Malam itu, untuk pertama kalinya Adrian Wijaya memandangku sebagai seorang wanita.
Bukan sebagai pembantu.
Bukan sebagai bayangan yang setiap hari membersihkan lantai marmer rumah megah keluarga Wijaya.
Melainkan sebagai seseorang yang ingin dia lindungi.

Ledakan yang mengguncang rumah membuat tubuhku membeku. Pecahan kaca berhamburan dari jendela ruang tamu. Lampu kristal bergoyang keras hingga beberapa bagiannya jatuh menghantam lantai.
Tanpa berpikir, Adrian menarikku ke dalam pelukannya. Tubuhnya menjadi tameng di depanku ketika suara rentetan tembakan mulai terdengar dari halaman.
“Jangan bergerak,” bisiknya.
Aku bahkan tidak sempat menjawab.
Beberapa pria berpakaian hitam berlari memasuki lorong sambil membawa senjata. Anehnya, mereka tidak tampak panik. Seolah semua ini sudah pernah terjadi berkali-kali.
“Amankan semua pintu!”
“Pastikan Nona Maya ikut bersama Tuan!”
Aku tertegun.
Mereka menyebut namaku.
Bagaimana mungkin para pengawal keluarga Wijaya tahu siapa aku?
Adrian menggenggam tanganku begitu erat hingga hampir terasa sakit.
“Ikut aku.”
Kami berlari menuju sebuah rak buku besar di perpustakaan. Adrian menekan sebuah ukiran kayu berbentuk burung garuda. Rak itu bergeser perlahan, memperlihatkan lorong rahasia yang menurun ke bawah tanah.
Aku menatapnya tak percaya.
“Rumah ini punya bunker?”
“Bukan hanya bunker.”
Kami turun dengan cepat. Begitu pintu tertutup, suara ledakan di atas berubah menjadi gema yang jauh.
Lorong itu diterangi lampu redup. Di ujungnya terdapat ruang komando lengkap dengan layar monitor yang memperlihatkan seluruh sudut rumah.
Aku melihat belasan pria bersenjata sedang baku tembak dengan pengawal keluarga Wijaya.
Jantungku berdegup semakin kencang.
“Apa sebenarnya yang sedang terjadi?”
Adrian tidak langsung menjawab.
Dia hanya memperhatikan layar dengan wajah yang sulit ditebak.
Beberapa detik kemudian salah satu pengawalnya masuk sambil terengah-engah.
“Tuan, mereka berasal dari kelompok Surya.”
Ekspresi Adrian berubah dingin.
“Aku sudah menduganya.”
“Apa kita evakuasi semua anggota keluarga?”
“Terlambat.”
Pengawal itu menundukkan kepala.
“Mereka sudah mengepung seluruh kompleks.”
Aku menatap Adrian.
“Siapa mereka?”
Dia menghela napas panjang sebelum akhirnya menatapku.
“Musuh lama keluargaku.”
“Karena perusahaan pelayaran?”
Dia tersenyum tipis.
“Kalau hanya perusahaan, mereka tidak akan datang membawa peluncur granat.”
Kalimat itu membuat bulu kudukku meremang.
Selama ini desas-desus yang kudengar ternyata bukan sekadar gosip.
Keluarga Wijaya memang menyimpan rahasia besar.
Saat suasana mulai sedikit tenang, layar monitor tiba-tiba menampilkan sosok pria paruh baya yang berdiri di halaman rumah.
Dia mengenakan jas abu-abu dan tersenyum ke arah kamera keamanan.
“Adrian,” katanya melalui pengeras suara.
“Sudah cukup lama kita bermain petak umpet.”
Adrian mengepalkan tangan.
“Itu Surya Dharma.”
Nama itu terasa asing bagiku.
Namun dari cara semua orang memandang layar, aku tahu pria itu sangat berbahaya.
“Aku datang bukan untuk membunuh keluargamu.”
Surya tersenyum lebih lebar.
“Aku hanya ingin mengambil kembali sesuatu yang menjadi milikku.”
Adrian tetap diam.
Lalu Surya mengucapkan kalimat yang membuat seluruh ruangan mendadak sunyi.
“Kirimkan gadis bernama Maya.”
Aku merasa darahku berhenti mengalir.
“Apa?”
Semua mata langsung tertuju kepadaku.
“Apa maksudnya?” tanyaku dengan suara bergetar.
Adrian menatapku beberapa saat sebelum memejamkan mata.
“Aku berharap hari ini tidak pernah datang.”
“Apa yang kamu sembunyikan dariku?”
Dia tidak menjawab.
Sebaliknya, pengawal tua yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan maju perlahan.
“Waktunya sudah tiba, Tuan.”
Adrian mengangguk pelan.
Lalu dia memandangku dengan sorot mata yang jauh lebih lembut daripada sebelumnya.
“Maya.”
“Ada sesuatu yang harus kamu ketahui.”
Aku menggeleng.
“Tidak. Katakan dulu kenapa orang itu mencariku.”
“Karena… kamu bukan pembantu biasa.”
Aku tertawa gugup.
“Apa maksudmu?”
“Kamu tidak lahir di kawasan kumuh.”
Aku membeku.
“Mustahil.”
“Kamu diambil dari sana ketika masih bayi.”
Duniaku terasa runtuh dalam sekejap.
“Aku punya bukti.”
Adrian membuka sebuah brankas kecil di sudut ruangan.
Dia mengeluarkan sebuah kalung emas berbentuk bunga melati yang langsung membuat napasku tercekat.
Kalung itu.
Kalung yang sejak kecil selalu kusimpan.
Kalung yang katanya ditemukan di tubuhku ketika aku diasuh oleh pasangan yang kemudian membesarkanku.
Adrian menunjukkan liontin lain dengan bentuk yang sama persis.
“Dua bagian.”
Katanya pelan.
“Hanya keluargamu yang memilikinya.”
Aku tidak mampu berkata apa-apa.
Air mataku mulai mengalir.
“Lalu… siapa aku sebenarnya?”
Pengawal tua itu menjawab dengan suara lirih.
“Kamu adalah putri kandung Arman Prasetyo.”
Nama itu sama sekali tidak kukenal.
Namun Adrian melanjutkan.
“Sepuluh tahun lalu, ayahmu adalah mitra bisnis ayahku.”
“Mereka membangun perusahaan pelayaran bersama.”
“Lalu?”
“Surya mengkhianati mereka.”
Ruangan kembali sunyi.
“Dalam satu malam, gudang dibakar, kapal diledakkan, dan ayahmu dibunuh.”
Aku menutup mulutku.
“Ibumu berhasil menyelamatkanmu.”
“Dia menitipkanmu kepada seorang nelayan sebelum akhirnya menghilang.”
“Ayahku mencari kalian selama bertahun-tahun.”
“Lalu kenapa aku menjadi pembantu di rumah ini?”
Karena Adrian menundukkan kepala.
“Itu keputusanku.”
Aku menatapnya dengan marah.
“Kamu sengaja?”
“Aku menemukanmu tiga tahun lalu.”
“Tapi Surya juga sedang mencarimu.”
“Kalau semua orang tahu identitasmu, kamu pasti sudah mati.”
“Jadi aku membawamu ke rumah ini sebagai pembantu.”
“Karena tidak ada yang akan mencurigai seorang gadis yang setiap hari membawa ember dan sapu.”
Dadaku terasa sesak.
Selama ini hidupku ternyata bukan kebetulan.
Aku marah.
Kecewa.
Namun di saat yang sama, aku juga sadar.
Kalau Adrian tidak melakukan itu, mungkin aku memang sudah lama terbunuh.
Tiba-tiba seluruh lampu bunker padam.
Alarm berbunyi nyaring.
“Generator utama hancur!”
Suara tembakan kembali terdengar.
Seorang pengawal masuk sambil berlumuran darah.
“Mereka berhasil masuk!”
Adrian langsung berdiri.
“Semua ikut denganku.”
Pertempuran di lorong bawah tanah berlangsung kacau.
Aku berlindung di belakang dinding sambil menahan napas.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat orang-orang benar-benar mempertaruhkan nyawa demi melindungi seseorang.
Di tengah kekacauan itu, Surya muncul di ujung lorong.
Dia tersenyum sambil mengarahkan pistol.
“Akhirnya bertemu juga.”
Dia tidak membidik Adrian.
Melainkan aku.
Namun sebelum peluru ditembakkan, Adrian melompat tanpa ragu.
Dor!
Tubuhnya terhuyung.
Darah mengalir dari bahunya.
“Adrian!”
Aku berteriak sekuat tenaga.
Dia tetap berdiri di depanku meski wajahnya mulai pucat.
“Aku bilang…”
Suara Adrian terdengar berat.
“…tak akan kubiarkan siapa pun menyentuhnya.”
Untuk pertama kalinya, aku melihat pria yang selama ini ditakuti banyak orang ternyata rela mengorbankan dirinya demi seseorang yang dianggap tak berarti.
Pengawal berhasil melumpuhkan Surya beberapa menit kemudian.
Polisi akhirnya tiba setelah baku tembak berakhir.
Berita tentang penyerangan itu memenuhi seluruh media nasional.
Namun yang tidak pernah diberitakan adalah alasan sebenarnya.
Seminggu kemudian, aku berdiri di depan makam kedua orang tua angkatku.
Adrian berdiri beberapa langkah di belakang.
“Aku minta maaf.”
Aku menoleh.
“Bukan hanya karena menyembunyikan semuanya.”
“Tapi juga karena selama ini aku berpura-pura tidak mengenalmu.”
Aku tersenyum tipis.
“Kenapa malam itu kamu akhirnya menghentikanku?”
Dia tertawa pelan.
“Karena aku melihatmu tersenyum.”
“Dan aku sadar, kalau malam itu kamu pergi bersama pria lain, mungkin aku akan menyesal seumur hidup.”
Aku menggeleng sambil tertawa kecil.
“Lucas sudah bertunangan.”
Adrian tampak terdiam.
“Apa?”
“Aku hanya diajak makan malam sebagai teman.”
Wajah pria yang selalu tampak dingin itu akhirnya memperlihatkan ekspresi malu untuk pertama kalinya.
“Aku bahkan hampir menghancurkan restoran tempat dia bekerja.”
Aku tidak bisa menahan tawa.
Beberapa bulan kemudian, identitasku sebagai pewaris keluarga Prasetyo resmi diumumkan.
Namun aku memilih tetap bekerja, melanjutkan pendidikan, dan membangun yayasan untuk anak-anak di kawasan pelabuhan tempat aku dibesarkan.
Aku tidak ingin melupakan dari mana aku berasal.
Adrian juga memutuskan mengubah arah bisnis keluarganya. Semua aktivitas gelap yang selama bertahun-tahun menjadi bayang-bayang keluarga Wijaya dihentikan. Tidak mudah. Banyak musuh bermunculan. Namun untuk pertama kalinya, nama Wijaya mulai dikenal bukan karena rasa takut, melainkan karena keberanian memperbaiki kesalahan.
Suatu sore, kami kembali berdiri di lorong belakang rumah tempat semuanya bermula.
Tempat Adrian pertama kali bertanya, “Mau ke mana dengan pakaian seperti itu?”
Kali ini aku mengenakan gaun putih yang sama.
Dia menghampiriku sambil tersenyum.
“Mau ke mana?”
Aku menatapnya, lalu menggenggam tangannya.
“Pulang.”
“Ke mana?”
“Ke tempat yang akhirnya terasa seperti rumah.”
Adrian tersenyum, dan untuk pertama kalinya sejak kami saling mengenal, tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi rasa takut, dan tidak ada lagi tembok yang memisahkan seorang pewaris dengan seorang gadis yang dulu dianggap tak terlihat. Kadang, seseorang yang paling sering kita abaikan justru adalah orang yang selama ini dicari oleh takdir untuk mengubah hidup kita selamanya.
