SUAMI SAYA MENINGGALKAN CATATAN KEJAM “URUSI NENEK TUA ITU” DAN PERGI BERSAMA SELINGKUHANNYA BERSAMA IBU MERTUA TAPI SAAT SAYA MASUK KAMAR WANITA TUA ITU MENANGKAP PERGELANGAN TANGAN SAYA DAN MENGUNGKAP RAHASIA YANG AKAN MENGHANCURKAN SELURUH KELUARGANYA

Layar pertama menampilkan ruang tamu rumah kontrakan kami pada sore hari.

Budi berdiri di dekat meja makan sambil menghitung beberapa lembar uang. Di sampingnya, Bu Karmila duduk dengan wajah cerah, jauh berbeda dari sikap murung yang selalu ia tunjukkan setiap kali aku pulang kerja. Seorang perempuan muda dengan rambut sebahu berdiri di dekat pintu. Aku mengenalinya.

Maya.

Budi pernah bilang Maya hanya teman lama yang bekerja di agen perjalanan. Namun di layar itu, tangan Budi melingkar santai di pinggangnya.

“Uang dari Rina sudah masuk?” tanya Maya.

Budi mengangkat ponselnya. “Sudah. Gaji bulan ini delapan juta lebih. Aku bilang obat Ibu naik harga.”

Bu Karmila tertawa kecil. “Perempuan itu terlalu mudah dibohongi. Selama kau bilang ini untuk keluarga, dia pasti menyerahkan uang.”

Dadaku terasa seperti dihantam benda keras.

Selama ini aku sering mengurangi makan siang, menunda membeli sepatu kerja baru, bahkan mengambil shift tambahan demi obat Bu Karmila dan perawatan Nenek. Ternyata mereka menggunakan uangku untuk bersenang-senang.

Layar kedua menyala.

Rekaman dari dapur, dua minggu sebelumnya.

Budi sedang berbicara pelan dengan ibunya.

“Surat rumah tua milik Nenek belum ketemu,” katanya.

“Cari lagi di kamarnya,” jawab Bu Karmila. “Kita cuma perlu tanda tangannya. Setelah itu rumah dan tanah di Bogor bisa dijual.”

“Kalau dia tetap tidak mau?”

Bu Karmila menatap ke arah kamar belakang.

“Obatnya ditambah.”

Aku menoleh cepat kepada Nenek Suminah.

“Apa maksudnya obatnya ditambah?”

Nenek tidak langsung menjawab. Ia mengambil napas dalam, lalu menunjuk monitor ketiga.

Di layar, Bu Karmila menuangkan sesuatu dari botol kecil ke dalam bubur. Tangannya bergerak hati-hati, lalu ia mengaduk bubur itu hingga rata.

“Itu obat penenang dosis tinggi,” kata Nenek. “Mereka memberikannya padaku setiap hari. Awalnya aku memang jatuh sakit karena tekanan darah. Tapi setelah dua minggu tinggal di rumah ini, tubuhku semakin lemah. Aku curiga.”

“Lalu Nenek pura-pura lumpuh?”

“Pura-pura lebih lemah daripada kenyataannya,” jawabnya. “Aku berhenti menelan obat. Setiap kali mereka menyuapiku, aku simpan pilnya di bawah lidah, lalu kubuang ketika sendirian.”

Aku menatap perempuan tua di depanku dengan campuran kagum dan ngeri.

“Kenapa Nenek tidak pergi?”

“Karena aku ingin tahu sejauh mana mereka berani melangkah.”

Layar keempat menyala.

Rekaman itu diambil pagi tadi.

Bu Karmila masuk ke kamar Nenek membawa selembar dokumen dan bantalan tinta.

“Dengar, Bu,” katanya dengan suara dingin. “Malam ini kami pergi. Besok pagi orang dari perusahaan properti datang. Kalau Ibu masih belum tanda tangan, mereka akan urus dengan cara mereka.”

Budi berdiri di belakangnya.

“Rina akan pulang malam. Kalau sesuatu terjadi, semua orang akan mengira dia lalai merawat Nenek. Dia perawat. Polisi akan mudah percaya bahwa dia salah memberi obat.”

Darahku seperti berhenti mengalir.

Maya muncul di ambang pintu sambil membawa koper.

“Jadi tiket Bali aman?”

Budi mengangguk. “Aman. Saat masalah ini selesai, aku akan ceraikan Rina. Kita mulai hidup baru.”

Maya tersenyum dan mencium pipinya.

Aku menutup mulut agar tidak berteriak.

Semua pengorbananku, semua malam panjang di rumah sakit, semua hinaan yang kutelan demi mempertahankan pernikahan, ternyata hanya membawaku ke sebuah jebakan.

“Mereka ingin menjadikan aku tersangka,” bisikku.

“Ya,” jawab Nenek. “Mereka meninggalkanku tanpa makan dan minum agar kondisiku memburuk. Lalu orang suruhan mereka akan datang pagi-pagi. Kalau aku ditemukan tidak sadar atau meninggal, kau yang akan disalahkan.”

Aku berdiri mendadak.

“Kita harus pergi sekarang.”

Nenek menggeleng.

“Tidak.”

“Nenek, mereka mungkin akan kembali.”

“Justru itu yang kutunggu.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Nenek sudah menghubungi polisi?”

“Belum.”

“Pengacara?”

“Sudah.”

Ia mengambil ponsel kecil dari kotak logam. Layarnya menunjukkan beberapa pesan terkirim kepada seseorang bernama Pak Surya.

“Aku punya pengacara pribadi. Tapi bukti yang kita punya belum cukup untuk menjerat semuanya. Rekaman ini membuktikan niat, tetapi aku ingin mereka datang dan melakukan langkah terakhir.”

“Nenek ingin memancing mereka?”

“Aku ingin mereka merasa menang.”

Pukul dua belas lewat dua puluh, suara mobil berhenti di depan kontrakan.

Lampu teras yang mati membuat rumah tampak kosong. Aku dan Nenek sudah kembali ke posisi semula. Nenek berbaring di kasur, sementara aku duduk di lantai dengan pakaian kerja masih melekat di tubuh.

Pintu depan dibuka menggunakan kunci.

Dua laki-laki masuk. Salah satunya bertubuh besar dan memakai jaket hitam. Yang lain membawa tas kerja cokelat.

Mereka berjalan langsung menuju kamar belakang.

“Kau Rina?” tanya laki-laki bertubuh besar.

Aku berdiri. “Siapa kalian?”

“Orang yang disuruh keluarga.”

Laki-laki bertas cokelat mengeluarkan beberapa lembar kertas.

“Nenek harus menandatangani surat ini malam ini.”

“Dia sedang sakit.”

“Cukup tempelkan sidik jarinya.”

Aku menghalangi jalan mereka.

“Tidak ada yang boleh menyentuhnya.”

Laki-laki besar itu mendorong bahuku hingga aku hampir jatuh. “Jangan ikut campur.”

Saat ia mendekati kasur, Nenek tetap tidak bergerak.

Laki-laki bertas cokelat mengambil tangan Nenek dan mencoba menekankan ibu jarinya ke bantalan tinta.

Tiba-tiba Nenek membuka mata.

“Nama lengkapmu siapa?”

Laki-laki itu terkejut dan melepaskan tangannya.

Nenek bangkit perlahan.

Wajah kedua laki-laki itu berubah pucat.

“Kalian datang untuk memalsukan tanda tanganku,” lanjut Nenek. “Atas perintah siapa?”

“Kami tidak tahu apa-apa,” jawab laki-laki besar.

“Bagus,” kata Nenek. “Kalian bisa menjelaskannya kepada polisi.”

Ia menekan tombol pada remote.

Lampu kamar menyala terang. Dinding palsu bergeser. Empat monitor tampak jelas, bersama kamera kecil di sudut langit-langit yang merekam setiap gerakan.

Laki-laki besar itu langsung berbalik hendak lari.

Namun sebelum ia mencapai pintu depan, terdengar suara kendaraan berhenti di luar.

Beberapa petugas polisi masuk bersama seorang pria berjas abu-abu. Pria itu mendekati Nenek dan membungkuk hormat.

“Ibu Suminah, semua sudah terekam?”

“Jelas sekali, Pak Surya.”

Kedua laki-laki itu diborgol.

Aku baru menyadari lututku gemetar begitu hebat hingga sulit berdiri.

Pak Surya memintaku duduk, lalu menjelaskan bahwa timnya telah memantau rumah sejak sore. Polisi menunggu perintah Nenek agar dapat menangkap para pelaku saat sedang melakukan pemalsuan dokumen.

“Tapi Budi dan Bu Karmila masih di Bali,” kataku.

Nenek tersenyum tipis.

“Mereka tidak pernah sampai ke Bali.”

Ia mengambil ponsel dan memutar sebuah panggilan video.

Layar menampilkan sebuah ruangan pemeriksaan di Bandara Soekarno-Hatta. Budi duduk dengan wajah pucat. Di sebelahnya, Bu Karmila menangis sambil memegangi tasnya. Maya berdiri jauh dari mereka dengan kedua tangan bersedekap.

Seorang petugas terlihat membuka koper Budi. Dari dalamnya dikeluarkan beberapa sertifikat tanah, perhiasan tua, buku tabungan, dan dua botol obat tanpa label.

“Itu semua milik Nenek,” kataku.

“Benar,” jawab Pak Surya. “Mereka ditahan sebelum naik pesawat karena membawa dokumen kepemilikan yang dilaporkan hilang.”

Budi melihat kamera panggilan video. Wajahnya berubah ketika melihatku duduk di samping Nenek.

“Rina!” teriaknya. “Kau salah paham! Ini semua rencana Ibu!”

Bu Karmila menoleh tajam.

“Dasar anak tidak tahu diri! Kau yang mengambil sertifikat itu!”

Maya mundur selangkah.

“Aku tidak tahu mereka mencuri,” katanya cepat. “Aku cuma diajak liburan.”

Budi menatapnya putus asa.

“Maya, kau tahu semuanya!”

“Aku tidak kenal dia,” jawab Maya dingin kepada petugas.

Panggilan terputus.

Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku melihat Budi benar-benar kehilangan kendali. Namun anehnya, aku tidak merasa puas. Yang kurasakan hanya lelah.

Lelah karena terlalu lama mencoba menyelamatkan seseorang yang tidak pernah berniat berubah.

Pagi harinya, kontrakan itu dipenuhi petugas yang mengumpulkan bukti. Pak Surya menunjukkan laporan keuangan kepada kami.

Selama tiga tahun, Budi dan Bu Karmila telah mengambil hampir dua ratus juta rupiah dari gajiku. Mereka menggunakan uang itu untuk cicilan mobil sewaan, hotel, perjalanan, dan utang judi daring Budi.

“Apa semua itu bisa kembali?” tanyaku.

“Sebagian mungkin,” jawab Pak Surya. “Tapi prosesnya akan panjang.”

Aku mengangguk.

Nenek memandangku lama.

“Ada hal lain yang harus kau tahu.”

Ia menyerahkan sebuah map hitam.

Di dalamnya terdapat dokumen perusahaan, sertifikat tanah, dan surat wasiat.

Aku membaca nama di halaman pertama.

PT Suminah Medika Nusantara.

Aku mengenal perusahaan itu. Mereka memiliki jaringan klinik dan rumah sakit swasta di beberapa kota besar.

“Nenek pemilik perusahaan ini?”

“Pendiri,” jawabnya. “Aku menyerahkan pengelolaan kepada direksi sejak suamiku meninggal. Keluargaku mengira kekayaanku hanya rumah tua dan tanah di Bogor. Aku sengaja membiarkan mereka percaya begitu.”

Aku membuka surat wasiat. Tanganku berhenti ketika melihat namaku.

Rina Prameswari.

Aku tercantum sebagai penerima sebagian saham perusahaan dan sebuah rumah di Depok.

“Aku tidak bisa menerima ini.”

“Kau belum selesai membaca.”

Di halaman terakhir tertulis bahwa hak waris hanya berlaku jika aku tidak pernah terlibat dalam tindakan kekerasan, pemalsuan dokumen, atau kelalaian terhadap Nenek.

Aku langsung memahami semuanya.

Nenek bukan hanya menguji Budi dan Bu Karmila.

Ia juga mengujiku.

“Jadi selama tiga tahun ini, Nenek sengaja mengamati kami?”

“Aku mengamati semua orang,” katanya. “Aku ingin tahu siapa yang merawatku ketika tidak ada yang melihat. Siapa yang tetap memberiku makan meski pulang dalam keadaan lelah. Siapa yang mengganti selimutku tanpa mengeluh. Siapa yang tidak pernah mencuri satu rupiah pun dari dompetku.”

Air mataku jatuh.

“Aku melakukannya bukan karena warisan.”

“Itulah sebabnya aku memilihmu.”

Beberapa minggu kemudian, Budi mengirim surat dari tahanan. Ia meminta maaf dan memohon agar aku mencabut laporan. Ia berkata masih mencintaiku. Katanya Maya telah meninggalkannya setelah mengetahui semua tabungannya dibekukan.

Aku membaca surat itu sekali, lalu menyerahkannya kepada pengacaraku bersama dokumen gugatan cerai.

Bu Karmila terus menyalahkan semua orang kecuali dirinya sendiri. Ia menyebutku menantu tidak tahu balas budi. Namun rekaman kamera, transaksi keuangan, obat penenang, dan rencana pemalsuan membuat pembelaannya runtuh.

Proses hukum berlangsung berbulan-bulan.

Aku pindah bersama Nenek ke rumahnya di Depok. Bukan rumah mewah seperti yang kubayangkan, melainkan rumah lama yang tenang dengan halaman penuh pohon mangga dan melati.

Aku tetap bekerja sebagai perawat.

Ketika Nenek bertanya kenapa aku tidak berhenti, aku menjawab, “Karena aku ingin hidup dari pekerjaan yang kupilih, bukan dari uang yang tiba-tiba datang.”

Nenek tertawa.

“Bagus. Berarti aku tidak salah memilih.”

Setahun kemudian, atas dorongan Nenek, aku membantu mendirikan klinik kecil untuk lansia dari keluarga berpenghasilan rendah. Klinik itu menyediakan pemeriksaan gratis, obat dasar, dan pendampingan hukum bagi orang tua yang mengalami penelantaran keluarga.

Pada hari peresmian, Nenek berdiri di sampingku dengan tongkat perak di tangannya. Tubuhnya memang tidak sekuat dulu, tetapi sorot matanya tetap tajam.

Seorang wartawan bertanya mengapa klinik itu diberi nama Klinik Karmila.

Aku menoleh kepada Nenek, terkejut.

Ia hanya tersenyum.

“Itu bukan untuk menghormati menantuku,” katanya. “Nama itu berarti taman yang sempurna. Aku ingin tempat ini menjadi taman terakhir bagi orang-orang tua yang hidupnya tidak diperlakukan dengan sempurna.”

Malamnya, setelah semua tamu pulang, aku menemukan secarik kertas di meja kerja Nenek.

Tulisan tangannya rapi dan tegas.

“Untuk Rina. Kekayaan terbesar bukan tanah, saham, atau rumah. Kekayaan terbesar adalah mengetahui bahwa ketika seluruh keluarga memilih meninggalkanmu, masih ada satu orang yang datang membawa segelas air.”

Aku memegang kertas itu lama sekali.

Dulu Budi meninggalkan catatan kejam yang memerintahkanku mengurus seorang “nenek tua”.

Ia mengira kalimat itu adalah penghinaan.

Ia tidak pernah tahu bahwa justru karena kalimat itulah aku berjalan masuk ke kamar belakang, membuka rahasia yang menghancurkan hidupnya, lalu menemukan keluarga yang seharusnya kumiliki sejak awal.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang