Versi Indonesia yang lebih natural dan emosional

Karena tahu seluruh gajinya selalu diserahkan kepada sahabat masa kecilnya untuk “dititipkan”, aku membesarkan putriku seorang diri.

Siang hari aku bekerja di kebun milik warga, malam hari aku menerima jahitan hingga mata terasa perih. Selama bertahun-tahun, aku tidak pernah meminta satu rupiah pun dari suamiku untuk membiayai hidup kami.

Ketika tanah longsor hampir merenggut nyawaku, kepala desa mengirim telegram kepada Riko.

Ia datang dengan wajah penuh amarah, seolah akulah yang bersalah karena hampir mati.

Namun aku hanya tersenyum pahit.

Di kehidupan sebelumnya, aku pernah mempertahankan pernikahan ini mati-matian.

Sebagai balasannya, keluargaku hancur.

Orang tuaku meninggal dalam penderitaan, kakiku cacat karena kecelakaan kerja yang tak pernah sempat kuobati, dan putriku, Nami, dijual ke daerah pegunungan untuk dinikahkan dengan pria tua demi melunasi utang yang bahkan bukan utang kami.

Ketika aku membuka mata lagi, aku kembali ke masa sebelum semua itu terjadi.

Kali ini, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Bahkan jika Riko memohon sekalipun, aku tidak akan mempertahankan rumah tangga ini.

Saat Nina berpura-pura sesak napas dan Riko menggendongnya keluar dari ruang rawatku, sesuatu dalam diriku benar-benar mati.

Aku sadar.

Cinta yang dulu begitu besar ternyata hanya kebiasaan menyiksa diri sendiri.

Malam itu juga, aku menyewakan rumah yang selama ini kutempati bersama Nami. Uang sewanya cukup untuk melunasi biaya rumah sakit dan menyewa kamar kecil di pinggir kota.

Keesokan harinya, setelah Riko menolak menandatangani surat cerai dan pergi bersama Nina, aku keluar dari rumah sakit tanpa menoleh sedikit pun.

Nami menggenggam tanganku.

“Ibu, kita mau ke mana?”

“Kita mulai hidup baru.”

“Tanpa Ayah?”

Aku mengangguk pelan.

“Tanpa Ayah.”

Anak itu diam beberapa saat, lalu tersenyum.

“Kalau begitu, Nami akan menjaga Ibu.”

Dadaku kembali terasa hangat.

Mungkin di kehidupan sebelumnya aku gagal menjadi istri yang bahagia.

Tetapi kali ini, aku akan menjadi ibu yang mampu melindungi anaknya.

Kami pindah ke kota kecil yang berjarak hampir tiga jam perjalanan.

Dengan uang sisa sewa rumah, aku membeli dua mesin jahit bekas.

Siang hari aku menjahit pakaian sekolah, malam hari menerima pesanan kebaya dan seragam kantor.

Aku bekerja hampir tanpa tidur.

Tiga bulan kemudian, seorang pelanggan memperkenalkanku kepada pemilik butik lokal.

Mereka menyukai hasil jahitanku.

Pesanan mulai berdatangan.

Sedikit demi sedikit hidup kami membaik.

Nami akhirnya bisa bersekolah tanpa harus memakai sepatu bekas.

Ia sering memelukku sepulang sekolah.

“Ibu, nanti kalau besar aku ingin jadi dokter supaya Ibu tidak perlu takut sakit lagi.”

Aku selalu tersenyum setiap mendengarnya.

Di sisi lain, kehidupan Riko mulai berubah.

Setelah aku pergi, tidak ada lagi orang yang mengurus rumahnya.

Tidak ada yang mencuci bajunya.

Tidak ada yang memasak.

Yang lebih parah, uang yang selama ini ia titipkan kepada Nina mulai sulit diminta kembali.

Suatu malam, ia mendatangi rumah Nina.

“Nina, aku butuh uang itu. Aku ingin membeli motor.”

Nina tersenyum canggung.

“Uangnya… sudah kupakai sedikit.”

“Sedikit itu berapa?”

“Hampir semuanya.”

Riko terdiam.

“Untuk apa?”

Nina menunduk.

“Aku membeli tas, kosmetik, perhiasan… lalu ada cicilan apartemen.”

Riko merasa kepalanya berdengung.

“Tapi itu uangku.”

“Aku pikir… itu memang untukku.”

“Tidak!”

“Itu uang tabunganku selama bertahun-tahun!”

Nina menangis.

“Kamu sendiri yang selalu bilang semua milikmu juga milikku.”

Pertengkaran besar pun terjadi.

Barulah saat itu Riko sadar.

Selama bertahun-tahun, ia bahkan tidak pernah tahu berapa jumlah uang yang telah ia berikan.

Sementara itu, kabar tentang usahaku mulai terdengar hingga ke kampung.

Butik tempatku bekerja berkembang pesat.

Pemiliknya bahkan mengajakku menjadi rekan usaha.

Aku menerima tawaran itu.

Dalam dua tahun, kami membuka konveksi kecil.

Aku mempekerjakan belasan perempuan yang sebelumnya juga ditinggalkan suami atau kehilangan pekerjaan.

Kami tumbuh bersama.

Suatu hari, pemerintah kabupaten memberikan penghargaan kepada pelaku UMKM perempuan berprestasi.

Namaku disebut sebagai salah satu penerima.

Saat naik ke panggung, aku melihat seseorang berdiri di belakang kerumunan.

Riko.

Tubuhnya tampak jauh lebih kurus.

Seragam aparat desanya sudah lusuh.

Tatapannya tidak lagi penuh kesombongan.

Setelah acara selesai, ia menghampiriku.

“Thalia…”

Aku berhenti.

“Selamat.”

“Terima kasih.”

Ia terlihat gugup.

“Aku… boleh bicara sebentar?”

Aku mengangguk.

Kami duduk di taman.

Sudah lama sekali kami tidak berbicara tanpa bertengkar.

“Aku baru tahu selama ini kamu bekerja sekeras itu.”

Aku tidak menjawab.

“Aku juga baru tahu… uangku benar-benar habis.”

“Itu urusanmu.”

“Aku salah.”

Aku tetap diam.

“Aku selalu mengira Nina lemah dan membutuhkan perlindunganku.”

“Lalu?”

“Ternyata orang yang benar-benar membutuhkan perlindunganku justru istri dan anakku.”

Aku tersenyum tipis.

“Sayangnya kau menyadarinya terlalu terlambat.”

Ia menunduk.

“Aku menceraikan Nina.”

Aku mengernyit.

“Kalian bahkan tidak menikah.”

“Maksudku… aku memutus semua hubungan dengannya.”

“Itu juga bukan urusanku.”

Ia menggenggam kedua tangannya.

“Aku ingin menebus semuanya.”

“Tidak ada yang perlu ditebus.”

“Aku masih ayah Nami.”

“Kau memang ayah biologisnya.”

“Tapi bukan ayah yang membesarkannya.”

Kalimat itu membuatnya kehilangan kata-kata.

Beberapa hari kemudian, Riko mulai datang ke sekolah Nami.

Ia membawa bekal.

Membelikan buku.

Mengantar pulang.

Namun Nami selalu bersikap sopan sekaligus menjaga jarak.

Suatu sore, Riko bertanya dengan suara pelan.

“Nami… apa kamu masih marah pada Ayah?”

Anak itu menggeleng.

“Nami tidak marah.”

“Lalu kenapa kamu tidak pernah memanggil Ayah?”

Nami menatapnya lama.

“Dulu waktu Ibu sakit, Ayah memilih pergi.”

“Dulu waktu kami tidak punya uang, Ayah bilang itu bukan tanggung jawab Ayah.”

“Waktu itu Nami masih kecil.”

“Tapi Nami ingat semuanya.”

Air mata Riko jatuh.

“Nami minta maaf.”

“Bukan Nami yang harus minta maaf.”

“Kalau Ayah benar-benar ingin menebus kesalahan, jangan sakiti Ibu lagi.”

Sejak hari itu, Riko tidak pernah memaksa.

Ia hanya diam-diam mengirim biaya sekolah.

Aku selalu mengembalikannya.

Bukan karena dendam.

Melainkan karena aku sudah mampu berdiri sendiri.

Tiga tahun berlalu.

Konveksiku berkembang menjadi perusahaan garmen kecil.

Produk kami dijual ke berbagai kota.

Aku membeli rumah sederhana.

Nami masuk SMP favorit.

Suatu pagi, teleponku berdering.

Kabar itu datang begitu mendadak.

Nina mengalami gagal jantung.

Ia meninggal sendirian di rumah kontrakannya.

Tak ada keluarga yang datang.

Tak ada teman yang menemani.

Semua barang mewah yang dulu dibelinya ternyata dibeli dengan utang.

Riko menghadiri pemakamannya seorang diri.

Sepulang dari sana, ia datang ke rumahku.

“Aku baru sadar…”

“Seseorang bisa menghabiskan seluruh hidup mengejar orang yang salah.”

Aku memandang langit yang mulai senja.

“Dan seseorang juga bisa kehilangan keluarga yang benar karena terlambat membuka mata.”

Ia mengangguk pelan.

“Itu aku.”

Aku tidak membalas.

Karena memang benar begitu adanya.

Beberapa bulan kemudian, surat dari pengadilan akhirnya tiba.

Perceraian kami resmi disahkan.

Aku menandatangani berkas itu tanpa sedikit pun rasa sedih.

Keluar dari gedung pengadilan, Nami menggandeng tanganku.

“Ibu.”

“Ya?”

“Ibu menyesal pernah menikah dengan Ayah?”

Aku memandang wajah putriku yang kini tumbuh menjadi gadis cerdas.

Aku tersenyum.

“Dulu iya.”

“Sekarang?”

“Sekarang tidak.”

“Kenapa?”

“Karena kalau Ibu tidak pernah melewati semua itu, Ibu tidak akan memiliki Nami.”

Anak itu langsung memelukku.

Saat kami berjalan menuju mobil, kulihat Riko berdiri dari kejauhan.

Ia hanya memperhatikan kami.

Tidak mendekat.

Tidak memanggil.

Tidak mencoba menghalangi langkah kami.

Untuk pertama kalinya, ia benar-benar memahami bahwa ada penyesalan yang tidak bisa diperbaiki hanya dengan permintaan maaf.

Ada pintu yang, sekali ditutup, tidak akan pernah terbuka lagi.

Aku menggenggam tangan Nami lebih erat.

Matahari sore menyinari jalan di depan kami.

Dulu aku pernah mengira kebahagiaan adalah memiliki seorang suami yang mencintaiku.

Kini aku tahu, kebahagiaan yang sesungguhnya adalah mampu berdiri dengan kakiku sendiri, melindungi anakku, dan tidak lagi menyerahkan harga diriku kepada seseorang yang tidak pernah tahu bagaimana cara menghargainya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang