Kakak laki-laki saya memberikan saya “teh pengantar tidur” setiap malam

Malam itu, detak jantungku berpacu seperti genderang perang di balik tulang rusuk. Saat Daniel meletakkan cangkir porselen putih itu di atas meja nakas, uapnya mengepul, membawa aroma herbal yang menyesakkan. Dia berdiri di sana, mematung, seolah sedang menunggu pertunjukan dimulai.

“Minumlah, Maya. Kau butuh istirahat panjang,” bisiknya. Suaranya serak, seolah dia sudah lama tidak menggunakan pita suaranya untuk hal lain selain menipuku.

Aku memejamkan mata, memegang cangkir itu dengan tangan gemetar, lalu dengan gerakan terlatih, aku menuangkan isinya ke dalam pot tanaman besar di sudut kamar saat dia memalingkan wajah. Aku pura-pura meneguknya, membiarkan bibirku basah oleh sisa teh, lalu segera berbaring dan mendengkur pelan.

Daniel menunggu. Sepuluh menit berlalu seperti sepuluh tahun. Akhirnya, aku mendengar pintu tertutup rapat. Langkah kakinya yang senyap menjauh, menuruni tangga kayu yang berderit penuh kutukan.

Aku bangkit dengan hati-hati. Kegelapan rumah ini terasa berbeda; seolah dinding-dindingnya bernapas, menekan dan mencuri oksigen dari paru-paruku. Aku mengikuti jejaknya, bukan ke kamarnya, melainkan ke arah ruang bawah tanah—tempat yang dilarang keras untuk dikunjungi sejak Mama meninggal.

Pintu kayu tua di balik karpet ruang tengah sedikit terbuka. Cahaya redup menyelinap keluar. Aku mengendap-endap, menahan napas saat melihat pemandangan di bawah sana.

Daniel tidak sedang meracik teh. Dia sedang berbicara pada dinding.

Bukan, dia tidak berbicara pada dinding. Dia sedang mengikis lapisan plester tua di sudut ruangan dengan pahat kecil. Di baliknya, aku melihat sesuatu yang berkilauan. Sebuah kompartemen rahasia yang terisi penuh dengan… pita rekaman? Ratusan pita rekaman lama, yang masing-masing tertempel label tanggal dan nama.

“Maya, 12 Agustus,” gumamnya, suaranya kini terdengar sangat waras, sangat dingin. Dia memasukkan pita itu ke dalam pemutar tua.

Suara Mama menggema di ruangan itu. Itu bukan suara Mama yang lemah saat sakit, melainkan suara Mama yang penuh ketakutan, merekam rahasia yang tak pernah dia ceritakan padaku.

“Daniel, jika aku pergi, kau harus menjaganya. Jangan biarkan dia tahu. Ingatan adalah kutukan bagi garis keturunan kita. Jika dia mengingat ‘malam itu’, dia akan berubah menjadi seperti mereka. Biarkan dia tertidur. Racuni mimpinya jika perlu.”

Duniaku runtuh. Air mata jatuh tanpa izin. Jadi, teh itu bukan untuk meracuniku, tapi untuk melindungiku? Tapi dari apa?

Tiba-tiba, sebuah suara berat muncul dari kegelapan di belakangku. “Kau seharusnya tetap tidur, Maya.”

Aku berbalik. Daniel berdiri di sana, memegang sebuah jarum suntik. Matanya merah, bukan karena kebencian, melainkan karena kesedihan yang mendalam.

“Apa maksudnya ini, Daniel? Siapa ‘mereka’?” teriakku, suaraku pecah.

Daniel mendekat, tangannya gemetar. “Rumah ini bukan rumah, Maya. Ini adalah penjara bagi sisa-sisa ingatan yang tidak boleh ada di dunia luar. Ayah, Mama, mereka semua adalah subjek dari eksperimen leluhur kita. Kita bukan manusia biasa. Setiap kali kita mengingat trauma yang sebenarnya—kejadian saat rumah ini terbakar dua puluh tahun lalu—kita akan berubah. Kita akan menjadi makhluk yang haus akan kegelapan.”

Dia menatapku dengan tatapan yang akhirnya aku kenali. Itu adalah tatapan kasih sayang seorang kakak yang terpaksa menjadi algojo bagi adiknya sendiri.

“Malam itu, Maya,” lanjutnya pelan. “Rumah ini tidak terbakar secara tidak sengaja. Kita yang membakarnya. Aku, kau, dan Mama. Kita membunuh mereka semua yang ada di pesta itu untuk menyelamatkan diri kita dari rasa lapar yang tak tertahankan.”

Otakku berusaha menolak, namun tiba-tiba, sebuah memori muncul seperti kilat yang menyambar kesadaranku. Bau daging terbakar. Teriakan yang merdu. Rasa haus yang mendidih di tenggorokanku. Semua itu bukan mimpi. Itu adalah sejarahku.

“Teh itu…” suaraku nyaris hilang.

“Teh itu menekan memori itu, Maya. Jika kau mengingatnya sepenuhnya, kau tidak akan bisa berhenti. Kau akan menjadi monster yang sama seperti yang Mama takuti.”

Daniel mengulurkan tangan, menawarkan jarum suntik itu. “Pilihannya sederhana. Kau lupa dan hidup dalam kebohongan yang manis bersamaku, atau kau mengingat semuanya dan kita berdua harus pergi dari sini sebelum ‘mereka’ yang lain datang menjemput kita.”

Aku menatap cermin di dinding ruang bawah tanah yang kusam. Bayanganku di cermin tidak lagi tampak seperti gadis biasa. Ada kilatan merah di mataku yang sebelumnya tidak ada.

Tiba-tiba, suara ketukan keras terdengar di pintu depan rumah. Ketukan yang ritmis, dingin, dan sangat presisi.

Daniel memucat. “Mereka sudah tahu kau terbangun.”

Aku melihat jarum suntik itu, lalu melihat pintu ruang bawah tanah. Aku menyadari satu hal yang Daniel lewatkan. Aku tidak perlu memilih antara lupa atau menjadi monster.

Aku mengambil pahat dari tangan Daniel. “Daniel, kau bilang kita harus menjaganya agar tidak ingat. Tapi bagaimana jika kita bukan lagi yang harus disembunyikan?”

Aku tersenyum—senyum yang sama anehnya dengan yang Daniel miliki beberapa bulan lalu. Aku tidak butuh teh itu lagi. Aku butuh kebebasan.

“Buka pintunya, Kak,” bisikku sambil melangkah maju ke arah tangga, meninggalkan ingatan Mama, meninggalkan rahasia di balik dinding, dan menyambut sesuatu yang lebih gelap yang kini memanggil namaku dari balik pintu depan.

Sebab, saat kau berhenti meminum teh itu, kau tidak lagi menjadi tawanan. Kau menjadi pemangsa. Dan malam ini, rumah tua ini tidak lagi menjadi penjara; ia menjadi medan berburu.

Daniel menatapku dengan ngeri, menyadari bahwa usahanya selama bertahun-tahun untuk “menyelamatkanku” justru menjadi kunci yang melepaskan sisi yang selama ini kami kubur dalam-dalam.

“Selamat datang kembali, Maya,” gumam Daniel, suaranya kini terdengar puas. Dia tidak lagi memegang jarum suntik, melainkan pisau bedah yang selalu ia sembunyikan di balik lengan bajunya.

Ternyata, Daniel tidak pernah ingin menyelamatkanku dari monster. Dia hanya sedang menunggu adiknya untuk bangkit, agar kami bisa bersama-sama menyelesaikan “pekerjaan” yang tertunda dua puluh tahun lalu.

Pintu depan terbuka perlahan. Di luar, bukan polisi atau tetangga. Di luar, puluhan sosok dengan mata yang memancarkan cahaya yang sama denganku menunggu. Mereka adalah keluarga kami yang sebenarnya, dan kami baru saja pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang