Wajah Papa dan Mama benar-benar kehilangan rona. Kontras antara pria yang mereka usir dengan penuh penghinaan dan pria yang kini berdiri di ambang pintu mereka sangatlah telak. Mateo tidak lagi memakai pakaian kerja yang berdebu kayu; ia mengenakan setelan jas yang elegan, namun tatapan matanya tetap setajam dulu—penuh ketenangan yang menakutkan.
Pertemuan yang Mengubah Segalanya

“Kami hanya mampir untuk menunjukkan bahwa hidup ini tidak selalu tentang apa yang terlihat di permukaan, bukan?” suara Mateo tenang, namun dinginnya menusuk tulang.
Papa terbata-bata, tangannya mencengkeram bingkai pintu dengan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. “Mateo? Bagaimana… bagaimana mungkin kamu…?”
“Tukang kayu?” sahut Mateo dengan senyum tipis yang tidak mencapai matanya. “Ya, itu adalah jati diri saya. Tapi orang tua, kalian mungkin lupa bahwa kayu terbaik berasal dari tempat yang paling keras kondisinya. Begitu pula dengan manusia.”
Mama berusaha tersenyum, sebuah senyuman canggung dan dipaksakan. “Maya, sayang… masuklah. Mari kita bicara. Kami tidak tahu…”
“Tidak perlu,” potongku. Aku melihat rumah ini—rumah tempat aku dibesarkan—sekarang tampak begitu kecil dan sempit di mataku. “Kami tidak datang untuk meminta maaf, dan kami tidak datang untuk mendapatkan restu yang baru kalian berikan karena kalian melihat kemewahan.”
Rahasia di Balik Kayu
Namun, saat kami hendak berbalik, Papa melakukan sesuatu yang tak terduga. Dia bersujud di lantai. Bukan karena dia menyesal, tetapi karena ketakutan yang luar biasa.
“Mateo, tolong… dengarkan aku. Perusahaan keluargaku di ambang kehancuran. Aku tahu siapa kamu sekarang. Kamu adalah pemilik Artisan Guild yang misterius itu, kan? Kamu yang telah membeli semua hutang perusahaan kami!”
Aku tertegun. Aku menoleh ke arah Mateo. Dia tidak terkejut.
Mateo menarik napas panjang, lalu menatap orang tuaku dengan tatapan yang sulit diartikan. “Ya. Benar. Dan aku tidak membelinya untuk menyelamatkan kalian. Aku membelinya untuk menunjukkan kepada kalian bahwa kekuasaan yang kalian banggakan hanyalah tumpukan kartu yang rapuh.”
Ternyata, Mateo bukan sekadar pengrajin hebat. Selama ini, dia melakukan riset mendalam. Dia tahu bahwa orang tuaku adalah penyebab utama kebangkrutan bisnis keluarga Mateo di masa lalu, yang membuat keluarganya kehilangan segalanya dan ayahnya meninggal dalam kemiskinan. Mateo menikahi putri mereka bukan karena cinta yang tiba-tiba—melainkan karena sebuah rencana balas dendam yang sangat rapi.
Pengkhianatan di Balik Cinta
Hatiku hancur berkeping-keping. “Mateo… apakah… apakah pernikahan ini hanya bagian dari rencanamu?”
Mateo menatapku. Untuk pertama kalinya, matanya yang dingin itu bergetar. Dia mendekat, memegang wajahku dengan lembut. “Maya, awalnya memang begitu. Kamu hanyalah pion untuk menghancurkan mereka. Tapi… aku tidak memperhitungkan satu hal. Aku tidak menyangka akan benar-benar jatuh cinta padamu.”
Situasi menjadi kacau. Orang tuaku mulai berteriak, memohon, dan merengek. Mereka menawarkan segalanya—uang, status, apa pun—asalkan Mateo melepaskan tuntutan hukum atas perusahaan mereka.
“Pilih, Maya,” kata Mateo, suaranya parau. “Kamu bisa tetap bersama mereka, mengambil kembali warisanmu, dan hidup dalam kemewahan yang mereka agungkan. Atau, tinggalkan mereka di sini, hancur, dan kita mulai hidup baru tanpa bayang-bayang mereka. Hanya kita berdua.”
Akhir yang Tak Terduga
Aku melihat ayahku, pria yang mengusirku tanpa rasa bersalah. Aku melihat ibuku, wanita yang tidak menatapku saat aku pergi. Dan aku melihat Mateo, pria yang mencintaiku dengan cara yang begitu rusak dan menyakitkan.
Aku menarik napas panjang. Aku berjalan mendekati Papa, mengambil pena dari saku jasnya, dan menandatangani surat pengalihan aset yang Mateo bawa di dalam tasnya.
“Aku bukan lagi anak kalian,” kataku dingin. “Kalian mengusirku karena kalian pikir aku tidak punya masa depan. Sekarang, aku memberikan masa depan itu kepada kalian—masa depan sebagai pengemis.”
Mateo terkejut. Dia mengira aku akan memaafkan mereka atau mungkin pergi meninggalkannya. Tapi aku tidak melakukan keduanya.
Aku memandang Mateo. “Aku mencintaimu, Mateo. Tapi aku tidak bisa bersama pria yang menjadikan cintanya sebagai alat balas dendam.”
Aku berjalan keluar, meninggalkan mereka semua—orang tuaku yang kini kehilangan segalanya, dan Mateo yang tercengang di ambang pintu, menyadari bahwa dia telah memenangkan perang, tetapi kalah dalam pertempuran untuk mendapatkan hatiku sepenuhnya.
Di jalanan yang mulai diguyur hujan, aku menyadari satu hal: Kebahagiaan tidak ditemukan dalam kemewahan kayu atau dendam masa lalu, melainkan dalam keberanian untuk melepaskan semuanya. Aku tidak memiliki apa-apa sekarang, tapi untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku benar-benar bebas.
Mateo berdiri di sana, menatap punggungku yang semakin menjauh. Dia memiliki semua kekayaan di dunia, tapi dia kehilangan satu-satunya hal yang sebenarnya dia inginkan—aku.
Apakah menurutmu keputusan Maya untuk meninggalkan Mateo adalah langkah yang paling tepat untuk kebahagiaannya, atau apakah dia seharusnya memberikan kesempatan kedua bagi pria yang telah mengubah hidupnya tersebut?
