Suasana aula pesta yang semula riuh dengan denting gelas kristal kini berubah menjadi dingin, sedingin es yang baru saja dituangkan ke dalam gelas sampanye. Semua mata tertuju pada amplop-amplop yang berserakan di lantai marmer, lalu berpindah ke wajah pucat Carlo Villarama.
Carlo menatap kertas-kertas itu dengan tangan gemetar. Ia membungkuk, mengambil satu lembar, dan matanya membelalak. Itu bukan sekadar surat cerai. Itu adalah dokumen legal yang menyatakan bahwa seluruh modal ventura, aset tanah, dan paten teknologi yang menjadi tulang punggung Villarama Group selama tiga tahun terakhir adalah milik sah saya, Isabel Dizon.
“I-Isabel… apa ini?” suaranya pecah. “Ini lelucon, kan?”

Saya merapikan gaun hitam saya yang sederhana—gaun yang ia beli dengan uang saku yang ia pikir “uang hasil kerja kerasnya”, padahal itu hanyalah remah-remah dari dividen investasi saya sendiri.
“Lelucon?” tanya saya dengan nada datar. “Bukan, Carlo. Ini adalah kenyataan yang baru saja kamu tandatangani saat kamu memintaku untuk tidak menyentuh sekretarismu yang berharga itu.”
Mara, asisten saya yang setia, berdiri di samping saya dengan tatapan tajam. Ia adalah orang yang selama ini mengelola dana ₱78 miliar itu dari balik layar. Ia menyerahkan sebuah tablet kepada saya. Di sana terpampang saldo perusahaan Villarama Group yang kini menunjukkan angka merah menyala.
“Kontrak ₱78 miliar itu bukan hibah, Carlo,” kata saya, suara saya menggema di seluruh ruangan yang sunyi senyap. “Itu adalah fasilitas pinjaman modal yang saya berikan kepada perusahaanmu dengan syarat performa yang etis dan loyalitas. Tapi hari ini, kamu membuktikan bahwa perusahaan ini tidak lagi memiliki fondasi moral.”
Trina, yang tadi berpura-pura kesakitan di lantai, kini berhenti merintih. Wajahnya pucat pasi saat mendengar angka ₱78 miliar. Dia mungkin mengira bahwa menjadi hamil adalah tiket emasnya menjadi nyonya besar. Dia tidak tahu bahwa dia baru saja hamil di atas kapal yang sedang ditenggelamkan oleh pemiliknya sendiri.
“Tapi… tapi bukankah kamu hanya seorang istri yang diam saja di rumah?” Trina berteriak, suaranya melengking tinggi. “Kamu tidak punya kuasa apa-apa di sini!”
Saya mendekati Trina, berjongkok hingga wajah kami sejajar. “Sayang, diam bukan berarti lemah. Diam berarti saya sedang mengawasi betapa serakahnya kamu dan suamiku.”
Saya berdiri dan menatap para petinggi perusahaan yang selama ini menatap saya dengan pandangan merendahkan.
“Mulai detik ini,” kata saya dengan tenang, “Seluruh jaminan pribadi yang saya berikan kepada Villarama Group ditarik kembali. Efektif per hari ini, perusahaan ini dinyatakan bangkrut karena gagal memenuhi kewajiban kontrak. Dan Carlo…”
Saya menoleh pada pria yang pernah saya cintai itu. “Kamu bukan lagi direktur penjualan. Kamu adalah pria yang baru saja kehilangan segalanya karena memilih wanita yang bahkan tidak tahu cara membaca laporan keuangan.”
Carlo mencoba mendekat, mencoba meraih lengan saya, namun petugas keamanan gedung—yang sebenarnya adalah tim keamanan pribadi saya—menahannya dengan tegas. “Isabel, tolong! Kita bisa bicara. Jangan lakukan ini! Apa yang akan terjadi dengan anak ini?”
“Itu masalahmu, bukan masalahku,” jawab saya dingin.
Saya berjalan meninggalkan aula, suara hak sepatu saya beradu dengan lantai marmer menciptakan irama kematian bagi karier Carlo. Saat saya melangkah keluar, di luar hotel, mobil mewah sudah menunggu. Saya tidak menoleh ke belakang, tidak sedikit pun.
Namun, kejutan sebenarnya baru saja dimulai.
Saat saya masuk ke dalam mobil, Mara menyerahkan sebuah ponsel. Di layar, ada pesan dari pengacara saya.
“Nyonya, ada satu hal lagi. Kami baru saja menemukan bahwa anak yang dikandung Trina bukan anak Carlo. Tes DNA secara diam-diam yang kita lakukan dua minggu lalu menunjukkan bahwa dia berselingkuh dengan kompetitor utama Carlo, yaitu Pak Aris dari集團 Global.”
Saya tersenyum tipis. Benar-benar sebuah ironi yang indah. Carlo mengorbankan pernikahan kami, reputasi kami, dan masa depannya demi seorang wanita yang bukan saja tidak mencintainya, tetapi juga sedang merencanakan kehancuran perusahaannya bersama orang lain.
Malam itu, di Bonifacio Global City, seorang pria kehilangan segalanya, dan seorang wanita yang dianggap “tidak berguna” baru saja mengambil kembali kendali atas hidupnya.
Saya tidak butuh balas dendam yang dramatis. Saya hanya perlu duduk diam, membiarkan mereka menghancurkan diri mereka sendiri, dan menyaksikan saat-saat di mana keserakahan akhirnya memakan tuannya.
Saat mobil melaju menjauh, saya membuang cincin pernikahan saya ke luar jendela. Tidak ada lagi Isabel yang diam. Tidak ada lagi Isabel yang sabar. Mulai malam ini, saya adalah Isabel Dizon, wanita yang memegang kendali atas nasib orang-orang yang meremehkannya.
Dan di ruang pesta itu, teriakan putus asa Carlo dan Trina adalah lagu pengantar tidur yang paling manis yang pernah saya dengar. Hari esok, bagi mereka, bukanlah tahun yang baru. Melainkan awal dari kebangkrutan yang paling memalukan dalam sejarah Makati.
