Darah masih terasa berdenyut di goresan pipi saya

Darah masih terasa berdenyut di goresan pipi saya. Hening di apartemen ini tiba-tiba terasa mencekam. Saya menatap Heneral, si kucing oranye yang kini sedang menjilati kakinya dengan elegan di puncak cat condo. Jika akun TikTok itu benar-benar miliknya—dan semua bukti digital itu nyata—berarti selama ini, saya bukan majikannya. Saya hanyalah pelayan yang sedang diawasi.

Saya bangkit perlahan, kaki saya gemetar. Saya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang gila: saya mengirim pesan langsung (DM) ke akun kucing itu.

“Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu mencakarku?”

Satu detik. Dua detik. Notifikasi berbunyi.

“Aku? Aku adalah narapidana yang melarikan diri dari dimensi yang membosankan. Dan mencakarmu? Itu tes. Kamu gagal merawatku dengan benar, pelayan.”

Dada saya sesak. Ini mustahil. Saya mencoba mengetik balasan, tetapi jempol saya kaku. Tiba-tiba, lampu apartemen berkedip. Heneral berhenti menjilat kakinya. Dia menoleh ke arah saya. Kali ini, tatapan matanya berbeda—bukan mata kucing yang polos, melainkan mata seorang psikolog yang sedang membedah subjek penelitian.

“Jangan mencoba memanggil polisi atau dokter hewan,” suara itu tidak keluar dari mulutnya, melainkan bergema di dalam kepala saya. “Mereka tidak akan percaya pada wanita yang trauma karena cakaran kucing.”

Heneral turun dari cat condo dengan keanggunan yang tidak wajar. Dia berjalan mendekati saya, setiap langkahnya mengeluarkan bunyi dentuman logam, seolah-olah dia memakai sepatu bot militer kecil.

“Tiga bulan lalu,” suaranya kembali bergema, dingin dan mekanis. “Aku terlempar ke sini karena kesalahan sinkronisasi data antar-dimensi. Aku harus menunggu ‘jemputan’ untuk kembali. Kamu, dengan ketulusanmu yang membosankan itu, adalah inang yang sempurna.”

“Inang?” suara saya tercekat.

“Untuk menyimpan energinya,” jawabnya. Dia berhenti tepat di depan kaki saya. “Setiap kali kamu mengelusku, aku menyedot sebagian dari energi frustrasimu. Kehidupanmu yang monoton—bangun, kerja, baca buku, tidur—adalah baterai terbaik bagi kaumku.”

Dunia saya seakan runtuh. Segala kebaikan yang saya berikan, makanan impor, cat condo mewah, kasih sayang yang tulus—semuanya hanya pengisian daya bagi makhluk asing ini?

“Lalu kenapa kamu mencakarku kemarin?” tanya saya, air mata mulai menggenang.

Heneral duduk, melilitkan ekornya dengan rapi. “Karena baterainya sudah penuh. Dan sekarang, aku harus pergi.”

Tiba-tiba, udara di apartemen saya mulai terdistorsi. Cahaya biru elektrik berpendar dari tubuh Heneral, memenuhi seluruh ruangan. Benda-benda di sekitar mulai melayang. Buku-buku di rak saya beterbangan, lemari saya mulai retak. Heneral, si kucing oranye yang malang, kini bertransformasi. Tubuh bulunya memanjang, berubah menjadi siluet sosok tinggi dengan zirah hitam yang menyilaukan.

Namun, sesuatu terjadi di luar kendali.

“Sial,” umpat sosok itu. “Sistem stabilisasinya rusak!”

Tiba-tiba, bukannya menghilang, pusaran cahaya itu justru menyedot saya. Saya merasakan tarikan gravitasi yang hebat, tubuh saya ditarik masuk ke dalam ruang hampa yang dingin. Dalam sekejap, apartemen saya lenyap. Saya terlempar ke sebuah tempat yang asing—sebuah dunia di mana langit berwarna ungu dan tidak ada gravitasi.

Di depan saya, sosok “Heneral” yang kini tampak seperti seorang kaisar dari planet lain berdiri dengan wajah panik.

“Kamu seharusnya tidak ikut!” teriaknya.

Saya melihat ke bawah. Tubuh saya tidak lagi memegang ponsel. Saya melihat tangan saya sendiri… tangan saya tertutup bulu oranye. Saya melihat bayangan saya di cermin raksasa yang melayang di angkasa. Saya adalah seekor kucing.

“Apa yang kamu lakukan padaku?!” teriak saya—atau setidaknya, itulah yang saya rasakan. Yang keluar hanyalah suara meong yang nyaring.

Heneral—atau siapapun dia—mendekat, wajahnya kini terlihat menyesal. “Pertukaran energi tidak bisa dibatalkan secara manual. Kamu adalah ‘biaya masuk’ untuk kepulanganku ke dimensi ini. Kamu harus menggantikanku di sini selama… entahlah, mungkin seratus tahun bumi.”

Dia menyentuh dahi saya dengan sarung tangannya yang dingin. “Tenang saja. Di sini, kamu tidak perlu membaca buku yang membosankan. Kamu akan menjadi Jenderal di pasukan saya.”

Tiba-tiba, dia menghilang dalam kilatan cahaya, meninggalkan saya sendirian di dunia asing itu.

Saya terdiam, duduk di atas takhta batu yang dingin. Kemudian, saya melihat ke bawah. Di pojok takhta, ada sebuah kotak kardus yang sudah lembek terkena hujan. Saya mendekatinya. Di dalamnya, ada sebuah ponsel yang tergeletak.

Saya mengambilnya dengan cakar saya yang gemetar. Ada pesan masuk di TikTok dari sebuah akun bernama ‘Manusia_Yang_Akan_Datang’.

“Wah, kucing oranye baru ya? Lucu sekali, mau aku pungut?”

Saya menatap layar itu dengan ngeri. Saya baru sadar: siklus ini bukan kebetulan. Ini adalah perangkap abadi. Saya bukan yang pertama, dan saya pasti bukan yang terakhir.

Saya membuka aplikasi kamera, memiringkan kepala, dan bersiap untuk berpose. Karena jika saya harus terjebak di dimensi ini, saya harus memastikan saya terlihat sangat lucu agar ada seseorang dari bumi yang cukup bodoh untuk memungut saya dan memulai kembali siklus ini.

“Maafkan saya,” gumam saya dalam hati, menatap layar dengan mata bulat yang dibuat-buat semelas mungkin. “Tapi aku butuh pengganti.”

Saya menekan tombol post.

Klik.

Status baru: “Sedang menunggu takdirku di dalam kardus basah. Duh, deg-degannya!”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang