Sopir itu dengan sigap membukakan pintu untuk kami. Aku melangkah mundur dengan ragu, memeluk Leo lebih erat. Kepalaku terasa berputar. Bagaimana mungkin seorang kuli panggul yang pakaiannya compang-camping memiliki mobil mewah dengan sopir pribadi yang begitu patuh?
“Tuan?” tanyaku dengan suara bergetar. “Gabriel… siapa kamu sebenarnya?”
Gabriel tidak langsung menjawab. Dia memberikan isyarat lembut agar aku masuk ke dalam mobil terlebih dahulu. “Dingin di luar, Clara. Demi Leo, masuklah dulu. Aku akan menjelaskan semuanya di dalam.”

Begitu pintu mobil tertutup, aroma kulit mewah dan pendingin udara langsung menyelimuti kami. Di dalam mobil, Gabriel membuka sebuah tas kulit yang sudah disiapkan di kursi depan. Dia mengambil beberapa tisu basah khusus, lalu mulai menyeka lumpur buatan di wajah dan lengannya. Dia juga melepas jaketnya yang kotor, menyisakan kaus hitam polos yang pas di tubuhnya yang tegap.
Saat kotoran itu hilang, di balik rambut berantakan dan janggut tebalnya, terpancar aura ketegasan dan wibawa yang luar biasa. Tatapan matanya yang tadi tampak kuyu kini bersinar tajam dan penuh kecerdasan.
“Namaku Gabriel Alexander,” ujarnya dengan suara berat yang tenang. “Aku bukan kuli panggul, Clara. Aku adalah pemilik utama Alexander Group, perusahaan investasi yang selama ini mendanai sebagian besar bisnis mendiang ayahmu.”
Aku terperangah. Alexander Group adalah raksasa finansial yang sangat ditakuti sekaligus disegani di negeri ini. Bahkan mendiang suamiku, Marco, dulu selalu bermimpi bisa bekerja sama dengan mereka.
“Tapi… kenapa kamu menyamar seperti ini? Dan kenapa kamu mau menikahiku?” tanyaku, masih tidak percaya dengan apa yang kudengar.
Gabriel menghela napas panjang, menatap Leo yang mulai tertidur pulas di pangkuanku.
“Dua bulan lalu, ayahmu menghubungiku sebelum dia wafat. Dia tahu Doña Carmela adalah wanita ular yang serakah. Ayahmu tahu jika dia meninggal, Carmela akan mencari cara untuk menyingkirkanmu dan Leo demi menguasai seluruh harta. Ayahmu memintaku untuk melindungimu,” jelas Gabriel.
“Lalu, kenapa harus dengan drama pernikahan ini?”
“Karena jika aku datang sebagai CEO Alexander Group dan membantumu secara langsung, Carmela akan menggunakan pengacara-pengacaranya yang licik untuk menjebakmu dalam perang hukum yang panjang. Dia bisa saja mencelakaimu atau menyembunyikan Leo untuk memerasmu,” lanjut Gabriel. “Aku sengaja menyamar menjadi pria paling hina di mata Carmela agar dia merasa menang. Aku ingin dia dengan sukarela menunjukkan semua kelicikannya, mengusirmu, dan menandatangani dokumen yang dia pikir adalah surat penyerahan warisan.”
Gabriel tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin yang membuat bulu kudukku meremang, namun sekaligus memberikan rasa aman yang belum pernah kurasakan selama bertahun-tahun.
“Dokumen yang kamu tandatangani tadi memang mengalihkan asetmu. Tapi dokumen yang ditandatangani Carmela sebagai saksi pernikahan dan wali palsumu sebenarnya adalah surat pembatalan hak asuh dan pengakuan penipuan aset yang telah kami persiapkan bersama tim hukum terbaikku. Dia berpikir dia telah mengambil segalanya, padahal dia baru saja menyerahkan dirinya sendiri ke dalam perangkap.”
Mobil mewah itu berhenti di depan sebuah mansion yang jauh lebih megah dan indah daripada mansion peninggalan ayahku. Penjaga gerbang langsung membungkuk hormat saat mobil kami masuk.
“Mulai hari ini, ini rumahmu dan Leo. Kalian aman di sini,” ucap Gabriel tulus.
Tiga hari kemudian adalah hari yang paling dinantikan.
Doña Carmela mengadakan pesta besar di mansion lamaku untuk merayakan “kemenangannya” atas seluruh aset keluarga. Dia mengundang para kolega bisnis, investor, dan media untuk mengumumkan bahwa kini dialah pemilik tunggal dari seluruh jaringan bisnis keluargaku.
Dengan mengenakan gaun merah mewah dan perhiasan berkilau, Carmela berdiri di atas panggung mini di aula utama, memegang mikrofon dengan senyum kemenangan yang sangat lebar.
“Terima kasih atas kehadiran Anda sekalian. Hari ini, saya resmi mengumumkan bahwa seluruh kepemilikan saham dan aset warisan kini telah sepenuhnya jatuh ke tangan saya, setelah putri tiri saya yang tidak berguna memilih pergi bersama suami barunya yang… yah, seorang gelandangan jalanan,” ucap Carmela diiringi tawa sinis beberapa tamu.
Tepat saat tawa itu mereda, pintu ganda aula utama terbuka lebar.
Langkah kaki yang tegas terdengar menggema. Semua mata tertuju ke arah pintu.
Aku melangkah masuk dengan anggun, mengenakan gaun malam hitam yang elegan. Rambutku yang biasanya kusut kini tertata indah, dan wajahku memancarkan keyakinan yang sudah lama hilang. Di sampingku, berjalan seorang pria dengan setelan tuksedo mahal buatan desainer ternama. Tubuhnya tegap, wajahnya bersih, tampan, dengan aura kekuasaan yang begitu mendominasi ruangan.
Itu Gabriel.
Doña Carmela menghentikan pidatonya. Matanya membelalak lebar, menatapku dengan penuh kemarahan sekaligus kebingungan.
“Clara?! Bagaimana jalang seperti kamu bisa masuk ke sini?! Dan siapa pria di sebelahmu? Di mana suamimu yang jembel itu?!” teriak Carmela histeris, kehilangan kesopanannya di depan para tamu.
Gabriel melangkah maju ke depan panggung, menatap Carmela dengan pandangan dingin yang mematikan.
“Nyonya Carmela,” suara Gabriel menggema melalui pengeras suara yang dibawa oleh asisten pribadinya. “Saya adalah suami Clara. Pria yang Anda sebut ‘jembel’ dan Anda nikahkan dengannya tiga hari lalu.”
“B-Bohong! Jangan bercanda! Pria itu adalah sampah pasar yang kotor!” teriak Carmela, suaranya mulai bergetar saat dia mengenali struktur wajah dan sorot mata tajam pria di depannya.
“Saya sengaja memakai pakaian kotor agar Anda tidak silau dengan kenyataan,” ujar Gabriel tenang. “Perkenalkan, saya Gabriel Alexander. Pemilik Alexander Group.”
Bisik-bisik langsung pecah di antara para tamu undangan. Beberapa pengusaha yang mengenal Gabriel langsung berdiri dan membungkuk memberi hormat. Wajah Doña Carmela seketika memucat, berubah seputih kertas. Rahangnya serasa jatuh, matanya melotot seolah hampir keluar dari kelopaknya. Tubuhnya gemetar hebat sampai-sampai gelas sampanye di tangannya jatuh dan pecah berkeping-keping di lantai.
“T-Tidak mungkin… Alexander Group? Kamu… kamu…” Carmela tergagap, tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
“Anda berpikir telah menjebak Clara dengan pernikahan paksa ini untuk merebut hartanya,” lanjut Gabriel sambil memberi isyarat kepada beberapa petugas polisi yang tiba-tiba masuk ke dalam aula. “Namun kenyataannya, pernikahan ini sah secara hukum, dan dokumen yang Anda tanda tangani hari itu adalah bukti otentik bahwa Anda telah melakukan pemerasan, ancaman penculikan anak bawah umur, dan pemalsuan dokumen waris.”
Seorang detektif polisi maju dan mengeluarkan borgol. “Doña Carmela, Anda ditahan atas tuduhan pemerasan, pengancaman, dan penipuan terencana.”
“Tidak! Ini konspirasi! Clara, kamu menjebakku!” jerit Carmela histeris saat polisi mencengkeram lengannya dan menyeretnya keluar dari aula di hadapan semua tamu dan sorotan kamera media yang terus menyala. Dia menangis meronta-ronta, namun tidak ada satu orang pun yang menolongnya.
Setelah kekacauan itu mereda, Gabriel berbalik menatapku. Dia mengulurkan tangannya yang hangat.
“Semuanya sudah selesai, Clara. Kebebasanmu dan Leo sudah kembali,” bisiknya lembut.
Aku menyambut tangannya dengan air mata haru yang menetes di pipi—kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kebahagiaan dan kelegaan yang tak terhingga. Di balik badai yang mengerikan, Tuhan mengirimkan pelindung yang tak pernah kuduga sebelumnya.
