Rasa panas di kaki saya belum sempat saya pahami ketika nyeri lain yang jauh lebih mengerikan meremas perut bagian bawah. Napas saya tercekat. Cairan hangat merembes di antara kedua paha dan membasahi lantai.
“Ibu…” suara saya hampir tidak terdengar. “Sepertinya ketuban saya pecah.”
Wajah Ibu Nur seketika pucat.
“Ratna, ambil kunci mobil sekarang!”

Mbak Ratna yang tadi masih berdiri dengan dagu terangkat mendadak kehilangan warna di wajahnya. Ia menatap lantai, lalu kaki saya yang mulai memerah dan melepuh.
“Aku tidak sengaja,” katanya cepat. “Dia sendiri yang menaruh mangkuk terlalu dekat.”
Ibu Nur menoleh tajam.
“Kamu masih sempat menyalahkan dia?”
Saya tidak mampu mengikuti pertengkaran mereka. Perut saya kembali menegang. Kali ini rasa sakitnya menjalar sampai ke pinggang. Saya mencengkeram ujung meja, berusaha menahan tubuh agar tidak roboh.
Ibu Nur berteriak memanggil tetangga. Pak Darto dan istrinya datang beberapa menit kemudian. Melihat kondisi saya, Pak Darto langsung mengangkat tubuh saya dengan hati-hati ke kursi roda milik ibunya yang sudah lama disimpan di rumah sebelah.
Mbak Ratna masih berdiri di dekat pintu.
“Kamu ikut,” kata Ibu Nur.
“Aku harus menghubungi Mas Eko dulu.”
“Kamu ikut ke rumah sakit,” ulang Ibu Nur dengan suara yang membuat semua orang terdiam. “Dan jangan sentuh satu pun barangmu sebelum aku mengizinkan.”
Di dalam mobil, saya menggigil meski tubuh saya berkeringat. Ibu Nur memeluk bahu saya, sementara Bu Darto menempelkan kain bersih di kaki saya.
“Bertahan, Nisa,” bisik Ibu Nur. “Demi bayi kamu.”
Nama saya Nisa. Selama tiga tahun menikah dengan Mas Bagus, saya tidak pernah melihat Ibu Nur semarah itu. Beliau memang tegas, tetapi selalu menahan suara. Bahkan saat Mbak Ratna membuat keributan, Ibu Nur biasanya memilih diam demi menjaga keluarga.
Namun hari itu, tatapannya berubah.
Begitu tiba di rumah sakit, perawat membawa saya ke ruang tindakan. Dokter kandungan yang biasa menangani saya, Dokter Sari, datang dengan wajah serius.
“Ketubannya memang merembes,” katanya setelah pemeriksaan. “Kita harus mempertahankan kandungan selama mungkin. Usianya masih terlalu dini untuk dilahirkan.”
Saya menelan ludah.
“Bayi saya bagaimana, Dok?”
“Detak jantungnya masih ada. Tapi kontraksi sudah muncul. Kami akan memberi obat untuk menahannya dan antibiotik untuk mencegah infeksi.”
Saya memejamkan mata. Air mata mengalir tanpa bisa saya tahan.
Dokter lalu memeriksa kaki saya.
“Luka bakarnya cukup serius. Sebagian kulit mengalami luka bakar derajat dua. Harus dirawat dengan teliti agar tidak infeksi.”
Ibu Nur yang berdiri di sudut ruangan langsung bertanya, “Dokter, kejadian ini bisa membahayakan cucu saya?”
Dokter Sari menatap beliau beberapa saat.
“Stres fisik dan emosional bisa memperparah kontraksi. Yang paling penting sekarang, pasien harus tenang dan tidak boleh mengalami tekanan lagi.”
Tidak lama kemudian, Mas Bagus tiba. Wajahnya tampak panik. Kemejanya masih kusut dan kartu pegawai masih tergantung di leher.
“Nisa!”
Ia mendekati ranjang saya, tetapi langkahnya melambat saat melihat luka di kaki.
“Ini bagaimana bisa terjadi?”
Ibu Nur menjawab sebelum saya sempat membuka mulut.
“Kakakmu melempar mangkuk sup panas ke kaki istrimu.”
Mas Bagus membeku.
“Ratna?”
Mbak Ratna yang sejak tadi duduk di kursi dekat pintu segera berdiri.
“Aku tidak melempar. Aku cuma tidak sengaja menyenggol tangannya. Dia terlalu dramatis.”
Saya menatap suami saya, menunggu ia membela saya.
Mas Bagus mengusap wajahnya, lalu berkata dengan suara rendah, “Yang penting sekarang Nisa dan bayinya selamat.”
Kalimat itu terdengar benar, tetapi ada sesuatu dalam nadanya yang membuat dada saya terasa semakin sesak.
Ia lalu mendekati Mbak Ratna.
“Mbak, sebaiknya pulang dulu. Jangan bikin keadaan tambah keruh.”
Mbak Ratna langsung menggeleng.
“Aku tidak mau pulang ke rumah Eko.”
“Kalau begitu menginap saja di rumah Ibu. Nanti kita bicarakan baik-baik.”
Saya menatap Mas Bagus tidak percaya.
Ibu Nur bahkan lebih cepat bereaksi.
“Dia tidak akan kembali ke rumah saya.”
Mas Bagus menoleh.
“Ibu, jangan memperbesar masalah.”
“Memperbesar masalah?” suara Ibu Nur bergetar. “Istrimu hampir kehilangan bayi karena kakakmu!”
Mas Bagus menatap ke arah saya, lalu kembali menurunkan suaranya.
“Nisa, kamu istirahat dulu. Mbak Ratna memang salah, tapi dia sedang banyak masalah dengan suaminya. Barangkali emosinya tidak stabil. Kita sama-sama keluarga. Nanti kalau sudah tenang, kamu bisa ikhlaskan.”
Kata ikhlaskan itu menghantam lebih menyakitkan daripada kuah panas.
Saya menatap wajah pria yang selama ini saya percaya akan melindungi saya.
“Kamu menyuruh aku mengikhlaskan apa?” tanya saya. “Kaki yang terbakar? Ketuban yang bocor? Atau kemungkinan kehilangan anak kita?”
Mas Bagus diam.
Mbak Ratna mendengus pelan.
“Sudahlah, jangan lebay. Bayinya juga belum kenapa-kenapa.”
Ibu Nur berjalan mendekatinya dan menampar pipinya.
Suara tamparan itu menggema di ruangan.
Semua orang terdiam.
Mbak Ratna memegangi pipi, matanya membelalak.
“Ibu menampar aku demi dia?”
“Bukan demi dia saja,” kata Ibu Nur. “Aku menamparmu karena kamu sudah menjadi manusia yang tidak punya hati.”
Mas Bagus berdiri di antara mereka.
“Ibu, ini rumah sakit!”
“Bagus, kamu juga diam.”
Nada Ibu Nur begitu dingin hingga Mas Bagus tidak berani membalas.
Beliau lalu mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang.
“Pak Hendra, tolong datang ke rumah sakit sekarang. Bawa salinan surat rumah dan dokumen yang pernah saya titipkan.”
Mbak Ratna tampak gelisah.
“Buat apa panggil notaris?”
Ibu Nur tidak menjawab.
Malam itu saya harus dirawat. Dokter memutuskan melakukan observasi ketat selama beberapa hari. Saya tidak boleh banyak bergerak. Setiap kali alat monitor berbunyi, jantung saya seperti ikut berhenti.
Mas Bagus duduk di samping ranjang, tetapi suasana di antara kami terasa asing.
“Aku tidak bermaksud meremehkan keadaanmu,” katanya pelan. “Aku cuma tidak ingin keluarga pecah.”
Saya memandang langit-langit.
“Keluarga kita sudah pecah saat kamu memilih melindungi orang yang menyakiti istri dan anakmu.”
“Ratna itu kakakku.”
“Dan aku istrimu.”
Ia tidak menjawab.
Beberapa jam kemudian, Pak Hendra datang. Ia seorang notaris tua yang sudah lama mengenal keluarga Mas Bagus. Ibu Nur meminta kami semua berkumpul di ruang tunggu kecil.
Saya tidak bisa ikut karena harus tetap berbaring, tetapi Ibu Nur meminta perawat mengizinkan pintu kamar tetap terbuka agar saya bisa mendengar.
Pak Hendra membuka map cokelat.
Ibu Nur duduk dengan punggung tegak.
“Rumah yang sekarang kita tempati dibeli dari uang warisan almarhum suami saya,” katanya. “Sertifikatnya masih atas nama saya.”
Mas Bagus mengernyitkan dahi.
“Iya, kami tahu.”
“Tidak. Kalian tidak tahu semuanya.”
Ibu Nur mengeluarkan sebuah surat lama.
“Dua tahun lalu, saya sudah membuat surat hibah bersyarat. Rumah itu rencananya akan saya serahkan kepada kalian berdua setelah saya meninggal.”
Mbak Ratna menyela, “Kalian berdua siapa?”
Ibu Nur menatapnya.
“Bagus dan Nisa.”
Wajah Mbak Ratna langsung memerah.
“Kenapa aku tidak dapat?”
“Karena saat kamu menikah, ayahmu sudah memberimu rumah di Bekasi. Kamu menjualnya tanpa sepengetahuan kami untuk melunasi utang gaya hidupmu.”
Mas Bagus menghela napas.
“Ibu, sekarang bukan waktunya membahas warisan.”
“Justru sekarang waktunya.”
Pak Hendra mengeluarkan dokumen lain.
“Mulai hari ini, saya membatalkan hibah tersebut.”
Mas Bagus terkejut.
“Maksud Ibu?”
“Rumah itu akan saya jual.”
Mbak Ratna menatap ibunya seolah tidak mengenalinya.
“Jual? Lalu Ibu mau tinggal di mana?”
Ibu Nur menoleh ke arah kamar saya.
“Saya akan membeli rumah kecil dekat rumah sakit. Sisanya saya masukkan ke rekening khusus atas nama cucu saya.”
Mas Bagus berdiri.
“Ibu tidak bisa mengambil keputusan sebesar ini hanya karena satu kejadian.”
Ibu Nur tersenyum tipis.
“Bukan hanya karena satu kejadian.”
Beliau membuka galeri ponselnya dan menunjukkan beberapa rekaman kamera rumah.
Saya baru tahu bahwa dua bulan lalu Mas Bagus memasang kamera keamanan di ruang tamu dan dapur setelah beberapa barang hilang. Rekaman otomatis tersimpan di akun Ibu Nur.
Di layar tampak jelas Mbak Ratna berjalan ke meja makan. Ia tidak menyenggol mangkuk secara tidak sengaja. Tangannya sengaja menghantam mangkuk itu ke arah saya.
Mbak Ratna mundur.
“Itu cuma sudut kameranya!”
Pak Hendra menggeleng.
“Rekamannya cukup jelas.”
Kemudian Ibu Nur memutar rekaman lain.
Dalam video berbeda, Mbak Ratna terlihat membuka laci kamar kami. Ia mengambil amplop berisi uang, memasukkannya ke dalam tas, lalu menutup laci kembali.
Mas Bagus menatap kakaknya.
“Itu uang persiapan persalinan.”
Mbak Ratna mulai menangis.
“Aku cuma meminjam.”
“Dua puluh juta rupiah?” tanya saya dari ranjang.
Suara saya membuat semua orang menoleh.
Uang itu hilang seminggu lalu. Mas Bagus mengira saya lupa menaruhnya. Saya sempat menyalahkan diri sendiri sampai tidak tidur semalaman.
Ibu Nur belum selesai.
Beliau menunjukkan tangkapan layar percakapan Mbak Ratna dengan seorang perempuan bernama Lilis.
Dalam percakapan itu, Mbak Ratna menulis bahwa ia sengaja sering bertengkar dengan Mas Eko agar bisa menginap di rumah ibunya. Ia juga menyebut saya perempuan lemah yang mudah disingkirkan. Ia berharap jika saya kehilangan bayi, Mas Bagus akan menceraikan saya dan rumah keluarga bisa kembali dikuasai olehnya.
Suasana menjadi sunyi.
Mas Bagus tampak seperti kehilangan kemampuan bicara.
Mbak Ratna menutup wajahnya.
“Itu cuma omongan saat emosi.”
Ibu Nur berdiri perlahan.
“Omonganmu menjadi tindakan ketika kamu menyiram kaki Nisa dan membahayakan cucuku.”
Mas Bagus menoleh kepada ibunya.
“Jadi Ibu mau melaporkan Mbak Ratna?”
“Saya sudah melakukannya.”
Mbak Ratna mendongak cepat.
Pada saat yang sama, dua petugas kepolisian masuk bersama seorang perawat. Mereka menjelaskan bahwa laporan sudah dibuat berdasarkan rekaman kamera, hasil pemeriksaan medis, dan kesaksian Ibu Nur.
Mbak Ratna menjerit.
“Ibu tega memenjarakan anak sendiri?”
Ibu Nur menatapnya dengan air mata menggenang.
“Yang tega adalah anak yang hampir membunuh keponakannya sendiri.”
Mbak Ratna berusaha meminta bantuan Mas Bagus.
“Bagus, bilang pada polisi ini cuma masalah keluarga!”
Mas Bagus mengepalkan tangan.
Beberapa detik ia tampak ragu. Lalu ia menatap luka di kaki saya, layar monitor janin, dan wajah ibunya.
Untuk pertama kalinya, ia berjalan menjauh dari kakaknya.
“Aku tidak akan berbohong untukmu.”
Mbak Ratna dibawa pergi malam itu.
Namun masalah belum selesai.
Keesokan harinya, Mas Eko datang ke rumah sakit. Ia membawa setumpuk bukti transfer dan salinan pinjaman daring atas nama dirinya.
“Tiga tahun ini Ratna punya utang hampir tiga ratus juta,” katanya. “Dia memakai data saya dan memalsukan tanda tangan. Kami bertengkar karena saya meminta dia berhenti berjudi lewat aplikasi.”
Mas Bagus pucat.
Mbak Ratna bukan datang ke rumah ibunya karena ingin menenangkan diri. Ia melarikan diri karena penagih utang sudah mendatangi rumahnya.
Mas Eko juga mengaku bahwa Mbak Ratna beberapa kali mengatakan rumah Ibu Nur akan segera menjadi miliknya setelah bayi saya lahir.
“Dia bilang kalau Nisa punya anak, Bagus akan terlalu sibuk dan mudah dipengaruhi. Saya kira dia hanya bicara sembarangan,” ujar Mas Eko dengan suara penuh penyesalan.
Hari-hari berikutnya berlalu lambat. Kondisi bayi saya akhirnya stabil. Kebocoran ketuban berhenti bertambah, dan kontraksi berhasil ditekan. Dokter mengatakan saya masih harus banyak berbaring, tetapi kami mendapat harapan baru.
Mas Bagus tidak pernah meninggalkan rumah sakit.
Suatu malam ia duduk di samping ranjang, matanya merah.
“Aku gagal menjadi suami,” katanya. “Aku terlalu takut disebut anak durhaka sampai lupa bahwa membiarkan kezaliman juga bentuk kedurhakaan.”
Saya tidak langsung menjawab.
“Maaf tidak cukup, Mas.”
“Aku tahu.”
“Kepercayaan tidak kembali hanya karena kamu menangis.”
“Aku juga tahu.”
Ia mengeluarkan sebuah kunci rumah.
“Aku sudah menyewa rumah kecil dekat kantor. Setelah kamu keluar dari rumah sakit, kita tidak akan tinggal bersama siapa pun. Ibu juga sudah setuju tinggal dekat kita, bukan serumah. Aku akan ikut konseling keluarga. Kalau kamu tetap ingin berpisah setelah semua ini, aku akan menerima.”
Untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, ia tidak meminta saya mengerti dirinya. Ia hanya mengakui kesalahannya.
Dua bulan kemudian, saya melahirkan seorang bayi perempuan melalui operasi darurat. Tubuhnya kecil dan harus dirawat di ruang khusus selama beberapa minggu, tetapi ia selamat.
Kami menamainya Kirana Nur Aulia.
Kirana berarti cahaya.
Nama Nur kami ambil dari Ibu Nur, perempuan yang berani memilih kebenaran meski harus melawan anak kandungnya sendiri.
Mbak Ratna akhirnya menjalani proses hukum. Ia juga diwajibkan mengikuti pemeriksaan psikologis dan program rehabilitasi kecanduan judi. Ibu Nur tetap mengunjunginya, tetapi tidak pernah mencabut laporan.
“Saya masih ibunya,” kata beliau. “Karena itu saya tidak boleh membiarkan dia terus menjadi jahat.”
Rumah lama benar-benar dijual. Sebagian uang digunakan untuk biaya perawatan Kirana. Sisanya dimasukkan ke rekening pendidikan atas nama cucunya.
Enam bulan setelah kejadian, Ibu Nur datang membawa mangkuk baru ke rumah kami.
Mangkuk itu berwarna putih dengan gambar bunga kecil di pinggirnya.
Beliau meletakkannya di atas meja makan.
“Dulu sebuah mangkuk hampir menghancurkan keluarga kita,” katanya. “Mulai hari ini, biarkan mangkuk ini menjadi pengingat bahwa keluarga bukan tempat untuk menyembunyikan kejahatan.”
Saya menuangkan sup ikan hangat ke dalamnya.
Mas Bagus duduk di samping saya sambil menggendong Kirana. Bekas luka di kaki saya masih terlihat, tetapi sudah tidak lagi terasa sakit.
Ibu Nur memandang cucunya yang tertidur.
“Maafkan Ibu karena dulu terlalu sering diam menghadapi Ratna.”
Saya menggenggam tangannya.
“Ibu tidak terlambat.”
Beliau menggeleng pelan.
“Kadang orang mengira memaafkan berarti tidak memberi hukuman. Padahal hukuman yang benar justru bisa menjadi bentuk kasih sayang terakhir.”
Di luar rumah, hujan turun tipis. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, saya merasa benar-benar aman.
Saya akhirnya memahami bahwa rumah bukan sekadar bangunan yang dihuni orang-orang dengan hubungan darah. Rumah adalah tempat seseorang berani berdiri di depan kita ketika dunia menyuruh kita diam.
Dan hari itu, perempuan yang menyelamatkan saya bukan suami saya.
Bukan pula saudara kandung saya.
Melainkan seorang ibu yang berani kehilangan anaknya demi menghentikan anak itu menghancurkan orang lain.
