“Mas, ada uang dua puluh ribu? Buat bayar paket COD.” “Paket lagi?” ucap Mas Firman setengah berteriak, hingga membuat bahuku sempat terangkat.

“Mas, ada uang dua puluh ribu? Buat bayar paket COD.”

“Paket lagi?” suara Mas Firman membentur dinding rumah kecil kami hingga membuatku refleks mundur selangkah.

“Cuma dua puluh ribu kok, Mas.”

“Cuma, cuma, cuma! Semua juga selalu cuma! Kalau memang gak punya uang, jangan kebanyakan belanja!”

Aku menelan ludah. Di depan rumah, kurir masih menunggu sambil sesekali melihat jam tangan.

“Aku benar-benar butuh kerudung itu, Mas. Minggu nanti bukber sama keluarga Mas.”

“Bikin malu saja!”

Mas Firman menyambar dompetnya, berjalan keluar, lalu membayar paket itu dengan wajah penuh amarah.

Aku menghela napas lega. Setidaknya kerudung yang kutunggu selama seminggu akhirnya tiba.

Namun kelegaan itu hanya bertahan beberapa detik.

Di dapur, Mas Firman mengambil gunting besar.

“Mas… mau apa?”

Tak ada jawaban.

Dalam hitungan detik, plastik paket itu tercabik. Kerudung berwarna dusty pink yang kupilih dengan susah payah dikeluarkan, lalu digunting berkali-kali tanpa belas kasihan.

“Mas, jangan! Tolong! Itu buat acara keluarga Mas!”

“Biar kamu kapok! Kalau gak punya uang, jangan pesan apa-apa!”

Potongan-potongan kain beterbangan memenuhi lantai.

Aku hanya bisa terduduk sambil menangis.

Mas Firman melempar sisa kerudung ke arahku.

“Makan tuh paket!”

Lalu ia pergi membawa mobil carry putihnya.

Suara mesin mobil menghilang bersama sisa harga diriku.

Aku masih memunguti serpihan kain ketika azan Magrib berkumandang.


Sudah lima menit waktu berbuka berlalu.

Di meja hanya ada dua gelas air putih dan beberapa buah jeruk pemberian tetangga.

Aku sama sekali tidak berselera makan.

Perutku memang lapar, tetapi hati terasa jauh lebih sakit.

Dulu Mas Firman bukan orang seperti ini.

Saat kami baru menikah tiga tahun lalu, dia selalu membawa pulang gorengan kesukaanku setiap sore.

Kalau aku sakit, dia rela begadang semalaman.

Kami memang miskin, tetapi bahagia.

Semuanya berubah sejak usaha ekspedisi miliknya berkembang pesat.

Penghasilannya naik berkali-kali lipat.

Rumah kami memang belum berubah, tetapi sifatnya berubah drastis.

Ia mulai menghitung setiap rupiah yang keluar untukku.

Belanja dapur harus dicatat.

Listrik harus dihemat.

Sabun mandi tidak boleh ganti merek.

Sementara dirinya bebas membeli jam tangan baru, ponsel terbaru, bahkan mengganti velg mobil hanya demi terlihat sukses.

Aku menarik napas panjang ketika mendengar pintu diketuk.

Kupikir Mas Firman pulang.

Ternyata tidak ada siapa-siapa.

Di depan pintu hanya ada sebuah kardus sedang.

Di atasnya tertempel secarik kertas.

“Nduk, pakailah ini. Maafkan anak Ibu, ya.”

Air mataku langsung jatuh.

Tulisan itu jelas milik ibu mertuaku.

Tanganku gemetar membuka kardus tersebut.

Di dalamnya ada tiga buah kerudung baru, sebuah mukena putih yang masih terlipat rapi, beberapa bahan makanan, amplop cokelat, dan sepucuk surat.

Aku membuka surat itu perlahan.

“Nduk, Ibu tahu Firman sering menyakitimu. Jangan marah sama Ibu karena baru sekarang berani menghubungimu. Firman tidak pernah bercerita apa pun kepada keluarga. Semua orang mengira kalian hidup bahagia. Tadi sore tetangga mengirim video ketika Firman merusak paketmu. Ibu menangis melihatnya.”

Tangisku semakin pecah.

“Ibu tidak membesarkan anak laki-laki untuk menyakiti perempuan. Kalau suatu hari kamu sudah tidak sanggup bertahan, pulanglah ke rumah Ibu. Rumah ini juga rumahmu.”

Aku memeluk surat itu erat-erat.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, ada seseorang yang benar-benar melihat penderitaanku.


Dua hari kemudian kami menghadiri acara buka bersama keluarga besar.

Aku memakai salah satu kerudung pemberian ibu.

Mas Firman hanya melirik sekilas.

“Kerudung baru lagi?”

“Hadiah dari Ibu.”

Ia mendengus.

Selama acara berlangsung, semua orang memuji penampilanku.

“Cantik sekali, Nadya.”

“Iya, makin segar wajahmu.”

Mas Firman hanya diam sambil memainkan ponselnya.

Namun ibu mertuaku beberapa kali memperhatikanku dengan tatapan yang sulit kuartikan.

Seolah beliau sedang menunggu sesuatu.

Ketika acara selesai dan semua orang berkumpul di ruang tamu, beliau berdiri.

“Ada yang ingin Ibu bicarakan.”

Suasana mendadak hening.

“Aku baru tahu kalau Firman selama ini memperlakukan istrinya dengan buruk.”

Wajah Mas Firman langsung berubah.

“Ibu dapat video waktu kamu menggunting paket Nadya.”

Semua kepala menoleh ke arah Mas Firman.

“Apa?”

“Serius?”

“Kamu ngapain begitu?”

Adik-adiknya saling berpandangan.

Mas Firman tertawa hambar.

“Cuma masalah kecil.”

“Masalah kecil?” suara ibunya bergetar.

“Kamu mempermalukan istrimu hanya karena dua puluh ribu.”

“Dia memang boros.”

Aku menunduk.

Belum sempat aku berbicara, ibu mertuaku mengeluarkan ponsel.

Beliau memutar video yang dikirim tetangga.

Suara teriakanku memenuhi ruang tamu.

“Mas, jangan… itu kerudung buat bukber…”

Suara gunting terdengar jelas.

Tak ada seorang pun yang berbicara setelah video selesai.

Ayah mertuaku yang selama ini pendiam akhirnya berkata pelan.

“Kamu mengecewakan Ayah.”


Sejak hari itu Mas Firman semakin dingin.

Ia menyalahkanku karena menganggap aku mengadu kepada keluarganya.

Padahal aku tidak pernah melakukannya.

Malam itu ia melempar piring ke lantai.

“Sekarang puas? Semua orang menganggap aku suami jahat!”

“Aku tidak pernah cerita apa pun.”

“Bohong!”

Ia membanting pintu kamar.

Aku hanya terduduk sambil memeluk lutut.

Beberapa hari kemudian aku mulai mencari pekerjaan secara diam-diam.

Ijazah sarjanaku selama ini hanya tersimpan di lemari.

Aku diterima sebagai admin di sebuah toko furnitur.

Gajinya memang tidak besar.

Tetapi cukup membuatku memiliki uang sendiri.

Aku tidak memberi tahu Mas Firman.

Setiap pagi aku berpamitan seolah pergi mengaji.

Sore hari baru pulang sebelum dirinya tiba.

Tiga bulan berlalu.

Aku berhasil menabung.

Sedikit demi sedikit keberanianku tumbuh.

Hingga suatu sore, telepon dari rumah sakit membuat seluruh hidupku berubah.

Mas Firman mengalami kecelakaan.

Mobil carry yang dikendarainya ditabrak truk saat hujan deras.

Aku berlari menuju rumah sakit.

Ia selamat.

Namun kaki kirinya mengalami cedera berat dan harus menjalani operasi.

Selama dua minggu aku merawatnya.

Menyuapi makan.

Mengganti pakaian.

Menemani terapi.

Aku melakukan semuanya tanpa dendam.

Suatu malam ia menangis.

“Aku takut usahaku bangkrut.”

Aku hanya diam.

“Kalau pelanggan pergi semua, habislah aku.”

Barulah aku membuka laptop.

“Ini laporan keuangan usahamu selama tiga bulan.”

Mas Firman mengernyit.

“Apa maksudnya?”

“Aku yang mengurus administrasi diam-diam.”

“Apa?”

“Waktu kamu sering di luar kota, banyak tagihan yang belum tertagih. Aku menghubungi pelanggan satu per satu. Sebagian besar sudah membayar.”

Ia memandangku tak percaya.

“Kamu… melakukan semua ini?”

Aku mengangguk.

“Supaya usaha kita tetap berjalan.”

Air mata mengalir di wajahnya.

“Aku sudah sangat jahat sama kamu.”

Aku tersenyum tipis.

“Benar.”

Ia semakin menangis.


Beberapa bulan setelah sembuh, Mas Firman benar-benar berubah.

Ia mulai membantu pekerjaan rumah.

Tidak pernah lagi membentak.

Setiap kali marah, ia memilih diam lalu meminta waktu untuk menenangkan diri.

Aku melihat usahanya.

Namun luka di hatiku tidak semudah itu sembuh.

Suatu malam ia menyerahkan sebuah kotak kecil.

“Apa ini?”

“Buka saja.”

Di dalamnya ada kerudung dusty pink.

Warnanya hampir sama dengan kerudung yang pernah ia gunting.

“Aku cari sampai lima toko.”

Aku mengelus kain itu.

“Maaf.”

Ia menangis lagi.

“Aku tahu kerudung ini tidak akan menghapus semua kesalahan.”

Aku memandang wajahnya lama.

“Yang rusak waktu itu bukan cuma kerudung, Mas.”

“Aku tahu.”

“Kepercayaanku juga ikut rusak.”

Ia menunduk.

“Aku akan memperbaikinya seumur hidup kalau memang kamu masih memberi kesempatan.”

Aku tidak langsung menjawab.

Karena memaafkan memang bisa dilakukan dalam satu hari.

Tetapi membangun kembali kepercayaan membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang.

Setahun kemudian, tepat saat Ramadan kembali datang, aku berdiri di depan rumah sambil menerima sebuah paket COD.

Kurir tersenyum.

“Dua puluh ribu, Bu.”

Sebelum aku mengambil dompet, Mas Firman sudah lebih dulu membayar.

Ia menyerahkan paket itu kepadaku dengan kedua tangan.

“Silakan dibuka. Pelan-pelan. Jangan sampai rusak.”

Aku tertawa kecil.

Ia ikut tersenyum.

Lalu berkata pelan di depan kurir yang masih berdiri di sana,

“Dulu saya pernah menghancurkan paket istri saya karena merasa uang lebih berharga daripada perasaannya. Hari ini saya baru benar-benar mengerti, yang paling mahal dalam rumah tangga bukan uang, melainkan hati orang yang memilih tetap bertahan ketika kita berkali-kali menyakitinya.”

Aku memegang erat paket itu.

Bukan karena isinya yang berharga.

Melainkan karena akhirnya aku tahu, hadiah terbesar yang pernah kuterima bukanlah kerudung baru, melainkan seorang manusia yang berani mengakui kesalahannya dan berubah sebelum semuanya benar-benar terlambat.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang