🚨 BARU TIGA HARI MENIKAH, IBU MERTUAKU MASUK KE KAMAR DAN MEMINTA KEMBALI UANG SUNGKEMAN PERNIKAHAN. REAKSI SUAMIKU JAUH LEBIH MENGEJUTKAN. APA YANG HARUS AKU LAKUKAN? 🚨

Baru tiga hari setelah resmi menjadi istri Rian, aku sudah mengerti satu hal yang tidak pernah diajarkan siapa pun sebelum menikah: tidak semua rumah tangga diuji oleh kekurangan uang. Ada yang diuji oleh orang-orang yang menganggap batas dan harga diri orang lain tidak pernah ada.

Aku melangkah keluar rumah dengan dada yang masih bergemuruh. Udara pagi Jakarta terasa dingin, tetapi kepalaku jauh lebih panas daripada matahari yang mulai muncul. Tanganku menggenggam setir begitu erat hingga buku-buku jariku memutih.

Ponsel lamaku masih tertinggal di laci meja rias.

Bukan karena lupa.

Memang sengaja.

Sebelum tidur malam sebelumnya, aku memasang aplikasi perekam video karena merasa ada sesuatu yang aneh sejak pertama kali tinggal di rumah keluarga Rian. Ibu Asnah berkali-kali masuk ke kamar kami tanpa mengetuk, membuka lemari, bahkan mengatur barang-barangku seolah semuanya miliknya.

Pagi itu, firasatku ternyata benar.

Aku berhenti di sebuah kafe yang baru buka. Setelah memesan kopi, aku membuka aplikasi sinkronisasi cloud dari ponsel utamaku.

Beberapa menit kemudian, video yang direkam ponsel lama mulai muncul.

Semuanya terekam jelas.

Suara pintu didorong.

Wajah Ibu Asnah.

Permintaannya agar aku mengembalikan uang sungkeman.

Ucapan Rian yang menyuruhku menyerahkan uang itu.

Bahkan ekspresi puas Ibu Asnah saat menghitung ketebalan amplop.

Aku memutar videonya berulang kali.

Bukan karena ingin menyiksa diri.

Aku hanya ingin memastikan bahwa semua itu benar-benar terjadi.

Siang harinya, Rian menelepon berkali-kali.

Aku tidak mengangkat.

Baru setelah hampir dua puluh panggilan, aku menjawab.

“Nindy, kamu di mana?”

“Ada di luar.”

“Kamu pulang saja. Ibu juga sudah tidak marah.”

Aku tertawa pelan.

“Marah? Jadi menurutmu yang bermasalah tadi pagi itu aku?”

Rian terdiam.

“Nindy… kamu harus belajar memahami karakter Ibu.”

“Aku sedang belajar.”

“Hasilnya?”

“Hasilnya, aku tahu kalau ibumu tidak menghargai orang lain.”

“Nindy…”

“Dan aku juga tahu suamiku tidak berani membelaku.”

Telepon langsung kuputus.

Malamnya aku pulang.

Rumah tampak tenang.

Ibu Asnah bahkan menyambutku dengan senyum yang sangat manis.

“Nindy, tadi Ibu sudah masak rendang favoritmu.”

Aku membalas dengan senyum tipis.

“Terima kasih, Tante.”

Senyumnya langsung membeku.

“Kamu masih memanggil Ibu dengan Tante?”

“Aku rasa itu panggilan yang tepat.”

Rian langsung menyenggol lenganku di bawah meja makan.

“Nindy.”

Aku pura-pura tidak mengerti.

Suasana makan malam berubah canggung.

Namun anehnya, setelah kejadian itu, Ibu Asnah justru bersikap sangat baik.

Ia membelikanku buah.

Menawarkan pijat.

Bahkan mulai memanggilku “Anak.”

Orang lain mungkin akan mengira masalah kami sudah selesai.

Tetapi aku tahu ada sesuatu yang sedang ia rencanakan.

Tiga hari kemudian, aku mendapat jawabannya.

Pagi-pagi sekali, Ibu Asnah menghampiriku ketika Rian sudah berangkat bekerja.

“Nindy.”

“Iya, Tante.”

“Ibu dengar kamu masih punya tabungan cukup besar sebelum menikah.”

Aku hanya diam.

“Keluarga kita sedang ingin membeli ruko. Kalau kamu bisa membantu DP sekitar tiga ratus juta, nanti sertifikatnya atas nama Rian.”

Aku menatap wajahnya beberapa detik.

Baru seminggu menjadi menantu.

Sudah diminta tiga ratus juta.

Aku tersenyum kecil.

“Maaf, Tante. Saya tidak punya uang sebanyak itu.”

“Oh…”

Wajahnya langsung berubah.

“Padahal katanya orang tuamu mampu.”

Aku mulai mengerti.

Bukan uang sungkeman yang mereka incar.

Mereka sedang mengukur seberapa mudah aku diperas.

Sejak hari itu, permintaan demi permintaan mulai bermunculan.

Bayar cicilan mobil adik ipar.

Membantu renovasi rumah.

Membelikan kulkas baru.

Mengganti televisi.

Semuanya selalu diawali dengan kalimat yang sama.

“Kan sekarang kita sudah keluarga.”

Sementara Rian selalu memberi jawaban yang juga sama.

“Kalau bisa dibantu, bantu saja.”

Suatu malam aku bertanya kepadanya.

“Mas, kalau keluargaku yang meminta seperti ini kepadamu, apa kamu juga akan memberi?”

Rian tidak langsung menjawab.

“Itu kan beda.”

“Apa bedanya?”

“Kamu perempuan.”

Aku mengangguk pelan.

Jawaban itu justru membuat semuanya menjadi sangat jelas.

Aku tidak lagi melihat Rian sebagai pasangan.

Aku mulai melihatnya sebagai perpanjangan tangan ibunya.

Seminggu kemudian aku diam-diam menemui ayah mertuaku, Pak Hendra.

Selama ini beliau selalu pendiam.

Jarang ikut campur.

Saat kami berbincang di sebuah warung kopi, beliau terlihat sangat lelah.

“Nindy, saya minta maaf.”

Aku terkejut.

“Maaf untuk apa, Pak?”

“Saya tahu Asnah meminta uang sungkemanmu.”

Aku membeku.

“Bapak tahu?”

Beliau mengangguk.

“Bahkan uang itu bukan dipakai untuk keadaan darurat.”

“Kalau begitu dipakai untuk apa?”

Pak Hendra menghela napas panjang.

“Asnah kecanduan investasi bodong.”

Aku terdiam.

Beliau melanjutkan.

“Sudah hampir dua tahun. Awalnya sedikit. Lama-lama puluhan juta. Sekarang ratusan juta.”

Aku merasa seluruh kepingan puzzle mulai tersusun.

“Bukannya Rian tahu?”

“Tahu.”

“Dia tidak menghentikan?”

“Justru dia ikut menutupinya.”

Dadaku semakin sesak.

Pak Hendra mengeluarkan beberapa lembar fotokopi rekening.

Di sana terlihat puluhan transfer ke berbagai rekening yang berbeda.

Jumlahnya fantastis.

“Kalau terus begini, rumah ini bisa dijual.”

Aku pulang dengan pikiran yang kacau.

Malam itu juga aku membuka kembali video rekaman.

Lalu aku membuat satu salinan lagi.

Bukan untuk mengunggahnya.

Belum.

Aku hanya ingin memiliki bukti jika suatu hari nanti diperlukan.

Dua minggu setelah pernikahan, keluarga besar mengadakan syukuran kecil.

Semua paman, bibi, sepupu, dan tetangga dekat hadir.

Ibu Asnah tampil anggun.

Di depan semua orang, ia terus bercerita betapa sayangnya ia kepadaku.

“Nindy ini sudah seperti anak kandung saya.”

Semua tamu tersenyum.

Aku ikut tersenyum.

Lalu salah seorang tante bertanya, “Uang sungkemannya pasti masih disimpan ya? Angkanya bagus sekali.”

Ruangan mendadak hening.

Ibu Asnah tampak gugup.

“Oh… iya… ya…”

Aku meletakkan gelasku.

“Maaf, Tante. Uang itu sudah tidak ada.”

Semua orang menoleh.

“Sudah dipakai?”

Aku mengangguk.

“Iya. Hari ketiga setelah menikah, Tante Asnah datang ke kamar kami jam enam pagi untuk meminta kembali semua uangnya.”

Sendok yang dipegang seseorang jatuh ke lantai.

Ibu Asnah langsung berdiri.

“Nindy!”

Aku tetap tenang.

“Kalau ada yang tidak percaya, saya punya videonya.”

Wajah Rian langsung pucat.

“Jangan…”

Aku membuka ponsel.

Video itu mulai diputar.

Tidak terlalu keras.

Tetapi cukup jelas sehingga semua orang yang berada di ruang tamu bisa mendengar.

“…ambil uang itu dan kembalikan kepada Ibu…”

“…serahkan saja dulu uangnya…”

“…begini baru menantu yang tahu diri…”

Ruangan yang tadi ramai berubah sunyi.

Tidak ada seorang pun yang berbicara.

Beberapa kerabat saling berpandangan dengan wajah tidak percaya.

Salah seorang paman akhirnya angkat bicara.

“Asnah… ini benar?”

Ibu Asnah tidak mampu menjawab.

Rian hanya menunduk.

Lalu sesuatu yang sama sekali tidak kuduga terjadi.

Pak Hendra berdiri.

Selama lebih dari tiga puluh tahun menikah, mungkin itulah pertama kalinya beliau meninggikan suara kepada istrinya.

“Cukup.”

Semua orang menoleh.

“Kebohongan ini selesai hari ini.”

Beliau mengeluarkan map cokelat.

Isinya adalah seluruh bukti transfer investasi bodong, pinjaman online, dan utang yang selama ini disembunyikan.

Semua orang terkejut.

Ternyata uang sungkeman hanyalah bagian kecil dari masalah yang jauh lebih besar.

Ibu Asnah menangis.

Rian mencoba membela ibunya.

Namun tidak ada lagi yang mau mendengarkan.

Keesokan harinya aku mengemasi semua barangku.

Rian mengejarku sampai halaman.

“Nindy, jangan pergi. Aku bisa berubah.”

Aku menatapnya lama.

“Laki-laki yang baik bukan hanya berani menikahi seorang perempuan.”

“Dia juga berani melindunginya.”

“Aku…”

“Kamu bahkan tidak mampu mengatakan kepada ibumu bahwa hadiah tidak boleh diminta kembali.”

Air mata mulai mengalir di wajahnya.

Aku menyerahkan sebuah flash drive kecil ke tangannya.

“Apa ini?”

“Salinan video.”

“Buat apa?”

“Supaya setiap kali kamu lupa mengapa rumah tangga ini hancur, kamu bisa menontonnya lagi.”

Aku masuk ke mobil.

Saat kendaraan mulai bergerak meninggalkan rumah itu, aku melihat Pak Hendra berdiri di teras.

Beliau mengangkat tangan pelan, seolah meminta maaf atas semua yang terjadi.

Aku membalas dengan anggukan kecil.

Hari itu aku kehilangan sebuah pernikahan yang bahkan belum genap satu bulan.

Namun aku berhasil menyelamatkan sesuatu yang jauh lebih berharga.

Harga diriku.

Karena cinta memang membutuhkan pengorbanan.

Tetapi ketika pengorbanan selalu datang dari satu pihak, sementara pihak lain hanya meminta tanpa pernah melindungi, itu bukan lagi cinta.

Itu hanyalah penjara yang dibungkus dengan nama keluarga.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang