“Kenapa kamu bisa ada di kamarku?” seru Alma hampir berteriak.
Kenan mengangkat wajah dari layar ponselnya. Alih-alih terlihat gugup, laki-laki itu justru menyandarkan punggung ke dinding dengan tenang.
“Karena ini kamar istriku,” jawabnya ringan.
Alma terdiam beberapa detik, seolah baru menyadari betapa besar keputusan yang dibuatnya beberapa jam lalu.
“Aku menunjukmu karena terdesak,” katanya dengan suara tertahan. “Bukan berarti kamu bisa bertindak seenaknya.”
Kenan memasukkan ponsel ke saku celana. Tatapannya yang semula bercanda berubah serius.

“Aku juga menikahimu bukan karena ingin mengambil keuntungan. Aku datang ke sini karena para tamu masih mencari pengantin perempuan. Kalau kamu tidak segera kembali, orang-orang akan mengira aku benar-benar ditinggalkan setelah akad.”
Alma menunduk. Rasa malu yang sejak tadi ditahannya kembali memenuhi dada. Bayangan Mahendra berdiri di depan panggung sambil menggenggam tangan perempuan lain masih terasa seperti luka baru.
“Aku tidak peduli dengan omongan mereka.”
“Tapi Nek Hesti mungkin peduli.”
Alma langsung menatap tajam. “Jangan bawa-bawa Nenek.”
“Aku tidak bermaksud begitu.” Kenan berdiri. Tubuhnya yang tinggi membuat kamar sempit itu terasa semakin sesak. “Aku hanya tidak ingin beliau mengetahui semuanya dari gosip tetangga.”
Ucapan itu membuat Alma kehilangan bantahan. Kenan benar. Di desa mereka, satu kejadian dapat berubah menjadi sepuluh versi sebelum matahari terbenam.
Tiba-tiba terdengar suara kendaraan berhenti di depan rumah. Disusul suara gaduh beberapa orang.
“Alma!” teriak seorang laki-laki dari luar.
Wajah Alma langsung memucat. Ia mengenali suara itu.
Mahendra.
Kenan berjalan menuju jendela dan menyingkap sedikit tirainya. Di halaman, Mahendra berdiri bersama ibunya dan dua orang kerabat. Di sampingnya tampak Selena, perempuan yang tadi hendak dilamarnya di depan semua tamu.
“Apa yang dia mau?” gumam Alma.
“Sepertinya bukan datang untuk memberi selamat,” jawab Kenan.
Alma bergegas keluar kamar, tetapi Kenan menahan pergelangan tangannya.
“Jangan hadapi mereka sendirian.”
“Aku bisa mengurus masalahku sendiri.”
“Sekarang ini juga masalahku.”
Nada Kenan tidak keras, tetapi cukup tegas untuk membuat Alma berhenti. Untuk pertama kalinya sejak akad, Alma melihat sesuatu yang tidak ia duga dalam diri laki-laki itu. Bukan keberanian sok pahlawan, melainkan ketenangan seseorang yang sudah terbiasa menghadapi keadaan buruk.
Mereka keluar bersama. Citra sudah berdiri di ruang tengah dengan wajah cemas. Mahendra masuk tanpa permisi dan langsung menunjuk Alma.
“Kamu gila, ya? Bagaimana bisa kamu menikah dengan orang asing hanya untuk mempermalukanku?”
Alma tertawa pendek, pahit.
“Mempermalukanmu? Bukankah kamu sendiri yang datang ke pernikahan kita untuk melamar perempuan lain?”
“Itu salah paham.”
Selena yang berdiri di belakangnya mengerutkan kening. “Salah paham bagaimana? Kamu sendiri bilang akan membatalkan pernikahan dan memilihku.”
Mahendra menoleh tajam. “Diam dulu.”
Ibu Mahendra segera maju. “Alma, kamu harus membatalkan pernikahan ini. Semua orang tahu kamu dan Mahendra sudah lama bertunangan. Jangan membuat keputusan karena emosi.”
Kenan berdiri di samping Alma tanpa berkata-kata. Namun kehadirannya cukup membuat Mahendra gelisah.
“Dan kamu,” kata Mahendra sambil menatap Kenan. “Jangan merasa menang. Alma menikahimu hanya karena panik. Kamu cuma buruh proyek yang kebetulan ada di sana.”
Kenan mengangguk pelan.
“Benar, saya memang bekerja di proyek.”
Mahendra menyeringai. “Lihat? Kamu pikir kamu bisa menafkahi dia dengan mengaduk semen?”
Alma mengepalkan tangan. Ia hendak membalas, tetapi Kenan mendahuluinya.
“Setidaknya saya bekerja dengan tangan saya sendiri. Saya tidak memakai uang perempuan untuk membiayai gaya hidup.”
Wajah Mahendra berubah.
“Apa maksudmu?”
Kenan mengeluarkan ponselnya lalu membuka sebuah rekaman suara. Suara Mahendra terdengar jelas sedang berbicara dengan seseorang.
“Setelah pernikahan batal, tanah Alma pasti bisa kita ambil lewat utang Nek Hesti. Kalau Selena mau menunggu, aku akan menikahinya setelah semuanya selesai.”
Ruangan seketika senyap.
Alma merasa seluruh tubuhnya dingin. Ia menatap Mahendra dengan mata bergetar.
“Tanah apa?”
Mahendra panik. “Itu rekaman palsu.”
Kenan mematikan suara. “Percakapan ini direkam dua minggu lalu di warung dekat proyek. Saya kebetulan duduk di belakang kalian.”
Alma melangkah mendekati Mahendra.
“Kamu mendekatiku karena tanah Nenek?”
“Tidak, Alma. Dengarkan aku.”
“Jawab!”
Mahendra mengatupkan rahang. Ibunya buru-buru menyela.
“Tanah itu memang seharusnya dijual. Utang biaya pengobatan Nek Hesti banyak. Mahendra hanya mencoba membantu.”
“Aku tidak pernah diberi tahu tentang utang apa pun.”
Citra yang sedari tadi diam tiba-tiba berlari menuju lemari kecil di ruang tamu. Ia mengambil sebuah map cokelat lalu menyerahkannya kepada Alma.
“Aku menemukan ini kemarin di tas Nek Hesti. Aku belum sempat menunjukkan padamu.”
Di dalam map terdapat salinan surat utang, sertifikat tanah, dan surat kuasa yang memakai tanda tangan Alma.
Alma membaca lembar demi lembar dengan napas memburu.
“Ini bukan tanda tanganku.”
Mahendra mundur selangkah.
Kenan segera mengambil foto dokumen itu.
“Pemalsuan tanda tangan dan upaya pengalihan aset. Kalian tahu hukumannya, kan?”
Ibu Mahendra mulai menangis dan memohon. Namun Alma tidak lagi melihat kesedihan di wajah perempuan itu. Yang ia lihat hanyalah ketakutan karena rencana mereka terbongkar.
Selena memandang Mahendra dengan jijik.
“Kamu bilang ingin menikahiku karena cinta. Ternyata aku hanya bagian dari rencanamu.”
Ia melepas cincin yang tadi diberikan Mahendra lalu melemparkannya ke lantai.
“Aku tidak mau terlibat.”
Selena pergi tanpa menoleh lagi.
Mahendra yang kehilangan kendali tiba-tiba menerjang Kenan. Namun Kenan dengan cepat menghindar dan memegang lengannya, memutarnya ke belakang tanpa melukai.
“Jangan membuat masalahmu lebih besar,” bisiknya.
Keributan itu membangunkan Nek Hesti. Perempuan tua itu keluar dengan langkah tertatih, memegang dinding sebagai tumpuan.
“Ada apa ini?”
Alma segera menghampiri dan memeluknya.
“Nek, maaf. Aku sudah berbohong.”
Nek Hesti memandang gaun pengantin Alma, lalu Kenan, kemudian Mahendra.
“Kamu tidak menikah dengan Mahendra?”
Alma menggeleng. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh.
“Aku menikah dengan Kenan.”
Alma menceritakan semuanya. Tentang penghinaan di depan tamu, rencana Mahendra, dan dokumen palsu. Nek Hesti mendengarkan tanpa menyela.
Anehnya, perempuan tua itu tidak terlihat terkejut saat mendengar nama Kenan.
Ia justru menatap Kenan lama sekali.
“Kamu anaknya Ratih?” tanyanya lirih.
Kenan membeku.
“Iya.”
Nek Hesti menutup mulut dengan tangan. Air matanya menetes.
Alma memandang mereka bergantian. “Kalian saling kenal?”
Kenan mengeluarkan dompet dan mengambil foto lama. Foto itu menampilkan dua anak perempuan kecil berdiri di depan rumah sederhana. Salah satunya adalah Alma. Yang lain tidak ia kenali.
“Ibu saya menyimpan foto ini sampai meninggal,” kata Kenan. “Beliau selalu berkata bahwa adiknya hilang dua puluh tahun lalu. Namanya Almahira.”
Jantung Alma seperti berhenti.
Nek Hesti terduduk di kursi. Wajahnya penuh rasa bersalah.
“Alma bukan cucu kandungku,” katanya terbata. “Dua puluh tahun lalu, aku menemukannya menangis sendirian di terminal. Polisi tidak pernah menemukan keluarganya. Aku membesarkannya karena aku takut ia dibawa ke panti.”
Alma merasa lantai di bawah kakinya seolah bergeser.
“Jadi aku siapa?”
Kenan menatapnya dengan mata merah.
“Kamu adik saya.”
Mahendra dan keluarganya bahkan berhenti bergerak. Citra menutup mulut, tidak percaya.
Alma tertawa kecil karena terlalu terkejut untuk menangis.
“Ini tidak mungkin. Aku baru saja menikah denganmu.”
Kenan menggeleng perlahan.
“Belum tentu.”
Ia menunjukkan foto itu lebih dekat. Di bagian belakang terdapat tulisan tangan yang menyebut nama dua anak, Kenan dan Almahira.
Nek Hesti mengambil foto tersebut, lalu mengamati wajah Kenan.
“Kamu bukan anak kecil dalam foto ini.”
Kenan terdiam.
Nek Hesti menunjuk bocah laki-laki yang berdiri samar di ujung foto.
“Anak yang bernama Kenan punya bekas luka di alis kanan. Kamu tidak punya.”
Suasana kembali berubah.
Alma menatap Kenan dengan kecurigaan baru.
“Siapa sebenarnya kamu?”
Sebelum Kenan menjawab, beberapa mobil berhenti di depan rumah. Seorang perempuan berusia sekitar empat puluh tahun turun bersama dua petugas kepolisian.
Ia berlari masuk dan langsung memeluk Alma.
“Almahira.”
Alma kaku di pelukannya.
Perempuan itu menangis sambil menyentuh wajah Alma.
“Aku kakakmu. Namaku Ratih.”
Kenan menunduk. Rahasianya terbuka.
Ratih menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Dia bukan anakku. Dia Kenan Galih Sugiro, orang yang kupekerjakan untuk mencari adikku.”
Kenan akhirnya menjelaskan bahwa selama dua tahun terakhir ia membantu Ratih melacak keberadaan Alma. Ia menyamar sebagai pekerja proyek karena petunjuk terakhir mengarah ke desa itu. Saat melihat Alma di hari pernikahan, ia langsung mengenal liontin kecil di lehernya, liontin yang sama dengan milik Ratih.
Namun sebelum ia sempat memastikan semuanya, Mahendra membuat kekacauan. Alma menunjuknya sebagai pengantin pengganti, dan Kenan menerima karena melihat kesempatan untuk melindunginya dari rencana perebutan tanah.
“Kenapa kamu tidak langsung berkata jujur?” tanya Alma dengan suara bergetar.
“Karena aku belum punya bukti cukup. Aku takut memberi harapan palsu.” Kenan menatapnya. “Dan ketika kamu memintaku menikahimu, aku tahu itu gila. Tapi aku juga tahu Mahendra tidak akan berhenti kalau kamu tetap sendiri.”
Petugas polisi membawa Mahendra dan ibunya setelah memeriksa dokumen palsu dan mendengar rekaman. Mahendra sempat meneriakkan nama Alma, tetapi perempuan itu tidak menoleh.
Setelah rumah kembali tenang, Ratih menunjukkan hasil pencarian lama, laporan orang hilang, serta gelang rumah sakit dengan nama Almahira. Tes DNA dilakukan beberapa hari kemudian dan hasilnya memastikan bahwa Alma memang adik kandung Ratih.
Namun satu persoalan masih tersisa.
Pernikahan Alma dan Kenan.
Malam sebelum mereka pergi ke kantor agama untuk membicarakan pembatalan, Alma duduk di teras bersama Kenan. Angin desa membawa aroma tanah basah.
“Kamu menyesal?” tanya Alma.
“Menikahimu?”
Alma mengangguk.
Kenan tersenyum tipis. “Aku menyesal karena kamu menikah dalam keadaan terluka. Tapi aku tidak menyesal menjadi orang yang berdiri di sampingmu saat semua orang meninggalkanmu.”
Alma menatap wajahnya. Selama beberapa hari, Kenan tidak pernah memaksakan apa pun. Ia membantu Nek Hesti, mendampingi proses hukum, dan tetap menjaga jarak seolah memahami kekacauan dalam hati Alma.
“Kita bisa membatalkannya,” kata Kenan. “Setelah itu kamu bebas memulai hidup baru.”
Alma menelan ludah.
“Bagaimana kalau aku tidak ingin membatalkannya?”
Kenan terdiam.
Alma menatap langit malam, lalu tersenyum untuk pertama kalinya tanpa kepura-puraan.
“Aku memang menunjukmu secara sembarangan. Tapi mungkin tidak semua keputusan yang lahir dari kekacauan berakhir sebagai kesalahan.”
Kenan tidak langsung menjawab. Ia hanya mengulurkan tangan, bukan untuk menarik atau menuntut, melainkan memberi pilihan.
Alma memandang tangan itu beberapa saat sebelum menggenggamnya.
Dua puluh tahun lalu, ia kehilangan keluarga tanpa memahami apa pun. Di hari pernikahannya, ia kehilangan laki-laki yang selama ini dianggap sebagai masa depannya. Namun justru melalui kehilangan itu, ia menemukan kakaknya, menemukan kebenaran, dan menemukan seseorang yang tidak datang membawa janji manis, melainkan keberanian untuk tetap tinggal.
Nek Hesti yang mengintip dari balik jendela tersenyum sambil mengusap air mata.
Ia akhirnya mengerti bahwa keluarga tidak selalu terbentuk dari darah. Kadang keluarga lahir dari seseorang yang menemukan kita saat tersesat, merawat kita ketika rapuh, dan memilih tetap bersama saat seluruh dunia berbalik pergi.
