KAMU YANG MASAK DAN BERSIH-BERSIH SEMENTARA KAMI MENIKMATI PANTAI.

Pukul delapan lewat dua belas menit pagi, Nadira Maheswari berdiri di dermaga Marina Ancol dengan satu koper berwarna hitam dan sebuah amplop cokelat di dalam tas tangannya.

Di hadapannya, kapal pesiar kecil yang akan membawa mereka ke sebuah pulau pribadi di Kepulauan Seribu sudah menyalakan mesin. Awak kapal menata bunga putih dan kotak-kotak sampanye di dek belakang. Semua telah dipersiapkan untuk perayaan ulang tahun pernikahannya yang ketujuh.

Seharusnya perjalanan itu hanya untuk dua orang.

Nadira dan suaminya, Bram Wicaksana.

Namun Bram datang bersama tiga orang lain.

Ibunya, Ratih.

Adik perempuannya, Celine.

Dan Maya Ardelia, perempuan yang pernah menjadi kekasih Bram sebelum ia menikahi Nadira.

Maya mengenakan gaun pantai biru muda dan kacamata hitam besar. Ia berdiri terlalu dekat dengan Bram, bahkan beberapa kali merapikan kerah kemeja pria itu seolah gerakan tersebut sudah menjadi kebiasaan.

Nadira menatap mereka tanpa berkedip.

“Apa yang mereka lakukan di sini?” tanyanya.

Bram tidak terlihat gugup. Ia justru menyerahkan dua tas besar kepada salah satu awak kapal, lalu berkata santai, “Mereka ikut. Ibu sudah lama ingin liburan. Celine sedang stres karena pekerjaannya. Maya juga baru putus dari tunangannya.”

“Ini perjalanan ulang tahun pernikahan kita.”

“Jangan memperbesar masalah.”

Ratih mendecakkan lidah. “Pulau itu luas. Jangan pelit hanya karena kamu yang mengurus pemesanannya.”

Nadira menoleh kepada ibu mertuanya.

Mengurus pemesanan.

Begitulah mereka selalu menyebutnya.

Bukan membayar.

Bukan menanggung seluruh biaya.

Bukan bekerja siang dan malam untuk membangun perusahaan teknologi finansial yang membiayai rumah, mobil, investasi, dan gaya hidup keluarga Wicaksana.

Hanya mengurus pemesanan.

Bram mendekat dan merendahkan suaranya, meski cukup keras untuk didengar semua orang.

“Nanti kamu bantu mengatur kamar mereka. Pastikan makanan Ibu tidak pedas. Celine maunya kamar menghadap laut. Dan Maya alergi udang. Kamu yang paling tahu cara mengurus detail seperti itu.”

Nadira menatap wajah suaminya.

“Kamu ingin aku menjadi pelayan mereka?”

“Jangan menyebutnya begitu. Kamu tuan rumah.”

“Ada dua belas staf di pulau.”

Ratih menyela, “Staf tidak akan memahami kebutuhan keluarga seperti menantu. Lagi pula, kamu terlalu lama hidup sebagai direktur. Sesekali belajarlah menjadi istri yang berguna.”

Celine tertawa kecil.

Maya tidak tertawa. Namun sudut bibirnya terangkat.

Nadira merasakan sesuatu di dalam dirinya berhenti bergerak.

Selama tujuh tahun, ia selalu percaya bahwa kesabaran adalah bentuk kedewasaan. Ia membiarkan komentar Ratih karena tidak ingin Bram terjepit di antara ibu dan istri. Ia memaafkan kebohongan kecil Bram karena menganggap semua pernikahan memiliki luka. Ia mengabaikan transaksi mencurigakan dari rekening bersama karena Bram mengatakan uang itu digunakan untuk investasi keluarga.

Ia terus memberi.

Mereka terus mengambil.

Dan pagi itu, di bawah matahari Jakarta yang menyengat, Nadira akhirnya memahami bahwa sebagian orang tidak akan pernah menghargai meja yang selalu tersedia untuk mereka. Mereka hanya akan marah ketika makanan berhenti disajikan.

Seorang perempuan berseragam putih mendekat sambil membawa tablet.

“Selamat pagi, Ibu Nadira. Saya Salma, koordinator perjalanan. Kami siap berangkat setelah verifikasi tamu.”

Nadira mengangguk. “Silakan periksa daftar namanya.”

Salma membaca layar.

“Ibu Nadira Maheswari dan Bapak Bram Wicaksana.”

“Hanya dua orang?”

“Benar.”

Bram mengangkat dagu. “Tambahkan tiga orang lagi.”

Salma tersenyum profesional. “Tentu, Pak. Kami perlu memeriksa kapasitas akomodasi dan tambahan biaya.”

“Pakai kartu saya.”

Bram mengeluarkan kartu kredit hitam dari dompetnya.

Kartu itu diterbitkan atas nama Bram, tetapi tagihannya dibayar melalui rekening perusahaan milik Nadira. Selama bertahun-tahun, Bram suka memperlihatkannya di restoran, klub golf, dan acara bisnis. Ia membiarkan orang-orang mengira dirinya seorang pengusaha sukses, meski perusahaan konsultannya sudah tidak menghasilkan keuntungan selama hampir tiga tahun.

Salma memproses kartu tersebut.

Mesin kecil di tangannya berbunyi.

Ia mencoba sekali lagi.

“Maaf, Pak. Transaksinya ditolak.”

Wajah Bram berubah.

“Coba lagi.”

“Hasilnya tetap sama.”

Bram menoleh tajam kepada Nadira. “Kamu memblokir kartuku?”

“Aku menghentikan pembayaran untuk semua kartu tambahan tadi malam.”

Ratih langsung maju. “Apa maksudmu? Kamu tidak boleh melakukan itu tanpa bicara dengan suamimu.”

“Rekeningnya milikku.”

“Dalam pernikahan tidak ada milikmu atau milikku.”

Nadira tersenyum tipis. “Aneh sekali. Kalimat itu tidak pernah Ibu ucapkan saat aku diminta membayar cicilan apartemen Celine.”

Celine berhenti tersenyum.

Bram menarik lengan Nadira dan membawanya beberapa langkah menjauh.

“Kamu sedang mempermalukanku.”

Nadira melepaskan tangannya.

“Kamu membawa mantan pacarmu ke perjalanan ulang tahun pernikahan kita. Lalu kamu menyuruhku melayani keluargamu. Tapi menurutmu, akulah yang mempermalukanmu?”

“Maya hanya teman.”

“Kalau begitu, mengapa nama Maya ada di mutasi rekeningmu setiap bulan?”

Wajah Bram membeku.

Suara mesin kapal, teriakan burung laut, dan percakapan para pekerja di dermaga seakan menghilang.

Maya perlahan menurunkan kacamatanya.

Ratih menatap Bram. “Mutasi apa?”

Nadira membuka tasnya dan mengeluarkan amplop cokelat.

“Aku menemukan dua puluh tujuh transfer dari rekening bersama kita ke perusahaan bernama Ardelia Kreatif Nusantara.”

Maya memucat.

Nadira melanjutkan, “Perusahaan itu didirikan delapan bulan lalu. Direkturnya Maya Ardelia. Pemegang saham lainnya adalah Bram Wicaksana.”

Celine memandang kakaknya dengan mulut terbuka.

Bram mencoba tertawa, tetapi suaranya terdengar kering.

“Itu investasi. Aku berniat memberitahumu setelah proyeknya berjalan.”

“Investasi sebesar sembilan miliar rupiah tanpa persetujuanku?”

“Aku suamimu.”

“Bukan pemilik hidupku.”

Ratih merebut beberapa lembar dokumen dari tangan Nadira. Matanya bergerak cepat membaca angka-angka yang tercetak.

“Apa ini benar?” tanyanya kepada Bram.

Bram tidak menjawab.

Maya tiba-tiba berkata, “Aku tidak tahu uang itu diambil dari rekening kalian.”

Nadira menatapnya. “Kamu menandatangani laporan penerimaan modal.”

“Aku pikir itu uang Bram.”

“Itulah masalahnya. Bram tidak punya uang sebanyak itu.”

Maya menoleh kepada Bram. Tatapannya berubah dari percaya diri menjadi marah.

“Kamu bilang dana itu hasil penjualan saham konsultasimu.”

“Aku bisa menjelaskan.”

“Jadi kamu berbohong kepadaku juga?”

Bram kehilangan kesabaran. “Cukup. Nadira sengaja mengatur semua ini. Dia ingin menghancurkan keluarga kita hanya karena aku membawa beberapa tamu.”

Nadira memasukkan kembali dokumen ke dalam amplop.

“Aku tidak mengatur kehancuran ini, Bram. Aku hanya berhenti menutupinya.”

Salma berdiri beberapa meter dari mereka, menunggu dalam diam. Para awak kapal berpura-pura sibuk, meski jelas mendengar semuanya.

Nadira menoleh kepadanya.

“Batalkan perjalanan.”

Salma tampak terkejut. “Seluruh reservasi, Bu?”

“Seluruhnya.”

Bram langsung melangkah maju. “Kamu tidak bisa membatalkan begitu saja. Kita sudah membayar uang muka.”

“Pembayaran dilakukan dari rekening pribadiku. Kontraknya atas namaku.”

“Kamu akan kehilangan banyak uang.”

“Lebih murah daripada mempertahankan pernikahan ini.”

Kata-kata itu membuat semua orang terdiam.

Bram menatap Nadira seolah baru pertama kali melihat perempuan yang berdiri di depannya.

Selama ini, ia terbiasa dengan Nadira yang menahan emosi, memilih kata-kata, dan mencari jalan tengah. Ia tidak mengenali perempuan yang kini berbicara tanpa takut kehilangan dirinya.

“Nadira,” katanya lebih pelan. “Jangan membuat keputusan saat marah.”

“Aku tidak marah.”

“Lalu apa?”

“Aku sudah selesai.”

Ratih mendekat, kali ini suaranya melembut. “Kita bisa membicarakan semuanya di rumah. Tidak perlu menjadi tontonan.”

Nadira memandang perempuan yang selama bertahun-tahun menyebutnya tidak cukup feminin, tidak cukup patuh, dan tidak cukup bersyukur.

“Ibu benar. Tidak perlu menjadi tontonan. Karena itu, Ibu, Celine, Maya, dan Bram dapat pulang sekarang.”

“Kamu sendiri?”

“Aku tetap pergi.”

Bram mengernyit. “Kamu baru saja membatalkan perjalanan.”

“Hanya paket ulang tahun pernikahannya.”

Nadira mengeluarkan ponsel dan menunjukkan surat konfirmasi baru.

“Aku menyewa vila kecil di pulau lain untuk satu orang.”

Bram menatap layar itu, lalu tertawa sinis. “Kamu akan bersembunyi sementara pengacaramu mengurus semuanya?”

“Bukan hanya pengacaraku.”

Sebuah mobil hitam berhenti di area dermaga.

Dua pria dan seorang perempuan turun. Perempuan itu mengenakan blazer abu-abu dan membawa map tebal. Bram mengenalinya.

Namanya Dita Pramudani, kepala audit internal perusahaan Nadira.

Wajah Bram kehilangan warna.

Dita mendekat lalu menyerahkan sebuah surat kepada Nadira.

“Kami sudah menyelesaikan pemeriksaan awal,” katanya. “Ada bukti bahwa akses milik Bapak Bram digunakan untuk mengalihkan dana perusahaan melalui empat vendor fiktif. Total sementara mencapai dua puluh tiga miliar rupiah.”

Ratih terhuyung mundur.

Celine menutup mulut.

Maya menatap Bram dengan ngeri.

Bram mencoba merebut surat tersebut, tetapi salah satu pria yang datang bersama Dita menahannya.

“Siapa kalian?”

“Penyidik,” jawab pria itu singkat. “Kami perlu meminta keterangan Bapak mengenai laporan dugaan penggelapan dan pemalsuan dokumen elektronik.”

Bram menoleh kepada Nadira.

“Kamu melaporkan suamimu sendiri?”

“Aku melaporkan seseorang yang mencuri dari empat ratus karyawan yang bekerja untuk perusahaanku.”

“Aku melakukan itu untuk kita.”

“Tidak. Kamu melakukannya untuk mempertahankan kebohonganmu.”

Bram mendekat, tetapi kali ini suaranya terdengar hampir memohon.

“Aku tertekan, Nadira. Semua orang melihatmu sebagai orang sukses. Di sampingmu, aku seperti tidak punya apa-apa.”

Nadira menahan napas.

Untuk pertama kalinya, ia melihat luka yang selama ini disembunyikan di balik kesombongan suaminya. Bram memang merasa kecil. Ia iri kepada keberhasilan Nadira. Ia ingin dipandang penting tanpa berani menjalani kegagalan, kerja keras, dan rasa takut yang menyertai keberhasilan itu.

Namun memahami luka seseorang tidak berarti wajib membiarkannya melukai orang lain.

“Aku tidak pernah memintamu menjadi seperti aku,” kata Nadira. “Aku hanya memintamu jujur.”

Bram menunduk.

Maya perlahan melepaskan gelang berlian dari pergelangan tangannya dan melemparkannya ke dada Bram.

“Kamu bilang akan menceraikannya setelah perjalanan ini,” katanya.

Ratih menoleh tajam. “Apa?”

Maya tertawa getir. “Itulah sebabnya dia mengajakku. Katanya di pulau nanti Nadira akan dipaksa menandatangani surat pengalihan saham perusahaan sebagai bukti bahwa dia masih ingin menyelamatkan pernikahan.”

Nadira menatap Bram.

Bahkan setelah semua yang ia temukan, pengakuan itu tetap terasa seperti sebilah pisau dingin.

Bram tidak membantah.

Dita membuka map dan mengeluarkan satu dokumen lain.

“Kami juga menemukan rancangan surat pengalihan saham di laptop Bapak Bram. Tanda tangan Ibu Nadira sudah dipalsukan.”

Kini tidak ada lagi yang dapat dikatakan.

Para penyidik membawa Bram menuju mobil. Ia sempat menoleh sekali, mungkin berharap Nadira memanggil namanya, membelanya, atau setidaknya menangis.

Nadira tidak melakukan apa pun.

Ratih duduk di bangku dermaga dengan wajah kosong. Celine berdiri di sampingnya, kehilangan semua keberanian yang tadi membuatnya tertawa. Maya pergi tanpa berpamitan, menarik kopernya sendiri melewati lantai kayu.

Dua jam kemudian, Nadira berada di atas kapal kecil menuju Pulau Sebaru.

Ia duduk sendirian di dek, membiarkan angin laut menyapu rambutnya. Di belakangnya, Jakarta perlahan mengecil. Di depannya, garis laut biru terbentang tanpa batas.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Dita masuk.

Ada satu temuan terakhir.

Sebagian dana yang dicuri Bram ternyata digunakan untuk membayar utang perusahaan milik Martin, ayahnya. Martin telah mengetahui semuanya sejak awal dan membantu membuat kontrak vendor palsu.

Nadira memejamkan mata.

Jadi diamnya Martin selama ini bukan kelemahan.

Diamnya adalah keterlibatan.

Ia menghapus pesan itu setelah membacanya, lalu meletakkan ponsel di samping kursi.

Matahari mulai naik tinggi. Cahaya memantul di permukaan air seperti ribuan kepingan kaca.

Nadira tidak tahu seperti apa hidupnya setelah hari itu. Ia tidak tahu berapa lama proses hukum akan berjalan atau berapa banyak orang yang akan menyalahkannya karena memilih membongkar kejahatan suaminya sendiri.

Namun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ketidakpastian tidak membuatnya takut.

Di pulau nanti, tidak ada pesta ulang tahun pernikahan.

Tidak ada bunga putih.

Tidak ada makan malam romantis.

Hanya sebuah vila kecil, laut yang tenang, dan satu tempat kosong di meja makan.

Tempat itu bukan milik Bram.

Bukan milik keluarganya.

Bukan milik siapa pun yang menuntut Nadira mengecilkan dirinya agar mereka merasa lebih besar.

Tempat itu adalah miliknya sendiri.

Dan ketika kapal melaju semakin jauh dari daratan, Nadira akhirnya memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah diajarkan kepadanya.

Kadang-kadang, sebuah pernikahan tidak berakhir ketika cinta menghilang.

Pernikahan berakhir ketika seseorang akhirnya mencintai dirinya sendiri cukup kuat untuk berhenti menjadi rumah bagi orang-orang yang terus membakarnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang