15 MENIT SEBELUM AKAD, ORANG TUANYA DIUSIR KE KURSI PLASTIK DI POJOKAN. AKSI NEKAT SANG PENGANTIN WANITA DI DEPAN 200 TAMU MEMBUAT SEMUA ORANG SYOK!

“Dan sekarang, sebelum ada penghulu yang menikahkan kami, kalian semua harus tahu alasan kenapa pernikahan ini tidak boleh dilanjutkan.”

Suara Maya menggema di seluruh aula.

Dion langsung naik ke panggung.

Tangannya mencoba meraih mikrofon, tetapi Maya mundur satu langkah.

“Jangan bikin malu keluarga kita,” bisik Dion dengan rahang mengeras.

Maya menatapnya lama.

“Keluarga kita?”

Dion terdiam.

Maya tersenyum kecil, tetapi matanya sudah berkaca-kaca.

“Lima menit lalu, orang tuaku bahkan dianggap tidak pantas duduk bersama keluargamu. Sekarang tiba-tiba kamu bilang keluarga kita?”

Beberapa tamu mulai saling pandang.

Bisikan pelan terdengar dari meja-meja depan.

Ibu Pratiwi segera berjalan mendekat ke panggung.

“Maya, cukup!”

Suaranya meninggi.

“Kalau ada persoalan keluarga, selesaikan setelah acara. Jangan mempermalukan kami di depan tamu.”

Maya menoleh kepadanya.

“Aneh ya, Bu.”

“Apa?”

“Ibu boleh mempermalukan orang tua saya di depan orang banyak, tapi saya tidak boleh mempertanyakan itu di depan orang banyak?”

Wajah Pratiwi berubah merah.

“Jaga bicaramu!”

Maya tidak menjawab.

Ia turun dari panggung.

Gaun putih panjangnya bergerak mengikuti langkahnya saat ia berjalan melewati deretan meja menuju sudut belakang aula.

Semua mata mengikutinya.

Begitu sampai di depan ayah dan ibunya, Maya berhenti.

Ibunya segera menggenggam tangan Maya.

“Sudah, Nak,” bisik Bu Ratna.

“Kamu jangan rusak hari bahagiamu karena Ibu.”

Kalimat itu justru membuat dada Maya semakin sesak.

Ibunya masih berusaha melindungi pernikahannya, padahal wanita itu sendiri baru saja dipermalukan.

Pak Sastro menarik napas pelan.

Wajahnya tampak tenang, tetapi Maya mengenal ayahnya.

Jari pria itu gemetar di balik jas murah berwarna abu-abu.

“Ayah nggak apa-apa,” katanya.

“Duduk di mana saja sama saja. Yang penting kamu bahagia.”

Maya menatap ayahnya.

Sejak kecil, pria itulah yang selalu mengatakan kalimat serupa.

Yang penting Maya bisa sekolah.

Yang penting Maya bisa kuliah.

Yang penting Maya punya pekerjaan baik.

Yang penting Maya bahagia.

Pak Sastro bekerja hampir tiga puluh tahun sebagai teknisi pendingin ruangan.

Tangannya kasar.

Kukunya tidak pernah benar-benar bersih dari bekas oli mesin.

Namun dari tangan itulah biaya pendidikan Maya dibayar.

Dari tangan itu pula uang muka pernikahan mereka diberikan ketika Dion mengatakan keluarganya sedang mengalokasikan dana untuk ekspansi bisnis.

Maya menggenggam tangan ayahnya erat.

“Yah, kalau kebahagiaan Maya harus dibayar dengan Ayah dan Ibu dihina, itu bukan kebahagiaan.”

Pak Sastro menatap putrinya tanpa bicara.

Maya berbalik menuju panggung.

Dion masih berdiri di sana.

Wajahnya semakin tegang.

“Maya, kita selesaikan ini berdua.”

“Tidak.”

“Kamu keterlaluan.”

“Keterlaluan?”

Maya tertawa pendek.

“Baik. Kalau kamu memang merasa aku keterlaluan, kita mulai dari hal yang sederhana.”

Ia menatap Dion lurus-lurus.

“Siapa yang membayar uang muka gedung ini?”

Dion terdiam.

Beberapa anggota keluarga Prasetya langsung menoleh.

Pratiwi berkata cepat, “Apa hubungannya?”

Maya tetap memandang Dion.

“Jawab.”

Dion mengembuskan napas kasar.

“Papamu.”

Suasana aula berubah.

Maya melanjutkan.

“Siapa yang membayar katering?”

Dion menutup matanya sebentar.

“Keluargamu.”

“Fotografer?”

“Maya, cukup.”

“Fotografer?”

Dion mengepalkan tangan.

“Papamu juga.”

Maya mengangguk.

“Lalu dekorasi tambahan yang Mama kamu minta karena katanya dekorasi awal terlalu sederhana?”

Pratiwi langsung menyela.

“Itu hadiah sukarela!”

Maya memandangnya.

“Bukan. Itu dibayar ibu saya dengan mencairkan deposito yang seharusnya dipakai untuk biaya pengobatan lututnya.”

Bu Ratna langsung menunduk.

Maya baru mengetahui hal itu tiga hari sebelumnya.

Ibunya berusaha menyembunyikannya.

Karena Bu Ratna tahu Maya akan marah.

Maya mengangkat mikrofon.

“Orang tua saya membayar hampir separuh acara ini.”

Beberapa tamu tampak terkejut.

“Keluarga Prasetya memang membayar beberapa bagian lain. Saya tidak menyangkal itu. Tapi hari ini, orang yang ikut membiayai gedung, katering, dan dekorasi justru disuruh duduk di dua kursi plastik paling belakang karena dianggap tidak pantas duduk bersama tamu penting.”

Maya menoleh kepada Dion.

“Dan calon suami saya membiarkannya.”

Dion akhirnya kehilangan kesabaran.

“Aku cuma mau menghindari konflik!”

Maya membeku.

“Konflik dengan siapa?”

“Mama!”

Dion menyadari jawabannya terlambat.

Aula kembali sunyi.

Maya mengangguk perlahan.

“Jadi kamu memang tahu.”

Dion mengusap wajahnya.

“Aku tahu Mama mau mengatur tempat duduk, tapi aku pikir ini nggak penting.”

Tidak penting.

Dua kata itu seperti menampar Maya.

Ia menatap pria yang hampir dinikahinya.

Dua tahun hubungan mereka.

Ratusan percakapan.

Puluhan janji.

Semua mendadak terasa seperti sesuatu yang dibuat dari bahan rapuh.

“Orang tuaku dihina di hari pernikahanku dan menurutmu itu nggak penting?”

“Aku nggak bilang begitu.”

“Kamu baru saja bilang begitu.”

“Maya, kamu tahu Mama seperti apa.”

Maya tersenyum pahit.

“Justru itu masalahnya, Dion.”

“Aku selama ini terlalu sibuk memahami mamamu sampai lupa memperhatikan seperti apa kamu sebenarnya.”

Wajah Dion menegang.

Pratiwi naik ke panggung.

“Cukup!”

Ia meraih mikrofon dari tangan Dion yang lain dan berbicara dengan suara keras.

“Kalau kamu memang ingin membatalkan pernikahan hanya karena masalah kursi, silakan! Tapi jangan pura-pura seolah keluarga kami bersalah.”

Maya menatapnya.

Pratiwi belum selesai.

“Sejak awal keluarga kami sudah menerima kamu meski jelas latar belakang kita berbeda.”

Beberapa kerabat Prasetya mulai terlihat tidak nyaman.

Namun Pratiwi terus bicara.

“Kami menerima ayahmu yang cuma teknisi.”

Pak Sastro menunduk.

“Ibumu yang hanya ibu rumah tangga.”

Bu Ratna menggigit bibir.

“Rumah keluargamu bahkan lebih kecil dari garasi rumah kami.”

Maya merasakan amarahnya naik.

Tetapi sebelum ia menjawab, terdengar suara seorang pria dari meja tengah.

“Bu Pratiwi.”

Semua menoleh.

Seorang pria sekitar enam puluh tahun berdiri dari kursinya.

Maya mengenalnya.

Pak Surya.

Salah satu rekan bisnis keluarga Prasetya yang paling dihormati.

Pratiwi langsung mengubah ekspresinya.

“Pak Surya, maaf sekali harus melihat keributan seperti ini.”

Pak Surya tidak menjawab permintaan maaf itu.

Ia justru berjalan mendekati sudut tempat Pak Sastro berdiri.

Kemudian sesuatu yang tidak diduga siapa pun terjadi.

Pak Surya menjabat tangan Pak Sastro dengan kedua tangannya.

“Pak Sastro.”

Pak Sastro tampak bingung.

“Pak Surya?”

Pratiwi membeku.

Pak Surya tersenyum.

“Sudah lama sekali.”

Maya menatap ayahnya.

“Ayah kenal Pak Surya?”

Pak Sastro terlihat kikuk.

“Sedikit.”

Pak Surya tertawa kecil.

“Sedikit katanya.”

Ia menoleh kepada para tamu.

“Lima belas tahun lalu pabrik pertama saya hampir terbakar karena instalasi pendinginnya korsleting.”

Pratiwi menatapnya.

Pak Surya melanjutkan.

“Pak Sastro yang menemukan masalahnya sebelum terjadi kebakaran besar.”

Beberapa orang mulai berbisik.

“Bukan cuma itu. Setelahnya beliau membantu mendesain ulang sistem pendingin gudang saya. Waktu saya belum mampu membayar penuh, dia mengizinkan saya mencicil.”

Pak Sastro segera menggeleng.

“Sudah lama, Pak.”

“Tapi saya tidak lupa.”

Pak Surya memandang Pratiwi.

“Kalau ukuran kehormatan seseorang adalah isi rekening, mungkin kita semua memang gampang salah menilai.”

Wajah Pratiwi berubah kaku.

Namun kejutan belum berhenti.

Seorang perempuan di meja lain berdiri.

Ia adalah dokter spesialis bernama dr. Lestari, salah satu tamu dari pihak keluarga Dion.

“Saya juga kenal Bu Ratna.”

Bu Ratna langsung memandangnya.

Dr. Lestari berjalan mendekat.

“Tujuh tahun lalu, waktu anak saya dirawat lama di rumah sakit, Bu Ratna adalah orang yang setiap hari mengirim makanan untuk keluarga pasien di kamar sebelah.”

Bu Ratna tampak malu.

“Itu cuma masakan biasa.”

“Untuk Ibu mungkin biasa. Buat orang yang sedang hidup di rumah sakit selama berminggu-minggu, itu sangat berarti.”

Suasana aula berubah drastis.

Orang-orang yang tadi hanya menonton kini mulai memandang dua kursi plastik itu dengan rasa tidak nyaman.

Maya sendiri baru mengetahui semua cerita tersebut.

Ayah dan ibunya memang seperti itu.

Mereka tidak pernah menceritakan kebaikan yang dilakukan.

Tidak pernah memakai hubungan dengan orang lain untuk menaikkan harga diri.

Dion berdiri kaku.

Maya kembali menatapnya.

“Aku tidak butuh keluargamu menghormati orang tuaku karena ternyata mereka kenal orang penting.”

Maya menunjuk ayah dan ibunya.

“Mereka pantas dihormati bahkan kalau ayahku cuma tukang servis kecil di pinggir jalan.”

Pak Sastro menatap putrinya.

Air matanya mulai menggenang.

Maya kemudian membuka telapak tangan.

Cincin pertunangan masih berada di sana.

Ia berjalan mendekati Dion.

Dion menelan ludah.

“Maya.”

Untuk pertama kalinya sejak keributan dimulai, suara laki-laki itu melemah.

“Kita sudah sejauh ini.”

Maya berhenti tepat di depannya.

“Itulah alasan aku hampir tetap menikah denganmu.”

“Apa?”

“Karena aku terus berpikir kita sudah sejauh ini.”

Maya tersenyum sedih.

“Sudah pesan gedung.”

“Sudah sebar undangan.”

“Sudah keluar uang.”

“Sudah dua tahun bersama.”

“Demi semua yang sudah terlanjur dikeluarkan, aku hampir mengorbankan sisa hidupku.”

Dion terdiam.

Maya mengambil tangan Dion.

Ia meletakkan cincin itu di telapak tangannya.

“Tapi terlambat sadar masih lebih baik daripada terlambat seumur hidup.”

Dion langsung menggenggam pergelangan tangannya.

“Maya, jangan.”

Maya menarik tangannya.

“Jangan sentuh aku.”

Dion tampak mulai panik.

“Aku bisa berubah.”

Maya menatapnya.

“Kapan?”

Dion tidak menjawab.

“Setelah menikah?”

Maya tertawa kecil.

“Itu juga yang kamu bilang selama ini.”

Pratiwi segera berdiri di depan anaknya.

“Kalau kamu keluar sekarang, jangan harap keluarga Prasetya menerima kamu lagi!”

Maya menoleh kepadanya.

Kali ini ekspresinya benar-benar tenang.

“Bu.”

“Sejak lima belas menit lalu, saya justru sedang berusaha keluar dari keluarga yang tidak pernah benar-benar menerima saya.”

Pratiwi terdiam.

Maya mengembalikan mikrofon ke tempatnya.

Kemudian ia berjalan menuju orang tuanya.

Nisa berlari menghampiri.

“Maya, kamu yakin?”

Maya melihat ke arah pintu keluar.

Di luar gedung, cahaya sore mulai masuk melalui pintu kaca.

“Aku takut.”

Nisa menatapnya.

“Tapi aku lebih takut kalau tadi aku diam.”

Pak Sastro mendekat.

“Kalau kamu mau lanjut, Ayah nggak akan melarang.”

Maya menggeleng.

“Nggak, Yah.”

Bu Ratna mulai menangis.

Maya memeluk kedua orang tuanya sekaligus.

“Maafin Maya karena terlalu lama membiarkan Ayah sama Ibu diperlakukan seperti ini.”

Bu Ratna mengusap punggungnya.

“Kamu tidak salah memilih orang, Nak.”

Maya menatap ibunya.

“Kamu hanya baru tahu siapa dia ketika keadaan memaksanya memilih.”

Kalimat itu membuat Maya diam.

Benar.

Selama semuanya mudah, Dion selalu terlihat seperti laki-laki baik.

Ia sopan.

Perhatian.

Tidak kasar.

Tidak pernah membentak Maya.

Namun ternyata karakter seseorang bukan hanya terlihat dari bagaimana ia memperlakukan orang yang dicintainya saat keadaan nyaman.

Karakter terlihat ketika ia harus memilih antara melakukan yang benar atau mempertahankan kenyamanan.

Dan Dion sudah memilih.

Maya menggandeng tangan orang tuanya.

Mereka berjalan menuju pintu keluar.

Di belakang, beberapa tamu mulai berdiri.

Ada yang berbisik.

Ada yang mengambil ponsel.

Ada pula yang justru mendatangi Pak Sastro untuk berjabat tangan.

Dion hanya berdiri di depan panggung.

Masih memakai beskap akadnya.

Masih menggenggam cincin Maya.

Namun tidak memiliki keberanian untuk mengejar.

Ketika Maya hampir mencapai pintu, tiba-tiba seorang petugas wedding organizer berlari.

“Mbak Maya!”

Maya berhenti.

Petugas itu membawa sebuah amplop cokelat.

“Ini tadi dititipkan pihak penghulu untuk administrasi. Ada dokumen yang harus Mbak cek.”

Maya mengernyit.

“Dokumen apa?”

Petugas itu menyerahkan amplop.

Maya membukanya.

Di dalamnya terdapat beberapa fotokopi data calon pengantin.

Termasuk sebuah lembar formulir yang membuat Maya terpaku.

Kolom pekerjaan calon suami tertulis Direktur Operasional PT Prasetya Sentosa.

Namun di bawahnya ada lampiran rekening dan surat pernyataan utang untuk keperluan verifikasi administrasi pembayaran vendor.

Maya membaca angka yang tercantum.

Tiga ratus delapan puluh juta rupiah.

Namanya tercantum sebagai calon penjamin.

Maya langsung membalik badan.

“Dion!”

Semua orang menoleh.

Dion membeku.

Maya mengangkat lembar tersebut.

“Apa ini?”

Wajah Dion seketika pucat.

Pratiwi buru-buru maju.

“Itu cuma dokumen sementara.”

“Sementara?”

Maya membaca sekali lagi.

Utang usaha.

Jatuh tempo dua bulan lagi.

Jaminan tambahan setelah pernikahan berupa aset atas nama pasangan.

Maya merasa darahnya berdesir.

Enam bulan lalu, atas saran ayahnya, Maya membeli sebuah rumah kecil di Bandung menggunakan tabungan dan hasil kerja bertahun-tahun.

Rumah itu terdaftar sepenuhnya atas namanya.

Dion berkali-kali mengatakan setelah menikah rumah tersebut sebaiknya dijual agar mereka bisa membeli rumah lebih besar dekat rumah keluarga Prasetya.

Saat itu Maya menganggapnya wajar.

Sekarang semuanya terasa berbeda.

“Jadi ini alasan kalian terus mendesak rumahku dijual setelah menikah?”

Dion segera naik satu langkah.

“Bukan begitu.”

Pratiwi memotong.

“Bisnis keluarga sedang butuh likuiditas sementara. Setelah menikah, bukankah harta suami istri memang untuk kepentingan bersama?”

Maya terpaku.

Di tengah seluruh penghinaan, ternyata ada sesuatu yang jauh lebih besar.

Mereka bukan hanya memandang rendah keluarganya.

Mereka juga sudah menghitung aset yang ia bawa ke dalam pernikahan.

Pak Sastro mengambil dokumen dari tangan Maya.

Ia membaca beberapa bagian.

Wajahnya berubah keras.

“Kamu sudah tahu ini, Dion?”

Dion diam.

Pak Sastro menatapnya.

“Jawab.”

“Iya.”

Maya menutup mata.

Ternyata keheningan Dion untuk kedua kalinya memberikan jawaban yang sama.

Ia tahu.

Dan ia memilih diam.

Maya tertawa pelan.

Bukan karena lucu.

Karena semua kepingan akhirnya tersusun sempurna.

Pratiwi ingin keluarga Maya berada di belakang karena malu dengan status mereka.

Namun pada saat yang sama, keluarga itu ternyata tidak malu menjadikan aset Maya sebagai jalan keluar masalah bisnis mereka.

Maya mengambil kembali dokumen tersebut.

Ia menatap Pratiwi.

“Tadi Ibu bilang rumah orang tua saya lebih kecil dari garasi rumah Ibu.”

Pratiwi diam.

Maya tersenyum.

“Setidaknya rumah kecil itu tidak dibangun dari kesombongan dan utang yang disembunyikan.”

Tidak ada yang berani berbicara.

Maya kemudian merobek lembar persetujuan penjamin menjadi dua.

Lalu empat.

Lalu delapan bagian.

Potongan kertas jatuh ke lantai.

“Akad ini batal.”

Dion menundukkan kepala.

Kali ini ia tidak lagi mencoba menghentikannya.

Maya keluar dari gedung bersama kedua orang tuanya.

Gaun pengantinnya masih lengkap.

Riasannya mulai luntur oleh air mata.

Tidak ada musik.

Tidak ada bunga yang dilemparkan.

Tidak ada tepuk tangan.

Namun ketika ia menginjak halaman gedung dan merasakan udara dingin Lembang menyentuh wajahnya, untuk pertama kali hari itu Maya merasa bisa bernapas.

Enam bulan kemudian, Gedung Nuansa Asri kembali menggelar acara besar.

Maya datang ke sana.

Bukan sebagai pengantin.

Ia datang menemani ayah dan ibunya menghadiri perayaan ulang tahun perusahaan Pak Surya.

Kali ini Pak Sastro mengenakan jas yang sama seperti hari pernikahan Maya yang batal.

Bedanya, ia tidak lagi duduk di kursi plastik pojokan.

Pak Surya sendiri meminta Pak Sastro duduk di meja utama.

Maya sempat menolak halus karena tahu ayahnya tidak nyaman mendapat perlakuan istimewa.

Namun Pak Surya tertawa.

“Bukan karena jabatan, Maya.”

“Ini karena saya ingin duduk bersama orang yang saya hormati.”

Maya menatap ayahnya.

Pak Sastro tersenyum kikuk.

Di sebelahnya, Bu Ratna menggenggam tangan Maya.

“Kadang hidup memang aneh,” katanya.

“Kenapa?”

“Hari yang kamu kira paling memalukan bisa jadi justru hari yang menyelamatkan kamu.”

Maya tersenyum.

Beberapa minggu sebelumnya, ia mendengar bisnis keluarga Prasetya akhirnya menjual salah satu aset untuk membayar sebagian utang.

Dion pernah mengirimkan satu pesan panjang.

Tidak meminta kembali.

Tidak menyalahkan Maya.

Hanya mengakui satu hal.

Ia menulis bahwa selama bertahun-tahun ia mengira menjadi anak yang baik berarti tidak pernah mengecewakan ibunya.

Terlambat ia menyadari bahwa karena ketakutannya mengecewakan satu orang, ia membiarkan banyak orang lain terluka.

Maya tidak membalas pesan itu.

Bukan karena membenci Dion.

Ia hanya tidak lagi merasa perlu kembali.

Sore itu, ketika acara hampir selesai, Pak Sastro menatap Maya.

“Kamu menyesal?”

Maya menggeleng.

“Yang Maya sesali cuma satu.”

“Apa?”

“Kenapa baru berani membela Ayah dan Ibu setelah semuanya sejauh itu.”

Pak Sastro tersenyum.

Ia menepuk tangan putrinya pelan.

“Yang penting bukan seberapa terlambat kamu sadar.”

Maya menatapnya.

“Yang penting kamu berhenti sebelum terlambat seumur hidup.”

Maya tersenyum.

Di kejauhan, cahaya matahari sore masuk melalui dinding kaca gedung yang enam bulan sebelumnya hampir menjadi tempat dimulainya kehidupan baru bersama Dion.

Namun sekarang Maya tahu.

Hari itu bukan hari ketika pernikahannya gagal.

Hari itu adalah hari ketika ia akhirnya berhasil menyelamatkan hidupnya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang