AKU MERAWAT MAKAM TANPA NAMA SELAMA LIMA TAHUN DI DESA INI. TAK PERNAH ADA SATU PUN YANG MENJENGUK. HINGGA FOTO ANAK KECIL DI BATU NISAN ITU MENUNJUKKAN WAJAHKU SENDIRI.
Dimas Pratama melangkah mantap menuju sudut terpencil pemakaman Desa Harapan Baru di Jawa Tengah. Usianya baru dua puluh lima tahun saat menerima pekerjaan yang terdengar aneh itu. Sebagai anak yatim piatu yang tumbuh di panti asuhan, ia tidak pernah memilih pekerjaan. Selama halal dan mampu membuatnya bertahan hidup, ia akan melakukannya.
Lima tahun lalu, seorang perempuan bernama Ibu Lestari datang dengan penampilan yang begitu rapi. Wajahnya hampir seluruhnya tertutup masker. Ia meminta Dimas merawat satu makam tanpa nama yang berada paling jauh dari pintu masuk pemakaman. Tidak boleh ada papan nama. Tidak boleh ada tulisan apa pun di batu nisan. Makam itu harus selalu tampak indah seolah ada keluarga yang datang setiap hari.
Sebagai imbalannya, Dimas menerima bayaran sepuluh kali lipat dari tarif biasa.

Sejak hari itu, setiap pagi ia membersihkan dedaunan, menyiram bunga melati, memangkas rumput liar, dan mengganti kerikil putih yang mulai kusam. Perlahan-lahan, makam itu berubah menjadi tempat paling indah di seluruh area pemakaman.
Anehnya, selama lima tahun, tak pernah satu pun orang datang berziarah.
Hingga sore itu.
Ibu Lestari muncul kembali setelah menghilang begitu lama. Ia menyerahkan sebuah kotak kayu hitam kepada Dimas, lalu tanpa banyak bicara berbalik pergi.
Saat itulah Dimas melihat sebuah foto kecil yang kini tertempel di sudut batu nisan.
Seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun tersenyum cerah di tengah hamparan sawah.
Wajah anak itu…
Adalah wajahnya sendiri.
Dimas mematung.
Tangannya bergetar hebat.
“Ibu!” teriaknya.
Namun perempuan itu terus berjalan.
Dimas berlari mengejar.
“Ibu! Tolong jelaskan! Siapa anak di foto itu?”
Ibu Lestari berhenti beberapa langkah sebelum gerbang pemakaman. Ia tidak langsung menoleh.
“Aku sudah menunggu lima tahun sampai kamu cukup dewasa untuk mengetahui semuanya.”
“Siapa yang dimakamkan di sana?”
Perempuan itu akhirnya membalikkan badan.
“Orang yang dimakamkan di sana… tidak pernah benar-benar meninggal.”
Ucapan itu membuat Dimas semakin bingung.
“Maksud Ibu apa?”
Ibu Lestari menarik napas panjang.
“Bukalah kotak itu. Setelah membaca seluruh isinya, kalau kamu masih ingin mencari jawaban, datanglah ke alamat yang tertulis di surat terakhir.”
Ia masuk ke sebuah mobil hitam yang telah menunggu di luar gerbang.
Mobil itu pergi.
Meninggalkan Dimas bersama ribuan pertanyaan.
Malam itu juga, Dimas membuka kotak kayu tersebut di rumah kontrakannya.
Di dalamnya terdapat album foto lama, beberapa surat yang telah menguning, sebuah akta kelahiran, dan sebuah kalung kecil berbentuk burung.
Tangannya langsung membeku ketika membaca nama pada akta kelahiran.
Nama anak itu bukan Dimas Pratama.
Melainkan…
Raka Aditya.
Tanggal lahirnya sama persis.
Nama ibunya tertulis: Maya Kusuma.
Sedangkan kolom ayah kosong.
Dimas mengernyit.
Sepanjang hidupnya ia hanya mengenal dirinya sebagai Dimas Pratama, anak yang ditemukan di depan panti asuhan ketika masih balita.
Lalu siapa Raka?
Ia membuka album foto.
Di halaman pertama tampak seorang perempuan muda sedang menggendong anak kecil.
Anak itu adalah dirinya.
Tidak ada keraguan sedikit pun.
Di halaman berikutnya terdapat foto rumah sederhana di pinggir sawah.
Lalu foto seorang perempuan yang sedang tertawa bersama anak kecil.
Di belakang salah satu foto tertulis tangan:
“Untuk Raka. Kalau suatu hari kamu membaca ini, berarti aku gagal menjagamu.”
Air mata Dimas mulai menggenang.
Ia membaca surat pertama.
Isinya ditulis oleh perempuan bernama Maya.
Maya menceritakan bahwa ia melahirkan seorang anak laki-laki hasil hubungan dengan seorang pria kaya yang menolak bertanggung jawab.
Ketika anak itu berusia lima tahun, pria tersebut mengirim orang-orang untuk mengambil paksa sang anak karena takut skandal masa lalunya terbongkar.
Maya melarikan diri.
Dalam pelarian itulah terjadi kecelakaan besar di jalan pegunungan.
Mobil mereka jatuh ke jurang.
Semua orang mengira ibu dan anak itu meninggal.
Namun sebenarnya, seorang relawan berhasil menyelamatkan sang anak yang kehilangan ingatan akibat benturan keras di kepala.
Anak itu kemudian diserahkan ke panti asuhan tanpa identitas.
Maya sendiri…
Tidak pernah ditemukan.
Dimas membaca surat demi surat.
Semakin jauh ia membaca, semakin banyak teka-teki yang terjawab.
Ibu Lestari ternyata adalah sahabat dekat Maya.
Selama bertahun-tahun ia diam-diam mencari keberadaan Raka.
Begitu akhirnya menemukan Dimas, ia tidak langsung mengungkapkan semuanya.
Ia ingin memastikan bahwa anak itu tumbuh menjadi laki-laki yang baik, bukan seseorang yang hanya mengejar harta atau dendam.
Karena itu ia menciptakan pekerjaan menjaga makam.
Makam tanpa nama itu sebenarnya hanyalah simbol.
Tempat bagi masa lalu yang dianggap telah mati.
Dimas masih belum mengerti.
Kalau makam itu hanyalah simbol, lalu mengapa ada foto dirinya?
Ia membuka surat terakhir.
Di bagian akhir tertulis sebuah alamat di Yogyakarta.
“Datanglah sendiri. Jawaban terakhir menunggumu.”
Dua hari kemudian Dimas berangkat.
Alamat itu membawanya ke sebuah rumah tua yang sangat tenang.
Ibu Lestari sudah menunggu di beranda.
Tanpa banyak kata ia mempersilakan Dimas masuk.
Di ruang tamu tergantung puluhan foto.
Semuanya memperlihatkan dirinya sejak kecil.
Ada foto ketika ia bermain di halaman panti.
Ada foto saat lulus SMP.
Ada foto ketika mulai bekerja sebagai tukang kebun.
Dimas langsung menoleh.
“Ibu mengikuti saya?”
Ibu Lestari mengangguk.
“Aku berjanji pada ibumu akan memastikan kamu tetap hidup.”
“Tapi kenapa tidak pernah menemui saya?”
“Karena aku tidak boleh.”
“Tidak boleh oleh siapa?”
Ibu Lestari mengambil map cokelat.
“Orang yang menghancurkan hidup ibumu.”
Di dalam map terdapat berita koran lama.
Nama seorang pengusaha besar muncul berulang kali.
Surya Mahendra.
Pemilik perusahaan konstruksi terbesar di Jawa Tengah.
Pria itu ternyata ayah kandung Dimas.
Selama bertahun-tahun ia menghapus semua jejak keberadaan Maya dan anaknya.
Bukan karena malu.
Tetapi karena saat itu ia sedang mencalonkan diri menjadi pejabat publik.
Skandal itu bisa menghancurkan kariernya.
Maya melawan.
Lalu kecelakaan itu terjadi.
“Tapi bukankah Ayah mengira aku sudah meninggal?”
“Tidak.”
Jawaban Ibu Lestari membuat Dimas terdiam.
“Dia tahu kamu masih hidup.”
“Apa?”
“Dia hanya tidak peduli.”
Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada tamparan.
Ibu Lestari melanjutkan.
“Selama bertahun-tahun aku mengumpulkan bukti. Aku hanya menunggu waktu yang tepat.”
“Lalu kenapa sekarang?”
“Karena Surya Mahendra sedang sakit keras.”
Dimas menunduk.
Entah mengapa, ia tidak merasakan kebencian sebesar yang ia bayangkan.
Yang ada hanyalah kehampaan.
Seminggu kemudian mereka pergi ke rumah sakit di Semarang.
Surya Mahendra terbaring lemah.
Tubuhnya jauh berbeda dari sosok gagah di foto-foto koran.
Ketika melihat Dimas masuk, matanya membesar.
“Kamu…”
“Iya.”
Pria tua itu menangis.
“Aku tahu suatu hari kamu akan datang.”
Dimas tetap berdiri.
“Tidak. Yang saya ingin tahu hanya satu.”
“Kenapa?”
Surya menutup mata.
“Karena aku pengecut.”
Tak ada pembelaan.
Tak ada alasan.
Hanya pengakuan yang terlambat.
“Aku memilih jabatan daripada keluargaku.”
Air mata terus mengalir di wajah pria tua itu.
“Aku mencarimu beberapa tahun terakhir.”
Ibu Lestari tertawa pelan.
“Bohong.”
Ia meletakkan setumpuk dokumen di atas meja.
Semua bukti pembayaran kepada orang-orang yang pernah disuruh menutupi kasus itu.
Semua transaksi.
Semua saksi.
Tidak ada lagi yang bisa dibantah.
Surya hanya menangis semakin keras.
Dimas memandang pria itu lama.
Lalu ia berkata tenang.
“Saya tidak datang untuk membalas dendam.”
“Saya juga tidak datang untuk memanggil Bapak sebagai ayah.”
“Saya hanya ingin mengakhiri semua kebohongan.”
Sebulan kemudian, Surya Mahendra mengadakan konferensi pers.
Di depan media nasional ia mengakui seluruh kesalahannya.
Ia mengakui pernah meninggalkan ibu dari anaknya.
Ia mengakui telah menyembunyikan fakta selama puluhan tahun.
Pengakuan itu mengguncang banyak orang.
Namun Dimas memilih kembali ke desa.
Ia tidak mengambil satu rupiah pun dari harta Surya.
Semua warisan yang secara hukum menjadi haknya ia serahkan kepada yayasan pendidikan dan panti asuhan tempat ia dibesarkan.
Beberapa bulan kemudian, Dimas kembali ke makam tanpa nama.
Kini di sana berdiri batu nisan baru.
Tetap tanpa nama.
Tetapi di bagian belakang terdapat sebuah kalimat sederhana.
“Sebagian masa lalu memang harus dimakamkan agar masa depan bisa hidup.”
Dimas tersenyum kecil sambil meletakkan bunga melati yang baru mekar.
Ia tidak lagi datang sebagai penjaga yang dibayar.
Ia datang sebagai seseorang yang akhirnya memahami arti kehilangan, pengampunan, dan identitas.
Saat hendak pulang, seorang anak kecil berlari melewati pemakaman sambil tertawa.
Untuk sesaat, Dimas melihat bayangan dirinya sendiri di masa lalu.
Ia tersenyum.
Lalu melangkah pergi tanpa pernah menoleh lagi.
Karena akhirnya ia mengerti.
Yang selama lima tahun ia rawat bukanlah makam seseorang.
Melainkan luka yang selama ini terkubur di dalam dirinya sendiri.
