Mobil berhenti di depan sebuah rumah dinas dua lantai yang tampak rapi namun sepi, berada di kawasan perumahan militer sekitar lima ratus meter dari kesatuan tempat Nizar bertugas.

Suara langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu kamar. Esma buru-buru mengusap air matanya dengan punggung tangan. Ia tidak ingin Nizar melihat dirinya menangis, meski ia tahu laki-laki itu mungkin sama sekali tidak peduli.

Pintu terbuka perlahan.

Nizar berdiri di sana dengan wajah tetap dingin. Tatapannya sekilas jatuh pada map kontrak yang sudah tertutup rapi di atas meja.

“Sudah ditandatangani?”

Esma hanya mengangguk pelan.

Nizar melangkah masuk, mengambil map itu tanpa banyak bicara. Saat hendak berbalik, pandangannya menangkap Esma yang masih berdiri di depan foto besar di dinding.

“Jangan sentuh foto itu.”

Nada suaranya datar, tetapi cukup tajam untuk membuat Esma menarik tangannya.

“Aku tidak berniat…”

“Cukup.”

Tak ada kesempatan baginya untuk menjelaskan.

“Itu satu-satunya benda yang tidak boleh kamu ubah di rumah ini.”

Esma menggigit bibirnya.

“Baik, Mas.”

Nizar menghela napas tipis.

“Besok pagi aku berangkat ke markas pukul enam. Kamu tidak perlu menyiapkan apa pun. Ada asisten rumah tangga yang datang setiap pagi.”

“Mas…”

Nizar berhenti.

“Boleh aku bertanya satu hal?”

“Apa?”

“Kalau memang Mas begitu mencintai wanita itu… kenapa tidak menjelaskan semuanya kepada keluarga? Kenapa harus menerima pernikahan ini?”

Beberapa detik berlalu tanpa jawaban.

Tatapan Nizar perlahan berubah kosong.

“Karena ada janji yang tidak bisa kubatalkan.”

Ia keluar begitu saja.

Pintu kembali tertutup.

Esma memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya sejak pagi, ia sadar bahwa bukan hanya dirinya yang sedang terluka. Di balik wajah dingin itu, ada sesuatu yang jauh lebih rumit daripada sekadar kebencian.

Malam berlalu tanpa tidur.

Esma hanya memandangi langit-langit kamar hingga azan Subuh berkumandang.

Keesokan paginya, suara pintu depan membuatnya terbangun dari lamunan. Ketika keluar kamar, Nizar sudah mengenakan seragam loreng lengkap. Penampilannya begitu tegap dan berwibawa.

Tanpa sengaja mata mereka bertemu.

“Selamat pagi, Mas.”

“Ya.”

Hanya satu kata.

Tak lama kemudian terdengar suara seorang wanita paruh baya memasuki rumah.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam,” jawab Esma cepat.

Wanita itu tersenyum ramah.

“Alhamdulillah… akhirnya Pak Nizar menikah juga.”

“Aku Bu Ratna,” katanya sambil menjabat tangan Esma.

“Aku Esma.”

Bu Ratna tertawa kecil.

“Saya sudah sepuluh tahun bekerja di rumah ini.”

Nizar mengambil tas dinasnya.

“Bu Ratna, tolong bantu Esma mengenal rumah.”

“Siap, Pak.”

Sebelum keluar, Nizar sempat berhenti beberapa detik.

Tanpa menoleh kepada Esma, ia berkata pelan.

“Jangan keluar kompleks sendirian. Kalau perlu sesuatu, bilang Bu Ratna.”

Lalu ia pergi.

Mobil dinasnya menghilang di tikungan.

Esma memandang punggungnya sampai tak terlihat lagi.

Bu Ratna menghela napas.

“Pak Nizar memang begitu.”

Esma tersenyum tipis.

“Beliau memang tidak banyak bicara ya, Bu.”

“Kalau dulu tidak begitu.”

Esma langsung menoleh.

“Dulu?”

Bu Ratna seolah baru sadar telah mengatakan sesuatu.

“Wah… saya keceplosan.”

“Bu… siapa wanita di foto itu?”

Bu Ratna terdiam cukup lama.

“Namanya dokter Alya.”

Nama itu terasa asing.

“Mereka pacaran hampir lima tahun.”

Esma menunduk.

“Ternyata benar.”

“Semua orang di markas sudah menganggap mereka akan menikah.”

“Lalu kenapa tidak jadi?”

Bu Ratna menggeleng pelan.

“Itu cerita yang rumit.”

“Tapi… apakah karena aku?”

Wanita tua itu tidak langsung menjawab.

“Aku tidak tahu pasti. Yang saya tahu, sejak Pak Nizar menerima surat wasiat itu, beliau berubah total.”

Hari-hari berikutnya berjalan sangat sunyi.

Rumah besar itu terasa seperti dua dunia yang berbeda.

Pagi hari Nizar berangkat sebelum matahari tinggi.

Malam ia pulang larut.

Mereka jarang berbicara lebih dari beberapa kalimat.

Esma mulai mengisi waktunya dengan merapikan rumah, memasak, dan membantu Bu Ratna.

Diam-diam ia memperhatikan kebiasaan suaminya.

Nizar selalu pulang tepat waktu jika tidak sedang bertugas.

Ia tidak pernah membawa teman.

Ia tidak pernah marah tanpa alasan.

Ia juga tidak pernah sekalipun memperlakukan Esma dengan kasar.

Hanya… sangat jauh.

Seolah ada tembok yang mustahil ditembus.

Suatu sore hujan turun sangat deras.

Listrik di kompleks sempat padam.

Esma sedang membereskan gudang kecil ketika menemukan sebuah kardus tua.

Isinya penuh album foto.

Awalnya ia tidak berniat membuka.

Namun sebuah amplop jatuh ke lantai.

Di depannya tertulis.

Untuk Nizar.

Tulisan tangan seorang wanita.

Esma ragu beberapa saat.

Akhirnya ia membuka amplop itu.

Isinya hanya satu lembar surat.

Nizar.

Kalau suatu hari kamu membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak ada.

Jangan pernah menyalahkan dirimu.

Penyakitku memang tidak mungkin disembuhkan.

Terima kasih sudah mencintaiku lebih dari siapa pun.

Kalau nanti kamu bertemu perempuan baik yang bisa membuatmu bahagia, jangan menolaknya hanya karena kenanganku.

Aku ingin kamu hidup.

Jangan berhenti hidup.

Esma membeku.

Tangannya gemetar.

Di bawah surat itu terdapat hasil pemeriksaan rumah sakit.

Diagnosis.

Leukemia stadium akhir.

Air mata Esma jatuh begitu saja.

Jadi wanita itu…

Sudah meninggal.

Bukan pergi.

Bukan berselingkuh.

Melainkan kehilangan nyawanya.

Saat itulah pintu gudang terbuka.

Nizar berdiri di sana.

Tatapannya langsung jatuh pada surat di tangan Esma.

Wajahnya berubah.

Untuk pertama kalinya Esma melihat emosi yang begitu jelas di wajah pria itu.

“Kamu membuka barang pribadiku?”

Esma panik.

“Maaf, Mas. Suratnya jatuh. Aku tidak sengaja…”

Nizar mengambil surat itu dengan cepat.

“Tidak ada seorang pun yang boleh menyentuh barang-barang Alya.”

Nada suaranya terdengar bergetar.

Bukan marah.

Melainkan menahan sesuatu yang jauh lebih berat.

Esma menunduk.

“Maafkan aku.”

Nizar tidak mengatakan apa pun lagi.

Ia membawa surat itu keluar.

Malam itu mereka kembali makan dalam diam.

Namun setelah Bu Ratna pulang, Nizar tiba-tiba berkata.

“Dia meninggal dua tahun lalu.”

Esma mengangkat kepala.

“Alya.”

Suara Nizar sangat pelan.

“Dia meninggal seminggu sebelum kami bertunangan.”

Ruangan kembali sunyi.

“Aku sudah menyiapkan rumah, cincin, bahkan tanggal pernikahan.”

Tangannya mengepal di bawah meja.

“Tapi Tuhan mengambilnya lebih dulu.”

Esma tidak tahu harus berkata apa.

“Aku minta maaf,” bisiknya.

Nizar tersenyum tipis.

Senyum pertama yang pernah ia lihat.

Namun senyum itu dipenuhi kesedihan.

“Aku juga minta maaf.”

Esma terkejut.

“Karena membuatmu ikut menanggung luka yang bukan milikmu.”

Malam itu untuk pertama kalinya mereka berbicara hampir satu jam.

Tentang keluarga.

Tentang masa kecil.

Tentang ibu mereka yang bersahabat.

Tentang wasiat yang mempertemukan dua orang asing.

Perlahan-lahan, suasana di rumah mulai berubah.

Esma tidak lagi merasa sendirian.

Nizar juga mulai terbiasa melihat kehadiran istrinya.

Sesekali mereka minum teh bersama.

Sesekali makan malam sambil berbincang ringan.

Tak ada cinta.

Tetapi rasa canggung mulai memudar.

Sampai suatu pagi.

Seseorang datang ke rumah.

Seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahun.

Begitu melihat Esma membuka pintu, wanita itu langsung menamparnya.

Plak!

Esma terhuyung.

“Apa salah saya, Bu?”

“Kamu perempuan tidak tahu malu!”

Wanita itu menangis.

“Kalau bukan karena kamu, anakku masih hidup di hati Nizar!”

Esma kebingungan.

Wanita itu menunjuk wajahnya.

“Aku ibu Alya!”

Suasana langsung kacau.

Nizar yang baru turun dari lantai atas segera berlari.

“Bu!”

“Jangan panggil aku Ibu!”

Wanita itu menangis histeris.

“Kenapa kamu menikah lagi secepat ini?”

“Bukankah kamu berjanji akan selalu mencintai Alya?”

Nizar memejamkan mata.

“Aku tidak pernah melupakan Alya.”

“Lalu kenapa perempuan ini tinggal di rumahmu?”

Esma menunduk.

Air matanya kembali jatuh.

Ia sadar.

Lukanya ternyata juga melukai orang lain.

Dengan suara tenang, Nizar berkata,

“Bu… saya menikah karena memenuhi wasiat ibu saya.”

“Tidak ada yang bisa menggantikan Alya.”

Kalimat itu menusuk Esma.

Namun sebelum ia sempat menahan air matanya, ibu Alya tiba-tiba mengeluarkan sebuah map cokelat dari tasnya.

“Kalau begitu… kamu harus membaca ini.”

Map itu diserahkan kepada Nizar.

Tangannya perlahan membukanya.

Di dalamnya terdapat sebuah surat dengan tulisan tangan yang sangat dikenalnya.

Tulisan Alya.

Nizar membaca baris pertama.

Wajahnya langsung pucat.

Tangannya bergetar hebat.

Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

Esma belum pernah melihat seorang prajurit yang begitu tegar menangis seperti anak kecil.

Surat itu ternyata ditulis Alya tiga hari sebelum meninggal.

Isinya hanya satu permintaan.

“Nizar, kalau suatu hari kamu dipertemukan dengan perempuan bernama Esma karena janji orang tua kalian, jangan pernah membencinya. Aku sudah mendengar seluruh cerita dari Ibu. Esma tidak bersalah. Kalau takdir benar-benar membawanya menjadi istrimu, jangan jadikan dia bayangan penggantiku. Cintailah dia sebagai dirinya sendiri. Karena aku akan pergi dengan tenang hanya jika tahu orang yang paling kucintai akhirnya menemukan kebahagiaan yang baru.”

Ruangan itu kembali sunyi.

Tidak ada satu pun yang sanggup berbicara.

Nizar perlahan menoleh kepada Esma.

Tatapan dingin yang selama ini selalu menjaga jarak telah menghilang.

Yang tersisa hanyalah penyesalan yang begitu dalam.

Untuk pertama kalinya sejak hari pernikahan mereka, ia melangkah mendekat, menatap mata Esma dengan jujur, lalu berkata pelan, “Maaf… selama ini aku menghukummu atas kehilangan yang bukan salahmu.”

Esma tidak menjawab.

Air matanya mengalir tanpa suara.

Namun kali ini, bukan karena hatinya hancur.

Melainkan karena untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar dilihat sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai bayangan masa lalu seseorang.

Di saat itulah keduanya menyadari bahwa takdir memang tidak selalu mempertemukan dua orang yang saling mencintai sejak awal. Kadang, takdir hanya mempertemukan dua hati yang sama-sama terluka, lalu memberi mereka kesempatan untuk saling menyembuhkan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang