Aku tidak langsung pulang.
Mobilku berhenti di sebuah taman kota yang hampir kosong menjelang senja. Untuk pertama kalinya sejak menerima kabar bahwa aku memenangkan undian senilai Rp56 miliar, aku menangis. Bukan karena bahagia, melainkan karena merasa seluruh hidupku seperti sedang runtuh.
Aku memandangi foto anakku di layar ponsel. Wajahnya masih sama seperti saat kecil, ketika ia selalu memelukku setiap kali aku pulang bekerja sambil membawa roti murah dari warung dekat terminal.
“Aku akan menjaga Mama selamanya.”

Kalimat itu dulu sering diucapkannya.
Entah sejak kapan semuanya berubah.
Mungkin sejak aku terlalu sering menggantikan semua kesalahannya dengan uang. Saat ia gagal kuliah, aku menyalahkan keadaan. Saat usahanya bangkrut karena salah mengelola keuangan, aku menjual perhiasan untuk menolongnya. Saat ia terlilit utang kartu kredit, aku mengambil pinjaman koperasi agar namanya tidak masuk daftar hitam.
Aku selalu berpikir aku sedang menyelamatkan anakku.
Kini aku mulai bertanya-tanya, jangan-jangan selama ini justru aku sedang menghancurkannya.
Ponselku kembali berbunyi.
“Ma, dokter bilang pembayaran obat harus dilakukan malam ini.”
Pesan itu singkat.
Biasanya aku akan panik. Aku akan langsung menelepon sana-sini mencari pinjaman.
Namun kali ini aku justru menghubungi nomor dokter yang selama ini menangani anakku.
“Selamat malam, Dok. Saya ibunya Arga.”
“Oh, Bu Rani. Kebetulan sekali. Kami juga sedang mencoba menghubungi Ibu.”
“Saya ingin bertanya langsung. Tolong jawab dengan jujur. Bagaimana sebenarnya kondisi Arga?”
Dokter terdiam beberapa detik.
“Lewat telepon agak sulit menjelaskan.”
“Saya hanya ingin tahu satu hal. Apakah kondisinya benar-benar sekritis yang selama ini dikatakan?”
Keheningan kembali terdengar.
Jawaban dokter membuat darahku seperti berhenti mengalir.
“Secara medis, kondisinya stabil. Penyakitnya memang perlu dipantau, tetapi sudah tidak lagi dalam fase yang mengancam nyawa.”
Tanganku gemetar.
“Lalu… mengapa setiap minggu selalu ada tagihan baru?”
“Itu karena beberapa pemeriksaan tambahan diminta langsung oleh pasien.”
“Apa maksud Dokter?”
“Arga sering meminta pemeriksaan ulang meskipun hasil sebelumnya masih berlaku. Bahkan beberapa kali ia meminta rawat inap diperpanjang dengan alasan merasa belum nyaman pulang.”
Aku memejamkan mata.
“Tapi bukankah itu harus mendapat persetujuan dokter?”
“Secara medis kami menyarankan pulang. Namun pasien dewasa berhak memilih selama biaya ditanggung sendiri.”
Aku hampir kehilangan suara.
“Jadi… sebenarnya dia sudah boleh pulang?”
“Sejak hampir tiga minggu yang lalu.”
Telepon itu berakhir.
Aku duduk membeku.
Selama tiga minggu.
Tiga minggu aku terus bekerja lembur, meminjam uang, bahkan makan hanya sekali sehari demi membayar biaya rumah sakit yang sebenarnya sudah tidak perlu.
Aku kembali teringat percakapan yang kudengar di depan kamar.
“Mama pasti akan membayar semuanya.”
Air mataku kembali jatuh.
Malam itu aku tidak kembali ke rumah sakit.
Sebagai gantinya, aku menuju kantor pusat perusahaan penyelenggara undian untuk mengurus proses pencairan hadiah.
Semuanya berjalan lebih cepat daripada yang kubayangkan.
Petugas menjelaskan bahwa identitasku akan dirahasiakan sesuai permintaan.
“Itu yang saya inginkan.”
Aku tidak ingin seorang pun tahu.
Bahkan anakku.
Tiga hari kemudian, uang itu resmi masuk ke rekening baru yang kubuka khusus.
Angkanya membuatku sulit bernapas.
Rp56.000.000.000.
Jumlah yang bahkan tak pernah berani kubayangkan.
Namun anehnya, aku justru merasa jauh lebih takut daripada bahagia.
Karena kini aku tahu satu hal.
Yang sedang mengincar uangku bukan orang asing.
Melainkan darah dagingku sendiri.
Aku sengaja datang ke rumah sakit dengan pakaian sederhana seperti biasa.
Tas lusuh yang selama ini selalu kubawa masih berada di pundakku.
Begitu masuk ke kamar, Arga langsung tersenyum.
“Nah, akhirnya Mama datang.”
Ia memelukku.
Dulu pelukan itu selalu menghangatkanku.
Kini tubuhku justru terasa dingin.
“Ma, bagaimana kabar baiknya?”
Aku tersenyum tipis.
“Tidak jadi.”
Wajahnya berubah.
“Tidak jadi apa?”
“Urusan yang Mama ceritakan waktu itu gagal.”
“Oh…”
Hanya satu huruf.
Tak ada rasa kecewa karena aku sedih.
Yang terlihat justru kecewa karena harapannya hilang.
Lalu ia mulai memainkan perannya.
“Ma… dokter bilang aku masih butuh terapi lanjutan.”
“Iya?”
“Biayanya lumayan.”
Aku mengangguk pelan.
“Nanti Mama usahakan.”
Ia langsung tersenyum lega.
Saat itulah aku sadar.
Bukan uangnya yang ia cintai.
Ia mencintai kepastian bahwa aku akan selalu mengorbankan diriku.
Beberapa hari berikutnya aku sengaja mengurangi frekuensi datang.
Aku hanya mengirim makanan dan kebutuhan seperlunya.
Setiap kali aku berkata sedang kesulitan uang, respons Arga selalu sama.
“Oke, Ma.”
Tidak pernah bertanya apakah aku baik-baik saja.
Tidak pernah bertanya apakah aku sudah makan.
Tidak pernah bertanya bagaimana kesehatanku.
Yang ia tanyakan selalu satu.
“Kapan uangnya ada?”
Seminggu kemudian aku mendapat telepon dari nomor yang tidak kukenal.
“Selamat siang. Apakah benar ini Ibu Rani?”
“Ya.”
“Saya Rika.”
Nama itu terasa asing.
“Saya teman Arga.”
Aku terdiam.
“Saya minta maaf menghubungi Ibu tanpa izin.”
“Ada apa?”
Wanita itu menarik napas panjang.
“Saya sudah tidak tahan melihat Ibu terus dimanfaatkan.”
Jantungku kembali berdegup kencang.
“Maksud kamu?”
“Percakapan yang Ibu dengar hari itu… saya sengaja mengeraskan volume speaker.”
Aku membeku.
“Apa?”
“Saya tahu Ibu berdiri di luar.”
Tanganku mulai gemetar.
“Saya ingin Ibu mendengar sendiri.”
“Kenapa?”
“Karena selama ini Arga selalu membanggakan bagaimana mudahnya membuat Ibu mengeluarkan uang.”
Air mataku perlahan mengalir.
Rika melanjutkan.
“Awalnya saya pikir dia bercanda.”
“Ternyata?”
“Dia benar-benar melakukannya.”
Rika kemudian mengirim beberapa tangkapan layar.
Aku membuka satu per satu.
Isi grup percakapan itu membuat dadaku sesak.
“Kalau mau pinjam modal, tinggal bilang penyakit kambuh.”
“Mama pasti panik.”
“Orang tua memang gampang dimainkan kalau anaknya sakit.”
Ada juga foto-foto Arga sedang makan di restoran mahal bersama teman-temannya.
Tanggalnya sama persis dengan hari ketika ia mengatakan sedang terlalu lemah untuk bangun dari tempat tidur rumah sakit.
Bahkan ada video ketika ia keluar rumah sakit pada malam hari menggunakan pakaian biasa, lalu kembali sebelum pagi.
Tanganku sampai tidak mampu memegang ponsel.
“Kenapa kamu baru memberi tahu sekarang?” tanyaku.
“Karena saya juga baru sadar dia sudah keterlaluan.”
“Dia bahkan memakai uang yang Ibu kirim untuk membayar liburan kami ke Bali tahun lalu.”
Aku memejamkan mata.
Liburan itu.
Aku masih ingat.
Saat itu aku menjual cincin pernikahan terakhir peninggalan almarhum suamiku karena Arga mengatakan ada terapi baru yang tidak ditanggung asuransi.
Ternyata uang itu dipakai berlibur.
Rika menangis di ujung telepon.
“Saya ikut bersalah karena dulu diam.”
Aku tidak menyalahkannya.
Yang paling bersalah adalah diriku sendiri.
Aku terlalu lama percaya bahwa cinta berarti selalu memberi.
Padahal cinta juga berarti berani mengatakan cukup ketika seseorang mulai menyalahgunakannya.
Malam itu aku duduk sendirian di rumah kecilku.
Di atas meja tergeletak buku tabungan dengan saldo puluhan miliar rupiah.
Di sampingnya terdapat surat-surat utang yang selama bertahun-tahun menghantuiku.
Aku bisa melunasi semuanya malam itu juga.
Aku juga bisa membeli rumah baru, membuka usaha, atau berkeliling dunia.
Namun sebelum melakukan semua itu, ada satu hal yang harus kuselesaikan terlebih dahulu.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku memutuskan berhenti menjadi ibu yang selalu menyelamatkan anaknya.
Karena aku ingin melihat, tanpa uangku, tanpa pengorbananku, dan tanpa kebohongan yang bisa ia manfaatkan lagi…
…siapa sebenarnya Arga.
