Karena Membutuhkan Uang untuk Pengobatan Ayahnya, Angela Villanueva Setuju Menjadi “Contract Girlfriend” Seorang Pewaris Kaya

Angela Villanueva masih mengingat dengan jelas suara pena yang menyentuh kertas lima tahun lalu. Saat itu ia menandatangani kontrak yang mengubah seluruh hidupnya. Demi menyelamatkan ayahnya yang membutuhkan operasi jantung dan demi mempertahankan kuliahnya, ia menerima tawaran menjadi kekasih kontrak Marco Villanueva, pewaris keluarga konglomerat yang disegani di Indonesia.

Syaratnya sederhana sekaligus kejam. Ia harus memainkan peran sebagai pasangan Marco di depan publik, menjaga semua rahasia keluarga Villanueva, dan tidak boleh jatuh cinta.

Angela mengira itu mudah.

Ia salah.

Marco adalah pria yang hampir tidak pernah tersenyum. Hidupnya dipenuhi rapat, angka, dan strategi. Semua orang menganggapnya dingin, tetapi Angela perlahan melihat sisi yang tidak diketahui siapa pun. Marco selalu diam-diam memastikan ayah Angela mendapat dokter terbaik. Ia pernah begadang semalaman hanya karena Angela demam setelah menghadiri acara amal di Bandung. Namun setiap kali Angela mencoba berterima kasih, Marco selalu memasang kembali wajah datarnya.

“Ini bagian dari kontrak,” katanya singkat.

Angela terus meyakinkan dirinya bahwa perhatian itu tidak memiliki arti.

Sampai wanita yang dijodohkan keluarga Villanueva akhirnya pulang dari luar negeri.

Namanya Clarissa.

Cantik, anggun, berasal dari keluarga konglomerat lain, dan dianggap pasangan sempurna bagi Marco.

Hari Clarissa kembali, Angela melihat sendiri bagaimana seluruh keluarga menyambutnya seperti calon nyonya besar keluarga Villanueva.

Tidak seorang pun memandang Angela.

Saat itulah ia sadar bahwa dirinya memang hanya pemeran pengganti.

Malam itu ia meninggalkan mansion tanpa pamit.

Ia hanya meninggalkan sepucuk surat.

“Terima kasih karena telah menyelamatkan hidup ayahku. Mulai hari ini kontrak kita berakhir. Semoga hidupmu berjalan sesuai rencana.”

Angela tidak pernah melihat Marco lagi.

Lima tahun berlalu.

Dengan uang yang diperolehnya, Angela menyelesaikan kuliah, mendirikan perusahaan teknologi finansial kecil, lalu mengembangkannya menjadi perusahaan investasi digital yang berkembang sangat cepat. Keberhasilannya bukan keberuntungan. Ia bekerja tanpa mengenal hari libur, belajar dari setiap kegagalan, dan membangun reputasi sebagai pengusaha yang jujur.

Sementara itu, Marco tetap menjadi legenda di dunia bisnis.

Ketika keduanya bertemu kembali dalam sebuah konferensi investasi di Jakarta, seluruh ruangan seperti berhenti bergerak.

Marco menatap Angela tanpa berkedip.

“Sudah lama,” ucap Angela tenang.

Marco hanya mengangguk.

“Aku mencarimu.”

Angela tersenyum tipis.

“Tapi kau tidak pernah menemukanku.”

Tatapan Marco berubah sendu.

“Aku tidak pernah berhenti.”

Percakapan mereka terputus oleh wartawan yang mulai mengerumuni mereka.

Sejak hari itu, perusahaan Angela dan Villanueva Group menjadi pesaing utama dalam beberapa proyek bernilai triliunan rupiah.

Yang membuat publik bingung, Marco selalu menarik diri setiap kali keputusan perusahaan berpotensi menghancurkan Angela.

Direksi mulai mempertanyakan kepemimpinannya.

“Kenapa kita selalu mengalah?”

Marco menjawab singkat.

“Karena ada hal yang lebih penting daripada menang.”

Tidak ada yang mengerti maksudnya.

Hingga suatu malam Angela menerima pesan anonim.

Kalau ingin tahu alasan Marco tidak menikah selama lima tahun terakhir, datanglah ke ruang konferensi lantai atas pukul delapan malam.

Angela datang karena rasa penasarannya lebih besar daripada kewaspadaannya.

Ruangan itu kosong.

Hanya sebuah proyektor yang menyala.

Video lama mulai diputar.

Angela melihat dirinya sendiri berjalan meninggalkan mansion.

Lalu layar berpindah ke ruang rapat keluarga Villanueva.

Marco berdiri di depan seluruh anggota keluarga.

“Aku membatalkan pernikahan dengan Clarissa.”

Ayahnya membentak.

“Kau sadar apa akibatnya?”

Marco mengangguk.

“Aku sadar.”

“Kau akan kehilangan hak waris.”

“Aku tahu.”

“Kau akan kehilangan perusahaan.”

“Kalau memang harus begitu.”

Suasana menjadi hening.

Kemudian Marco mengeluarkan sebuah surat.

“Aku memilih Angela.”

Ia menandatangani pelepasan seluruh hak warisnya.

“Aku lebih rela kehilangan semua ini daripada kehilangan perempuan yang kucintai.”

Angela menutup mulutnya.

Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

Selama lima tahun ia percaya Marco membiarkannya pergi.

Ternyata Marco telah kehilangan segalanya demi dirinya.

Saat itulah terdengar suara langkah kaki.

“Angela.”

Marco berdiri di ambang pintu.

Matanya merah.

Di tangannya ada kotak cincin yang terlihat usang.

“Aku membelinya enam tahun lalu.”

Ia berlutut.

“Aku tahu mungkin semuanya sudah terlambat. Tapi kalau masih ada sedikit ruang di hatimu…”

Belum sempat kalimatnya selesai, pintu terbuka keras.

Direktur keuangan Villanueva Group berlari masuk.

“Pak Marco, keadaan darurat.”

Seluruh anggota dewan ikut masuk.

“Perusahaan kita sedang diselidiki atas dugaan manipulasi laporan keuangan.”

“Harga saham turun dua puluh persen.”

“Seseorang mengajukan gugatan.”

Angela memandangi map yang dibawa wanita itu.

Di halaman pertama tertulis jelas.

Penggugat: Angela Villanueva.

Semua orang menoleh kepadanya.

Clarissa yang baru masuk langsung berteriak.

“Aku sudah bilang perempuan ini hanya ingin menghancurkan kita.”

Angela menggeleng.

“Itu bukan aku.”

“Namanya jelas tertulis.”

“Itu memang namaku. Tapi aku tidak pernah mengajukan gugatan.”

Ruangan dipenuhi keributan.

Marco justru berdiri dan berkata lantang, “Aku percaya Angela.”

Keheningan langsung menyelimuti ruangan.

Beberapa anggota dewan saling bertukar pandang.

Ayah Marco mencibir.

“Percaya? Setelah semua ini?”

Marco menjawab tegas.

“Aku lebih percaya padanya daripada siapa pun di ruangan ini.”

Ucapan itu membuat Angela ikut berpikir.

Kalau bukan dirinya, siapa yang memakai identitas perusahaannya?

Ia meminta salinan seluruh dokumen.

Semalaman Angela bersama tim hukumnya meneliti setiap halaman.

Ada sesuatu yang janggal.

Tanda tangan digital perusahaan memang asli.

Namun sertifikat keamanannya dibuat menggunakan server internal Villanueva Group.

Artinya pelakunya berada di dalam perusahaan Marco sendiri.

Keesokan paginya Angela menemui Marco.

“Ada orang yang sengaja menjebak kita berdua.”

Marco langsung memahami maksudnya.

Mereka memutuskan bekerja sama secara diam-diam.

Selama beberapa minggu mereka menelusuri transaksi lama.

Semakin dalam mereka menggali, semakin mengejutkan hasilnya.

Manipulasi keuangan ternyata sudah berlangsung selama bertahun-tahun.

Pelakunya bukan Marco.

Bukan pula Angela.

Semua jejak mengarah kepada Victor, paman Marco yang selama ini dikenal sebagai sosok paling setia kepada keluarga.

Victor sengaja menggelembungkan nilai aset perusahaan, memindahkan dana ke luar negeri, lalu menyiapkan seluruh bukti agar kesalahan jatuh kepada Marco. Ia bahkan menggunakan identitas perusahaan Angela agar keduanya saling menghancurkan.

“Mereka tidak akan sempat mencari pelaku sebenarnya kalau sibuk saling menyalahkan,” kata Angela.

Marco mengangguk.

“Itu memang tujuan Victor.”

Namun Victor bukan lawan yang mudah.

Ia memiliki banyak pendukung di dalam perusahaan.

Saat rapat luar biasa pemegang saham dimulai, Victor lebih dulu berbicara.

“Marco telah gagal memimpin perusahaan. Bukti penipuan sudah jelas. Saya mengusulkan agar dia dicopot.”

Hampir semua tangan terangkat mendukung usul itu.

Marco berdiri tanpa ekspresi.

“Lanjutkan presentasinya.”

Victor tersenyum puas.

Lampu ruangan tiba-tiba diredupkan.

Layar besar menyala.

Semua transaksi rahasia Victor muncul satu per satu.

Rekaman CCTV bank.

Percakapan telepon.

Transfer ke rekening luar negeri.

Dokumen perusahaan cangkang.

Dan yang paling menghancurkan adalah rekaman suara Victor sendiri.

“Kalau Marco jatuh, perusahaan ini akhirnya menjadi milikku.”

Wajah Victor langsung pucat.

“Itu rekayasa.”

Angela bangkit dari kursinya.

“Bukti digitalnya sudah diverifikasi oleh tiga auditor independen.”

Beberapa menit kemudian penyidik memasuki ruang rapat.

Victor berusaha kabur.

Namun ia langsung ditangkap di depan seluruh pemegang saham.

Ruangan menjadi sunyi.

Ayah Marco menatap putranya dengan wajah penuh penyesalan.

“Ayah salah menilaimu.”

Marco hanya tersenyum tipis.

“Ayah tidak perlu meminta maaf. Yang penting perusahaan ini bersih kembali.”

Setelah badai itu berlalu, harga saham Villanueva Group perlahan pulih.

Kepercayaan investor kembali.

Beberapa minggu kemudian Marco mengundang Angela ke taman kecil di belakang mansion yang dulu terasa begitu dingin.

Kini taman itu dipenuhi bunga yang belum pernah ada sebelumnya.

“Aku menanam semuanya setelah kau pergi,” kata Marco.

Angela memandang bunga-bunga itu.

“Kenapa?”

“Aku berharap suatu hari kau kembali.”

Marco mengeluarkan kotak cincin yang sama.

Kali ini tidak ada keluarga.

Tidak ada wartawan.

Tidak ada rapat.

Hanya dua orang yang sama-sama pernah terluka.

“Aku tidak punya kontrak lagi.”

“Aku juga tidak punya syarat.”

“Aku hanya ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu.”

Angela tersenyum sambil menahan air mata.

“Dulu kita dipertemukan karena uang.”

“Kemudian dipisahkan oleh kesalahpahaman.”

“Dan sekarang…”

Ia mengulurkan tangannya.

“…kita memilih satu sama lain karena cinta.”

Marco memakaikan cincin itu ke jari Angela.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, pria yang dikenal paling dingin di dunia bisnis Indonesia tersenyum tanpa beban.

Beberapa bulan kemudian, dalam sebuah konferensi pers yang dihadiri para investor dan media, Marco berdiri di samping Angela.

Seorang wartawan bertanya, “Apa rahasia keberhasilan kalian melewati semua skandal ini?”

Marco menoleh kepada Angela sebelum menjawab.

“Dunia bisnis dibangun dengan angka.”

“Namun hidup tidak pernah ditentukan oleh angka.”

“Yang menyelamatkan kami adalah keberanian untuk percaya, bahkan ketika seluruh dunia memilih meragukan.”

Angela menggenggam tangan Marco di depan semua orang.

Kali ini bukan sebagai kekasih kontrak.

Bukan sebagai pengganti.

Melainkan sebagai perempuan yang sejak awal memang menjadi tujuan akhir perjalanan hidupnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang