Dia adalah Bapak Mahendra, pemilik tunggal dari Delta Group—perusahaan raksasa tempat ayahku bekerja selama tiga puluh tahun, sekaligus investor terbesar yang mendanai seluruh bisnis keluarga Citra, kekasih baruku.
Langkah kami bertiga mendadak membeku di karpet merah. Keangkuhan yang tadi malam kami susun rapi langsung runtuh tak bersisa.

“M-Pak Mahendra…?” bisik Ayah dengan suara bergetar hebat. Wajahnya yang tadinya membusungkan dada kini mendadak pucat pasi, seolah seluruh darahnya tersedot keluar.
Ibuku yang tadi berjalan dengan dagu terangkat langsung mencengkeram lenganku. Napasnya memburu, matanya terbelalak menatap deretan karangan bunga raksasa di sudut aula yang bertuliskan ucapan selamat dari para menteri dan pejabat tinggi negara. Begitu menyadari siapa sosok di atas pelaminan itu, lutut Ibuku lemas. Tanpa sempat bersuara lagi, pandangannya menggelap dan dia langsung pingsan di pelukanku.
Suasana di pintu masuk seketika riuh. Beberapa petugas keamanan berpakaian batik tegas segera menghampiri kami. Namun, sebelum mereka bertindak, sebuah suara yang sangat kukenal terdengar dari arah pelaminan.
“Biarkan mereka masuk.”
Itu suara Rina. Dia berdiri di samping kursi roda Pak Mahendra, terlihat sangat anggun dengan kebaya putih modern yang bertabur payet berkilau. Tidak ada lagi kesan “kampungan” atau “buruh pabrik” yang dulu selalu kuhina. Rina yang sekarang memancarkan aura keibuan, ketenangan, dan kelas yang jauh di atas kami.
Pak Mahendra menoleh ke arah Rina, menggenggam lembut tangan mantan istriku itu, lalu mengalihkan pandangannya yang setajam elang ke arah kami. Tatapan itu membuat Ayahku langsung menjatuhkan dirinya, bersujud di lantai gedung yang dingin, menghiraukan setelan jas mahalnya yang kini kotor.
“Pak Mahendra… mohon maafkan kami… mohon ampuni kelancangan keluarga saya…” Ayah meratap dengan air mata yang mulai mengalir deras. Ayah tahu persis, satu jentikan jari dari pria di kursi roda itu bisa menghancurkan sisa hidup kami dalam sekejap. Pensiun Ayah, karierku, bahkan investasi di perusahaan keluarga Citra bisa lenyap hari ini juga.
Pak Mahendra memberikan isyarat agar Ayah berdiri, namun suaranya terdengar sangat dingin menggema di mikrofon yang dipegangnya:
“Pak Surya, Anda adalah salah satu karyawan senior yang saya hormati di perusahaan. Tapi saya tidak menyangka, pria yang meremehkan dan menyia-nyiakan wanita suci seperti Rina adalah putra Anda sendiri.”
Pria paruh baya di kursi roda itu tersenyum tipis, namun matanya sama sekali tidak tersenyum. “Dua tahun lalu, saat kaki saya lumpuh akibat kecelakaan dan semua orang meninggalkan saya karena mengira saya tidak punya masa depan, Rinatalah yang dengan tulus merawat saya di yayasan sosial tanpa tahu siapa saya sebenarnya. Dia tidak melihat harta saya, dia hanya melihat jiwa saya.”
Pak Mahendra mempererat genggaman tangannya pada Rina. “Hari ini, kalian datang dengan mobil mewah hanya untuk memamerkan kesombongan? Ketahuilah, mobil yang kalian kendarai hari ini, bahkan gedung tempat kalian menginjakkan kaki saat ini, semuanya berada di bawah nama istri saya, Rina.”
Mendengar hal itu, duniaku serasa berputar. Rasa malu, menyesal, dan bodoh bercampur menjadi satu di dadaku. Aku melihat Rina, wanita yang dulu menyambutku dengan senyuman hangat setiap kali aku pulang kerja dengan gaji pas-pasan, wanita yang tangannya kasar karena ikut membantuku mencari nafkah. Kini, dia telah menjadi ratu di tempat yang paling tinggi.
Rina menatapku. Tidak ada kilat kemarahan atau dendam di matanya. Hanya ada rasa iba yang mendalam.
“Rian,” panggil Rina pelan. “Terima kasih sudah datang. Pulanglah, bawa ibumu ke rumah sakit. Aku sudah memaafkan semua masa lalu kita. Tapi tolong, hargai perempuan yang bersamamu sekarang, jangan ulangi kesalahan yang sama.”
Kata-kata Rina yang lembut itu justru terasa lebih menyakitkan daripada tamparan di wajahku.
Dengan sisa tenaga yang ada, aku memapah Ibuku yang belum sadarkan diri, sementara Ayah berjalan di belakangku dengan tubuh yang gemetar dan kepala tertunduk dalam-dalam. Kami keluar dari gedung megah itu diiringi pandangan mata ratusan tamu undangan yang berbisik-bisik mencemooh.
Mobil mewah milik Citra yang kami banggakan di parkiran tiba-tiba terasa seperti sebuah kotak besi yang menyesakkan. Saat aku menyalakan mesin, sebuah pesan singkat masuk ke ponselku dari nomor Citra:
“Rian, maaf kita putus. Ayahku baru saja menelepon, Pak Mahendra menarik seluruh investasi dari perusahaan kami karena tahu aku berhubungan denganmu. Jangan hubungi aku lagi.”
Aku menyandarkan kepalaku di setir mobil, meratapi nasibku yang hancur dalam sekejap. Aku menyadari satu hal pahit: demi mengejar berlian palsu yang berkilau di luar, aku telah membuang mutiara asli yang paling berharga dalam hidupku. Dan kini, penyesalan itu akan menemani sisa hidupku selamanya.
