Darah Aling Cora seakan membeku. Detik itu terasa melambat, seolah waktu telah berhenti di depan layar laptopnya. Tanpa membuang waktu, dia menyambar kunci mobilnya, berteriak sekencang mungkin sambil berlari menuju gerbang Hacienda Maligaya.
“Marco! Jangan diminum!”
Suaranya pecah di udara sore yang panas. Namun, jarak rumahnya ke pintu utama rumah mewah itu masih terpaut seratus meter. Di teras, Marco baru saja menurunkan gelas itu setelah meneguk setengah isinya. Dia menoleh ke arah gerbang, alisnya bertaut bingung melihat Aling Cora yang berlari seperti orang kesurupan.

“Aling Cora? Ada apa?” tanya Marco, suaranya terdengar santai, bahkan sedikit geli.
Bianca berdiri di belakang Marco, senyumnya yang manis perlahan memudar menjadi seringai yang dingin dan tajam saat melihat tetangganya itu. Dia tahu. Bianca tahu sesuatu telah bocor.
“Marco, letakkan gelas itu!” teriak Aling Cora, napasnya tersengal.
Lola Remedios muncul dari balik pintu, wajahnya pucat pasi melihat keributan itu. Dia melihat botol hitam di tangan Bianca yang disembunyikan di balik punggung, lalu melihat gelas di tangan anaknya. Sesuatu di dalam diri wanita tua itu pecah. Dia tidak lagi takut pada rumah sakit jiwa. Dia takut kehilangan dunianya.
Dengan sisa tenaga yang ada, Lola Remedios menerjang ke arah Marco, menepis gelas itu hingga pecah berkeping-keping di lantai marmer.
“Ma! Apa yang kau lakukan?” Marco berteriak, terkejut.
“Itu racun, Marco! Istrimu… dia mencoba membunuhmu!” teriak Aling Cora yang akhirnya sampai di tangga teras, gemetar sambil memegang laptopnya.
Keheningan yang mencekam menyelimuti hacienda. Marco menatap istrinya, lalu menatap ibunya yang terengah-engah dengan lutut gemetar. Bianca, alih-alih panik, justru tertawa kecil. Tawa yang sangat renyah, seolah-olah dia sedang menonton komedi murahan.
“Oh, Sayang,” Bianca menatap Marco dengan tatapan yang sangat manipulatif. “Lihatlah. Aku sudah bilang, bukan? Kondisi mental ibumu semakin memburuk. Dia mulai berhalusinasi dan menuduhku yang tidak-tidak. Dia bahkan menghancurkan jus kesukaanmu hanya karena delusi.”
Marco bimbang. Dia menatap istrinya yang cantik dan lembut, lalu menatap ibunya yang tampak rapuh dan bingung.
“Marco, lihat ini!” Aling Cora memutar rekaman dari laptopnya tepat di depan wajah pria itu.
Video itu menunjukkan segalanya. Makian, siksaan, dan tetesan cairan hitam ke dalam jus. Marco terpaku. Wajahnya perlahan berubah menjadi topeng kemarahan yang mengerikan. Dia menatap Bianca, namun anehnya, Bianca tetap tenang.
“Itu… itu palsu,” bisik Bianca, namun suaranya mulai goyah.
“Palsu?” Marco tertawa getir. “Aku mengenal suaramu di setiap sudut ruangan ini, Bianca. Aku mengenal cara kau merendahkan ibuku.”
“Lalu apa?” Bianca membusungkan dada, topengnya benar-benar lepas. “Kau akan mengusirku? Kau pikir kau bisa hidup tanpa uangku? Kau pikir siapa yang mendanai renovasi hacienda ini saat perkebunan kopimu hampir bangkrut dua tahun lalu? Aku pemilik segalanya di sini, Marco. Termasuk rumah ini, dan termasuk kau.”
Rahasia itu terungkap. Ternyata, selama ini Marco hanyalah boneka yang diatur oleh kekayaan keluarga Bianca. Namun, Marco tidak memukulnya. Dia justru tersenyum. Sebuah senyuman yang jauh lebih dingin daripada tatapan Bianca.
“Kau benar,” kata Marco tenang. “Aku tidak punya uang. Tapi kau lupa satu hal, Bianca. Di daerah pedesaan ini, hukum kadang tidak berjalan di pengadilan. Ia berjalan di tangan orang-orang yang peduli.”
Tiba-tiba, suara sirine polisi terdengar dari kejauhan, tapi bukan itu yang membuat Bianca pucat. Di belakang rumah, puluhan pekerja perkebunan kopi muncul. Mereka membawa peralatan kerja, tapi mata mereka menunjukkan loyalitas yang tak tergoyahkan kepada Lola Remedios, wanita yang selama ini mereka anggap sebagai ibu mereka sendiri.
Bianca mencoba melarikan diri ke mobilnya, namun dia terhenti. Dia menyentuh lehernya. Tiba-tiba, dia tersedak. Dia memegang tenggorokannya dengan panik.
“Apa… apa ini?” suaranya berubah menjadi serak.
Marco berjalan mendekat, mengambil sisa gelas yang pecah di lantai. “Kau tahu, Bianca? Aku memang meminum jus itu. Tapi aku bukan orang bodoh. Sebelum kau datang, aku sudah tahu kebiasaanmu mencampurkan ‘sesuatu’ ke dalam kopi pagiku selama sebulan terakhir. Aku sudah menukar botol racunmu dengan sirup manis biasa.”
Bianca membelalak, napasnya tersengal.
“Tapi,” lanjut Marco, “aku memang menuangkan racun yang sebenarnya—yang kau simpan di laci—ke dalam gelas yang kau pegang saat kau mencoba merampasnya dari tangan ibu tadi. Kau tidak sengaja menelan residu yang kau buat sendiri.”
Bianca jatuh tersungkur. Tidak ada belas kasihan di mata Marco, tidak ada pula di mata penduduk desa yang mengepung hacienda itu.
Beberapa menit kemudian, Bianca dibawa pergi. Namun, kejutan terakhir terjadi saat polisi menemukan catatan di tas Bianca. Dia bukan hanya mencoba membunuh Marco. Dia sebenarnya adalah buronan dari kota lain yang menyamar dengan identitas palsu, mencari pria kaya untuk dijadikan tameng sebelum dia kabur ke luar negeri.
Lola Remedios terduduk di kursi terasnya, menatap ke arah perkebunan kopi yang luas. Aling Cora duduk di sampingnya, menggenggam tangannya dengan erat.
“Semuanya sudah berakhir, Ate,” bisik Aling Cora.
Lola Remedios mengangguk pelan, namun matanya tetap tajam menatap ke arah jalan keluar hacienda. “Ya, semuanya berakhir. Tapi rumah ini… rumah ini sekarang punya sejarah yang tidak akan pernah bisa kita bersihkan, Cora.”
Marco mendekat, memeluk ibunya. Dia tidak tampak seperti pria yang baru saja hampir kehilangan nyawa. Dia tampak seperti pria yang baru saja bangun dari mimpi buruk yang panjang.
“Mulai hari ini,” kata Marco, “kita bukan lagi majikan. Kita adalah penjaga tanah ini. Tanah yang tidak lagi berlumur racun.”
Namun, di balik kegelapan senja, ada satu detail yang tidak disadari siapapun. Di dalam saku jaket Marco, terdapat botol hitam yang sama dengan yang digunakan Bianca. Dia tidak membuangnya. Dia menyimpannya, seolah-olah dia telah belajar bahwa di dunia ini, untuk bertahan hidup, terkadang seseorang harus memiliki senjata yang sama dengan musuhnya.
Hacienda Maligaya kini tenang, namun setiap kali angin berhembus melalui jendela besar itu, suara bisikan Bianca seolah masih tertinggal, menjadi pengingat bahwa kejahatan yang paling dalam sering kali bersembunyi di balik senyum yang paling manis.
Apakah Anda ingin mengetahui apa yang terjadi pada Marco setelah dia menyimpan botol racun tersebut, atau ingin menelusuri rahasia lain yang tersembunyi di dalam Hacienda Maligaya?
