Namaku Lorna. Selama bertahun-tahun aku selalu percaya bahwa setiap benda memiliki umur. Namun ada satu benda yang tak pernah sanggup kubuang, meski sudah berkarat, rodanya hampir lepas, dan pegangannya dibalut lakban yang mulai mengelupas. Sebuah stroller bayi tua yang sudah lebih dari dua puluh tahun menemaniku. Bagi orang lain, itu hanyalah barang rongsokan. Bagiku, itu adalah satu-satunya petunjuk yang tersisa dari anak yang pernah hilang dari hidupku.
Pagi itu aku berdiri di depan sebuah toko perlengkapan bayi terbesar di Jakarta Selatan. Napasku berat. Pakaianku lusuh karena baru selesai bekerja membersihkan rumah orang. Sepatuku sudah tipis di bagian sol, sementara tanganku terus menggenggam erat pegangan stroller itu, seolah jika kulepaskan, semua harapanku ikut menghilang.

Sudah bertahun-tahun aku mencari informasi tentang toko tempat stroller itu dibeli. Dulu toko ini kecil. Kini telah berubah menjadi bangunan megah tiga lantai dengan interior modern dan pencahayaan mewah. Aku tidak tahu apakah masih ada orang yang mengingat masa lalu, tetapi aku harus mencoba.
Begitu masuk, hawa dingin dari pendingin ruangan langsung menyambutku. Para pelanggan memandangi berbagai perlengkapan bayi dengan santai. Sebagian besar datang bersama keluarga, mengenakan pakaian mahal dan membawa bayi yang tertawa riang.
Aku menjadi satu-satunya orang yang terlihat tidak pantas berada di sana.
Seorang sales woman menghampiriku dengan langkah cepat. Namanya Camille, tertulis jelas di name tag yang menempel di dadanya.
“Maaf, Bu. Stroller itu tidak boleh dibawa masuk.”
Aku tersenyum tipis.
“Saya hanya ingin bertanya. Dulu stroller ini dibeli di sini.”
Camille melihat stroller itu dari atas sampai bawah, lalu menghela napas panjang.
“Bu, ini bukan tempat reparasi.”
“Saya tidak ingin memperbaikinya.”
“Lalu?”
“Saya hanya ingin tahu siapa yang pernah menjualnya.”
Camille tertawa kecil.
“Bu, stroller itu kelihatannya lebih tua daripada saya.”
Beberapa pelanggan mulai memperhatikan kami.
Seorang perempuan muda berbisik kepada suaminya.
“Kasihan ya… mungkin dia mau minta uang.”
Wajahku memanas. Aku menunduk.
“Saya tidak meminta apa-apa.”
Camille mulai kehilangan kesabaran.
“Kalau Ibu tidak membeli barang, silakan keluar. Jangan membuat pelanggan lain merasa tidak nyaman.”
Dadaku terasa sesak.
Aku mengusap perlahan pegangan stroller itu.
Saat itulah sesuatu terjadi.
Camille tanpa sengaja melihat ukiran kecil di bawah lapisan lakban yang mulai terkelupas.
Ia berhenti berbicara.
Matanya membesar.
Tangannya gemetar.
Ukiran itu hanya terdiri dari tiga huruf.
“A.R.”
Di bawahnya terdapat tanggal yang sudah hampir pudar.
12 Agustus 2004.
Wajah Camille berubah pucat.
“Itu… dari mana Ibu mendapatkan stroller ini?”
Aku terkejut melihat perubahan sikapnya.
“Ini milik anak saya.”
Camille menelan ludah.
“Tunggu di sini.”
Ia langsung berlari menuju ruang kantor.
Beberapa menit kemudian seorang pria tua keluar dengan langkah tergesa-gesa. Rambutnya sudah memutih. Di dada kirinya terpasang name tag bertuliskan “Pak Surya – Store Manager.”
Begitu melihat stroller itu, napasnya langsung tercekat.
“Ya Tuhan…”
Ia berjongkok di depanku.
“Apakah benar stroller ini milik Ibu?”
Aku mengangguk.
“Anak saya hilang dua puluh tahun lalu.”
Suasana toko mendadak sunyi.
Pak Surya menutup mulutnya.
“Saya kira… semua ini sudah selesai.”
Aku mulai bingung.
“Bapak tahu sesuatu?”
Pria tua itu meminta semua pelanggan menjauh. Ia kemudian mengajakku masuk ke ruang kantornya.
Di dalam ruangan, ia membuka sebuah lemari besi kecil.
Dari sana ia mengeluarkan sebuah buku besar yang sudah menguning.
“Sejak toko ini berdiri, pemilik lama selalu menyimpan catatan pelanggan yang membeli produk edisi khusus.”
Ia membalik halaman demi halaman.
Lalu berhenti.
“Ini dia.”
Namaku tertulis jelas.
Lorna Wijaya.
Pembelian stroller edisi terbatas warna abu-abu.
Ukiran nama sesuai permintaan pelanggan.
A.R.
Air mataku mulai mengalir.
“Itu inisial anak saya.”
Pak Surya menarik napas panjang.
“Beberapa minggu setelah pembelian itu, seorang pria datang.”
“Siapa?”
“Kakek dari seorang bayi.”
Aku mengernyit.
“Dia meminta semua data pembeli stroller yang memiliki ukiran nama.”
“Untuk apa?”
“Saya tidak tahu. Tapi dia sangat berkuasa.”
Pak Surya lalu membuka amplop tua yang tersimpan di antara halaman buku.
Di dalamnya terdapat foto.
Begitu melihat foto itu, seluruh tubuhku langsung membeku.
Foto itu memperlihatkan seorang bayi di dalam stroller yang sama.
Di sampingnya berdiri seorang pria tua berpakaian rapi.
Aku mengenalnya.
Namanya Adrian Rahardjo.
Salah satu pengusaha terbesar di Indonesia.
Mustahil.
Aku belum pernah bertemu pria itu.
Lalu mengapa ia memiliki foto anakku?
Pak Surya kembali berbicara.
“Setelah itu, beliau meminta semua informasi pelanggan dihapus.”
“Kenapa?”
“Saya tidak pernah diberi tahu.”
Tanganku gemetar.
“Anak saya diculik?”
Pak Surya menunduk.
“Saya tidak berani memastikan.”
Aku keluar dari toko dengan kepala penuh pertanyaan.
Sebelum pergi, Camille mengejarku.
“Bu…”
Aku menoleh.
“Ayah saya dulu bekerja sebagai sopir keluarga Rahardjo.”
Aku terdiam.
“Sebelum meninggal, beliau pernah berkata bahwa keluarga itu menyimpan rahasia besar tentang seorang anak yang bukan cucu kandung mereka.”
Jantungku berdegup semakin cepat.
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Aku membuka kembali seluruh kotak kenangan yang kusimpan selama dua puluh tahun.
Di dasar stroller, tepat di balik lapisan kain yang hampir robek, aku menemukan sesuatu yang belum pernah kulihat.
Sebuah resleting kecil.
Tanganku gemetar saat membukanya.
Di dalamnya tersimpan sebuah flashdisk tua.
Aku langsung pergi ke warnet karena laptopku sudah lama rusak.
Begitu flashdisk terbuka, hanya ada satu file video.
Tanggal rekamannya 18 Agustus 2004.
Video itu memperlihatkan diriku sendiri sedang mendorong stroller di sebuah taman.
Aku menangis melihat wajahku yang masih muda.
Namun beberapa detik kemudian kamera bergerak ke arah lain.
Seorang pria mengikuti kami dari kejauhan.
Wajahnya sangat jelas.
Adrian Rahardjo.
Aku hampir tidak percaya.
Video berakhir ketika seseorang menutupi kamera.
Tidak ada penjelasan lain.
Keesokan harinya aku memberanikan diri datang ke rumah megah keluarga Rahardjo.
Petugas keamanan langsung menghalangiku.
“Saya ingin bertemu Pak Adrian.”
“Sudah ada janji?”
“Tidak.”
“Maaf, tidak bisa.”
Saat aku hendak pergi, sebuah mobil hitam memasuki halaman.
Seorang pria muda turun dari kursi belakang.
Usianya sekitar dua puluh dua tahun.
Begitu melihat stroller di tanganku, langkahnya langsung berhenti.
Wajahnya berubah.
Ia menatap ukiran kecil itu cukup lama.
“A.R…”
Bisiknya pelan.
Aku memandangnya tanpa berkedip.
Entah mengapa, ada sesuatu yang terasa sangat akrab pada wajahnya.
Tatapan matanya.
Lesung pipinya.
Cara ia mengerutkan dahi.
Semuanya mengingatkanku pada almarhum suamiku.
Pria muda itu mendekat perlahan.
“Ibu… boleh saya melihat stroller itu?”
Aku menyerahkannya.
Tangannya gemetar saat menyentuh pegangan yang sudah kusam.
Kemudian ia membalik bagian bawah stroller.
Matanya langsung berkaca-kaca.
“Masih ada…”
Katanya lirih.
Aku bingung.
“Apa?”
Ia menunjukkan sebuah goresan kecil berbentuk bintang di rangka besi.
“Saya sering memegang bagian ini sejak kecil.”
Darahku seperti berhenti mengalir.
“Tidak mungkin…”
Pria muda itu menatapku.
“Aneh sekali.”
“Apa?”
“Sejak kecil saya selalu diberi tahu bahwa stroller ini hilang saat rumah kami kebakaran.”
Napas kami sama-sama memburu.
Sebelum sempat berkata apa-apa lagi, pintu rumah terbuka.
Seorang pria tua berusia sekitar delapan puluh tahun keluar dengan bantuan tongkat.
Adrian Rahardjo.
Begitu melihat stroller itu, tongkat di tangannya terjatuh.
Tubuhnya bergetar hebat.
Air mata perlahan mengalir di pipinya.
“Akhirnya…”
Bisiknya lirih.
Pria muda itu menoleh.
“Kakek… Ibu ini siapa?”
Adrian memejamkan mata beberapa saat.
Lalu dengan suara yang nyaris patah ia berkata,
“Dia bukan orang asing.”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
Pria tua itu melangkah mendekat, lalu berlutut di hadapanku.
Seluruh petugas keamanan dan penghuni rumah membeku menyaksikan pemandangan itu.
Dengan suara yang penuh penyesalan, Adrian berkata,
“Dua puluh tahun lalu aku mengambil keputusan paling kejam dalam hidupku. Putriku meninggal saat melahirkan. Bayinya juga tidak selamat. Aku tidak sanggup melihat keluargaku hancur. Ketika mengetahui ada bayi lain yang kehilangan ayah dan hidup dalam kemiskinan, aku melakukan dosa yang tidak akan pernah bisa kutebus. Aku mengambil anakmu dan membesarkannya sebagai cucuku sendiri.”
Dunia seakan berhenti berputar.
Pria muda di sampingku memandang Adrian dengan wajah pucat.
“Apa maksud Kakek?”
Adrian menangis tersedu-sedu.
“Kamu… bukan cucu kandungku.”
Pria muda itu perlahan menoleh kepadaku.
Matanya dipenuhi air mata.
Aku melihat kalung kecil yang menggantung di lehernya.
Kalung berbentuk bulan sabit.
Kalung yang dulu kupasang sendiri pada bayi laki-lakiku sebelum ia menghilang.
Aku tidak mampu berdiri.
Lututku lemas.
Pria muda itu juga mulai menangis.
Dengan suara bergetar ia bertanya,
“Apakah… Ibu benar-benar ibu kandung saya?”
Aku tidak mampu menjawab.
Aku hanya mengangguk sambil memeluknya seerat yang kubisa.
Stroller tua yang selama ini dianggap sampah ternyata bukan sekadar kenangan.
Benda itulah yang menyimpan ukiran nama, catatan pembelian, foto lama, dan ruang rahasia berisi bukti yang akhirnya membuka kebohongan selama dua puluh tahun.
Semua orang pernah memandang rendah seorang ibu yang datang dengan pakaian lusuh sambil mendorong stroller rusak.
