Pagi itu langit Jakarta masih diselimuti warna jingga ketika Pak Rahmat mulai menyapu daun-daun kering di sebuah taman kota yang ramai dikunjungi warga. Usianya hampir enam puluh tahun, rambutnya sudah dipenuhi uban, tetapi gerakannya tetap cekatan. Setiap sudut taman dikenalnya seperti halaman rumah sendiri. Ia tahu pohon mana yang paling banyak menggugurkan daun, bangku mana yang sering dipakai lansia beristirahat, dan tempat sampah mana yang selalu cepat penuh setelah akhir pekan.
Bagi sebagian orang, Pak Rahmat hanyalah petugas kebersihan yang nyaris tak terlihat. Namun bagi anak-anak yang bermain setiap sore, pedagang kaki lima, dan para pelari pagi, senyum ramahnya selalu menjadi bagian dari suasana taman.

“Selamat pagi, Pak Rahmat!” sapa seorang ibu yang sedang berolahraga.
“Pagi, Bu. Semoga sehat selalu.”
Jawabannya sederhana, tetapi selalu tulus.
Tak jauh dari sana, sebuah mobil patroli berhenti. Seorang polisi muda turun dengan langkah tegap. Seragamnya masih tampak baru, sepatu hitamnya mengilap, dan wajahnya memancarkan rasa percaya diri yang berlebihan. Namanya Brigadir Arga. Baru beberapa minggu dipindahkan ke wilayah itu dan ingin menunjukkan bahwa dirinya adalah aparat yang tegas.
Matanya langsung tertuju pada gerobak sampah Pak Rahmat yang diparkir di dekat bangku taman.
“Kamu!” bentaknya keras.
Pak Rahmat menoleh sambil meletakkan sapunya.
“Iya, Pak?”
“Kenapa gerobak ini diletakkan di sini? Kamu mengotori pemandangan taman.”
Pak Rahmat mengusap peluh di dahinya.
“Saya sedang membersihkan area sebelah sana, Pak. Nanti setelah selesai langsung saya bawa ke tempat pengumpulan.”
Arga mendengus.
“Alasan.”
Beberapa orang mulai berhenti berolahraga. Mereka memperhatikan dari kejauhan.
Pak Rahmat mencoba tetap tenang.
“Maaf kalau mengganggu, Pak.”
Namun permintaan maaf itu justru membuat Arga semakin meninggikan suara.
“Kalau kerja, ya kerja yang benar! Jangan duduk-duduk santai lalu bikin taman terlihat kumuh.”
Padahal beberapa menit sebelumnya Pak Rahmat hanya duduk sebentar karena lututnya yang mulai nyeri.
Arga menarik gerobak itu hingga beberapa kantong sampah jatuh berserakan di jalan setapak.
“Lihat! Sekarang benar-benar berantakan.”
Pak Rahmat buru-buru membungkuk memungut semuanya.
Tangannya gemetar.
Beberapa pengunjung tampak tidak nyaman.
“Kasihan bapaknya…”
“Padahal beliau baik sekali.”
Bisik-bisik mulai terdengar, tetapi tak seorang pun berani ikut campur.
Arga merasa semakin puas karena menjadi pusat perhatian.
“Kalau tidak sanggup kerja, pensiun saja!”
Kalimat itu menusuk hati Pak Rahmat jauh lebih dalam daripada bentakan sebelumnya.
Ia hanya mengangguk pelan.
“Saya akan bereskan semuanya.”
Saat itulah seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun berlari memasuki taman.
“Kakek!”
Pak Rahmat langsung tersenyum.
“Nino, kenapa datang pagi-pagi?”
“Aku bawa bekal dari Ibu.”
Anak kecil itu memeluk Pak Rahmat tanpa memedulikan seragam kerja yang penuh debu.
Arga menggeleng sinis.
“Anak kecil saja tidak diajari menjaga kebersihan. Memeluk orang penuh sampah.”
Nino menatap polisi itu.
“Kakek saya bukan sampah.”
Suasana mendadak hening.
Pak Rahmat segera menenangkan cucunya.
“Sudah, Nino.”
Namun sebelum keadaan kembali tenang, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan taman.
Dua pria dan seorang wanita turun mengenakan pakaian formal. Salah satu di antaranya membawa map tebal berlogo Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Mereka berjalan cepat menuju Pak Rahmat.
“Selamat pagi, Pak Rahmat.”
Pak Rahmat tampak terkejut.
“Ibu Maya? Pak Dedi?”
Wanita itu tersenyum hangat.
“Kami akhirnya menemukan Bapak.”
Arga segera mendekat.
“Maaf, ada urusan apa?”
Wanita itu memperlihatkan kartu identitasnya.
“Saya Maya, Kepala Bidang Pelayanan Publik.”
Arga yang tadi begitu garang langsung sedikit melunak.
“Ada masalah?”
“Bukan.”
Wanita itu menoleh kepada Pak Rahmat.
“Pak, kami ingin memastikan Bapak hadir dalam acara siang ini.”
Pak Rahmat tampak bingung.
“Acara?”
“Iya. Penyerahan penghargaan warga teladan.”
Arga mengernyit.
“Penghargaan?”
Pak Dedi membuka map dan menunjukkan beberapa dokumen.
“Selama dua puluh lima tahun terakhir, Pak Rahmat bukan hanya menjaga kebersihan taman.”
Ia membalik halaman berikutnya.
“Beliau sudah mengembalikan lebih dari seratus dompet yang ditemukan di taman tanpa mengambil satu rupiah pun.”
“Beliau beberapa kali menolong anak hilang hingga bertemu kembali dengan keluarganya.”
“Beliau juga menjadi saksi penting yang membantu polisi mengungkap kasus pencurian kendaraan tiga tahun lalu.”
Beberapa warga mulai saling berpandangan.
“Benar itu.”
“Saya ingat kejadian itu.”
Seorang pedagang mengangkat tangan.
“Waktu anak saya hilang, Pak Rahmat yang menemukannya.”
Seorang lansia ikut bersuara.
“Dompet saya berisi uang belasan juta juga dikembalikan utuh.”
Kesaksian demi kesaksian bermunculan.
Arga mulai kehilangan kepercayaan dirinya.
Namun kejutan sebenarnya belum datang.
Pak Dedi mengeluarkan sebuah foto lama.
“Dua puluh tahun lalu, saat banjir besar melanda Jakarta, Pak Rahmat menyelamatkan seorang balita yang hanyut.”
Wanita itu tersenyum.
“Balita itu sekarang sudah menjadi dokter.”
Tak lama kemudian, seorang pria muda berseragam dokter datang menghampiri.
Tanpa ragu ia langsung memeluk Pak Rahmat.
“Kalau bukan karena Bapak, saya mungkin sudah tidak ada.”
Mata Pak Rahmat berkaca-kaca.
“Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan.”
Dokter itu menggeleng.
“Tidak semua orang berani mempertaruhkan nyawa demi orang asing.”
Arga menelan ludah.
Baru kali ini ia melihat begitu banyak orang datang bukan karena jabatan, melainkan karena rasa hormat yang tulus.
Saat hendak meminta maaf, suara sirene kembali terdengar.
Sebuah mobil dinas berhenti.
Yang turun kali ini adalah Kapolres bersama beberapa perwira.
Arga langsung berdiri tegak memberi hormat.
“Siap, Komandan!”
Kapolres hanya mengangguk singkat sebelum berjalan ke arah Pak Rahmat.
Beliau menjabat tangan pria tua itu dengan kedua tangannya.
“Pak Rahmat, saya sudah lama ingin bertemu langsung.”
Pak Rahmat tampak kikuk.
“Bapak mengenal saya?”
“Tentu.”
Kapolres tersenyum.
“Enam tahun lalu putri saya kehilangan dompet di taman ini.”
Pak Rahmat langsung mengingat.
“Anak perempuan yang menangis itu?”
“Iya.”
“Dompetnya saya titipkan ke pos keamanan.”
Kapolres mengangguk pelan.
“Di dalam dompet itu ada dokumen penting keluarga kami. Bapak bahkan menolak ketika saya ingin memberi uang sebagai tanda terima kasih.”
Beliau kemudian menoleh kepada Arga.
“Waktu pendidikan polisi, kami selalu mengajarkan satu hal.”
Semua orang terdiam.
“Hormati setiap warga, apa pun pekerjaannya.”
Arga menundukkan kepala.
“Saya… saya khilaf, Komandan.”
Kapolres tidak membentaknya.
Beliau hanya berkata tenang.
“Kesalahan terbesar seorang aparat bukan saat ia tidak tahu hukum. Kesalahan terbesar adalah ketika ia lupa menghargai manusia.”
Arga perlahan mendekati Pak Rahmat.
Wajahnya memerah karena malu.
“Pak… saya benar-benar minta maaf.”
Pak Rahmat menatapnya beberapa saat.
Kemudian ia tersenyum.
“Tidak apa-apa, Nak.”
Arga terkejut.
“Bapak memaafkan saya?”
“Kalau saya terus menyimpan marah, taman ini tetap tidak akan menjadi lebih bersih.”
Jawaban sederhana itu justru membuat Arga semakin tertunduk.
Hari itu, acara penghargaan tetap berlangsung di taman yang sama.
Di depan ratusan warga, Pak Rahmat menerima penghargaan sebagai Teladan Pelayanan Masyarakat.
Ketika diminta memberikan sambutan, ia hanya mengucapkan beberapa kalimat.
“Saya bukan orang hebat. Saya hanya percaya bahwa pekerjaan sekecil apa pun bisa menjadi besar kalau dilakukan dengan hati yang bersih. Tolong jangan pernah menilai seseorang dari seragam yang dipakainya. Karena yang membuat seseorang berharga bukanlah pakaiannya, melainkan kejujurannya.”
Tepuk tangan bergema memenuhi taman.
Arga ikut bertepuk tangan paling lama.
Sejak hari itu, setiap kali berpatroli di taman, ia selalu menyapa Pak Rahmat lebih dulu.
Dan setiap kali melihat seorang petugas kebersihan menyapu jalan, ia tidak lagi melihat pekerjaan yang rendah.
Ia melihat orang-orang yang diam-diam menjaga kota tetap layak dihuni, sementara banyak orang bahkan tidak pernah mengucapkan terima kasih kepada mereka.
