“Betul,” jawabku sambil menatap pemimpin tim ekspedisi itu tanpa ragu. “Angkut semuanya. Sofa, meja, televisi, tempat tidur, lemari, karpet, peralatan dapur, lukisan, bahkan tirai. Jangan tinggalkan apa pun yang merupakan milik saya atau ibu saya.”
Pria itu mengangguk profesional.
“Baik, Bu. Sesuai daftar inventaris yang Anda kirim tadi malam.”
Ibu Aminah berdiri beberapa langkah di belakangku. Wajahnya tenang, tetapi matanya berkaca-kaca. Bukan karena menyesal. Aku tahu persis apa yang sedang beliau rasakan. Lima belas tahun hidupnya tertinggal di setiap sudut rumah ini.

Di meja makan, masih ada bekas goresan kecil akibat Rafi menjatuhkan sendok saat pertama kali belajar makan sendiri. Di dekat balkon, ada pot bunga yang ditanam Ibu ketika aku kehilangan bayi keduaku sebelas tahun lalu. Di kamar Rafi, masih tergantung rak buku yang dirakit beliau bersama ayahku sebelum ayah meninggal.
Tempat ini bukan sekadar rumah.
Tempat ini menyimpan hidup kami.
Namun pagi itu, aku memilih mencabut seluruh kenangan itu dari tangan orang-orang yang merasa paling berhak tanpa pernah berkorban.
Para pekerja bergerak cepat.
Sofa kulit diangkat.
Televisi besar dilepas dari dinding.
Meja makan marmer dibungkus.
Lampu gantung kristal diturunkan.
Kasur premium dari kamar utama dibawa keluar.
Lemari pakaian dikosongkan.
Bahkan mesin kopi yang setiap pagi dipakai Rizky ikut masuk ke dalam peti pengiriman.
Ibu Aminah memandangku dengan khawatir.
“Siti,” katanya pelan, “kamu yakin?”
Aku menggenggam tangannya.
“Lima belas tahun Ibu tinggal di sini bukan sebagai pembantu. Ibu tinggal di sini karena rumah ini rumah kita. Kalau mereka menganggap Ibu orang asing, berarti mereka juga tidak berhak menikmati semua yang dibangun dari pengorbanan kita.”
Ibu menarik napas panjang.
“Kamu belum bilang pada Rafi?”
Aku menggeleng.
Rafi sedang mengikuti kegiatan sekolah selama tiga hari di Bandung. Aku sengaja tidak memberitahunya. Anak itu sangat dekat dengan neneknya. Kalau tahu apa yang dilakukan ayahnya, dia pasti akan pulang saat itu juga.
Aku tidak ingin dia berada di tengah pertengkaran orang dewasa.
Tepat pukul sebelas lewat dua puluh, unit griya tawang kami berubah seperti bangunan kosong yang baru selesai direnovasi.
Tidak ada sofa.
Tidak ada televisi.
Tidak ada meja.
Tidak ada kasur.
Tidak ada kulkas.
Bahkan rak sepatu di dekat pintu sudah lenyap.
Yang tersisa hanyalah dinding putih, lantai marmer mengilap, beberapa lampu bawaan gedung, dan gema langkah kaki kami sendiri.
Pemimpin tim ekspedisi menyerahkan tablet.
“Semua barang sudah tercatat, Bu. Sebagian akan dibawa ke rumah baru sesuai alamat yang Anda berikan. Barang lainnya masuk penyimpanan sementara.”
Aku menandatangani dokumen digital itu.
“Terima kasih.”
Setelah para pekerja pergi, aku mengambil koper milik Ibu Aminah dan berjalan menuju pintu.
Sebelum keluar, Ibu berhenti di tengah ruang tamu.
Beliau menatap sekeliling untuk terakhir kalinya.
“Aneh,” katanya lirih. “Lima belas tahun terasa panjang sekali. Tapi ternyata bisa dimasukkan ke dalam tiga truk.”
Aku hampir menangis.
Aku memeluknya erat.
“Yang penting bukan barangnya, Bu.”
Ibu tersenyum tipis.
“Ibu tahu.”
Kami meninggalkan apartemen itu pukul dua belas siang.
Namun aku belum selesai.
Sebelum masuk lift, aku menyerahkan sebuah amplop kepada manajer gedung.
“Pak Dimas, nanti kalau suami saya pulang, tolong berikan ini.”
Dia terlihat bingung.
“Baik, Bu.”
Aku dan Ibu kemudian menuju sebuah rumah dua lantai di kawasan Bintaro yang sudah kubeli tiga bulan sebelumnya.
Rizky tidak tahu apa-apa tentang rumah itu.
Sebenarnya, masalah dalam pernikahan kami bukan baru muncul kemarin malam.
Selama dua tahun terakhir, Rizky semakin berubah. Setelah bisnis konsultasinya mulai berkembang, dia mulai merasa semua keberhasilan keluarga berasal darinya.
Dia lupa bahwa lima belas tahun lalu, ketika usahanya bangkrut dan terlilit utang hampir satu miliar rupiah, akulah yang menjual dua bidang tanah warisan ayah untuk menyelamatkannya.
Dia lupa bahwa apartemen mewah yang selalu dia sebut sebagai “rumahnya” dibeli atas namaku menggunakan uang hasil penjualan aset keluarga ibuku.
Dia bahkan lupa bahwa sebagian besar furnitur di dalamnya juga kubeli menggunakan penghasilanku sendiri sebagai pemilik dua klinik kecantikan di Jakarta.
Rizky memang membayar biaya hidup bulanan.
Tetapi kekayaan yang membuatnya terlihat mapan di mata keluarganya tidak pernah benar-benar miliknya.
Aku tidak pernah mempermasalahkannya.
Sampai dia mengusir ibuku.
Pukul tiga sore, teleponku mulai bergetar.
Rizky.
Aku membiarkannya.
Lima menit kemudian, dia menelepon lagi.
Lalu lagi.
Pesan WhatsApp bermunculan.
“SITI, KAMU DI MANA?”
“APA YANG KAMU LAKUKAN?”
“KENAPA RUMAH KOSONG?”
“ANGKAT TELEPON!”
Aku mematikan layar ponsel.
Di sisi lain kota, aku bisa membayangkan apa yang sedang terjadi.
Dan dugaan itu ternyata hampir tepat.
Belakangan, Pak Dimas menunjukkan rekaman kamera lorong kepadaku.
Rizky keluar dari lift bersama Ibu Ratna dan Bapak Hadi dengan membawa beberapa kantong belanja.
Ibu Ratna bahkan membawa katalog kursi pijat.
Namun begitu pintu apartemen terbuka, ketiganya membeku.
Ibu Ratna masuk paling dulu.
Dia menoleh ke kanan dan kiri.
Wajahnya perlahan pucat.
“Rizky…”
Suara langkah mereka menggema di ruangan kosong.
“Barangnya mana?”
Rizky tidak menjawab.
Dia berlari ke kamar utama.
Kosong.
Ke kamar Rafi.
Kosong.
Ke dapur.
Kosong.
Ibu Ratna mulai panik.
“Televisinya mana?”
Tidak ada jawaban.
“Sofanya?”
Rizky berdiri di tengah ruangan dengan kedua tangan gemetar.
Kemudian Pak Dimas menyerahkan amplop dariku.
Di dalamnya hanya ada selembar surat.
Semua barang pribadi milikku dan Ibu Aminah sudah kupindahkan sesuai permintaanmu agar tidak ada satu pun barang milik ibuku yang tertinggal.
Untuk keperluan tempat tinggal selanjutnya, silakan hubungi pemilik sah unit ini.
Siti.
Rizky langsung meneleponku lagi.
Kali ini aku mengangkatnya.
“Apa-apaan ini, Siti?” bentaknya.
Aku menjauhkan telepon sedikit dari telinga.
“Kenapa marah?”
“Kamu mengosongkan rumah kita!”
“Bukan rumah kita.”
Suasana di seberang mendadak sunyi.
“Apa maksudmu?”
“Baca sertifikatnya, Rizky.”
Dia terdiam.
Aku bisa mendengar napasnya memburu.
“Unit itu atas nama saya. Kamu tahu itu.”
“Tapi kita suami istri!”
“Benar. Karena itu selama delapan belas tahun aku tidak pernah mempersoalkan siapa pemiliknya. Sampai kemarin kamu memutuskan siapa yang berhak tinggal di sana tanpa bertanya kepada pemiliknya.”
“Siti, jangan kekanak-kanakan!”
Aku tertawa kecil.
“Aku kekanak-kanakan?”
Suara Ibu Ratna terdengar dari kejauhan.
“Kasih teleponnya ke Ibu!”
Beberapa detik kemudian suara perempuan tua itu memenuhi sambungan.
“Siti, kamu keterlaluan! Masa cuma gara-gara ibumu disuruh pulang kampung, kamu mempermalukan suamimu seperti ini?”
Aku menarik napas.
“Bu Ratna, kemarin Ibu bilang itu rumah anak laki-laki Ibu.”
“Iya, memang! Rizky suamimu!”
“Kalau begitu saya beri kesempatan pada anak laki-laki Ibu untuk menyediakan rumah sendiri buat orang tuanya.”
Dia terdiam.
Aku melanjutkan.
“Saya sudah menyediakan rumah, membayar listrik, membayar perawatan gedung, membeli furnitur, dan membiarkan kalian menikmati semuanya. Tetapi begitu Ibu datang, orang pertama yang kalian singkirkan justru perempuan yang menjaga keluarga ini lima belas tahun.”
“Siti…”
“Silakan menikmati masa tua bersama anak kandung Ibu. Bukankah itu yang Ibu inginkan?”
Aku menutup telepon.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, dadaku terasa lapang.
Namun kejutan terbesar justru datang malam itu.
Sekitar pukul tujuh, bel rumah baru berbunyi.
Aku membuka pintu.
Rafi berdiri di sana.
Masih memakai jaket sekolah.
Di belakangnya ada seorang guru pendamping.
“Rafi?”
Anakku langsung memeluk Ibu Aminah.
“Nenek!”
Ibu Aminah terkejut.
“Kok kamu pulang?”
Rafi tidak menjawab. Dia menangis di bahu neneknya.
Setelah guru itu pergi, barulah Rafi menunjukkan ponselnya.
Ternyata Rizky meneleponnya beberapa jam sebelumnya dan memintanya membujukku agar segera mengembalikan semua barang ke apartemen.
Namun tanpa sengaja Rizky justru menceritakan alasan pertengkaran kami.
“Ayah bilang Nenek harus pulang karena Oma Ratna mau tinggal di kamar Nenek,” kata Rafi dengan mata merah.
Aku duduk di sampingnya.
“Rafi, masalah ini bukan tanggung jawabmu.”
“Ayah jahat.”
“Jangan bicara begitu.”
“Tapi Ayah lupa siapa yang merawat aku.”
Rafi memandang Ibu Aminah.
“Waktu Mama kerja malam, siapa yang tidur di samping aku kalau demam? Nenek. Waktu aku patah tangan, siapa yang menyuapi aku? Nenek. Waktu Ayah sibuk, siapa yang datang ke pembagian rapor? Nenek.”
Ibu Aminah menangis.
Rafi memeluknya lagi.
“Aku enggak mau Nenek pergi sendirian.”
Malam itu kami bertiga makan nasi goreng di lantai karena meja makan baru belum sempat disusun.
Aneh sekali.
Rumah itu jauh lebih sederhana daripada penthouse kami, tetapi aku merasa lebih kaya daripada sebelumnya.
Dua hari kemudian, Rizky datang.
Dia tampak sangat berbeda.
Tidak ada kemeja mahal.
Tidak ada parfum menyengat.
Wajahnya kusut dan matanya cekung.
Dia berdiri di depan pagar sambil membawa map.
“Aku cuma mau bicara.”
Aku membiarkannya masuk.
Rafi memilih masuk kamar.
Ibu Aminah duduk di teras belakang.
Rizky menyerahkan map itu kepadaku.
Di dalamnya ada rekening koran dan beberapa dokumen pinjaman.
Aku membaca perlahan.
Darahku terasa dingin.
Ternyata selama setahun terakhir, Rizky menggunakan namanya sendiri untuk mengambil sejumlah pinjaman besar demi menutup kerugian bisnis.
Jumlah totalnya hampir dua miliar rupiah.
“Aku belum cerita karena kupikir proyek berikutnya akan berhasil,” katanya lemah.
“Jadi ini alasan orang tuamu datang?”
Rizky menunduk.
Aku langsung mengerti.
“Mereka tahu?”
Dia tidak menjawab.
“Rizky, mereka tahu?”
“Ibu tahu.”
Aku menatapnya tak percaya.
Pelan-pelan kepingan teka-teki tersusun.
Ibu Ratna bukan semata-mata ingin tinggal di Jakarta.
Dia mengetahui kondisi keuangan anaknya.
Dia mengira penthouse itu milik Rizky dan berharap suatu hari bisa dijadikan jaminan atau dijual untuk menyelamatkan bisnisnya.
Itulah sebabnya dia begitu agresif menyingkirkan ibuku.
Dia ingin memastikan keluarganya menguasai rumah tersebut.
“Aku bodoh, Siti.”
Rizky menutup wajah dengan kedua tangannya.
“Aku terlalu malu mengaku gagal. Setiap kali Ibu bilang semua yang kumiliki adalah bukti keberhasilanku sebagai anak laki-laki, aku menikmati pujian itu.”
Aku diam.
“Lalu aku mulai benar-benar percaya bahwa semuanya memang milikku.”
Untuk pertama kalinya, aku tidak melihat lelaki arogan yang kemarin mengusir ibuku.
Aku melihat seorang pria yang tersesat oleh gengsi.
Namun penyesalan tidak otomatis menghapus luka.
“Aku tidak akan membayar utangmu, Rizky.”
Dia mengangguk.
“Aku tahu.”
“Aku juga tidak akan kembali ke apartemen.”
Dia kembali mengangguk.
“Dan Ibu Aminah tidak akan pernah lagi diperlakukan seperti orang numpang di rumah anaknya sendiri.”
Air mata jatuh di pipinya.
“Aku minta maaf.”
Tiba-tiba terdengar suara tongkat dari belakang.
Ibu Aminah berjalan mendekat.
Rizky langsung berdiri.
“Bu…”
Dia menundukkan tubuh.
“Maafkan saya.”
Ibuku menatapnya lama.
Aku tahu beliau punya seribu alasan untuk membencinya.
Tetapi Ibu Aminah justru berkata sesuatu yang tidak pernah kuduga.
“Saya bisa memaafkan kamu.”
Rizky menatapnya penuh harap.
“Tapi memaafkan bukan berarti semuanya kembali seperti dulu.”
Harapan di wajah Rizky memudar.
“Kamu sudah dewasa. Sekarang waktunya belajar berdiri dengan kaki sendiri. Jangan menggunakan istri sebagai rumah ketika kamu sukses, lalu menganggapnya pembantu ketika kamu merasa berkuasa.”
Rizky menangis tanpa suara.
Tiga bulan kemudian, kami resmi berpisah sementara.
Aku tidak langsung mengajukan perceraian.
Bukan karena aku sudah memaafkannya, melainkan karena aku ingin mengambil keputusan tanpa dikuasai amarah.
Rizky menjual mobil mewahnya, menutup kantor besar yang tidak lagi sanggup dibiayai, lalu memulai kembali usahanya dari sebuah ruangan kecil di kawasan Tebet.
Orang tuanya kembali ke Kulon Progo setelah hanya dua minggu tinggal di rumah kontrakan sederhana yang disediakan Rizky.
Anehnya, sejak mengetahui anaknya tidak memiliki penthouse maupun kekayaan seperti yang dibayangkan, Ibu Ratna berhenti membicarakan keinginannya tinggal di Jakarta.
Enam bulan kemudian, sebuah paket datang ke rumahku.
Pengirimnya Rizky.
Di dalamnya ada sebuah pot kecil.
Pohon uang.
Tanaman yang dulu berada di sudut ruang tamu penthouse.
Aku terkejut karena kukira tanaman itu sudah dibawa ke gudang bersama barang-barang lain.
Ada secarik kertas di bawah pot.
Aku menemukannya tertinggal di balkon setelah kalian pergi. Selama berbulan-bulan aku merawatnya. Baru sekarang aku mengerti, sesuatu tidak menjadi milik kita hanya karena tumbuh di rumah kita. Kita harus merawatnya agar pantas menyebutnya bagian dari hidup kita.
Aku membawa pot itu ke halaman belakang.
Ibu Aminah sedang duduk bersama Rafi.
“Ibu,” panggilku.
Beliau menoleh.
Aku menunjukkan tanaman itu.
Ibu tersenyum.
“Masih hidup?”
“Masih.”
Ibu Aminah menyentuh salah satu daun mudanya.
“Bagus.”
Aku duduk di sampingnya.
“Ibu tidak marah lagi?”
Beliau berpikir sebentar.
“Marah itu seperti membawa lemari di punggung, Siti. Berat. Kalau orang yang menyakiti kita sudah tidak tinggal di hati, buat apa lemarinya masih dibawa?”
Aku tertawa sambil menghapus air mata.
Di depan kami, Rafi sedang memperbaiki sepeda.
Matahari sore menyinari halaman kecil rumah yang bahkan tidak memiliki pemandangan gedung pencakar langit seperti penthouse lama kami.
Namun untuk pertama kalinya aku memahami sesuatu.
Rumah tidak pernah ditentukan oleh marmer Italia, sofa kulit, atau harga yang tertulis di sertifikat.
Rumah adalah tempat di mana seseorang tidak perlu membuktikan bahwa dirinya berhak untuk dicintai.
Dan malam ketika Rizky menyuruhku memastikan tidak ada satu pun barang milik ibuku tertinggal, dia sebenarnya telah memberiku perintah yang sangat tepat.
Aku memang tidak meninggalkan apa pun.
Bukan hanya furnitur.
Aku juga membawa pergi kehormatan ibuku, masa depan anakku, ketenanganku, serta kehidupan yang selama bertahun-tahun kubangun dengan tanganku sendiri.
Yang tertinggal di penthouse kosong itu hanyalah kesombongan mereka.
Dan ternyata, kesombongan adalah satu-satunya barang yang tidak pernah ingin kumiliki lagi.
