Namaku Marta. Selama lebih dari tiga puluh tahun, hidupku hanya dihabiskan di depan ember, sabun, dan jemuran. Orang-orang mengenalku sebagai tukang cuci yang pendiam di sebuah desa kecil di pinggiran Yogyakarta. Tidak ada yang pernah menganggap pekerjaanku penting. Bagiku, pakaian selalu menyimpan cerita. Dari noda minyak, aku tahu seseorang bekerja keras. Dari aroma parfum, aku tahu seseorang sedang jatuh cinta. Dan dari darah, aku tahu ada luka yang sungguh terjadi.
Karena itulah, ketika seseorang datang larut malam membawa sebuah kemeja putih penuh noda merah dan berkata bahwa itu adalah darah, aku langsung merasa ada yang janggal.

Kini aku berdiri di rumah duka Rico, pemuda yang ditemukan meninggal di dekat gudang tua. Semua mata memandangku dengan tatapan heran. Tidak sedikit yang menganggap aku hanya sedang mencari perhatian.
Namun aku tidak peduli.
“Kalau Ibu salah, Ibu bisa dituduh menghalangi penyelidikan,” kata Sersan Luna dengan nada serius.
“Aku siap bertanggung jawab kalau memang salah,” jawabku pelan. “Tapi sebelum kalian menguburkan anak ini bersama kebohongan, tolong periksa dulu baju itu.”
Ruangan menjadi sunyi.
Sersan Luna akhirnya mengambil kemeja yang kubawa. Ia memasukkannya ke dalam kantong barang bukti dan segera menghubungi tim forensik.
Ibunda Rico, Bu Fely, menghampiriku sambil menggenggam tanganku.
“Kalau benar anak saya difitnah… tolong bantu ungkap semuanya.”
Aku hanya mengangguk. Air mata perempuan tua itu mengingatkanku pada saat kehilangan suamiku puluhan tahun lalu.
Keesokan paginya, hasil pemeriksaan awal keluar.
Seluruh ruangan kantor polisi mendadak tegang.
“Noda merah itu bukan darah manusia,” ujar petugas laboratorium.
Semua orang saling berpandangan.
“Itu campuran pewarna tekstil, tanah merah, dan sedikit cairan besi agar warnanya menyerupai darah yang mengering.”
Sersan Luna langsung berdiri.
“Artinya seseorang sengaja menciptakan bukti palsu.”
Kasus yang semula dianggap selesai mendadak berubah total.
Penyelidikan dimulai dari orang yang menyerahkan pakaian kepadaku.
Aku masih mengingat wajahnya.
Laki-laki bertopi hitam.
Tubuh tinggi.
Bau rokok kretek yang sangat menyengat.
Dan ada bekas luka kecil di pelipis kirinya.
Polisi mulai menyisir rekaman CCTV di sekitar jalan menuju rumahku.
Setelah berjam-jam mencari, mereka menemukan sosok yang sesuai dengan keteranganku.
Pria itu ternyata bernama Doni, seorang buruh harian yang sering bekerja di gudang tempat Rico ditemukan meninggal.
Doni segera dipanggil.
Namun ia menghilang.
Rumah kontrakannya kosong.
Tetangga mengatakan ia pergi sebelum matahari terbit.
Pelarian Doni membuat polisi semakin yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan.
Dua hari kemudian, motor Doni ditemukan di sebuah terminal kecil.
Di jok motornya terdapat amplop berisi uang tunai lima belas juta rupiah.
Tidak ada identitas pengirim.
Hanya secarik kertas.
“Lupakan semuanya.”
Sersan Luna semakin curiga.
“Orang yang membayar Doni pasti pelaku sebenarnya.”
Polisi kemudian memeriksa telepon Rico.
Awalnya tidak ditemukan sesuatu yang mencurigakan.
Namun seorang ahli digital berhasil memulihkan pesan yang telah dihapus.
Isi percakapan terakhir membuat semua orang tercengang.
“Aku sudah tahu semuanya. Besok kita bicara di gudang.”
Pesan itu dikirim Rico kepada seseorang bernama Adrian.
Adrian bukan orang asing.
Ia adalah sahabat Rico sejak SMP.
Semua orang mengenal mereka sebagai teman yang tidak pernah terpisahkan.
Adrian datang ke kantor polisi dengan wajah tenang.
“Aku memang janjian bertemu Rico malam itu. Tapi dia tidak pernah datang.”
“Kenapa kalian bertemu?”
Adrian tersenyum hambar.
“Itu urusan pribadi.”
Jawaban itu justru membuat penyidik semakin curiga.
Ponsel Adrian kemudian diperiksa.
Lokasinya memang berada di sekitar gudang pada malam kejadian.
Namun ia memiliki alibi.
Beberapa menit setelah itu, ia terlihat memasuki minimarket yang memiliki CCTV.
Waktu kematian Rico diperkirakan terjadi hampir empat puluh menit kemudian.
Alibi itu tampak sempurna.
Penyelidikan kembali buntu.
Aku mencoba mengingat semua hal kecil yang kulihat saat menerima pakaian.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
Kancing.
Salah satu kancing kemeja itu baru dijahit.
Benangnya berbeda.
Aku memberi tahu Sersan Luna.
“Kalau bajunya sengaja dipalsukan, mungkin kancing itu juga menyimpan petunjuk.”
Kemeja itu diperiksa ulang.
Benar saja.
Di balik lipatan kain dekat kancing terdapat serpihan kecil plastik transparan.
Bukan berasal dari pakaian.
Itu ternyata pecahan pelindung kartu identitas perusahaan.
Polisi lalu mencocokkan nomor seri kecil yang masih terlihat.
Hasilnya mengejutkan.
Pelindung kartu itu hanya digunakan oleh perusahaan logistik tempat Rico bekerja.
Semua pegawai diperiksa.
Salah satu nama langsung menarik perhatian.
Manager operasional bernama Hendra.
Beberapa karyawan mengaku Rico dan Hendra sempat bertengkar seminggu sebelum kejadian.
Rico ternyata menemukan laporan keuangan yang tidak sesuai.
Ada pengiriman fiktif bernilai miliaran rupiah.
Ia berniat melaporkannya kepada kantor pusat.
Hendra dipanggil.
Ia membantah semuanya.
“Itu hanya kesalahan administrasi.”
Namun audit internal membuktikan bahwa uang perusahaan memang menghilang.
Jumlahnya hampir tiga miliar rupiah.
Motif mulai terlihat.
Tetapi bukti pembunuhan masih belum ada.
Malam itu, Doni akhirnya ditemukan.
Bukan oleh polisi.
Melainkan oleh seorang petani di sebuah gubuk kosong.
Ia masih hidup, tetapi terluka parah akibat kecelakaan motor.
Begitu sadar, Doni langsung menangis.
“Aku tidak membunuh Rico.”
“Lalu kenapa kau kabur?”
“Aku dibayar untuk menghilangkan jejak.”
“Siapa yang membayarmu?”
“Hendra.”
Semua orang menahan napas.
Doni menceritakan bahwa setelah Rico meninggal, Hendra datang membawa pakaian.
Ia memerintahkan Doni agar mencucikannya lalu membuangnya.
Karena takut, Doni malah menyerahkannya kepadaku.
Ia mengira aku akan langsung membuangnya tanpa bertanya.
“Tapi waktu Bu Marta bilang itu bukan darah… aku sadar aku ikut membantu kejahatan.”
Meski begitu, Doni tetap bersikeras.
“Aku tidak melihat siapa yang membunuh Rico.”
Polisi segera menangkap Hendra.
Tetapi lagi-lagi ia menyangkal.
“Kalian tidak punya bukti bahwa aku membunuhnya.”
Benar.
Semua bukti hanya menunjukkan bahwa ia berusaha menghilangkan jejak.
Belum ada yang membuktikan bagaimana Rico meninggal.
Autopsi ulang akhirnya dilakukan.
Hasilnya benar-benar mengubah arah kasus.
Tubuh Rico ternyata tidak memiliki luka tusuk yang mematikan.
Luka di dadanya hanyalah sayatan dangkal yang dibuat setelah ia meninggal.
Penyebab kematian sebenarnya adalah benturan keras di bagian belakang kepala.
Artinya Rico tidak dibunuh dengan pisau.
Ia dipukul.
Gudang kembali diperiksa.
Di balik rak besi yang sebelumnya luput dari pemeriksaan, polisi menemukan bercak darah asli yang sangat kecil.
Tes DNA memastikan darah itu milik Rico.
Di dekatnya ditemukan sebuah patung logam kecil yang biasa dijadikan pemberat pintu.
Sidik jari Hendra masih menempel di sana.
Bukti itu tidak bisa dibantah lagi.
Dalam pemeriksaan panjang, Hendra akhirnya runtuh.
Malam itu Rico datang membawa salinan dokumen korupsi.
Ia meminta Hendra menyerahkan diri.
Namun Hendra panik.
Terjadi dorong-mendorong.
Rico terjatuh dan kepalanya membentur sudut meja besi.
Ia masih bernapas.
Hendra ketakutan.
Alih-alih memanggil ambulans, ia justru membiarkan Rico tergeletak.
Beberapa menit kemudian Rico meninggal.
Karena takut kasus korupsinya terbongkar, Hendra menyusun skenario seolah Rico menjadi korban penikaman dalam perkelahian.
Ia membeli pewarna tekstil, mengotori pakaian dengan lumpur, membuat luka palsu pada tubuh Rico, lalu menyuruh Doni membuang bajunya setelah dicuci agar tidak ada yang mempertanyakan kejanggalannya.
Rencananya hampir sempurna.
Hampir.
Kalau saja pakaian itu tidak sampai ke tanganku.
Beberapa minggu kemudian, persidangan berlangsung.
Hendra divonis bersalah atas tindak pidana korupsi, menghalangi proses peradilan, dan menyebabkan kematian karena dengan sengaja tidak memberikan pertolongan kepada korban.
Bu Fely datang menemuiku seusai sidang.
Ia memelukku erat.
“Kalau Ibu tidak datang ke rumah duka hari itu, nama anak saya mungkin akan selamanya dikenang sebagai preman.”
Aku tersenyum sambil menggeleng.
“Bukan saya yang membersihkan nama Rico.”
“Lalu siapa?”
“Kebenaran.”
Beberapa bulan berlalu.
Aku kembali menjalani hidup seperti biasa.
Setiap pagi aku mencuci pakaian warga.
Tidak ada kamera.
Tidak ada wartawan.
Tidak ada tepuk tangan.
Suatu hari, Sersan Luna datang membawa sebuah bingkisan kecil.
Di dalamnya terdapat celemek baru berwarna biru tua.
Di bagian depannya tersulam kalimat sederhana.
“Setiap noda memiliki cerita.”
Aku tersenyum lama melihat tulisan itu.
Orang sering menganggap pekerjaan kecil tidak berarti.
Padahal, terkadang justru tangan yang setiap hari bergelut dengan pakaian kotor mampu melihat sesuatu yang luput dari mata semua orang.
Sejak hari itu, setiap kali aku merendam pakaian ke dalam air, aku selalu teringat Rico.
Bukan sebagai korban.
Melainkan sebagai pengingat bahwa kebohongan bisa dibuat semirip apa pun, tetapi kebenaran selalu meninggalkan jejak bagi mereka yang benar-benar mau melihatnya.
