PETUGAS KEBERSIHAN MEMECAHKAN KACA MOBIL SPORT MEWAH LALU DITANGKAP—NAMUN CAIRAN ANEH DI BAWAH MESIN MEMBONGKAR RENCANA YANG MENGANCAM RIBUAN ORANG

Pintu-pintu kantor polisi terkunci rapat dengan bunyi klik yang menggema di seluruh lantai. Lampu ruangan berkedip beberapa kali sebelum akhirnya padam selama beberapa detik. Ketika menyala kembali, semua komputer menampilkan layar hitam dengan satu kalimat berwarna merah.

“Jangan ada yang keluar sebelum Pak Efren memutuskan.”

Suasana berubah menjadi tegang. Polisi-polisi langsung mengeluarkan senjata, sementara Komandan Surya memerintahkan semua orang tetap tenang.

“Putuskan sambungan internet sekarang!”

Seorang petugas berlari ke ruang server kantor polisi. Namun beberapa saat kemudian ia kembali dengan wajah pucat.

“Komandan… semua sistem sudah dikendalikan dari luar.”

Pak Efren tidak lagi memedulikan layar komputer. Pikirannya hanya tertuju pada wajah istrinya yang baru saja dilihatnya setelah tiga puluh tahun. Air matanya belum sempat mengering ketika bayangan Ardi yang duduk terikat kembali muncul di kepalanya.

“Aku harus pergi,” katanya pelan.

Komandan Surya menggeleng.

“Itu yang mereka inginkan. Kalau Bapak datang sendirian, mereka akan mendapatkan akses ke ruang bawah tanah.”

“Kalau aku tidak datang, mereka membunuh keluargaku.”

Tidak ada jawaban yang mampu membantah kalimat itu.

Viktor yang sejak tadi duduk diborgol akhirnya berbicara.

“Aku tahu di mana fasilitas itu.”

Semua mata langsung menoleh kepadanya.

“Aku memang mendanai operasi mereka. Tapi aku tidak pernah diberi tahu siapa dalang sebenarnya. Mereka hanya memintaku menyediakan kendaraan, kontraktor, dan akses ke gedung.”

Komandan Surya menatap tajam.

“Kenapa sekarang bicara?”

Viktor tersenyum pahit.

“Karena sekarang aku sadar aku juga hanya diperalat.”

Pak Efren menatapnya tanpa rasa percaya.

“Kau tahu istriku masih hidup?”

“Aku baru tahu hari ini.”

“Bohong.”

“Aku tidak punya alasan untuk berbohong lagi. Orang-orang itu tidak akan membiarkan saksi hidup.”

Belum sempat percakapan berlanjut, listrik kembali padam. Kali ini lebih lama.

Saat lampu darurat menyala, Viktor sudah tidak berada di kursinya.

Borgolnya masih tergantung.

Kosong.

“Cari dia!”

Seluruh ruangan langsung bergerak.

Di lorong belakang terdengar suara tembakan.

Dua polisi roboh bukan karena tertembak, melainkan terkena peluru bius.

Seseorang telah menyusup ke dalam kantor polisi.

Komandan Surya segera membawa Pak Efren ke ruang perlindungan sementara.

“Ada pengkhianat di dalam gedung ini.”

Pak Efren memandang wajah Surya beberapa saat.

“Kalau benar kau bukan orang dalam video itu… buktikan.”

Surya menarik napas panjang.

“Ayahku seorang tentara. Ibuku meninggal saat aku kecil. Aku dibesarkan sebagai anak tunggal. Aku memang tidak pernah tahu punya saudara.”

Pak Efren terdiam.

Tatapan Surya tidak menunjukkan kepanikan, melainkan kebingungan yang sama besarnya.

Beberapa menit kemudian, hasil pemeriksaan sidik jari dari cangkir kopi yang dipakai pria dalam video dikirim oleh laboratorium.

Tidak cocok dengan Surya.

Tetapi tingkat kemiripan DNA mencapai lima puluh persen.

“Saudara kandung…” gumam petugas forensik.

Surya terduduk.

“Berarti dia benar.”

Di saat bersamaan, sebuah panggilan masuk ke radio polisi.

Tim pencarian menemukan Viktor.

Namun bukan dalam keadaan melarikan diri.

Ia tergeletak di parkiran bawah tanah dengan luka tembak di bahu.

Masih hidup.

Ketika dibawa masuk, Viktor langsung menarik tangan Pak Efren.

“Ada terowongan.”

“Di mana?”

“Basement gedung konferensi.”

“Kenapa baru sekarang kau bilang?”

“Aku baru sadar tujuan mereka bukan server.”

Pak Efren mengernyit.

“Maksudmu?”

“Server hanyalah umpan.”

Komandan Surya mendekat.

“Apa target sebenarnya?”

Viktor menutup mata beberapa saat.

“Brankas.”

“Brankas apa?”

“Brankas arsip negara.”

Semua orang saling berpandangan.

Viktor menjelaskan dengan napas berat.

“Di bawah gedung itu bukan hanya pusat data perusahaan. Ada ruang penyimpanan dokumen kepemilikan lahan strategis, kontrak investasi lintas negara, dan sertifikat aset bernilai ratusan triliun rupiah. Jika dokumen asli hilang lalu diganti salinannya, kepemilikan bisa berpindah tanpa disadari bertahun-tahun.”

Pak Efren tiba-tiba teringat sesuatu.

“Tiga puluh tahun lalu… pabrik tempatku bekerja bukan pabrik biasa.”

Semua menoleh.

“Aku diminta membantu merancang sistem pendingin untuk fasilitas bawah tanah. Mereka bilang itu gudang arsip tahan bencana. Setelah proyek selesai, terjadi ledakan di pabrik. Istriku menghilang. Aku kehilangan pekerjaan, semua dokumenku hilang, lalu aku bekerja apa saja sampai akhirnya menjadi petugas kebersihan.”

Komandan Surya bertanya pelan,

“Kalau begitu… siapa yang menghapus masa lalu Bapak?”

Pak Efren menggeleng.

“Aku tidak tahu.”

Seorang analis intelijen yang baru datang membawa berkas lama.

“Pak Efren… kami menemukan sesuatu.”

Ia menunjukkan foto hitam putih.

Di sana tampak Pak Efren muda mengenakan seragam teknisi bersama beberapa insinyur lain.

Di sampingnya berdiri seorang perempuan.

Bukan istrinya.

“Siapa dia?”

Pak Efren memandangi foto itu cukup lama.

“Aku tidak ingat.”

Analis membuka halaman berikutnya.

“Namanya Dr. Maya Prabasari. Ahli keamanan sistem bawah tanah. Dilaporkan meninggal tiga puluh tahun lalu. Tetapi tidak pernah ditemukan jasadnya.”

Komandan Surya menatap Pak Efren.

“Bapak yakin tidak mengenalnya?”

Pak Efren memegang kepalanya.

Potongan-potongan ingatan mulai muncul.

Suara alarm.

Lorong beton.

Bau bahan kimia.

Seorang perempuan berkata,

“Kalau suatu hari semua ini jatuh ke tangan yang salah, hanya kamu yang boleh mengaktifkan sistem Omega.”

Pak Efren memejamkan mata.

“Aku ingat… sedikit.”

Ia membuka mata dengan napas memburu.

“Ada ruang kedua.”

“Di mana?”

“Lebih dalam dari ruang server.”

“Untuk apa?”

“Bukan menyimpan data.”

“Lalu?”

“Mengunci seluruh fasilitas.”

Semua orang terdiam.

Komandan Surya langsung memutuskan bergerak.

Konvoi polisi menuju gedung konferensi yang telah dikosongkan.

Basement tampak sunyi.

Namun ketika mereka memasuki lorong servis, terlihat bekas roda troli yang masih baru.

Pak Efren memimpin jalan.

Tanpa sadar ia mengikuti jalur yang belum pernah ia lihat selama tiga puluh tahun, seolah ingatan lamanya perlahan kembali.

Di ujung lorong terdapat pintu baja raksasa.

Di depannya berdiri belasan pria bersenjata.

Di tengah mereka tampak Ardi dan ibunya masih disandera.

Pria yang mengenakan seragam polisi palsu tersenyum.

“Akhirnya kau datang.”

Pak Efren melangkah maju.

“Lepaskan mereka.”

“Setelah pintu terbuka.”

Komandan Surya mengangkat senjata.

Pria itu tertawa.

“Kalau aku mati, penembak jitu di atas langsung menembak mereka.”

Pak Efren menahan Surya.

“Aku akan membuka pintunya.”

Ardi berteriak,

“Jangan, Yah!”

Pria itu menempelkan pistol ke kepala Ardi.

“Cepat.”

Pak Efren berjalan mendekati panel tua di samping pintu.

Ia mengusap debu yang menempel.

Benar.

Masih ada pemindai sidik jari.

Tangannya bergetar ketika menempelkan telapak ke permukaan kaca.

Lampu hijau menyala.

Suara mekanis bergema.

Pintu perlahan terbuka.

Semua orang mengira mereka akan melihat ruang server.

Yang muncul justru lorong pendek menuju ruangan bundar dengan puluhan rak besi.

Di tengah ruangan berdiri sebuah konsol tua.

Pria itu tersenyum puas.

“Akhirnya.”

Ia mendorong Pak Efren masuk.

“Ambil dokumen kepemilikan.”

Pak Efren memandangi konsol itu.

Ingatan yang selama ini hilang akhirnya kembali utuh.

Ia tidak pernah merancang ruang penyimpanan.

Ia merancang sistem penghancur otomatis.

Dr. Maya pernah berkata,

“Kalau orang jahat berhasil masuk, semua isi ruangan harus musnah daripada jatuh ke tangan mereka.”

Pak Efren diam.

Pria itu mulai tidak sabar.

“Cepat!”

Pak Efren mengangkat tangannya ke panel.

Namun yang ditekan bukan tombol pembuka rak.

Melainkan sakelar merah di sisi bawah.

Alarm langsung berbunyi.

Lampu berubah menjadi merah.

Suara perempuan otomatis terdengar.

“Mode Omega diaktifkan. Seluruh akses akan dikunci dalam enam puluh detik.”

Wajah pria itu berubah.

“Kau melakukan apa?”

“Melindungi apa yang seharusnya tidak boleh dimiliki siapa pun.”

Ia mencoba membatalkan sistem.

Tidak bisa.

Rak-rak besi mulai turun ke lantai bawah.

Dokumen-dokumen masuk ke kapsul tahan api yang langsung tenggelam ke ruang penyimpanan terdalam.

Pria itu menembak panel.

Percuma.

Sistem bekerja secara mekanis.

Komandan Surya memanfaatkan kekacauan itu.

Tim polisi menyerbu.

Baku tembak singkat terjadi.

Ardi berhasil melepaskan diri dan menarik ibunya berlindung.

Pak Efren menerjang pria berseragam polisi palsu sebelum ia sempat melarikan diri.

Topi dan wig-nya terlepas.

Wajahnya memang sangat mirip Surya.

Namun ada bekas luka panjang di pelipis kiri.

“Akhirnya kita bertemu,” katanya sambil tertawa.

Surya memborgolnya.

“Siapa kau sebenarnya?”

Pria itu memandang Surya beberapa detik.

“Aku lahir lima menit lebih dulu darimu.”

Surya membeku.

Pria itu melanjutkan,

“Ayah kita bekerja untuk proyek bawah tanah ini. Saat terjadi kebakaran, hanya satu anak yang boleh dibawa keluar. Aku dijual kepada jaringan kriminal. Kau dibesarkan sebagai anak pahlawan.”

Tidak ada yang berbicara.

Pria itu tertawa getir.

“Lucu, bukan?”

Pak Efren memeluk istrinya yang masih menangis.

“Maafkan aku…”

Perempuan itu menggenggam tangannya erat.

“Aku tidak pernah meninggalkanmu.”

Ia menceritakan bagaimana dirinya diculik setelah mengetahui adanya penyalahgunaan proyek bawah tanah. Selama puluhan tahun ia dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain agar identitas asli pemilik fasilitas tidak pernah terungkap.

Ardi memeluk kedua orang tuanya.

“Aku tahu Ayah pasti datang.”

Pak Efren mengusap kepala putranya.

“Ayah hampir terlambat.”

“Tidak. Ayah selalu datang.”

Beberapa minggu kemudian, penyelidikan besar-besaran mengungkap jaringan korupsi lintas perusahaan yang telah berjalan puluhan tahun. Viktor dijatuhi hukuman karena keterlibatannya sebagai penyandang dana, sementara dalang utama beserta seluruh kelompoknya berhasil ditangkap setelah bukti-bukti dari ruang bawah tanah diamankan.

Pemerintah mengembalikan hak kepemilikan tanah kepada negara sesuai peruntukannya, tetapi memberikan penghargaan khusus kepada Pak Efren atas keberaniannya mencegah bencana yang dapat merenggut ribuan nyawa.

Media terus memberitakan kisahnya.

Namun setiap kali wartawan bertanya bagaimana rasanya menjadi pahlawan, Pak Efren selalu tersenyum sederhana.

“Aku bukan pahlawan. Aku hanya melakukan apa yang menurut hati harus dilakukan.”

Beberapa bulan setelah semuanya berakhir, ia kembali menyapu jalan yang sama.

Trotoar itu kini dipenuhi orang-orang yang mengenal wajahnya.

Ada yang memberi salam.

Ada yang menawarkan tumpangan.

Ada pula yang meminta berfoto.

Pak Efren melayani mereka dengan ramah, lalu kembali mengayunkan sapunya seperti biasa.

Ardi suatu hari bertanya,

“Ayah, setelah tahu Ayah sebenarnya pemilik fasilitas bernilai triliunan rupiah, kenapa Ayah tidak pernah menyesal hidup sederhana?”

Pak Efren memandang jalan yang bersih di hadapannya.

“Karena harga diri seseorang tidak pernah ditentukan oleh apa yang ia miliki.”

Ia tersenyum kepada istrinya yang kini berdiri di sampingnya.

“Melainkan oleh apa yang tetap ia lakukan ketika tidak memiliki apa-apa.”

Di trotoar yang dulu menjadi saksi ketika semua orang mencemoohnya sebagai petugas kebersihan tua yang dianggap gila, kini hanya terdengar suara sapu yang menggesek aspal dengan tenang, mengingatkan bahwa keberanian sering kali datang dari orang yang paling diremehkan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang