Aku Tak Pernah Menyangka Akan Menemukan Semua Ini di Laptop Suamiku. Ia Menyembunyikannya Begitu Rapi hingga Sulit Dipercaya Bahwa Wanita yang Selama Ini Bersamanya Adalah…

Aku tidak pernah membayangkan bahwa malam paling membahagiakan dalam hidupku justru berubah menjadi awal dari kenyataan yang menghancurkan.

Besok adalah ulang tahun pernikahan kami yang kedelapan.

Rumah sudah kuhias sederhana. Kue favorit suamiku tersimpan rapi di dalam kulkas. Putri kami yang berusia tujuh tahun bahkan diam-diam membuat kartu ucapan dengan gambar tiga orang yang bergandengan tangan di bawah matahari berwarna kuning cerah.

“Keluarga paling bahagia,” begitu tulisan yang dibuatnya dengan huruf-huruf yang masih miring.

Aku tersenyum saat membacanya.

Sampai sebuah notifikasi muncul di layar laptop suamiku.

Aku sama sekali tidak berniat mengusik privasinya. Laptopku mati mendadak, sementara presentasi untuk rapat esok pagi belum selesai. Karena itulah aku membuka laptop milik Arga.

Hanya beberapa detik.

Hanya satu notifikasi.

Namun satu detik itu cukup mengubah seluruh hidupku.

“Kalau malam ini kamu tidak datang, aku sendiri yang akan mengakhiri semuanya.”

Pengirimnya tidak menggunakan nama.

Hanya huruf “S”.

Aku mengira itu urusan pekerjaan.

Sampai jendela percakapan terbuka sendiri.

Tanganku langsung membeku.

Isi percakapan mereka tidak vulgar, tidak dipenuhi kata-kata mesra seperti yang sering muncul di drama televisi. Justru karena terlalu biasa, semuanya terasa jauh lebih nyata.

Mereka membahas makan siang.

Membahas apartemen.

Membahas bagaimana Arga harus berhati-hati agar aku tidak curiga.

Yang paling menyakitkan adalah satu kalimat.

“Aku benci harus pulang dan berpura-pura menjadi suami sempurna.”

Dadaku seperti diremas.

Selama delapan tahun aku selalu percaya bahwa laki-laki yang menikahiku adalah pria paling jujur yang pernah kutemui.

Ternyata, mungkin aku hanya mengenal topengnya.

Aku buru-buru menutup laptop saat mendengar langkah kaki mendekat.

Arga keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut.

“Kamu sudah selesai?” tanyanya santai.

Aku mengangguk.

Senyumku terasa kaku.

Malam itu ia berkata harus mengambil dokumen penting di kantor.

Aku hanya memandang wajahnya.

“Jangan lama-lama.”

“Paling satu jam.”

Ia mengecup keningku.

Ciuman yang dulu selalu membuatku tenang, kini terasa seperti kebohongan yang menyentuh kulitku.

Begitu mobilnya keluar dari halaman, aku tidak menangis.

Entah kenapa.

Aku justru mengambil tas, mengenakan jaket, lalu meminta tetangga menjaga putriku yang sudah tertidur.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mengikuti suamiku.

Mobil Arga berhenti di sebuah gedung perkantoran yang sebagian besar lampunya sudah padam.

Aku menunggu.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Lalu seorang perempuan turun dari taksi.

Usianya mungkin awal tiga puluhan.

Berambut pendek.

Berpenampilan sederhana.

Ia masuk ke gedung tanpa ragu.

Beberapa menit kemudian lampu di lantai delapan menyala.

Aku menggenggam setir begitu erat hingga buku-buku jariku memutih.

Semuanya sudah jelas.

Namun aku tetap tidak berani naik.

Aku takut melihat sesuatu yang tidak akan pernah bisa kulupakan.

Sekitar satu jam kemudian, Arga keluar.

Perempuan itu ikut berjalan di sampingnya.

Anehnya…

Mereka tidak bergandengan tangan.

Tidak berpelukan.

Mereka hanya berdiri cukup jauh.

Lalu perempuan itu menangis.

Arga menyerahkan sebuah map tebal.

Setelah itu mereka berpisah.

Aku semakin bingung.

Kalau mereka memang berselingkuh, mengapa sikap mereka terasa begitu aneh?

Sesampainya di rumah, Arga bersikap seperti biasa.

Ia membawa bunga.

Membelikan makanan kesukaanku.

Bahkan tepat pukul dua belas malam ia mengucapkan selamat ulang tahun pernikahan.

Aku nyaris percaya bahwa semua yang kulihat hanyalah kesalahpahaman.

Sampai tiga hari kemudian.

Aku menerima sebuah amplop tanpa nama.

Di dalamnya terdapat puluhan foto.

Foto Arga bersama perempuan yang sama.

Sedang makan.

Sedang naik mobil.

Sedang masuk apartemen.

Sedang keluar hotel.

Tanganku gemetar.

Di halaman terakhir terdapat secarik kertas.

“Kamu pantas tahu siapa suamimu.”

Tidak ada pengirim.

Aku akhirnya memutuskan menemui perempuan itu.

Alamat apartemennya ada di salah satu foto.

Saat pintu terbuka, perempuan itu tampak sangat terkejut.

“Kamu Nisa?”

Aku mengangguk.

“Aku istrinya Arga.”

Perempuan itu langsung pucat.

“Aku… sudah menunggu kamu datang.”

Jawaban itu membuatku terpaku.

Ia mempersilahkanku masuk.

Ruangan apartemennya kecil.

Tidak ada barang mewah.

Di sudut ruang tamu terdapat seorang anak laki-laki sekitar lima tahun yang sedang menggambar.

Aku langsung membeku.

Wajah anak itu…

Sangat mirip Arga.

Dunia seolah berhenti berputar.

Perempuan itu buru-buru berkata,

“Jangan salah paham.”

Namun aku sudah tidak mampu mendengar apa pun.

Air mataku jatuh begitu saja.

“Dia anak Arga?”

Perempuan itu menggeleng keras.

“Bukan.”

Aku menatapnya.

“Lalu kenapa wajahnya…”

“Karena dia adik kandung Arga.”

Aku tidak mengerti.

Perempuan itu menarik napas panjang.

“Lima tahun lalu ibu Arga menikah diam-diam setelah ayahnya meninggal. Anak ini lahir dari pernikahan kedua itu.”

Aku terdiam.

“Ibu Arga meninggal dua tahun lalu. Ayah tiri Arga terlilit utang dan kabur. Sejak itu Arga diam-diam membiayai adiknya. Dia takut kamu salah paham karena selama ini hubunganmu dengan ibu mertuamu memang tidak baik.”

Kepalaku terasa kosong.

“Lalu foto-foto ini?”

“Waktu itu kami memang sering bertemu. Aku yang mengurus anak ini. Orang yang memotret sengaja mengambil sudut yang membuat semuanya terlihat berbeda.”

Aku mulai mengingat kembali.

Benar.

Tidak pernah ada foto mereka berpegangan tangan.

Tidak pernah ada ciuman.

Tidak ada pelukan.

Semuanya hanya terlihat mencurigakan.

“Lalu pesan di laptop?”

Perempuan itu menunduk.

“Itu memang salahku.”

Jantungku kembali berdegup.

“Aku sengaja membuatnya terdengar seperti hubungan gelap.”

“Kenapa?”

Karena menangis, suaranya menjadi parau.

“Aku ingin Arga berhenti menanggung semua beban kami.”

Aku semakin bingung.

Perempuan itu membuka map yang pernah kulihat malam itu.

Isinya tagihan rumah sakit.

Biaya terapi.

Surat utang.

Semua atas nama anak kecil itu.

“Arga menghabiskan hampir separuh penghasilannya setiap bulan untuk adiknya.”

Aku benar-benar tidak tahu.

“Tapi kenapa harus disembunyikan?”

“Dia bilang dia ingin kamu tetap hidup tenang. Dia takut kalau kamu tahu, kamu akan merasa rumah tangga kalian selalu dibebani masalah keluarganya.”

Aku pulang dengan kepala penuh pertanyaan.

Malam itu aku tidak langsung memarahi Arga.

Aku hanya meletakkan amplop foto di meja makan.

Ia baru pulang sekitar pukul sembilan malam.

Begitu melihat amplop itu, wajahnya langsung berubah.

“Kamu sudah tahu?”

Aku mengangguk.

“Katakan semuanya.”

Untuk pertama kalinya selama kami menikah, aku melihat suamiku menangis.

Ia bercerita bahwa ibunya memohon sebelum meninggal agar ia menjaga adik kecilnya.

Ia tidak sanggup menolak.

Namun ia juga takut aku merasa dikhianati karena uang tabungan kami berkurang setiap bulan.

“Aku bodoh.”

Ia menunduk.

“Aku pikir menyembunyikannya akan melindungimu.”

Aku menatapnya lama.

“Lalu kenapa tidak percaya padaku?”

Pertanyaan itu membuatnya terdiam.

Ternyata bukan perselingkuhan yang hampir menghancurkan rumah tangga kami.

Melainkan rahasia.

Rahasia yang awalnya lahir dari niat baik, tetapi berubah menjadi bom waktu.

Beberapa hari kemudian kami menemui perempuan itu bersama-sama.

Namanya Siska.

Ia meminta maaf karena sengaja membuat isi pesan terdengar ambigu agar Arga berhenti datang membantu mereka.

“Aku kira kalau istrinya curiga, dia akan memilih keluarganya sendiri.”

Aku tersenyum pahit.

“Nyaris saja berhasil.”

Beberapa bulan berlalu.

Adik Arga akhirnya tinggal bersama kami.

Putriku sangat senang memiliki paman kecil yang bisa diajak bermain.

Rumah yang sempat hampir hancur justru menjadi lebih ramai.

Suatu sore aku sedang membereskan lemari kerja Arga ketika menemukan sebuah kotak kayu kecil.

Di dalamnya ada sebuah surat.

Tanggalnya delapan tahun lalu.

Hari sebelum kami menikah.

Tulisan tangan ibu mertuaku memenuhi halaman itu.

“Kalau suatu hari Arga berbohong, jangan langsung percaya bahwa dia sudah berhenti mencintaimu. Sejak kecil dia selalu memilih menyimpan rasa sakit sendirian daripada membuat orang yang dia sayangi ikut terluka.”

Aku memejamkan mata.

Air mata jatuh tanpa bisa kutahan.

Hari itu aku akhirnya memahami satu hal.

Kejujuran memang bisa menyakitkan.

Tetapi kebohongan yang dibangun atas nama cinta akan selalu meninggalkan luka yang jauh lebih dalam.

Sejak saat itu, Arga dan aku membuat satu janji baru yang jauh lebih penting daripada janji pernikahan kami delapan tahun sebelumnya.

Tidak ada lagi rahasia, seberat apa pun kenyataannya.

Karena sebuah keluarga bukan dibangun oleh pasangan yang tidak pernah memiliki masalah, melainkan oleh dua orang yang berani menghadapi masalah bersama, tanpa menyembunyikan kebenaran satu sama lain.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang