Ketegangan di ruang tamu keluarga Roxas merayap seperti kabut tebal yang mencekik. Kata-kata Chloe—yang tajam, dingin, dan penuh racun—seperti jarum yang menusuk tepat di ulu hati saya. Tubuh saya gemetar hebat, bersembunyi semakin dalam di balik punggung Papa. Bagi saya, kebisingan ini lebih menakutkan daripada badai.

“Cukup, Chloe!” Ethan, kakak laki-laki saya, tiba-tiba memotong. Wajahnya yang biasanya penuh amarah terhadap saya, kini tampak bimbang. Dia menatap saya yang gemetar, lalu menatap Chloe. “Pearl benar-benar sakit, aku sudah melihat laporan medisnya dari psikiater terbaik di kota.”
Chloe tertawa, suara tawa yang sangat manis namun terasa sangat hambar. “Kak Ethan, kamu terlalu naif. Dia hanya ingin posisinya aman di keluarga ini. Buktinya? Dia bahkan tidak mau menatap kita langsung.”
Saya ingin berteriak, ‘Aku tidak menginginkan posisi apa pun!’, tapi tenggorokan saya seperti tersumbat oleh kapas. Saya tidak bisa bernapas. Dengan langkah gontai, saya berbalik dan lari menuju kamar saya di lantai dua, meninggalkan perdebatan itu di bawah.
Namun, sesuatu yang ganjil terjadi. Saat saya mencapai pintu kamar, saya mendengar suara denting logam di koridor yang sunyi. Paman Nestor, kepala pelayan, sedang berdiri di sana dengan nampan teh. Matanya tidak lagi menunduk hormat seperti biasanya. Ia menatap saya dengan tatapan yang sulit diartikan—seolah-olah dia sedang mengamati seekor tikus yang masuk ke dalam perangkap yang tepat.
“Nona Pearl,” bisik Nestor dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti desisan. “Tuan muda Ethan baru saja memesan teh mawar untuk Anda. Katanya, itu bisa menenangkan saraf.”
Saya mengangguk kaku, mengambil teh itu dengan tangan yang gemetar. Saat saya masuk ke kamar dan mengunci pintu, saya tidak langsung meminumnya. Saya berjalan ke cermin dan menatap diri saya sendiri. Saya melihat seorang gadis yang hancur, namun di balik bayangan cermin itu, saya melihat sesuatu yang lain. Sebuah skema yang jauh lebih besar dari sekadar persaingan antar saudara.
Tiga hari kemudian, hari pernikahan yang diatur itu tiba.
Saya masih di dalam kamar, mengenakan gaun putih yang sederhana namun elegan. Sesuai keinginan saya, saya tidak hadir di aula besar. Calon suami saya, seorang pria misterius dari keluarga kaya yang setara, telah sepakat untuk melakukan pemberkatan di ruang pribadi di lantai dua mansion.
Suasana mansion sangat riuh. Tamu-tamu undangan dari kalangan atas memenuhi aula utama. Chloe menjadi pusat perhatian, dia tampak sangat menikmati perhatian orang-orang, seolah-olah dia lah yang menikah hari ini.
Tiba-tiba, pintu kamar saya diketuk. Itu adalah Ethan. Wajahnya pucat, keringat dingin membasahi dahinya.
“Pearl, kita harus bicara,” bisiknya. Dia tidak memedulikan pernikahan itu. Dia menarik saya ke sudut ruangan. “Paman Nestor… dia menghilang. Dan Chloe… dia tidak ada di aula.”
Jantung saya berdegup kencang. “Apa maksudmu?”
“Aku menemukan ini di ruang kerja Papa.” Ethan menyerahkan sebuah buku harian tua. Itu milik ibu kandung saya—wanita yang diduga meninggal dalam kecelakaan saat saya masih bayi.
Saya membuka lembaran itu. Tulisan tangan yang bergetar mengungkapkan sebuah kebenaran yang mengerikan: Keluarga Roxas tidak menemukan saya secara kebetulan. Mereka mengadopsi saya untuk menutupi jejak masa lalu mereka. Dan yang lebih mengejutkan, Chloe bukanlah putri angkat biasa. Dia adalah putri dari mantan mitra bisnis Papa yang mereka ‘singkirkan’ karena pengkhianatan, namun mereka memutuskan untuk membesarkannya sebagai alat untuk mengontrol saya.
“Mereka sengaja membuatmu terlihat tidak stabil, Pearl,” suara Ethan bergetar. “Agar ketika waktunya tiba, mereka bisa menyatakanmu tidak kompeten secara mental dan mengambil alih seluruh warisan ibu kandungmu yang tersimpan dalam sistem perwalian.”
Pintu kamar terbuka dengan bantingan keras. Chloe berdiri di sana, memegang pistol kecil. Tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi kepura-puraan. Wajahnya dingin seperti es.
“Sayang sekali, Kak Ethan. Kamu seharusnya tetap menjadi pion yang bodoh,” kata Chloe.
“Chloe? Apa yang kamu lakukan?” teriak Ethan.
“Aku lelah menjadi pelayan di rumah orang yang membunuh ayahku,” jawabnya sinis. “Pearl, kau pikir kecemasan sosialmu adalah penyakit bawaan? Tidak. Itu adalah efek dari obat-obatan yang ditaruh Nestor di dalam tehmu selama bertahun-tahun. Obat yang mematikan saraf keberanianmu.”
Dunia saya seolah terbalik. Selama ini, saya mengira saya cacat. Ternyata, saya diracuni.
Chloe melangkah maju, namun tiba-tiba dia terhuyung. Dia menatap tangannya yang mulai membiru. “Apa… apa yang terjadi?”
Saya menatapnya, lalu menatap nampan teh yang saya singkirkan tiga hari lalu. Saya tidak meminumnya. Saya menuangkannya ke dalam tanaman hias di sudut kamar. Dan hari ini, saya telah menukar teh tersebut dengan sesuatu yang saya temukan di lemari obat Papa—sebuah penawar yang saya pelajari dari buku-buku medis yang saya baca secara diam-diam selama masa ‘isolasi’ saya.
“Aku memang memiliki kecemasan sosial, Chloe,” bisik saya, suara saya kini tidak lagi bergetar. Saya melangkah maju, menatap matanya yang mulai kabur. “Tapi kecemasan itu membuatku sangat berhati-hati. Aku sangat waspada terhadap setiap perubahan kecil di sekitarku. Aku mungkin takut menghadapi orang, tapi aku tidak pernah takut menghadapi kematian.”
Tiba-tiba, suara sirine polisi terdengar membahana di luar mansion. Ethan menatap saya dengan terperangah.
“Kau menghubungi polisi?”
Saya mengangguk pelan. “Aku mengirimkan pesan ke pengacara ibu kandungku sejak seminggu yang lalu. Mereka sudah mengawasi tempat ini.”
Chloe ambruk ke lantai, nafasnya terengah-engah. Namun, sebelum dia benar-benar tak sadarkan diri, dia tersenyum—sebuah senyum yang sangat menakutkan.
“Kau pikir kau menang, Pearl? Lihatlah ke bawah jendela itu.”
Saya menatap ke bawah melalui jendela kamar. Halaman depan mansion tidak hanya dipenuhi oleh polisi. Di sana, di antara kerumunan, saya melihat sesosok pria—pengantin pria yang seharusnya saya nikahi hari ini. Dia sedang berdiri bersama Papa, tersenyum ke arah jendela kamar saya.
Pria itu bukan sekadar rekan bisnis. Dia adalah putra dari keluarga yang dulu dikhianati oleh keluarga Roxas dan keluarga ibu kandung saya. Dia datang bukan untuk menyelamatkan saya, tapi untuk menghancurkan kami semua.
“Ternyata,” bisik saya saat menyadari bahwa pernikahan ini adalah jebakan bagi seluruh keluarga Roxas, termasuk saya, “tidak ada satu orang pun di rumah ini yang benar-benar bersih.”
Polisi mendobrak pintu kamar. Saya berdiri di tengah ruangan, dikelilingi oleh reruntuhan hidup yang saya pikir adalah keluarga saya. Kecemasan saya perlahan memudar, digantikan oleh kesadaran yang sangat dingin: Untuk bertahan hidup di dunia monster, saya tidak perlu menjadi normal. Saya hanya perlu menjadi orang terakhir yang tersisa di ruangan ini.
Dan saat borgol dipasangkan ke tangan Papa, saya tahu, ini bukanlah akhir. Ini adalah awal dari permainan di mana saya tidak lagi harus bersembunyi. Saya adalah satu-satunya saksi kunci yang memegang rahasia terbesar keluarga ini.
Saya menatap ke kamera wartawan yang mulai mengerumuni mansion, menarik nafas panjang, dan untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya tersenyum ke arah lensa. Bukan senyum ketakutan, tapi senyum seorang pemain catur yang baru saja memenangkan pion terakhirnya.
Ternyata, musuh yang paling berbahaya bukanlah orang yang berteriak menuduh, melainkan orang yang diam-diam mengamati dari balik ketakutan yang ia ciptakan sendiri.
