
Sebelum ia sempat mengucapkan sepatah kata pun untuk membela diri, aku menutup pintu apartemen rapat-rapat dan menguncinya dari dalam. Di luar, suara tangisan penyesalan Dimas menggema di lorong sepi, tetapi aku tidak lagi peduli. Di dalam ruangan yang hangat ini, bersama putriku yang sedang tersenyum lebar sambil melanjutkan gambarnya, aku tahu persis bahwa babak baru dalam hidupku baru saja dimulai, dan kali ini, tidak seorang pun di dunia ini yang diizinkan mengambil kedamaian kami lagi.
