“Dasar anak se tan ca cat men tal! Pergi! Jangan dekati aku!”

Roti itu masih dipeluk erat oleh Nino ketika Dewi berdiri membeku di seberang jalan. Jarak mereka hanya beberapa meter, tetapi rasanya seperti dipisahkan oleh jurang yang tak mungkin diseberangi. Di tangan Dewi, uang hasil mencuci pakaian masih tergenggam kuat. Uang yang diperolehnya dengan tangan yang perih karena deterjen, sementara suaminya tertawa lepas di depan meja judi bersama perempuan lain.

Nino yang belum mengerti apa pun mengangkat roti itu ke arah ibunya sambil tersenyum. “Mama…”

Suara kecil itu menyadarkan Dewi. Ia menarik napas panjang, memalingkan wajah, lalu memilih berjalan pulang tanpa menghampiri Rudi. Tidak ada gunanya memohon kepada orang yang bahkan sudah kehilangan hati nuraninya.

Sesampainya di warung, Dewi membeli dua kilogram beras, sebungkus susu khusus untuk Nino, dan beberapa butir telur. Uang itu hampir habis, tetapi setidaknya malam ini anaknya tidak akan tidur dalam keadaan lapar.

Malam itu, Rudi pulang dalam keadaan mabuk. Bau alkohol bercampur asap rokok memenuhi rumah sempit mereka.

“Ada makanan?” tanyanya kasar.

Dewi meletakkan sepiring nasi dan telur dadar di atas meja.

Rudi langsung makan tanpa bertanya dari mana makanan itu berasal.

“Nino sudah minum susu?” tanya Dewi pelan.

Rudi mendengus.

“Jangan harap aku peduli.”

Nino yang sedang bermain di lantai melihat ayahnya. Dengan langkah kecil yang masih belum stabil, ia berjalan menghampiri sambil membawa mobil-mobilan plastik yang sudah rusak rodanya.

“Ayah…”

Tangannya yang mungil mengulurkan mainan itu.

Rudi malah menepisnya hingga mobil itu terlempar ke sudut ruangan.

Nino terkejut lalu menangis keras.

“Cukup!” bentak Dewi untuk pertama kalinya sejak mereka menikah.

Rudi ikut terdiam.

“Kalau Mas membenci saya, silakan. Tapi jangan perlakukan anak sendiri seperti musuh.”

“Aku sudah bilang dia bukan anakku.”

Dewi menatap suaminya dengan mata merah.

“Kalau begitu, mulai malam ini jangan pernah lagi mengaku sebagai ayah.”

Rudi berdiri sambil menendang kursi.

“Berani sekali kamu.”

Ia keluar lagi membanting pintu.

Sejak malam itu, Rudi semakin jarang pulang.

Hari-hari Dewi berubah menjadi perjuangan tanpa henti. Pagi mencuci pakaian tetangga, siang membersihkan rumah orang, sore membantu warung makan. Ke mana pun pergi, Nino selalu ikut dalam gendongan.

Tidak semua orang menerima mereka.

Ada yang menolak begitu melihat kondisi Nino.

“Aduh, maaf ya. Takut nanti pelanggan jadi tidak nyaman.”

Ada yang berbisik saat Dewi lewat.

“Itu anak yang katanya terkena kutukan.”

Dewi hanya menggenggam tangan kecil putranya semakin erat.

Suatu sore ketika hujan turun deras, Nino melihat seekor anak kucing basah yang gemetar di selokan. Tanpa pikir panjang ia turun dari teras, memeluk kucing itu, lalu membawanya ke pelukan Dewi.

“Buu…”

Nino tersenyum sambil mengelus kepala anak kucing itu.

Dewi meneteskan air mata.

Anaknya yang sering ditolak orang justru memiliki hati yang paling lembut.

Beberapa minggu kemudian, Bu Rina datang ke rumah mereka.

“Dewi, aku dengar panti terapi anak sedang mencari petugas kebersihan. Memang gajinya tidak besar, tapi mereka biasanya menerima ibu yang membawa anak.”

Mata Dewi langsung berbinar.

Keesokan harinya ia datang ke tempat itu.

Bangunan sederhana itu dipenuhi anak-anak berkebutuhan khusus.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Dewi melihat begitu banyak orang tua yang memeluk anak-anak mereka tanpa rasa malu.

Di sana tidak ada tatapan menghina.

Tidak ada bisikan menyakitkan.

Seorang terapis bernama Dokter Maya menghampiri mereka.

“Nino ya?”

Dewi mengangguk gugup.

Dokter Maya tersenyum hangat.

“Dia anak yang manis.”

Kalimat sederhana itu membuat Dewi hampir menangis.

Selama ini hampir tidak pernah ada orang yang mengucapkan hal seperti itu.

Selain bekerja membersihkan ruangan, Dewi diizinkan membawa Nino mengikuti terapi sederhana secara gratis ketika jadwal sedang kosong.

Hari demi hari berlalu.

Nino mulai belajar mengucapkan kata lebih jelas.

Ia mulai bisa menyusun balok.

Ia mulai mampu memakai sendok sendiri.

Perkembangannya memang lambat, tetapi terus maju.

Setiap pencapaian kecil terasa seperti kemenangan besar.

Suatu hari, Dokter Maya berkata pelan.

“Bu Dewi, jangan pernah percaya kalau anak seperti Nino tidak bisa berkembang. Mereka hanya membutuhkan waktu lebih panjang dan cinta yang lebih besar.”

Kalimat itu menjadi kekuatan baru bagi Dewi.

Sementara itu kehidupan Rudi justru semakin kacau.

Utang judinya menumpuk.

Perempuan yang dulu selalu menemaninya mulai menjauh setelah mengetahui ia tidak lagi memiliki uang.

Motor satu-satunya dijual.

Telepon genggamnya digadaikan.

Suatu malam ia datang ke rumah dalam keadaan compang-camping.

“Aku lapar.”

Dewi membuka pintu tanpa banyak bicara.

Ia tetap menyodorkan sepiring nasi.

Namun setelah selesai makan, Rudi berkata pelan.

“Aku butuh uang.”

Dewi menggeleng.

“Aku tidak punya.”

“Kamu pasti menyimpan hasil kerjamu.”

“Itu untuk biaya terapi Nino.”

Rudi langsung marah.

“Anak itu lagi.”

“Ya. Anak itu yang selama ini membuatku tetap hidup.”

Rudi hendak mengambil dompet Dewi secara paksa.

Tiba-tiba Nino berdiri di depan ibunya.

Dengan tubuh kecilnya ia merentangkan kedua tangan.

“Jangan…”

Suara itu belum sempurna.

Namun cukup membuat semua orang terdiam.

Rudi memandang anak yang selama ini dibencinya.

Tatapan mereka bertemu.

Untuk sesaat ada sesuatu yang bergetar dalam hati Rudi.

Namun rasa malu dan gengsinya jauh lebih besar.

Ia keluar lagi sambil mengumpat.

Beberapa bulan kemudian, kabar mengejutkan datang.

Rudi mengalami kecelakaan sepulang dari tempat judi.

Ia ditabrak truk ketika mengendarai motor pinjaman.

Kakinya patah parah.

Ia kehilangan pekerjaan karena terlalu lama tidak bisa bekerja.

Perempuan yang dulu selalu menemaninya menghilang tanpa jejak.

Tidak ada seorang pun yang datang menjenguk selain Dewi.

Ketika melihat istrinya membawa Nino masuk ke ruang rawat, Rudi langsung memalingkan wajah.

“Aku tidak butuh belas kasihan.”

Dewi meletakkan sebungkus bubur di meja.

“Aku datang bukan karena Mas pantas mendapatkannya. Aku datang karena aku tidak ingin menjadi orang seperti Mas.”

Nino berjalan perlahan mendekati ranjang.

Di tangannya ada sebuah apel.

Ia mengangkat buah itu.

“Ayah…”

Rudi menatap anak kecil itu.

Tangannya gemetar ketika menerima apel tersebut.

“Kenapa… kamu masih memanggilku Ayah?”

Nino tersenyum polos.

“Karena Ayah.”

Hanya dua kata.

Namun dua kata itu menghancurkan seluruh tembok kebencian yang selama bertahun-tahun dibangun Rudi.

Air mata jatuh tanpa bisa ditahan.

Ia menangis seperti anak kecil.

“Aku yang seharusnya minta maaf.”

Untuk pertama kalinya ia memeluk Nino.

Pelukan yang seharusnya diberikan sejak hari anak itu lahir.

Beberapa minggu setelah keluar dari rumah sakit, Rudi mendatangi pusat terapi.

Ia melihat anak-anak lain dengan kondisi yang sama seperti Nino.

Ia berbincang panjang dengan Dokter Maya.

Barulah ia memahami bahwa Down syndrome bukan kutukan, bukan aib, dan bukan akibat perselingkuhan.

Melainkan kondisi genetik yang sama sekali tidak bisa disalahkan kepada siapa pun.

Hari itu ia menangis lagi.

Ia sadar selama ini yang cacat bukan anaknya.

Melainkan cara berpikirnya sendiri.

Rudi mulai berubah.

Ia bekerja sebagai buruh bangunan apa pun yang bisa menghasilkan uang.

Setiap gaji diterimanya langsung diberikan kepada Dewi.

Ia juga mulai rutin mengantar Nino terapi.

Setiap kali ada orang yang mengejek putranya, kini Rudi berdiri paling depan.

“Anak saya memang berbeda. Tapi dia tidak pernah menyakiti siapa pun. Yang perlu malu adalah orang yang menghina anak kecil.”

Beberapa tahun berlalu.

Nino tumbuh menjadi anak yang ceria.

Ia memang tidak secepat teman-teman seusianya, tetapi ia dikenal sebagai anak yang selalu tersenyum dan senang membantu siapa saja.

Suatu hari sekolah tempat Nino belajar mengadakan pentas seni.

Semua orang tua memenuhi aula sederhana itu.

Rudi duduk di barisan paling depan.

Tangannya terus gemetar.

Ketika nama Nino dipanggil, anak itu naik ke atas panggung membawa mikrofon.

Dengan suara yang masih sederhana, ia berkata,

“Terima kasih… Ibu… Ayah… sudah sayang Nino.”

Seluruh ruangan hening.

Rudi menundukkan kepala.

Tangisnya pecah di depan semua orang.

Ia teringat hari ketika pernah berkata bahwa Nino bukan anaknya.

Kini justru anak itu yang dengan bangga memanggilnya Ayah di depan ratusan orang.

Selesai pertunjukan, Rudi memeluk putranya erat.

“Maafkan Ayah.”

Nino hanya tertawa lalu memeluknya lebih erat.

Di antara begitu banyak orang, Dewi berdiri sambil menghapus air mata bahagia.

Ia akhirnya mengerti bahwa cinta seorang ibu memang mampu bertahan melewati penghinaan, kemiskinan, dan pengkhianatan.

Dan kadang, hati yang paling keras bukan diluluhkan oleh kemarahan, melainkan oleh kasih sayang tulus dari seorang anak yang selama ini dianggap tidak sempurna. Padahal justru dialah yang mengajarkan semua orang arti menjadi manusia seutuhnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang