Namaku Nadia. Sampai malam itu, aku selalu percaya bahwa cinta dibangun dari kejujuran. Aku tidak pernah menyangka bahwa kebohongan terbesar dalam hidupku justru datang dari pria yang paling sering menggenggam tanganku sambil berjanji tidak akan pernah meninggalkanku.
Pagi itu Jakarta masih diselimuti langit kelabu ketika alarm ponselku berbunyi. Mataku bengkak karena semalaman menangis. Berkali-kali aku menatap layar ponsel yang masih menampilkan foto keluarga yang kutemukan beberapa jam sebelumnya. Raka tersenyum bahagia bersama seorang perempuan dan seorang anak kecil. Senyum yang selama ini kupikir hanya menjadi milikku.
Aku tidak pergi ke bank.

Sebaliknya, aku menghubungi sahabatku, Maya, yang bekerja sebagai jurnalis investigasi.
“Nad, suaramu kenapa?” tanyanya begitu telepon tersambung.
Aku menceritakan semuanya tanpa melewatkan satu detail pun. Maya mendengarkan dalam diam.
“Ada yang aneh,” katanya pelan. “Kalau benar dia membutuhkan uang sebanyak itu untuk operasi, pasti ada jejak rumah sakitnya. Jangan transfer apa pun sebelum semuanya jelas.”
Aku mengangguk meski ia tidak bisa melihatku.
Beberapa menit kemudian ponselku kembali berdering.
“Nadia, kamu sudah berangkat ke bank?” tanya Raka dengan suara yang terdengar sengaja dibuat lemah.
“Aku sedang bersiap.”
“Terima kasih. Dokter bilang operasi harus segera dilakukan.”
Aku memejamkan mata.
“Raka, ayahmu dirawat di rumah sakit mana?”
Ia terdiam sesaat.
“Rumah Sakit Harapan Medika.”
“Baik. Aku akan langsung ke sana setelah dari bank.”
“Tidak usah!” jawabnya terlalu cepat. “Maksudku… keluarga sedang banyak di sini. Kamu nanti saja setelah operasi.”
Jawaban itu membuat keyakinanku semakin kuat bahwa ada sesuatu yang disembunyikan.
“Aku tetap akan datang.”
Telepon langsung terputus.
Siang itu aku tiba di rumah sakit yang disebutkan Raka. Setelah bertanya di bagian informasi, petugas memeriksa data pasien selama beberapa menit.
“Maaf, Bu. Tidak ada pasien atas nama Budi yang menjalani persiapan operasi bypass jantung.”
Jantungku berdegup semakin keras.
“Yakin?”
“Yakin, Bu.”
Aku keluar dari rumah sakit dengan langkah lemas.
Semua ini bohong.
Namun aku masih ingin mendengar pengakuannya langsung.
Sore harinya Raka datang ke apartemenku dengan wajah kusut dan mata yang sengaja dibuat sembab.
“Nadia…” katanya sambil memelukku.
Aku tidak membalas pelukannya.
“Mana uangnya?”
Pertanyaan pertama yang keluar dari mulutnya membuat dadaku terasa sesak.
“Bukankah hal pertama yang seharusnya kamu tanyakan adalah kenapa aku menangis?”
Ia tampak gugup.
“Kamu kenapa?”
Aku mengambil ponsel, membuka foto yang kutemukan semalam, lalu meletakkannya di atas meja.
“Aku ingin tahu siapa mereka.”
Wajah Raka langsung kehilangan warna.
Ruangan mendadak sunyi.
“Itu… itu foto lama.”
“Siapa perempuan ini?”
“Teman.”
“Teman yang kamu sebut istri?”
Ia tidak menjawab.
“Siapa anak kecil ini?”
Raka menelan ludah.
“Itu…”
“Anakmu?”
Air mata mulai menggenang di mataku.
“Aku cuma minta satu hal. Jangan bohong lagi.”
Raka menundukkan kepala.
“Iya.”
Satu kata itu menghancurkan seluruh harapan yang masih tersisa.
Aku terduduk.
Selama satu setengah tahun aku ternyata hanya menjadi perempuan lain dalam kehidupan seorang pria yang sudah memiliki keluarga.
“Aku mau jelaskan.”
“Silakan.”
“Aku memang menikah dengan Dewi. Tapi hubungan kami sudah lama hancur.”
“Sudah bercerai?”
Belum.
“Kami pisah rumah.”
“Secara hukum?”
Ia kembali diam.
Jawaban itu sudah cukup.
“Ayahmu benar-benar sakit?”
Raka mengusap wajahnya.
“Tidak separah yang kubilang.”
“Jadi itu juga bohong.”
Ia mengangguk pelan.
“Aku terdesak utang.”
“Utang apa sampai lima ratus juta?”
Raka tidak sanggup menatap mataku.
“Aku investasi.”
“Investasi atau judi online?”
Tubuhnya langsung membeku.
Aku tidak perlu mendengar jawabannya.
Semuanya sudah terlihat dari ekspresinya.
Rasa marah yang selama ini kutahan akhirnya meledak.
“Jadi selama ini kamu memanfaatkan cintaku untuk menutup utangmu?”
“Aku benar-benar sayang sama kamu.”
“Orang yang menyayangi tidak akan membohongi orang yang dicintainya setiap hari.”
Ia berlutut.
“Nadia, beri aku kesempatan.”
Aku tertawa pahit.
“Kesempatan yang mana? Saat kamu bilang belum pernah menikah? Saat kamu mengajakku membangun keluarga? Atau saat kamu hampir membuatku kehilangan seluruh tabunganku?”
Raka menangis.
Namun kali ini aku tidak lagi merasa iba.
Aku berdiri dan membuka pintu apartemen.
“Pergi.”
“Nadia…”
“Pergi.”
Ia masih mencoba mendekat.
Aku menunjuk ke arah pintu tanpa berkata apa pun.
Beberapa detik kemudian ia keluar dengan langkah gontai.
Pintu kututup perlahan.
Begitu bunyi kunci terdengar, kakiku langsung lemas.
Aku menangis selama berjam-jam.
Bukan karena kehilangan Raka.
Melainkan karena aku baru sadar betapa mudahnya seseorang menghancurkan kepercayaan yang dibangun begitu lama.
Kupikir semuanya selesai.
Ternyata belum.
Dua hari kemudian seorang perempuan datang ke kantorku.
Ia mengenakan kemeja putih sederhana dan celana hitam.
“Apakah Anda Nadia?”
Aku mengangguk.
“Aku Dewi.”
Nama itu membuat napasku tercekat.
Kami berbicara di sebuah kedai kopi yang tenang.
Dewi mengeluarkan map berisi berbagai dokumen.
Ada surat pinjaman.
Tagihan kartu kredit.
Bukti transfer.
Bahkan gugatan cerai yang baru diajukan beberapa minggu sebelumnya.
“Aku tahu tentangmu sejak enam bulan lalu,” katanya pelan.
Aku terdiam.
“Kenapa tidak datang mencariku?”
“Aku ingin percaya dia masih bisa berubah.”
Dewi tersenyum getir.
“Tapi ternyata dia justru mencari korban berikutnya.”
Ia menjelaskan bahwa Raka sudah berkali-kali meminjam uang kepada banyak orang dengan alasan orang tua sakit, bisnis bangkrut, atau anak masuk rumah sakit.
Total utangnya mencapai miliaran rupiah.
Sebagian besar habis karena perjudian daring dan investasi bodong.
Aku merasakan bulu kudukku berdiri.
Kalau malam itu aku tidak menemukan foto lama tersebut, mungkin seluruh tabunganku sudah lenyap.
“Aku datang bukan untuk menyalahkanmu,” kata Dewi.
“Aku datang untuk meminta maaf.”
“Maaf?”
“Karena aku tahu kamu juga korban.”
Kalimat itu membuat mataku kembali basah.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini terjadi, ada seseorang yang benar-benar memahami rasa sakitku.
Beberapa bulan berlalu.
Aku perlahan bangkit.
Aku mulai kembali fokus bekerja.
Aku memperbanyak investasi.
Aku mengikuti kelas pengembangan diri.
Aku juga menjadi relawan di sebuah komunitas edukasi keuangan yang membantu perempuan agar tidak mudah menjadi korban manipulasi finansial dalam hubungan.
Suatu sore, setelah selesai mengisi seminar kecil, seorang peserta menghampiriku.
“Terima kasih, Kak. Cerita Kakak membuat saya membatalkan rencana meminjamkan uang besar kepada pacar saya tanpa bukti yang jelas.”
Aku tersenyum.
Kalimat sederhana itu terasa lebih berharga daripada apa pun.
Enam bulan kemudian, tanpa sengaja aku melihat Raka di sebuah warung makan sederhana dekat terminal.
Tubuhnya jauh lebih kurus.
Pakaiannya lusuh.
Ia bekerja mengangkat kardus dari sebuah truk pengiriman.
Tatapan kami bertemu sesaat.
Ia tampak ingin mendekat.
Namun aku hanya menganggukkan kepala kecil sebagai tanda bahwa aku sudah tidak menyimpan kebencian.
Bukan karena aku memaafkan semua yang telah ia lakukan.
Melainkan karena aku tidak ingin terus membawa beban yang bukan lagi milikku.
Aku berbalik dan melangkah pergi.
Langkahku terasa ringan.
Lima ratus juta rupiah masih utuh di rekeningku.
Tetapi aku sadar, yang paling berharga bukanlah uang yang berhasil kuselamatkan.
Melainkan diriku sendiri.
Karena malam ketika sebuah foto lama mengungkap seluruh kebohongan itu, aku memang kehilangan seseorang yang kucintai.
Namun pada saat yang sama, aku juga menemukan sesuatu yang jauh lebih penting.
Aku menemukan keberanian untuk tidak lagi mengorbankan harga diriku demi seseorang yang bahkan tidak pernah menghargai kejujuran.
