Aku menggenggam lengan Christian erat ketika kami melangkah memasuki kantor pemasaran. Di sebelahku, Bu Lucing terus tersenyum sambil sesekali melirik tas yang kugendong. Dari luar, kami tampak seperti keluarga kecil yang sedang merayakan mimpi besar mereka. Tak seorang pun di ruangan itu tahu bahwa, tepat di balik senyumku, ada kemarahan yang telah membeku selama berhari-hari.
Petugas pemasaran menyambut kami dengan ramah dan mempersilakan duduk. Christian tampak sangat bersemangat. Ia berkali-kali membetulkan kerah kemejanya, sementara Bu Lucing sibuk membanggakan anaknya kepada siapa pun yang mau mendengar.

“Anak saya ini pekerja keras,” katanya kepada petugas. “Rumah ini akhirnya jadi kenyataan berkat dia dan calon istrinya.”
Aku hanya tersenyum kecil.
Petugas kemudian mengeluarkan berkas terakhir dan berkata, “Baik, setelah pembayaran uang muka dilunasi hari ini, proses administrasi akan selesai. Silakan lakukan transfer.”
Christian menoleh kepadaku dengan tatapan penuh harap.
“Sayang, kartunya?”
Aku membuka tasku dengan tenang, mengeluarkan kartu ATM, lalu menyerahkannya kepada petugas.
Beberapa menit berlalu.
Petugas itu mencoba sekali, lalu mengernyit. Ia mencoba untuk kedua kalinya. Ekspresi wajahnya mulai berubah.
“Maaf, Bu,” katanya hati-hati. “Transaksinya ditolak.”
Senyum di wajah Bu Lucing perlahan memudar.
“Mungkin salah memasukkan PIN,” katanya cepat.
Aku berpura-pura terkejut. “Oh, begitu ya? Coba sekali lagi.”
Petugas mencoba lagi.
Hasilnya tetap sama.
“Saldo tidak mencukupi.”
Kalimat itu membuat suasana ruangan langsung membeku.
Christian menatapku tak percaya. “Bagaimana mungkin? Bukankah uangnya ada?”
Aku menggigit bibir, berpura-pura panik. “Aku juga tidak tahu. Mungkin ada masalah dengan bank.”
Bu Lucing mulai gelisah. “Selina, jangan bercanda. Ini urusan serius.”
“Aku tidak bercanda, Bu.”
Christian segera berdiri. “Kita ke ATM sekarang.”
Aku mengangguk.
Kami bertiga bergegas menuju ATM di lantai dasar pusat perbelanjaan yang berada tepat di samping kantor pemasaran. Sepanjang perjalanan, Bu Lucing terus mengomel, sementara Christian terlihat semakin tegang.
Begitu kartu dimasukkan dan saldo muncul di layar, wajah mereka berdua berubah pucat.
Saldo rekeningku hanya tersisa dua juta rupiah.
“Apa ini?” suara Christian bergetar.
Aku menatap layar beberapa detik sebelum menjawab pelan, “Aku memindahkan uangnya.”
“Apa?”
Aku memandang mereka satu per satu.
“Aku memindahkan seluruh uangku tiga hari lalu.”
Bu Lucing nyaris berteriak. “Kamu gila? Kenapa melakukan itu tanpa bicara dengan keluarga?”
Keluarga.
Aku hampir tertawa mendengar kata itu.
Aku memandang Christian yang kini terlihat seperti orang asing.
“Karena aku baru sadar bahwa aku bukan bagian dari keluarga kalian.”
Kening Christian berkerut. “Apa maksudmu?”
Aku mengeluarkan ponsel dan membuka foto yang diam-diam kuambil malam ketika menemukan sertifikat itu.
Lalu, tanpa berkata apa-apa, aku menunjukkan layar tersebut kepada mereka.
Dalam hitungan detik, warna wajah Christian lenyap. Bu Lucing langsung merebut ponsel itu dengan tangan gemetar.
Di sana terpampang jelas nama pemilik rumah.
Christian Perez.
Lucia Perez.
Tidak ada namaku.
“Aku sudah melihat semuanya,” kataku pelan.
Tak ada seorang pun yang berbicara.
Suara pendingin ruangan di pusat perbelanjaan terdengar begitu keras di telingaku.
Christian membuka mulut, tetapi tak ada kata yang keluar.
Sementara Bu Lucing lebih cepat menguasai diri.
“Selina, dengarkan Ibu dulu. Ini hanya masalah administrasi.”
“Masalah administrasi?” Aku tersenyum dingin. “Lima ratus juta dari tabunganku masuk, tetapi namaku tidak ada di surat rumah. Itu yang Ibu sebut masalah administrasi?”
“Christian anak tunggal,” jawab Bu Lucing terburu-buru. “Rumah itu memang untuk kalian. Ibu hanya membantu mengurus.”
Aku menatap wanita yang selama ini kupanggil ibu.
“Kalau memang rumah itu milik kami, kenapa nama saya tidak dimasukkan?”
Tidak ada jawaban.
Christian akhirnya menarik napas panjang. “Aku memang belum memberitahumu. Rencananya, setelah menikah, nama kamu akan ditambahkan.”
Aku tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya dalam hubungan kami, aku melihat Christian menundukkan kepala karena malu.
“Kamu pikir aku sebodoh itu?” tanyaku. “Kalau aku tidak menemukan surat itu malam itu, kapan kalian akan memberitahuku? Setelah uangku masuk? Setelah pernikahan selesai? Atau setelah aku diusir dari rumah yang kubayar sendiri?”
“Tidak seperti itu, Selina,” kata Christian cepat.
“Lalu seperti apa?”
Matanya memerah. “Aku hanya ingin membuat ibuku tenang. Sejak ayah meninggal, dia selalu takut kehilangan tempat tinggal. Aku tidak bermaksud menipumu.”
Aku menggeleng perlahan.
“Kalau memang begitu, seharusnya sejak awal kamu bicara jujur. Bukan memintaku mengeluarkan seluruh tabunganku sambil menyembunyikan dokumen di saku jaketmu.”
Wajah Christian langsung berubah.
Ia sadar bahwa aku mengetahui semuanya.
Bu Lucing tiba-tiba memegang tanganku.
“Selina, Ibu mohon. Jangan batalkan semua ini. Kita bisa memperbaikinya.”
Aku melepaskan tangannya.
“Memperbaiki apa? Kepercayaan yang sudah kalian hancurkan?”
Air mata mulai memenuhi mata Christian.
Selama tiga tahun kami bersama, aku belum pernah melihatnya menangis.
“Maafkan aku,” katanya lirih. “Aku salah.”
Aku diam.
Sebagian diriku ingin mempercayainya. Ingin percaya bahwa pria yang menemaniku selama tiga tahun itu masih ada.
Namun, bayangan malam ketika aku membaca sertifikat itu kembali muncul.
Aku teringat bagaimana mereka merencanakan kamar di rumah itu, bagaimana Bu Lucing bertanya setiap hari tentang uangku, dan bagaimana Christian memeriksa saku jaketnya pagi setelah mabuk.
Semua itu terlalu nyata untuk dimaafkan begitu saja.
Aku menarik cincin tunangan dari jariku.
Christian langsung membeku.
“Selina, jangan.”
Aku meletakkan cincin itu di telapak tangannya.
“Aku mencintaimu,” kataku pelan. “Dan mungkin, itu kesalahan terbesar dalam hidupku.”
Bu Lucing menangis dan mencoba menghentikanku.
“Jangan pergi. Kita sudah seperti keluarga.”
Aku memandangnya lama.
“Keluarga tidak menjebak orang yang mereka cintai.”
Aku berbalik dan melangkah pergi.
Di belakangku, Christian memanggil namaku berkali-kali, tetapi aku tidak menoleh.
Hari itu, bukan hanya rumah yang batal kami beli.
Pernikahan kami pun berakhir.
Minggu-minggu berikutnya terasa berat. Aku menghabiskan sebagian besar waktuku di rumah orang tuaku. Ibuku sering menemaniku makan malam, sementara ayahku pura-pura membicarakan hal-hal sepele agar aku tidak terlalu larut dalam kesedihan.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidur tanpa memikirkan masa depan bersama Christian.
Anehnya, rasa sakit itu perlahan berubah menjadi kelegaan.
Sebulan kemudian, aku mendengar kabar bahwa Christian gagal membeli rumah tersebut. Uang muka yang sudah dibayarkan hangus sebagian karena mereka tidak mampu melunasi sisa pembayaran.
Bu Lucing jatuh sakit karena stres.
Teman-teman kami mulai mengetahui alasan pembatalan pernikahan itu.
Sebagian menyalahkanku karena dianggap terlalu keras.
Sebagian lagi memihakku.
Aku tidak menjelaskan apa pun.
Tidak semua pengkhianatan perlu diumumkan kepada dunia.
Waktu terus berjalan.
Enam bulan kemudian, aku mendapat promosi di perusahaan tempatku bekerja. Gajiku naik, dan untuk pertama kalinya, aku mulai mencari apartemen kecil untuk diriku sendiri.
Suatu sore, saat keluar dari kantor, aku melihat sosok yang sangat kukenal berdiri di seberang jalan.
Christian.
Tubuhnya tampak lebih kurus.
Begitu melihatku, ia tersenyum canggung.
“Kamu terlihat baik-baik saja.”
“Aku memang baik-baik saja.”
Kami duduk di sebuah kedai kopi kecil. Tidak ada lagi kemarahan seperti dulu, hanya sisa-sisa luka yang telah mengering.
Christian menatap cangkir kopinya.
“Aku dan Ibu pindah ke rumah kontrakan yang lebih kecil.”
Aku mengangguk pelan.
“Aku tidak datang untuk meminta kita kembali bersama,” katanya. “Aku hanya ingin meminta maaf sekali lagi.”
Aku menatap pria yang pernah hampir menjadi suamiku.
“Kenapa?”
Ia tersenyum pahit.
“Karena setelah kehilanganmu, aku baru sadar bahwa rumah bukanlah bangunan yang dibeli dengan uang. Rumah adalah orang yang membuat kita merasa aman.”
Aku tidak menjawab.
Setelah beberapa menit, Christian berdiri.
Sebelum pergi, ia mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya.
“Aku tahu ini tidak bisa memperbaiki semuanya, tapi aku ingin mengembalikan biaya yang dulu sempat kamu keluarkan untuk persiapan pernikahan.”
Aku tidak mengambil amplop itu.
“Gunakan untuk merawat ibumu.”
Ia mengangguk pelan.
Saat hendak pergi, ia berhenti dan bertanya, “Kalau waktu bisa diputar ulang, apakah kamu masih akan memilihku?”
Aku tersenyum tipis.
“Ya.”
Mata Christian membesar.
“Tapi kali ini, aku akan bertanya lebih dulu siapa nama yang tertulis di surat rumah.”
Untuk pertama kalinya sejak perpisahan kami, Christian tertawa kecil, meski matanya dipenuhi air mata.
Ia pergi tanpa menoleh lagi.
Aku duduk sendirian di dekat jendela, memandangi lalu lintas Jakarta yang padat.
Di luar, lampu-lampu kota mulai menyala.
Dulu, aku berpikir bahwa cinta berarti memberikan segalanya kepada seseorang tanpa syarat.
Namun, setelah semua yang terjadi, aku memahami sesuatu yang jauh lebih penting.
Cinta bukan tentang seberapa besar pengorbanan yang bisa kita berikan.
Cinta adalah tentang kejujuran, rasa hormat, dan keberanian untuk memperlakukan orang lain dengan adil.
Malam itu, sebelum pulang, aku membuka aplikasi properti di ponselku.
Aku menemukan sebuah apartemen kecil yang sederhana, tidak terlalu mewah, tetapi cukup nyaman.
Tanpa ragu, aku menjadwalkan kunjungan untuk akhir pekan.
Kali ini, rumah itu mungkin tidak besar.
Namun, untuk pertama kalinya, rumah itu akan benar-benar menjadi milikku.
