“Kakek, jangan kasih uang lagi ke Papa.”
Kalimat itu terus terngiang di kepala Pak Hendra bahkan setelah Kevin tertidur malam itu.
Enam tahun.
Selama enam tahun, Pak Hendra percaya bahwa satu-satunya hal yang tersisa dari putrinya adalah seorang cucu kecil bernama Kevin dan seguci abu yang disimpan dengan hati-hati di ruang tamunya.
Namun malam itu, ketika isi guci tersebut tumpah di atas koran, seluruh keyakinannya runtuh.
Tidak ada serpihan tulang.
Tidak ada sesuatu yang menyerupai sisa kremasi.

Hanya pasir kasar, semen kering, dan debu berwarna abu-abu.
Pak Hendra berdiri terpaku di depan meja makan.
Tangannya gemetar.
“Kalau ini bukan abu Maya, lalu anakku ada di mana?”
Bel rumah berbunyi.
Pak Bambang datang sekitar pukul sembilan malam. Mantan perwira polisi itu langsung melihat tumpukan material di meja.
Wajahnya berubah serius.
“Kamu yakin guci ini tidak pernah dibuka?”
“Tidak pernah. Ratna bahkan melarang siapa pun menyentuhnya.”
Bambang mengambil sedikit material menggunakan plastik kecil.
“Besok aku minta kenalan di laboratorium memeriksanya. Tapi malam ini, ceritakan semuanya dari awal.”
Hendra menceritakan ucapan Kevin, permintaan uang Rian, mobil SUV baru, sampai pertemuan mesra Rian dengan Sheila.
Bambang diam cukup lama.
“Ada yang tidak masuk akal sejak kecelakaan Maya.”
“Apa?”
“Keluarga tidak melihat jenazah. Proses identifikasi hanya berdasarkan barang pribadi. Lalu jenazah langsung dikremasi.”
Hendra menatap sahabatnya.
Saat itu, untuk pertama kalinya setelah enam tahun, dia berani mempertanyakan malam paling kelam dalam hidupnya.
Dua hari kemudian, hasil pemeriksaan keluar.
Material di dalam guci memang bukan abu manusia.
Bambang kemudian menemukan fakta lain yang jauh lebih mengerikan.
Laporan kecelakaan menyebutkan sebuah mobil terbakar setelah menabrak pembatas jalan. Namun identitas korban tidak pernah dikonfirmasi melalui pemeriksaan DNA.
Tas, jam tangan, dan kartu identitas Maya ditemukan di dalam kendaraan.
Rianlah yang mengidentifikasi barang-barang itu.
Lebih aneh lagi, seorang petugas administrasi rumah sakit yang menangani dokumen korban tiba-tiba mengundurkan diri dua minggu setelah kecelakaan.
Namanya Arif Pranoto.
Bambang berhasil menemukan alamat lamanya di Sidoarjo.
Ketika mereka datang, rumah itu sudah ditempati keluarga lain. Namun seorang tetangga tua masih mengingat Arif.
“Dia pindah mendadak sekitar enam tahun lalu,” kata lelaki itu. “Katanya dapat uang banyak lalu buka usaha di Bali.”
Hendra merasa dadanya sesak.
“Uang dari siapa?”
Tetangga itu menggeleng.
Dalam perjalanan pulang, Bambang berkata pelan, “Kalau seseorang membayar petugas rumah sakit, memalsukan identifikasi, lalu memberikan abu palsu kepada keluarga, berarti kematian Maya mungkin memang sengaja direkayasa.”
“Tapi untuk apa?”
“Itulah yang harus kita cari.”
Jawabannya mulai terlihat ketika Bambang memeriksa transaksi keuangan lama.
Beberapa bulan sebelum kecelakaan, Maya menerima warisan berupa saham perusahaan keluarga dari Ratna. Nilainya saat itu hampir delapan miliar rupiah.
Jika Maya meninggal, aset tertentu yang telah ditempatkan dalam rekening bersama dapat dikendalikan oleh suaminya.
Hendra hampir tidak sanggup berdiri ketika mengetahui hal tersebut.
Selama ini dia mengira Rian bertahan hidup menggunakan uang yang dikirimnya.
Ternyata menantunya sudah menikmati kekayaan Maya.
Dan masih mengambil tiga puluh delapan juta rupiah darinya setiap bulan.
“Kenapa Maya tidak pernah bilang?”
“Mungkin dia tidak sempat,” jawab Bambang.
Mereka membutuhkan bukti yang lebih kuat.
Kesempatan itu datang dari Kevin.
Akhir pekan berikutnya, Hendra menjemput cucunya dengan alasan ingin mengajaknya membeli buku.
Di dalam mobil, Hendra bertanya hati-hati.
“Kevin sering ketemu Tante Sheila?”
Kevin mengangguk.
“Tante sering tidur di rumah kalau Kakek enggak ada.”
Hendra mencengkeram kemudi.
“Papa pernah cerita tentang Mama?”
Anak itu terdiam.
Kemudian jawabannya membuat Hendra membeku.
“Papa bilang Mama orang jahat.”
“Kenapa?”
“Katanya Mama ninggalin Kevin.”
Hendra menoleh cepat.
“Mama meninggalkan Kevin?”
Kevin mengangguk.
“Bukan meninggal?”
Wajah Kevin kebingungan.
“Papa bilang Mama pergi jauh. Tapi waktu Kevin tanya kenapa ada foto Mama di dekat guci, Papa marah.”
Jantung Hendra berdegup keras.
Rian bahkan tidak konsisten dengan kebohongannya sendiri.
Malam itu Bambang mendapatkan kabar dari seorang kenalan.
Arif Pranoto ditemukan.
Dia tinggal di Denpasar dan memiliki sebuah usaha penyewaan mobil.
Bambang terbang ke Bali seorang diri.
Dua hari kemudian, dia menelepon Hendra.
“Kita harus bertemu.”
Suara Bambang terdengar berat.
Mereka bertemu di sebuah warung kopi kecil jauh dari rumah Hendra.
Bambang meletakkan rekaman suara di atas meja.
Arif akhirnya mengaku.
Enam tahun lalu, Rian memberinya uang dua ratus lima puluh juta rupiah untuk mengubah beberapa dokumen.
Namun ada satu kenyataan yang bahkan Arif tidak ketahui sebelumnya.
Perempuan yang ditemukan di dalam mobil terbakar itu bukan Maya.
Korban sebenarnya adalah seorang perempuan yang dilaporkan hilang beberapa hari sebelumnya.
“Jadi Maya masih hidup?”
Bambang menarik napas.
“Setelah kecelakaan, ada catatan seorang perempuan tanpa identitas dibawa ke rumah sakit lain oleh pengendara yang menemukannya sekitar empat kilometer dari lokasi.”
Hendra merasa dunia berhenti.
“Perempuan itu mengalami luka kepala dan kehilangan ingatan.”
“Di mana dia sekarang?”
Bambang mendorong secarik kertas ke arahnya.
“Sebuah yayasan rehabilitasi di Malang.”
Keesokan paginya, Hendra berangkat.
Sepanjang perjalanan Surabaya menuju Malang, tangannya tidak berhenti gemetar.
Dia takut berharap.
Takut perempuan itu bukan Maya.
Namun lebih takut jika benar Maya dan selama enam tahun putrinya hidup sendirian karena dia terlalu mudah percaya pada sebuah guci.
Yayasan itu berada di kawasan yang tenang di pinggiran kota.
Seorang pengurus bernama Bu Lina membawa Hendra menuju taman belakang.
“Ada satu penghuni bernama Amalia,” katanya. “Itu nama yang kami berikan karena saat ditemukan dia tidak membawa identitas.”
“Sudah berapa lama?”
“Hampir enam tahun.”
Langkah Hendra berhenti.
Di bawah pohon mangga, seorang perempuan sedang menyiram tanaman.
Tubuhnya lebih kurus daripada Maya yang dia ingat.
Rambutnya dipotong sebahu.
Ada bekas luka tipis di pelipis kirinya.
Namun ketika perempuan itu menoleh, lutut Hendra hampir kehilangan tenaga.
Mata itu.
Mata Ratna.
“Maya…”
Selang air terlepas dari tangan perempuan tersebut.
Dia memandang Hendra tanpa bicara.
Hendra berjalan mendekat.
“Maya, ini Papa.”
Perempuan itu mundur satu langkah.
Wajahnya menunjukkan kebingungan.
Kemudian matanya tertuju pada jam tangan tua yang dikenakan Hendra.
Jam tangan pemberian Maya saat ulang tahunnya yang kelima puluh.
Bibir perempuan itu bergetar.
“Papa…?”
Hendra menangis.
Untuk pertama kalinya sejak kematian Ratna, lelaki itu menangis tanpa mencoba menyembunyikannya.
Maya memegang kepalanya.
Potongan ingatan seperti kembali menyerangnya.
Mobil.
Pertengkaran.
Rian berteriak.
Sheila duduk di kursi depan.
Maya menemukan hubungan mereka beberapa hari sebelumnya.
Malam kecelakaan, Rian mengajak Maya bertemu dengan alasan ingin menyelesaikan masalah rumah tangga.
Namun di perjalanan mereka bertengkar hebat.
Maya meminta turun.
Saat mobil berhenti di pinggir jalan, Maya keluar sambil membawa ponsel. Rian mengejarnya.
Maya berlari dalam keadaan panik hingga tertabrak sepeda motor yang kemudian kabur.
Dia jatuh ke semak di sisi jalan.
Rian mengira Maya tewas.
Bukannya mencari pertolongan, dia panik karena perselingkuhan dan penggelapan uang perusahaan yang dilakukan bersama Sheila bisa terbongkar.
Malam itu sebuah kesempatan muncul ketika kecelakaan lain terjadi tidak jauh dari lokasi.
Rian menggunakan koneksinya untuk membangun cerita bahwa Maya adalah korban di dalam mobil tersebut.
“Kevin…”
Itulah kata pertama Maya setelah ingatannya mulai tersusun.
“Anakku di mana?”
Hendra memeluknya.
“Dia hidup. Dia sehat. Dan dia menunggumu meskipun dia sendiri belum tahu.”
Namun mereka belum bisa langsung membawa Maya menemui Kevin.
Bambang meminta Hendra bersabar.
Rian harus dibuat percaya bahwa kebohongannya masih aman.
Tiga hari kemudian, Hendra menelepon menantunya.
“Uang tujuh puluh lima juta sudah Kakek siapkan.”
Nada suara Rian langsung berubah ramah.
“Saya tahu Kakek pasti mengerti.”
“Datanglah ke rumah malam ini. Bawa Sheila juga.”
Telepon hening.
“Kenapa Sheila?”
“Jangan pura-pura. Kakek sudah tahu hubungan kalian. Kalau memang kalian ingin menikah, kita bicarakan baik-baik.”
Rian terdiam beberapa detik.
Dia mengira Hendra hanya mengetahui perselingkuhan.
Malam itu Rian datang bersama Sheila.
Kevin ditinggalkan bersama pengasuh.
Di meja ruang tamu terdapat sebuah amplop besar.
Mata Rian langsung tertuju ke sana.
“Uangnya?”
Hendra duduk tenang.
“Enam tahun saya kirim tiga puluh delapan juta setiap bulan.”
Rian tersenyum kaku.
“Itu semua untuk Kevin.”
“Dua miliar tujuh ratus tiga puluh enam juta.”
Wajah Sheila berubah.
Hendra melanjutkan, “Belum termasuk permintaan tambahan.”
“Kakek mau mempermasalahkan uang sekarang?”
“Tidak.”
Hendra menunjuk guci di atas rak.
“Saya cuma ingin bertanya. Abu siapa itu?”
Wajah Rian seketika pucat.
Sheila berdiri.
“Saya pulang dulu.”
“Pintu jangan dibuka,” kata Bambang dari belakang.
Rian berbalik.
Bambang keluar bersama dua penyidik.
Rian langsung berdiri.
“Ini apa?”
“Material dalam guci sudah diperiksa,” kata Bambang. “Kami juga sudah menemukan Arif.”
Kaki Sheila melemas.
Rian masih mencoba bertahan.
“Arif siapa? Saya tidak kenal.”
Kemudian terdengar langkah kaki dari lorong.
Seorang perempuan muncul.
Rian membeku.
Maya berdiri beberapa meter di depannya.
Wajahnya pucat, tetapi tatapannya tegas.
“Masih tidak kenal aku juga, Rian?”
Sheila menutup mulut.
Rian mundur sampai tubuhnya menghantam meja.
“Kamu…”
“Aku hidup.”
Untuk beberapa detik, tidak seorang pun berbicara.
Kemudian Rian berusaha berlari.
Polisi langsung menangkapnya.
Penyelidikan berikutnya membuka semuanya.
Rekayasa kematian Maya, pemalsuan dokumen, penggelapan aset, pembayaran kepada Arif, dan aliran uang yang digunakan Rian bersama Sheila.
Sheila akhirnya bekerja sama dengan penyidik demi meringankan hukumannya dan menyerahkan bukti transaksi yang selama ini disimpan diam-diam.
Namun bagi Maya, semua itu bukan bagian tersulit.
Bagian tersulit adalah bertemu Kevin.
Ketika Maya berdiri di depan pintu rumah Hendra, Kevin bersembunyi di belakang kakeknya.
Anak itu hanya mengenalnya dari foto.
Maya berjongkok.
Tangannya gemetar.
“Halo, Kevin.”
Kevin menatapnya lama.
“Siapa?”
Air mata Maya jatuh.
Hendra hendak menjelaskan, tetapi Maya menggeleng.
Dia tidak ingin memaksa.
“Aku seseorang yang seharusnya sudah memeluk kamu sejak lama.”
Kevin memandangi wajahnya.
Lalu matanya tertuju pada kalung kecil yang dikenakan Maya.
Liontin berbentuk bintang.
Kevin berlari menuju kamarnya.
Dia kembali membawa sebuah foto lama.
Di foto itu, Maya sedang menggendong bayi Kevin dan memakai kalung yang sama.
Anak kecil itu membandingkan foto dengan perempuan di depannya.
“Mama?”
Maya tidak sanggup menjawab.
Dia hanya mengangguk sambil menangis.
Kevin mendekat perlahan.
“Mama benar-benar enggak ninggalin Kevin?”
“Tidak.”
Maya memeluk putranya.
“Tidak pernah.”
Kevin akhirnya menangis di bahunya.
Pak Hendra berdiri beberapa langkah dari mereka.
Untuk sesaat, dia merasa Ratna seolah berada di ruangan itu.
Enam tahun sebelumnya, keluarganya dihancurkan oleh sebuah kebohongan.
Namun ternyata kebohongan yang paling rapi sekalipun memiliki satu kelemahan.
Ia harus terus dijaga oleh kebohongan berikutnya.
Beberapa bulan kemudian, Maya dan Kevin tinggal bersama Hendra.
Pemulihan ingatan Maya berjalan perlahan. Ada hari ketika dia masih terbangun karena mimpi buruk, tetapi setiap pagi Kevin selalu mengetuk pintunya dan memanggil satu kata yang selama enam tahun tidak pernah didengarnya.
“Mama.”
Suatu sore, mereka bertiga kembali ke Taman Bungkul.
Kevin membeli es krim di tempat yang sama.
Hendra tersenyum melihat cucunya berlari menuju Maya.
Dia kemudian teringat kalimat sederhana yang mengawali semuanya.
“Kakek, jangan kasih uang lagi ke Papa.”
Hendra baru memahami bahwa hari itu Kevin bukan sekadar menyelamatkan uangnya.
Seorang anak berusia tujuh tahun telah membuka pintu menuju kebenaran yang terkubur selama enam tahun.
Dan yang selama ini dianggap Hendra sebagai peninggalan terakhir putrinya ternyata hanyalah pasir dan semen.
Sementara peninggalan paling berharga dari Maya tidak pernah berada di dalam guci.
Ia berdiri hidup di hadapannya, menggenggam tangan putranya, dan akhirnya pulang ke rumah.
