PAMANKU MEMAKSAKU MENIKAH DENGAN SEORANG GELANDANGAN UNTUK MEMPERMALUKANKU DI DEPAN SEMUA ORANG, TAPI SAAT KAMI BERDIRI DI ALTAR, PRIA ITU MEMBUKA RAHASIA YANG MENGHANCURKAN SELURUH RENCANANYA

“Nama saya bukan Elias Pratama.”

Kalimat itu membuat seluruh gereja seolah kehilangan udara.

Aku menatap pria di sampingku, sementara suara jepretan kamera terdengar bertubi-tubi dari bangku belakang. Para tamu yang beberapa menit sebelumnya tertawa kini saling berbisik dengan wajah tegang.

Paman Carlos berdiri dari kursinya.

“Cukup. Jangan membuat keributan.”

Pria di sampingku tidak bergerak sedikit pun.

“Nama lengkap saya Elias Adrian Wiratama.”

Beberapa orang di barisan depan langsung menoleh.

Aku mengenal nama belakang itu.

Wiratama.

Salah satu keluarga pemilik perusahaan investasi terbesar di Indonesia.

Paman Carlos melangkah maju.

“Kau dibayar untuk melakukan satu pekerjaan sederhana.”

Elias tersenyum tipis.

“Benar. Saya dibayar.”

Paman Carlos seperti mendapatkan kembali keberaniannya.

“Nah. Jadi hentikan sandiwara ini.”

“Tapi bukan oleh Anda.”

Ruangan kembali gaduh.

Salah satu perempuan berpakaian formal yang baru masuk tadi maju ke depan. Ia membuka koper dokumen, lalu mengeluarkan beberapa map bersegel.

“Perkenalkan,” katanya. “Saya Ratih Kusuma, pengacara dari kantor hukum Kusuma dan Rekan.”

Jantungku berdetak semakin cepat.

Nama itu kukenal.

Kantor hukum yang selama bertahun-tahun menangani beberapa urusan pribadi ayah, meskipun bukan pengacara perusahaan.

Ratih menatapku.

“Bu Isabella, almarhum ayah Anda datang kepada kami tiga minggu sebelum beliau meninggal.”

Aku merasa kakiku hampir kehilangan tenaga.

“Ayah?”

Ratih mengangguk.

“Beliau mencurigai adanya manipulasi saham, pemalsuan tanda tangan, dan pengalihan aset perusahaan.”

Semua mata beralih kepada Paman Carlos.

Wajahnya kaku.

“Fitnah.”

Ratih tidak bereaksi.

“Karena khawatir pihak yang terlibat akan mengetahui bahwa beliau sedang mengumpulkan bukti, Pak Rafael Valderama meminta kami merahasiakan semuanya.”

Aku menahan napas.

Nama ayah terdengar seperti pukulan di dadaku.

“Kenapa tidak ada yang memberitahuku?”

“Kami diperintahkan untuk menunggu.”

“Menunggu apa?”

Elias yang menjawab.

“Menunggu Carlos bergerak.”

Aku menatapnya.

Dia menarik napas sebelum melanjutkan.

“Ayahmu tahu bahwa setelah kematiannya, orang yang paling menginginkan kendali perusahaan akan berusaha menyingkirkanmu.”

Paman Carlos tertawa keras.

“Omong kosong. Rafael meninggal karena serangan jantung. Kalian mau membuat cerita apa sekarang?”

“Ayah memang meninggal karena serangan jantung,” kata Ratih. “Kami tidak menuduh Anda menyebabkan kematiannya.”

Paman Carlos tampak sedikit lega.

“Tapi kami memiliki bukti bahwa Anda memanfaatkan kematiannya untuk mengambil alih perusahaan secara ilegal.”

Ratih memberi isyarat kepada seorang pria di belakangnya.

Sebuah layar besar yang sebelumnya dipakai untuk menampilkan foto pernikahan dinyalakan.

Muncul salinan dokumen.

Aku langsung mengenalinya.

Surat pengalihan kendali perusahaan.

Dokumen yang membuatku kehilangan hak tanda tangan.

Ratih menunjuk bagian bawah.

“Tanda tangan ini diklaim sebagai tanda tangan Pak Rafael. Tapi berdasarkan pemeriksaan forensik, tanda tangan tersebut dibuat secara digital dari dokumen lama.”

Tamu-tamu mulai ribut.

Paman Carlos memukul sandaran kursi.

“Itu bisa dibuat siapa saja.”

“Benar,” jawab Ratih. “Karena itu kami tidak hanya membawa satu bukti.”

Layar berganti.

Rekaman percakapan muncul.

Suara Paman Carlos terdengar jelas.

Pastikan Isabella tidak bisa mengakses rekening perusahaan.

Lalu suara pria lain menjawab.

Bagaimana dengan direksi lama?

Berikan kompensasi. Kalau menolak, keluarkan.

Aku menutup mulut.

Paman Carlos memucat.

Ratih kembali mengganti rekaman.

Kali ini terdengar percakapan yang membuat seluruh tubuhku dingin.

Cari seseorang yang kelihatannya benar-benar tidak punya apa-apa.

Pria seperti apa?

Gelandangan. Pengangguran. Siapa saja.

Untuk apa?

Aku ingin Isabella menikah dengannya di depan media. Setelah itu kita buktikan dia tidak stabil dan tidak pantas mengambil keputusan untuk perusahaan.

Suara itu jelas milik Paman Carlos.

Tidak mungkin disangkal.

Aku menatapnya.

“Paman benar-benar merencanakan semuanya.”

Untuk pertama kalinya, dia tidak bisa menatap mataku.

Elias melepas jas kebesaran yang dipakainya.

Di baliknya terdapat kemeja putih rapi yang jauh lebih pas dengan tubuhnya.

Ia kemudian membuka rambut palsu yang selama ini membuatnya terlihat berantakan.

Beberapa orang terkejut.

Aku bahkan tidak menyadari sebagian janggutnya ternyata palsu.

Dalam hitungan detik, sosok pria jalanan itu menghilang.

Yang berdiri di sampingku adalah pria berusia sekitar tiga puluh tahun dengan wajah tegas dan sikap percaya diri.

Paman Carlos menunjuknya dengan marah.

“Kau menipuku.”

Elias menggeleng.

“Anda tidak pernah bertanya siapa saya sebenarnya.”

“Kau menerima uangku.”

“Sebagai uang muka.”

“Jadi kau menjebakku?”

“Tidak.”

Elias menatapnya dingin.

“Anda menjebak diri sendiri.”

Aku masih belum memahami satu hal.

“Kenapa kamu?”

Elias menoleh kepadaku.

Tatapannya berubah.

Lebih lembut.

“Ayahmu memilih saya.”

Aku terpaku.

“Ayah mengenalmu?”

“Sudah lama.”

Dia berhenti sebentar.

“Dua belas tahun lalu, perusahaan ayah saya hampir bangkrut. Banyak orang menjauh. Pak Rafael satu-satunya yang memberikan bantuan tanpa meminta saham atau keuntungan.”

Aku tidak pernah mendengar cerita itu.

“Ayah saya bisa membangun kembali perusahaan karena bantuan beliau. Sejak saat itu keluarga kami berutang sesuatu yang tidak pernah bisa dibayar dengan uang.”

Ratih menyambung.

“Tiga minggu sebelum meninggal, Pak Rafael meminta Pak Elias membantu jika sesuatu terjadi kepadanya.”

“Dengan berpura-pura menjadi gelandangan?”

Elias tersenyum kecil.

“Itu bukan bagian dari rencana awal.”

Beberapa orang bahkan tertawa pelan, meski suasana masih tegang.

“Carlos sendiri yang memberi saya ide itu.”

Paman Carlos mendengus.

Elias melanjutkan.

“Orang-orang saya mengetahui bahwa Carlos sedang mencari seorang pria jalanan yang bersedia menikah denganmu. Saya menyamar dan memastikan dia menemukan saya.”

Aku hampir tidak percaya.

“Jadi sejak awal kamu tahu?”

“Ya.”

“Termasuk bahwa aku akan dipaksa menikah?”

Wajah Elias menjadi serius.

“Saya tahu. Dan saya minta maaf karena tidak memberitahumu.”

“Kenapa?”

“Karena kalau kamu tahu, reaksimu akan berbeda. Carlos harus percaya bahwa rencananya berhasil sampai detik terakhir.”

Aku ingin marah.

Sebagian diriku benar-benar marah.

Namun ketika melihat Paman Carlos yang kini dikelilingi tatapan orang-orang yang sebelumnya menghormatinya, aku memahami mengapa semua ini dilakukan.

Tiba-tiba dua petugas kepolisian masuk dari pintu samping.

Paman Carlos langsung mundur.

“Apa lagi ini?”

Ratih menyerahkan sebuah dokumen.

“Laporan resmi telah dibuat atas dugaan pemalsuan dokumen, penggelapan dana, intimidasi, dan manipulasi administrasi perusahaan.”

Paman Carlos tertawa gugup.

“Kalian pikir polisi bisa menangkap saya hanya karena rekaman seperti ini?”

Salah satu petugas mendekat.

“Kami tidak datang untuk menangkap Bapak sekarang. Kami datang untuk meminta Bapak hadir dalam pemeriksaan.”

Paman Carlos menoleh kepadaku.

Wajahnya berubah dari marah menjadi memohon.

“Isabella.”

Aku diam.

“Kita keluarga.”

Kalimat itu membuatku hampir tertawa.

“Keluarga?”

Dia berjalan mendekat.

“Aku melakukan semua ini demi perusahaan.”

“Dengan mengurungku di rumah?”

“Situasinya rumit.”

“Dengan memalsukan tanda tangan ayah?”

“Isabella, dengarkan.”

“Dengan menyewa seseorang untuk mempermalukanku di depan seluruh negeri?”

Dia terdiam.

Aku memandang wajah yang selama bertahun-tahun kupanggil paman, orang yang setiap Natal duduk di meja yang sama, orang yang menangis paling keras di pemakaman ayah.

Ternyata air mata tidak selalu berarti kehilangan.

Kadang orang menangis hanya karena sedang memainkan peran.

“Aku pernah bertanya kenapa Paman takut kepadaku.”

Carlos mengatupkan rahang.

“Sekarang aku tahu.”

Aku menatap lurus ke matanya.

“Karena selama aku masih berdiri, Paman tidak akan pernah benar-benar memiliki apa yang menjadi milik ayah.”

Dia menggeleng.

“Kau tidak tahu bagaimana menjalankan perusahaan.”

“Mungkin.”

Jawabanku membuatnya terkejut.

“Mungkin aku belum tahu semuanya. Tapi ayah selalu bilang, ketidakmampuan bisa dipelajari. Karakter tidak.”

Wajah Carlos langsung mengeras.

Petugas memintanya ikut keluar.

Dia tidak melawan.

Namun sebelum pergi, dia berhenti dan menatap Elias.

“Jangan merasa menang.”

Kemudian dia menatapku.

“Orang-orang ini tidak peduli padamu. Mereka hanya peduli pada uang keluarga Valderama.”

Aku tidak menjawab.

Pintu gereja tertutup setelah dia pergi.

Ruangan mendadak hening.

Aku baru menyadari aku masih mengenakan gaun pengantin.

Pendeta berdiri beberapa meter dari kami dengan ekspresi yang bahkan sulit dijelaskan.

Lalu seorang wartawan berteriak dari belakang.

“Bu Isabella, apakah pernikahan tetap dilanjutkan?”

Semua kepala berbalik kepadaku.

Aku menatap Elias.

Dia mengangkat kedua tangan.

“Saya menyerahkan keputusan sepenuhnya kepadamu.”

“Bukankah dari awal ini hanya bagian dari rencana?”

“Awalnya, iya.”

Aku memicingkan mata.

“Awalnya?”

Untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan itu dimulai, Elias terlihat gugup.

Beberapa tamu mulai tersenyum.

Dia mendekat sedikit.

“Saya memang berpura-pura menjadi gelandangan. Tapi satu hal yang saya katakan di altar tadi bukan bagian dari sandiwara.”

“Apa?”

“Bahwa setelah hari ini, saya tidak akan membiarkan Carlos mengatur hidupmu lagi.”

Dadaku terasa aneh.

Aku hampir tersenyum, tetapi segera menggeleng.

“Jangan terlalu percaya diri.”

Elias tertawa kecil.

Kalimat itu terdengar persis seperti yang dikatakan Paman Carlos kepadaku malam sebelumnya.

Aku menarik napas panjang.

Lalu aku menghadap seluruh tamu.

“Pernikahan ini dibatalkan.”

Suara bisikan langsung memenuhi gereja.

Elias mengangguk.

Tidak kecewa.

Justru terlihat lega.

Aku melanjutkan.

“Tapi sebelum semua orang pulang, saya ingin mengatakan sesuatu.”

Wartawan mengangkat kamera.

“Beberapa menit lalu, banyak dari kalian menertawakan seorang pria hanya karena kalian mengira dia miskin.”

Ruangan menjadi sunyi.

“Ada yang menutup hidung. Ada yang mengambil foto sambil tertawa. Tidak seorang pun bertanya siapa dia. Kalian hanya melihat pakaian dan memutuskan nilai seorang manusia.”

Perempuan yang tadi menutup hidung kini menunduk.

Aku menatap para pemegang saham.

“Kalau orang-orang yang akan menentukan masa depan perusahaan kami menilai manusia dengan cara seperti itu, mungkin bukan saya yang tidak layak memimpin.”

Tidak ada yang menjawab.

Aku turun dari altar.

Untuk pertama kalinya selama berbulan-bulan, aku merasa bisa bernapas.

Dua bulan kemudian, hasil audit selesai.

Paman Carlos terbukti mengalihkan dana perusahaan ke beberapa perusahaan cangkang. Sebagian besar aset berhasil dibekukan sebelum dipindahkan lebih jauh.

Hak kendaliku dipulihkan.

Namun aku tidak langsung menjadi direktur utama.

Aku memilih membentuk dewan transisi dan bekerja bersama para profesional yang lebih berpengalaman.

Aku ingin membuktikan bahwa memimpin bukan berarti berpura-pura tahu segalanya.

Dan Elias?

Dia kembali ke kehidupannya.

Setidaknya begitulah yang kukira.

Tiga bulan setelah kejadian di gereja, aku sedang keluar dari kantor ketika melihat seorang pria duduk di trotoar depan gedung.

Rambutnya acak-acakan.

Jasnya kebesaran.

Sepatunya kusam.

Aku berhenti.

“Serius?”

Dia mengangkat wajah.

Elias.

Aku menahan tawa.

“Kamu sedang apa?”

“Menunggu seseorang.”

“Dengan pakaian seperti itu?”

“Katanya dia pertama kali bertemu saya dalam penampilan ini.”

Aku menyilangkan tangan.

“Siapa orangnya?”

Dia berdiri.

Kemudian mengeluarkan dua gelas kopi dari kantong kertas.

“Seorang perempuan yang batal menikah dengan saya.”

Aku mengambil salah satu gelas.

“Dan sekarang?”

“Saya ingin mengajaknya makan malam.”

Aku menatapnya beberapa detik.

“Tidak ada kamera?”

“Tidak.”

“Tidak ada pengacara?”

“Tidak.”

“Tidak ada paman gila?”

“Mudah-mudahan tidak.”

Aku akhirnya tertawa.

Kami berjalan menuju mobil.

Tepat sebelum masuk, Elias berhenti.

“Oh, ada satu hal lagi.”

“Apa?”

Dia menyerahkan sebuah amplop kecil.

Di dalamnya terdapat surat tulisan tangan ayah.

Aku langsung mengenali tulisannya.

Isabella, kalau surat ini sampai kepadamu, berarti Carlos akhirnya menunjukkan siapa dirinya. Jangan membenci dirimu karena tidak melihatnya lebih awal. Orang yang tulus memang sering terlambat menyadari kebohongan karena mereka tidak terbiasa hidup dengan cara itu. Jangan warisi perusahaanku jika akhirnya perusahaan itu membuatmu kehilangan dirimu sendiri. Warisilah keberanian untuk memilih hidupmu sendiri.

Mataku panas.

Di bagian paling bawah terdapat satu kalimat tambahan.

Dan kalau Elias masih bersedia membantumu setelah semua ini, setidaknya traktir anak itu makan. Ayahnya masih berutang makan malam kepadaku.

Aku tertawa sambil menangis.

Elias membaca ekspresiku.

“Apa katanya?”

Aku melipat surat itu.

“Rahasia.”

“Tidak adil.”

Aku membuka pintu mobil.

“Katanya kamu harus mentraktirku makan.”

Dia mengerutkan kening.

“Saya yakin bukan begitu kalimatnya.”

“Kalau tidak percaya, jangan pernah menyamar jadi gelandangan di depan pewaris perusahaan.”

Dia tertawa dan masuk ke mobil.

Malam itu aku akhirnya memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah diajarkan oleh semua rapat bisnis, laporan keuangan, atau nama besar keluargaku.

Paman Carlos berusaha menghancurkanku dengan memasangkanku dengan seseorang yang dianggap tidak memiliki apa-apa.

Namun justru karena rencananya itulah aku mengetahui siapa yang benar-benar miskin.

Bukan pria dengan jas usang dan sepatu kusam.

Melainkan orang yang memiliki harta, kekuasaan, dan nama besar, tetapi kehilangan hati nurani demi mempertahankan semuanya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang