AKU BERTEMU MANTAN ISTRIKU SAAT DINAS DI BALI, KAMI MENGHABISKAN SATU MALAM BERSAMA, LALU UANG SATU JUTA DI BAWAH BANTAL MEMBUKA RAHASIA PALING MENYAKITKAN “Mas Arif?”

“Jangan hubungi dia. Kalau kamu ingin tahu kenapa dia membayarmu, datang ke gudang nomor tujuh sebelum pukul sepuluh.”

Aku membaca pesan itu untuk ketiga kalinya sambil berdiri di tengah kamar hotel yang masih menyimpan aroma parfum Maya.

Di tangan kiriku ada uang satu juta rupiah yang kutemukan di bawah bantal. Di tangan kanan, kartu akses kantorku yang entah bagaimana bisa berpindah dari dompet ke dalam amplop cokelat.

Semalam aku mengira takdir sedang memberiku kesempatan kedua.

Pagi itu aku sadar seseorang sedang memainkan hidupku.

Aku mencoba menelepon Maya lagi.

Nomornya tetap tidak aktif.

Pukul delapan lewat dua puluh, aku turun ke lobi dan meminta rekaman CCTV kepada resepsionis.

“Maaf, Pak, kami tidak bisa memberikan rekaman tanpa izin manajemen.”

“Perempuan yang bersama saya semalam mungkin dalam bahaya.”

Resepsionis itu ragu. Setelah berbicara dengan supervisornya, akhirnya mereka mengizinkanku melihat rekaman tanpa menyalinnya.

Maya keluar dari lift pukul 05.47.

Dia sendirian.

Tiga menit kemudian, seorang pria berjaket gelap muncul dari arah pintu samping. Pria itulah yang terlihat dalam foto yang dikirim kepadaku.

Anehnya, Maya tidak tampak ketakutan.

Dia justru menyerahkan sesuatu kepadanya.

Sebuah amplop.

Lalu mereka berjalan keluar bersama.

“Bisa diperbesar?”

Petugas keamanan memperbesar gambar.

Jantungku seperti berhenti.

Aku mengenal pria itu.

Namanya Dimas Pradana.

Manajer operasional regional perusahaan tempatku bekerja.

Orang yang mengirimku ke Bali untuk melakukan audit mendadak terhadap salah satu proyek pergudangan milik perusahaan.

Aku langsung meninggalkan hotel.

Gudang nomor tujuh berada di kawasan industri sekitar empat puluh menit dari Sanur. Semakin dekat ke alamat itu, semakin banyak pertanyaan memenuhi kepalaku.

Apa hubungan Maya dengan Dimas?

Mengapa kartu aksesku diambil?

Dan mengapa seseorang sengaja mempertemukanku dengan mantan istriku tepat ketika aku sedang melakukan audit?

Pukul sembilan lewat tiga puluh lima aku tiba.

Gudang itu terlihat seperti bangunan yang sudah lama tidak digunakan. Pintu besinya setengah terbuka.

Aku masuk.

“Maya?”

Tidak ada jawaban.

Hanya suara langkahku sendiri.

Di bagian belakang gudang terdapat sebuah meja plastik dan dua kursi.

Di atas meja ada laptop.

Layarnya menyala.

Sebuah video langsung diputar ketika aku mendekat.

Wajah Maya muncul.

“Mas Arif, kalau kamu melihat video ini, berarti kamu tetap datang.”

Aku menahan napas.

“Aku minta maaf soal semalam. Dan aku minta maaf karena mengambil kartu aksesmu.”

Dia berhenti beberapa detik.

“Tapi aku tidak tidur denganmu untuk mencuri kartu itu.”

Aku mengepalkan tangan.

Maya melanjutkan.

“Enam bulan lalu aku mulai bekerja sebagai staf administrasi untuk perusahaan logistik yang menjadi vendor kantormu. Dari sana aku menemukan sesuatu. Ada pengiriman fiktif, pembayaran ganda, dan gudang yang secara administratif penuh, padahal sebenarnya kosong.”

Aku menatap sekeliling.

Gudang nomor tujuh.

Kosong.

“Nilainya puluhan miliar rupiah,” lanjut Maya. “Nama Dimas ada di banyak dokumen. Tapi bukan dia orang paling atas.”

Layar tiba-tiba berubah.

Muncul foto beberapa invoice, rekening perusahaan, dan daftar transaksi.

Lalu sebuah nama membuat tubuhku kaku.

Arif Mahendra.

Namaku.

Ada tanda tanganku di sejumlah dokumen persetujuan pembayaran.

Aku mendekati layar.

“Itu bukan tanda tanganku.”

“Aku tahu,” suara Maya terdengar dari video. “Karena itu aku mencarimu.”

Aku merasa tengkukku dingin.

Selama tiga tahun terakhir aku bekerja di kantor pusat Jakarta sebagai kepala divisi pengadaan. Aku memang memberikan persetujuan terhadap banyak transaksi, tetapi dokumen di layar menggunakan tanggal-tanggal ketika aku sedang berada di luar negeri.

Seseorang telah memalsukan tanda tanganku.

Lalu terdengar suara pintu besi bergeser.

Aku berbalik.

Dimas berdiri di sana.

Sendirian.

“Masih suka bertindak tanpa berpikir panjang, Rif.”

“Di mana Maya?”

“Pertanyaan pertama yang salah.”

Dia berjalan mendekat.

“Pertanyaan yang benar adalah, kenapa mantan istrimu tiba-tiba muncul setelah tiga tahun?”

“Jawab saja.”

Dimas tertawa kecil.

“Maya bekerja untukku.”

Aku terdiam.

“Dia yang mengambil kartu aksesmu. Dia yang membuatmu datang ke sini.”

“Kenapa?”

“Karena kami butuh akses ke server pusat melalui akunmu.”

Aku menatap laptop.

“Video itu?”

“Sebagian benar.”

“Sebagian?”

Dimas menarik kursi dan duduk.

“Memang ada penggelapan. Memang ada dokumen menggunakan tanda tanganmu. Tapi Maya tidak datang untuk menyelamatkanmu.”

Dimas mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan percakapan.

Nama Maya ada di sana.

Aku membaca beberapa pesan.

Pastikan Arif membawa laptop kantor.

Kartu akses harus didapat malam itu.

Kalau perlu manfaatkan perasaannya.

Dadaku terasa sesak.

Kalimat terakhir dikirim oleh Dimas.

Balasan Maya hanya satu.

Aku mengerti.

Aku tertawa hambar.

Jadi begitulah.

Malam yang selama beberapa jam membuatku berpikir masih ada sesuatu di antara kami ternyata hanya sebuah pekerjaan.

“Uang satu juta itu juga bagian dari permainan?”

Dimas mengangkat alis.

“Uang apa?”

Aku menatapnya.

Untuk pertama kalinya ekspresinya berubah.

“Jangan pura-pura.”

“Aku serius. Uang apa?”

Sebelum aku menjawab, suara sirene terdengar dari kejauhan.

Dimas langsung berdiri.

“Apa yang kamu lakukan?”

“Bukan aku.”

Pintu gudang terbuka.

Beberapa petugas kepolisian masuk bersama dua orang yang kukenal dari tim kepatuhan perusahaan.

Dan di belakang mereka berdiri Maya.

Dimas memucat.

“Kamu?”

Maya tidak menjawab.

Salah satu petugas mendekati Dimas dan menunjukkan surat penangkapan.

Dimas mencoba mundur, tetapi dua petugas langsung menahannya.

“Apa-apaan ini?” teriaknya. “Dia terlibat juga. Periksa perempuan itu. Dia yang mencuri kartu akses!”

Maya menatapku.

“Aku memang mengambilnya.”

Aku berjalan mendekatinya.

“Kenapa?”

“Supaya Dimas percaya aku masih mengikuti rencananya.”

“Kamu bekerja sama dengan polisi?”

“Sudah hampir tiga bulan.”

Aku tidak langsung percaya.

Maya menjelaskan bahwa ketika menemukan transaksi mencurigakan, dia awalnya melaporkannya kepada atasannya. Dua hari kemudian atasannya dipecat. Setelah itu seseorang mengikutinya pulang.

Dia kemudian menghubungi seorang kenalan di kepolisian dan menyerahkan bukti.

Masalahnya, bukti yang mereka miliki belum cukup untuk menghubungkan Dimas dengan pemalsuan dokumen.

Mereka membutuhkan data dari sistem internal.

Dan membutuhkan Dimas melakukan tindakan yang bisa membuktikan niatnya.

“Aku tidak pernah benar-benar memberikan aksesmu kepadanya,” kata Maya. “Kartu itu sudah dinonaktifkan tim kepatuhan sejak tadi malam.”

“Lalu kenapa harus aku?”

Maya terdiam.

“Karena nama yang sedang mereka siapkan sebagai kambing hitam adalah namamu.”

Aku merasa seperti kehilangan pijakan.

Dimas tiba-tiba tertawa saat diborgol.

“Kamu masih belum paham, Rif?”

Dia menatapku.

“Coba tanya mantan istrimu kenapa dia begitu mati-matian menyelamatkanmu.”

“Diam, Mas Dimas,” kata Maya.

“Kenapa? Takut dia tahu?”

“Maksudmu apa?”

Dimas tersenyum.

“Dia tidak pernah benar-benar pindah ke Bali karena pekerjaan.”

Maya memejamkan mata.

Aku menatapnya.

“May?”

“Jangan dengarkan dia.”

“Kalau begitu jelaskan.”

Petugas membawa Dimas pergi.

Gudang menjadi sunyi.

Maya berdiri beberapa meter dariku dengan mata merah.

“Ada sesuatu yang belum pernah kuceritakan.”

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Dia menarik napas panjang.

“Setelah kita bercerai, aku tahu aku hamil.”

Dunia seolah berhenti.

Aku bahkan tidak yakin mendengar dengan benar.

“Apa?”

“Aku hamil enam minggu.”

“Kenapa kamu tidak memberitahuku?”

“Karena waktu itu perceraian kita sudah selesai. Kamu mendapat promosi. Kamu akan pindah ke Singapura selama beberapa bulan. Dan malam terakhir sebelum kita menandatangani surat cerai, kamu bilang mungkin berpisah adalah keputusan terbaik untuk kita.”

“Itu bukan berarti aku tidak mau tahu kalau kita punya anak.”

“Aku takut.”

“Takut apa?”

Maya menatapku dengan air mata yang akhirnya jatuh.

“Takut kamu pulang hanya karena merasa wajib.”

Aku tidak bisa berkata-kata.

“Anaknya di mana?”

Maya menangis semakin keras.

“Tidak ada.”

Aku membeku.

“Aku keguguran pada bulan ketiga.”

Semua kemarahan yang sejak pagi memenuhi dadaku mendadak lenyap.

Yang tersisa hanya rasa sakit yang sulit diberi nama.

“Aku sendirian waktu itu,” katanya. “Aku masuk rumah sakit sendirian. Aku pulang ke apartemen sendirian. Aku bahkan tidak tahu siapa yang harus kuhubungi.”

“Kenapa bukan aku?”

“Karena kita sudah terlalu pandai berpura-pura tidak saling membutuhkan.”

Aku memalingkan wajah.

Untuk pertama kalinya aku memahami perceraian kami bukan terjadi karena kami berhenti mencintai.

Kami hanya terlalu lama menunggu satu sama lain berbicara lebih dulu.

“Tapi apa hubungannya dengan kasus ini?”

Maya menghapus air matanya.

“Ketika aku melihat namamu di dokumen palsu, aku tahu kalau aku diam, hidupmu akan hancur karena sesuatu yang tidak kamu lakukan.”

“Jadi kamu datang karena merasa berutang?”

“Awalnya mungkin.”

“Dan semalam?”

Dia tidak menjawab.

Aku mengeluarkan uang satu juta dari saku.

“Kenapa kamu meninggalkan ini?”

Maya memandang uang itu lama sekali.

“Itu bukan pembayaran.”

“Lalu apa?”

“Balik uangnya.”

Aku membalik lembaran itu.

Di bagian belakang ada tulisan kecil yang tadi pagi tidak kulihat.

Nomor 214.

“Apa ini?”

Maya tersenyum sedih.

“Kamu benar-benar lupa.”

Aku mencoba mengingat.

Lalu sesuatu muncul dari ingatanku.

Apartemen pertama kami setelah menikah.

Unit 214.

Saat itu kami hampir tidak punya uang. Pada malam ulang tahun pernikahan pertama, aku memberikan sebuah amplop berisi satu juta rupiah kepada Maya.

Aku berkata uang itu untuk membeli apa pun yang dia mau.

Besoknya aku menemukan uang itu kembali di bawah bantalku.

Di belakang salah satu lembar uang, Maya menulis 214.

Ketika kutanya kenapa, dia berkata, selama kami masih punya rumah untuk pulang bersama, uang bukan hal terpenting.

“Ini uang yang sama?” tanyaku.

Maya mengangguk.

“Aku menyimpannya bertahun-tahun.”

Tanganku bergetar.

“Lalu tulisan untuk malam yang sudah kamu berikan?”

“Aku ingin kamu marah.”

“Kenapa?”

“Karena kalau kamu mengira aku memanfaatkanmu, kamu akan mengejarku. Dimas sudah menyuruh orang mengawasimu. Aku harus membuat semuanya terlihat seperti rencananya berjalan.”

Aku menatap perempuan di depanku dan tidak tahu apakah harus memeluknya atau membencinya.

“Kamu bisa saja menjelaskan semuanya sejak awal.”

“Aku tidak tahu apakah aku bisa mempercayaimu.”

Aku tersenyum pahit.

“Setelah semua ini?”

“Bukan soal kasusnya.”

Maya menatapku.

“Aku tidak tahu apakah aku bisa mempercayai diriku sendiri kalau berada dekat denganmu lagi.”

Beberapa minggu kemudian, penyelidikan berkembang jauh lebih besar daripada yang kami duga.

Dimas bukan otak utama. Direktur keuangan perusahaan kami akhirnya ditangkap bersama dua pemilik vendor. Kerugian perusahaan mencapai lebih dari empat puluh miliar rupiah.

Namaku dibersihkan.

Aku bahkan ditawari promosi.

Aku menolaknya.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku mengambil cuti panjang tanpa membawa laptop kantor.

Aku tetap berada di Bali selama dua minggu.

Bukan untuk mengejar Maya.

Setidaknya itu yang kukatakan kepada diriku sendiri.

Kami bertemu beberapa kali. Makan siang. Berjalan di Sanur. Minum kopi tanpa membicarakan masa lalu selama berjam-jam.

Tidak ada janji untuk menikah lagi.

Tidak ada kalimat bahwa semuanya akan kembali seperti dulu.

Karena kami tahu kami bukan lagi Arif dan Maya yang pernah tinggal di unit 214.

Pada malam terakhir sebelum aku kembali ke Jakarta, kami duduk di tepi pantai.

“Aku masih marah,” kataku.

“Aku tahu.”

“Aku mungkin akan marah cukup lama.”

“Aku juga masih marah padamu.”

Aku tertawa.

“Bagus.”

Maya ikut tertawa kecil.

Aku mengeluarkan uang satu juta itu dari dompet.

“Aku mau mengembalikannya.”

Dia menggeleng.

“Simpan.”

“Kenapa?”

“Supaya kali ini kamu ingat.”

“Ingat apa?”

Maya memandang laut.

“Pulang itu bukan soal alamat, Mas.”

Aku tidak menjawab.

Keesokan paginya aku terbang ke Jakarta.

Tiga bulan berlalu.

Suatu malam aku pulang sebelum pukul tujuh. Kebiasaan yang dulu hampir tidak pernah kulakukan.

Ketika membuka pintu apartemen, aku melihat sebuah amplop terselip di bawah pintu.

Tidak ada nama pengirim.

Di dalamnya hanya ada sebuah kunci.

Dan secarik kertas.

Aku langsung mengenali tulisan tangan itu.

Unit 214 sudah disewakan lagi. Aku kebetulan melihat iklannya.

Kalau suatu hari kita ingin mencoba pulang, mungkin kita tidak perlu memulai dari tempat baru.

Di bawahnya ada satu kalimat tambahan.

Tapi kali ini, jangan membuatku menunggu sampai pukul dua pagi.

Aku berdiri lama sambil memegang kunci itu.

Kemudian aku melihat jam.

Pukul 19.12.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak membuka laptop.

Aku mengambil jaket, memasukkan uang satu juta itu ke dalam dompet, lalu keluar.

Bukan karena aku yakin hubungan kami akan berhasil.

Bukan pula karena semua luka sudah sembuh.

Aku pergi karena akhirnya memahami sesuatu yang terlambat kupelajari.

Kadang-kadang cinta tidak berakhir ketika dua orang menandatangani surat perceraian.

Cinta berakhir ketika salah satu dari mereka berhenti pulang.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku memilih pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang