Mang Lando sudah tidak ingat lagi berapa kali ia menghitung uang di telapak tangannya. Yang ia tahu, jemarinya sudah basah oleh keringat, tetapi jumlahnya tetap saja belum cukup.
Ia berdiri di depan meja kasir sebuah toko mainan di salah satu pusat perbelanjaan Jakarta, memeluk erat sebuah kotak berisi mobil-mobilan remote control yang sudah lama diimpikan putranya. Bagi orang lain, mainan itu mungkin bukan barang mahal. Namun bagi dirinya, isi kotak itu terasa seperti seluruh hasil jerih payahnya selama sebulan penuh.
“Pak, uangnya masih kurang,” kata kasir dengan nada datar.
Mang Lando menatap tumpukan kecil uang receh di atas meja kasir. Ada beberapa lembar uang lusuh, beberapa keping koin, semuanya hasil menyisihkan uang makan dan ongkos pulang selama berminggu-minggu.

“Mbak,” ucapnya lirih. “Apa boleh saya bayar sisanya besok? Kurangnya cuma dua puluh tiga ribu rupiah.”
Kasir menghela napas panjang.
“Maaf, Pak. Di sini bukan tempat utang.”
Beberapa orang yang sedang mengantre mulai memperhatikan.
Seorang wanita berpenampilan mewah berbisik kepada temannya, tetapi cukup keras hingga terdengar.
“Kalau belum punya uang, jangan maksa beli mainan mahal.”
Seorang pria lain ikut terkekeh.
“Kasihan juga sih… tapi ya tahu diri.”
Wajah Mang Lando memerah. Ia menggenggam kotak mainan itu semakin erat, seolah takut direnggut.
“Aku benar-benar akan kembali besok, Mbak. Saya baru dapat upah tambahan.”
Kasir menggeleng.
“Aturannya tidak bisa begitu.”
Suasana menjadi semakin canggung.
Mang Lando akhirnya menarik napas panjang. Dengan tangan gemetar, ia mengangkat kotak itu dan berjalan perlahan menuju rak tempat ia mengambilnya.
Belum sempat ia meletakkannya, terdengar suara langkah kaki kecil berlari.
“Ayah!”
Seorang bocah laki-laki berusia sekitar delapan tahun langsung memeluk pinggangnya.
“Ayah, nggak apa-apa kok. Nggak usah dibeli.”
Mang Lando menunduk memeluk anak itu erat.
“Maaf ya, Raf…”
Rafa menggeleng sambil tersenyum kecil.
“Ayah sudah datang aja, aku sudah senang.”
Kalimat sederhana itu membuat seluruh toko mendadak sunyi.
Bahkan wanita yang tadi mengejek mulai memperhatikan mereka.
Mang Lando mengusap rambut anaknya.
“Padahal Ayah janji.”
“Ayah nggak bohong. Ayah sudah berusaha.”
Rafa mengangkat wajahnya.
“Dokter bilang aku harus banyak istirahat. Mainan lama juga masih bisa kok.”
Mendengar kata “dokter”, beberapa orang saling berpandangan.
Seorang pegawai toko yang sedari tadi memperhatikan akhirnya bertanya pelan.
“Anaknya sakit, Pak?”
Mang Lando terdiam beberapa saat sebelum menjawab.
“Iya.”
Ia sebenarnya tidak ingin menceritakan apa pun.
Namun entah mengapa, setelah sekian lama memendam semuanya sendiri, ia merasa lelah.
“Rafa kena leukemia enam bulan lalu.”
Kalimat itu membuat seluruh ruangan membeku.
Wanita yang tadi tertawa perlahan menundukkan kepala.
Mang Lando melanjutkan dengan suara bergetar.
“Setelah kemoterapi terakhir, rambutnya rontok. Dia hampir nggak pernah minta apa-apa. Baru kali ini dia bilang ingin punya mobil remote control supaya bisa main dari tempat tidur.”
Ia tersenyum pahit.
“Katanya kalau sudah sembuh nanti, dia mau balapan sama anak-anak tetangga.”
Tak ada lagi suara tawa.
Kasir yang tadi berbicara dingin kini menggigit bibirnya sendiri.
Mang Lando mengusap mata.
“Biaya rumah sakit sudah habis-habisan. Saya cuma buruh bangunan. Istri saya juga berhenti kerja buat jagain Rafa.”
Ia mengangkat kotak mainan itu sekali lagi, memandangnya beberapa detik, lalu mengembalikannya ke rak.
“Tidak apa-apa. Yang penting obatnya dulu.”
Rafa menarik tangan ayahnya.
“Ayah… kita pulang aja.”
Mereka baru beberapa langkah meninggalkan toko ketika suara seorang perempuan terdengar.
“Tunggu.”
Wanita yang tadi mengejek berjalan menghampiri.
Tanpa berkata apa-apa, ia mengambil kotak mobil-mobilan itu lalu menyerahkannya kepada kasir.
“Saya bayar.”
Mang Lando langsung menggeleng.
“Jangan, Bu. Saya tidak minta belas kasihan.”
Wanita itu menghela napas.
“Saya tahu.”
Air mata mulai menggenang di matanya.
“Tapi saya yang minta maaf.”
Sebelum transaksi selesai, seorang pria yang tadi ikut menertawakan ikut maju.
“Tambahkan baterainya sekalian. Saya yang bayar.”
Pegawai toko lain berkata,
“Helm balap kecil itu juga. Biar lengkap.”
Dalam hitungan menit, beberapa pelanggan lain ikut mengeluarkan dompet.
Ada yang membeli lintasan mobil.
Ada yang membeli tas kecil.
Ada yang menyelipkan amplop.
Mang Lando benar-benar kebingungan.
“Tolong… jangan begini.”
Seorang ibu tua tersenyum hangat.
“Kadang kita semua terlalu cepat menghakimi seseorang hanya dari pakaiannya.”
Kasir yang sejak tadi hanya diam akhirnya menangis.
Ia membungkuk dalam-dalam.
“Maafkan saya, Pak.”
Mang Lando tidak menjawab.
Ia hanya tersenyum tipis.
Karena baginya, rasa malu yang tadi dirasakan sudah berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan.
Hari itu Rafa pulang sambil memeluk erat mobil remote control impiannya.
Di sepanjang perjalanan, senyum anak itu tidak pernah hilang.
Malamnya, mereka bermain bersama di ruang tamu rumah kontrakan sederhana.
Rafa tertawa setiap kali mobil itu menabrak kaki meja.
Sudah lama Mang Lando tidak mendengar tawa seceria itu.
Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama.
Dua minggu kemudian, kondisi Rafa kembali menurun.
Ia harus dirawat lagi di rumah sakit.
Kemoterapi berikutnya jauh lebih berat.
Tubuh kecilnya semakin kurus.
Tetapi setiap kali merasa kesakitan, ia selalu meminta mobil-mobilannya diletakkan di samping tempat tidur.
“Itu bikin aku semangat, Yah.”
Mang Lando hanya mampu mengangguk sambil menyembunyikan air matanya.
Suatu sore, dokter memanggil Mang Lando dan istrinya ke ruang konsultasi.
“Kami sudah melakukan yang terbaik.”
Kalimat itu cukup untuk membuat lutut Mang Lando lemas.
Harapan mereka semakin tipis.
Malam itu, Rafa memanggil ayahnya.
“Ayah.”
“Iya, Nak.”
“Kalau nanti Rafa sembuh…”
“Pasti sembuh.”
Rafa tersenyum kecil.
“Kalau memang belum sempat… jangan sedih ya.”
Mang Lando langsung memeluk anaknya.
“Jangan bicara begitu.”
“Ayah harus tetap senyum.”
Tangis Mang Lando pecah.
Beberapa hari kemudian, Rafa pergi dengan tenang dalam pelukan kedua orang tuanya.
Mobil remote control itu masih berada di samping bantalnya.
Mang Lando merasa dunianya runtuh.
Ia tidak masuk kerja selama berminggu-minggu.
Rumah terasa sunyi.
Setiap sudut mengingatkannya pada suara tawa anaknya.
Suatu hari, ketika sedang membereskan barang-barang Rafa, ia menemukan sebuah buku gambar.
Di halaman terakhir ada gambar dirinya sedang memegang tangan sang ayah.
Di sampingnya tergambar sebuah mobil remote control.
Di bawah gambar itu tertulis dengan tulisan tangan yang masih berantakan,
“Ayah paling hebat di dunia.”
“Bukan karena bisa beli mainan.”
“Tapi karena Ayah nggak pernah berhenti berusaha bikin Rafa bahagia.”
Mang Lando menangis tanpa suara.
Beberapa bulan kemudian, ia kembali bekerja.
Hidup memang tidak pernah sama lagi.
Namun setiap tanggal ulang tahun Rafa, ia selalu datang ke toko mainan yang sama.
Bukan untuk membeli apa pun bagi dirinya.
Ia memilih satu anak yang tampak hanya bisa memandangi mainan dari kejauhan karena orang tuanya tidak mampu membelinya.
Diam-diam ia membayar mainan itu tanpa memperkenalkan diri.
Pegawai toko yang masih mengenalnya pernah bertanya,
“Kenapa Bapak selalu melakukan ini?”
Mang Lando tersenyum sambil memandang rak mobil-mobilan.
“Dulu banyak orang mengajarkan saya bahwa kebaikan bisa datang dari orang asing.”
“Sekarang giliran saya memastikan ada ayah lain yang pulang tanpa membawa rasa malu, dan ada anak lain yang bisa tidur sambil memeluk mimpinya.”
Sejak hari itu, tidak ada lagi yang mengingat Mang Lando sebagai pria miskin yang pernah dipermalukan karena kekurangan dua puluh tiga ribu rupiah.
Yang mereka ingat adalah seorang ayah yang mengajarkan bahwa harga sebuah mainan mungkin bisa dihitung dengan uang, tetapi harga sebuah usaha, kasih sayang, dan pengorbanan orang tua tidak akan pernah bisa dinilai oleh siapa pun.
