TENGAH MALAM TANPA NOMOR – SIAPA YANG MENELEPON KAMI?

Lampu kamar padam, menyisakan kegelapan pekat yang mencekik. Detik itu juga, dering di ponsel Mara mendadak berhenti. Keheningan yang tercipta jauh lebih mengerikan daripada suara dering tadi.

Aku menempelkan ponsel ke telingaku dengan tangan yang gemetar hebat.

Dari balik speaker, suara napas pelan itu berubah menjadi deru napas yang berat dan serak. Lalu, terdengar suara statis, seperti sinyal radio yang terganggu, disusul oleh sebuah suara yang amat sangat kukenali. Suara yang seharusnya sudah tertimbun tanah di Batangas.

“…Tol…ong…”

Suara Joel.

Itu mutlak suaranya. Nada bicaranya yang serak, cara dia memenggal kata—itu Joel. Tapi ada yang salah. Suaranya terdengar sangat jauh, namun di saat yang sama terasa begitu dekat, seolah-olah dia sedang berbisik langsung di lubang telingaku, bukan dari dalam telepon.

“Joel? Kau… Joel?” suaraku tercekat di tenggorokan.

Mara yang berada di sampingku langsung membeku. Mendengar nama itu disebut, cengkeramannya di lenganku semakin erat hingga terasa menyakitkan. Dia mulai terisak tanpa suara.

“Dingin… di sini sangat dingin… Kenapa kalian meninggalkanku?” Bisikan Joel terdengar meratap, seolah menuntut pertanggungjawaban. “Kalian tahu apa yang terjadi malam itu… kalian tahu…”

“Joel, maafkan kami… kami tidak tahu!” teriakku, mulai kehilangan kendali.

Klik.

Sambungan terputus. Layar ponselku langsung mati total, kembali hitam dan dingin.

Bersamaan dengan itu, lampu kamar kembali menyala secara tiba-tiba, membuat mata kami perih. Aku dan Mara terengah-engah seperti orang yang baru saja hampir tenggelam.

“Apa yang dia katakan?!” tanya Mara histeris, air mata mengalir deras di pipinya. “Apa yang Joel katakan, Rey?!”

Aku tidak bisa menjawab. Pikiranku berputar hebat ke malam kematian Joel. Malam yang selama ini berusaha kami kubur dalam-dalam dari ingatan kami.

Malam itu, sebelum Joel ditemukan meninggal karena serangan jantung di apartemennya tepat pukul 12:00 malam, dia sempat mengirimkan pesan singkat ke ponselku dan Mara. Sebuah pesan panik yang meminta kami datang karena dia merasa ada yang mengawasinya. Namun, karena kami sedang bertengkar hebat malam itu, kami mengabaikan pesan Joel. Kami mematikan ponsel kami. Kami membiarkannya mati sendirian.

“Dia tahu, Mara…” bisikku dengan tatapan kosong. “Dia tahu kita mematikan ponsel kita malam itu.”

Keesokan harinya, suasana rumah terasa sangat berbeda. Bau tanah basah dan kapur barus samar-samar tercium di dalam kamar, tidak peduli seberapa banyak parfum ruangan yang disemprotkan Mara. Dan yang lebih mengerikan, barisan semut kecil yang kami lihat kemarin kini telah memenuhi sudut tempat tidur, membentuk sebuah pola melingkar yang aneh.

Kami memutuskan untuk tidak tinggal di rumah malam itu. Kami berkemas dan berniat menginap di hotel di daerah Manila, berharap gangguan ini hanya tertuju pada rumah kami di Antipolo.

Pukul 23:00, kami sudah berada di dalam kamar hotel di lantai belasan. Kami sengaja meninggalkan kedua ponsel kami di dalam laci mobil di basemen, sengaja tidak membawanya ke atas. Kami pikir kami aman.

Kami duduk di tepi ranjang terjaga, menatap jam digital di atas meja nakas hotel.

11:58.

11:59.

12:00.

Lampu kamar hotel tidak padam. Tidak ada dering telepon. Aku menghela napas lega, merangkul pundak Mara yang masih gemetar. “Lihat? Semuanya sudah berakhir. Kita aman.”

Kringgg!!!

Suara dering nyaring memotong kalimatku. Jantungku rasanya mau copot.

Itu bukan suara ponsel kami. Suara itu berasal dari telepon kabel milik hotel yang terletak di atas meja nakas.

Layar kecil di telepon hotel itu menyala, menampilkan teks yang membuat seluruh darah di tubuhku rasanya membeku:

TANPA NOMOR

Aku dan Mara terundur hingga ke sudut ruangan, menatap telepon yang terus berdering itu dengan horor yang tak terlukiskan. Telepon itu terus berdering tanpa henti, memekakkan telinga di tengah malam yang sunyi.

Lalu, perlahan-lahan, dari bawah celah pintu kamar hotel yang tertutup rapat, sebaris semut kecil mulai merayap masuk, berjalan lurus menuju ke arah tempat tidur kami.

Telepon masih berdering, dan kali ini, kami tahu… ke mana pun kami pergi, ponsel mati atau hidup, Joel akan selalu menemukan cara untuk membuat kami mengangkat teleponnya tepat tengah malam.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang