Aku mengunci pintu kamar dengan tangan gemetar. Dari balik daun pintu, aku masih bisa mendengar suara langkah Mas Arsya yang berhenti sesaat, seolah ingin mengetuk, tetapi akhirnya menjauh. Dadaku terasa sesak. Sejak awal aku tahu pernikahan ini hanyalah sebuah kesepakatan. Aku datang ke rumah ini demi menyelamatkan keluargaku dari lilitan utang, sedangkan Mas Arsya dan Mbak Wulan menginginkan seorang anak yang selama bertahun-tahun tidak pernah mereka miliki.
Namun, tak ada seorang pun yang pernah mengajarkanku bagaimana caranya mengandung seorang bayi tanpa ikut menyimpan perasaan kepada ayahnya.
Aku duduk di tepi ranjang sambil memegang perutku.

“Maafkan Ibu,” bisikku lirih. “Kalau nanti kamu lahir dan harus memanggil orang lain sebagai ibu, jangan benci aku.”
Air mata kembali mengalir tanpa bisa kutahan.
Sejak hari itu, Mbak Wulan benar-benar menjagaku seperti menjaga sesuatu yang sangat berharga. Ia melarangku mencuci pakaian, melarangku mengangkat barang, bahkan memintaku berhenti membantu pekerjaan dapur.
“Kalau kamu capek, nanti kandungannya kenapa-kenapa,” katanya setiap kali aku ingin melakukan sesuatu.
Semua orang yang melihat pasti mengira ia adalah kakak yang sangat baik.
Hanya aku yang tahu bahwa setiap perhatian itu selalu diakhiri dengan kalimat yang sama.
“Ingat ya, bayi itu milikku.”
Aku hanya mengangguk.
Semakin hari, perutku belum juga membesar, tetapi hubungan antara aku dan Mas Arsya justru semakin jauh.
Ia selalu berusaha menyapaku.
“Jelita, kamu sudah makan?”
“Udah, Mas.”
“Kalau ada yang kamu butuhin bilang aja.”
“Iya.”
Setelah itu kami sama-sama diam.
Tatapan Mbak Wulan selalu hadir di antara kami.
Suatu pagi, Mbak Wulan mengajakku kontrol ke dokter kandungan.
Dokter tersenyum setelah memeriksa hasil USG.
“Selamat, janinnya sehat. Usianya sekitar tujuh minggu.”
Aku menatap layar hitam putih itu dengan mata berkaca-kaca.
Ada denyut kecil.
Itu anakku.
Tidak.
Aku segera mengoreksi pikiranku.
Menurut perjanjian, bayi itu bukan milikku.
Dalam perjalanan pulang, Mbak Wulan memegang hasil USG erat-erat.
“Aku bakal bingkai foto ini.”
Aku tersenyum tipis.
“Iya, Mbak.”
Malam harinya, aku terbangun karena merasa haus.
Saat hendak turun ke dapur, aku mendengar suara dari ruang kerja.
Pintunya sedikit terbuka.
“Aku nggak sanggup lagi bohong sama Jelita.”
Itu suara Mas Arsya.
Aku berhenti melangkah.
“Kita sudah sepakat dari awal,” jawab Mbak Wulan dingin.
“Tapi dia hamil anakku.”
“Dan bayi itu milik kita.”
“Aku tahu. Tapi dia juga manusia.”
Suasana hening beberapa saat.
Kemudian suara Mbak Wulan terdengar lebih pelan.
“Mas… jangan bilang kamu mulai sayang sama dia.”
Aku menggigit bibir.
Jawaban Mas Arsya membuat jantungku berdegup kencang.
“Aku menghormatinya.”
“Itu bukan jawaban.”
“Karena aku sendiri belum tahu.”
Aku buru-buru kembali ke kamar.
Sepanjang malam aku tidak bisa tidur.
Kalimat itu terus berputar di kepalaku.
Belum tahu.
Berarti ada kemungkinan.
Aku memukul pelan dadaku sendiri.
Tidak.
Aku tidak boleh berharap.
Beberapa minggu kemudian, kejadian yang tidak pernah kubayangkan terjadi.
Saat Mbak Wulan sedang mandi, telepon genggamnya terus berdering.
Awalnya aku tidak berniat menyentuhnya.
Namun panggilan itu datang berkali-kali.
Nama yang muncul membuatku heran.
Dokter Rendra.
Aku mengangkatnya.
“Halo?”
“Bu Wulan, hasil pemeriksaan terakhir sudah keluar. Saya rasa Ibu sebaiknya datang sendiri. Ada kabar baik mengenai kondisi rahim Ibu.”
Aku terdiam.
Rahim?
“Bisa diulang, Dok?”
“Tentang peluang kehamilan Ibu. Setelah operasi tahun lalu, ternyata kondisinya jauh lebih baik dari perkiraan.”
Telepon terputus.
Tanganku gemetar.
Mbak Wulan keluar dari kamar mandi beberapa detik kemudian.
“Siapa yang nelepon?”
“Dokter.”
Wajahnya langsung berubah pucat.
“Mereka bilang apa?”
Aku menatapnya.
“Mereka bilang rahim Mbak sekarang sudah membaik.”
Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, wajah Mbak Wulan kehilangan seluruh warna.
Malam itu ia mengurung diri.
Mas Arsya berkali-kali mengetuk pintu, tetapi tidak dibukakan.
Baru menjelang subuh aku mendengar suara tangisnya.
Seminggu kemudian, diam-diam ia pergi menemui dokter.
Saat pulang, ia membawa map cokelat.
Aku tidak sengaja melihat isi map itu ketika angin meniup lembarannya.
Tertulis jelas.
Peluang hamil alami meningkat hingga tujuh puluh persen.
Aku mulai memahami sesuatu.
Selama ini ia benar-benar percaya dirinya tidak akan pernah bisa memiliki anak.
Karena itulah ia memintaku menggantikannya.
Kini keadaan berubah.
Namun bayi yang sedang kukandung sudah terlanjur ada.
Sejak hari itu, sikap Mbak Wulan ikut berubah.
Ia semakin posesif.
Ia selalu memeluk perutku.
Berbicara pada bayi.
Membeli baju bayi.
Menyiapkan kamar bayi.
Seolah-olah aku hanyalah tempat sementara.
Aku mulai merasa sesak.
Suatu malam, aku memberanikan diri berbicara.
“Mbak.”
“Iya?”
“Kalau nanti bayinya lahir… boleh nggak aku lihat dia sesekali?”
Mbak Wulan menghentikan langkahnya.
Ia menoleh perlahan.
“Perjanjian kita jelas.”
“Aku tahu.”
“Kamu akan menerima sisa pembayaran.”
“Iya.”
“Lalu kamu pergi.”
Dadaku seperti ditusuk.
“Tapi aku ibunya.”
“Tidak.”
Jawaban itu datang begitu cepat.
“Ibu itu yang membesarkan, bukan yang melahirkan.”
Aku tidak sanggup menjawab lagi.
Beberapa hari setelahnya, orang tuaku datang menjenguk.
Mereka membawa singkong rebus, pisang, dan sayur dari kampung.
Ibuku memelukku lama sekali.
“Kamu kurusan.”
“Aku sehat, Bu.”
Ayahku hanya tersenyum.
Mas Arsya menyambut mereka dengan sangat sopan.
Diam-diam aku melihat ayah menatap Mas Arsya dengan penuh rasa terima kasih.
Aku tahu beliau tidak pernah mengetahui isi sebenarnya dari pernikahan kami.
Sebelum pulang, ibu menggenggam tangan Mas Arsya.
“Tolong jaga anak saya.”
Mas Arsya mengangguk.
“Saya janji.”
Aku melihat matanya.
Ada sesuatu di sana.
Rasa bersalah.
Malam itu, Mas Arsya mengetuk pintu kamarku.
Untuk pertama kalinya sejak aku hamil.
“Boleh bicara?”
Aku membuka pintu sedikit.
“Iya, Mas.”
Ia berdiri cukup jauh.
“Aku cuma mau minta maaf.”
“Untuk apa?”
“Karena semua ini.”
Aku tersenyum pahit.
“Nggak apa-apa.”
“Aku tahu kamu menderita.”
Aku menggeleng.
“Ini pilihan aku.”
“Tapi aku juga yang membuat pilihan itu terjadi.”
Aku tidak menjawab.
Mas Arsya menarik napas panjang.
“Kalau suatu hari nanti kamu ingin membatalkan perjanjian…”
Aku langsung memotong.
“Nggak bisa.”
“Kenapa?”
“Karena keluargaku hidup dari uang itu.”
Ia menunduk.
Aku baru hendak menutup pintu ketika suara Mbak Wulan terdengar dari ujung lorong.
“Mas.”
Mas Arsya langsung menjauh.
Mbak Wulan hanya tersenyum tipis.
Namun tatapannya padaku jauh lebih dingin daripada biasanya.
Kehamilanku memasuki bulan ketujuh.
Suatu sore, Mbak Wulan pingsan.
Kami panik membawanya ke rumah sakit.
Setelah diperiksa, dokter tersenyum.
“Selamat.”
Aku melihat Mas Arsya mengernyit.
“Selamat untuk apa, Dok?”
“Istri Anda hamil.”
Ruangan itu mendadak sunyi.
Mbak Wulan menangis sambil menutup wajah.
Mas Arsya mematung.
Sedangkan aku merasa seluruh tubuhku membeku.
Aku tidak tahu apakah aku harus ikut bahagia atau justru hancur.
Di dalam mobil, tidak ada yang berbicara.
Sesampainya di rumah, Mbak Wulan masuk ke kamarnya.
Malamnya, ia datang menemuiku.
Matanya bengkak.
“Aku minta maaf.”
Aku terkejut.
“Mbak?”
“Aku baru sadar… selama ini aku terlalu egois.”
Ia menangis.
“Aku takut kehilangan Mas Arsya.”
Aku ikut menangis.
“Makanya aku terus menyakiti kamu.”
Ia memegang kedua tanganku.
“Kalau kamu mau pergi setelah melahirkan, aku nggak akan melarang.”
Aku tersenyum pahit.
“Itu memang rencananya.”
“Tapi kalau kamu ingin tetap dekat sama anakmu…”
Aku mengangkat kepala.
“…aku akan cari jalan.”
Aku tidak menyangka akan mendengar kalimat itu darinya.
Beberapa bulan kemudian, aku melahirkan seorang bayi laki-laki dengan selamat.
Tangis pertamanya memenuhi ruang bersalin.
Aku memeluknya sambil menangis.
Mas Arsya berdiri di sampingku.
Air matanya jatuh tanpa malu.
Mbak Wulan juga menangis.
Ia mendekat perlahan.
“Boleh aku gendong?”
Aku mengangguk.
Saat melihat Mbak Wulan menggendong bayiku, anehnya hatiku tidak lagi dipenuhi kebencian.
Aku melihat seorang perempuan yang akhirnya menjadi ibu setelah bertahun-tahun menunggu.
Seminggu kemudian, sebelum aku meninggalkan rumah itu, Mas Arsya menyerahkan sebuah map.
“Apa ini?”
“Buka saja.”
Di dalamnya bukan surat pembayaran terakhir.
Melainkan sertifikat rumah kecil atas namaku, rekening tabungan, dan surat pendirian toko sembako untuk kedua orang tuaku.
“Aku nggak bisa membayar pengorbananmu,” katanya pelan.
“Tapi setidaknya keluargamu nggak perlu hidup susah lagi.”
Aku menangis.
“Tapi… anakku?”
Mbak Wulan melangkah mendekat sambil menggendong bayi itu.
Ia tersenyum.
“Mulai hari ini dia punya dua ibu.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Setiap akhir pekan kamu boleh datang. Saat dia besar nanti, kami akan mengatakan siapa ibu yang melahirkannya.”
Aku menutup wajahku sambil menangis.
Ternyata cinta bukan selalu tentang memiliki.
Kadang cinta adalah keberanian untuk mengakui kesalahan, memaafkan, dan memberikan tempat yang layak bagi orang lain di dalam hidup kita.
Saat aku melangkah keluar dari rumah itu, aku menoleh sekali lagi.
Di ambang pintu berdiri Mas Arsya, Mbak Wulan, dan putra kecil kami.
Aku tidak lagi merasa kehilangan.
Karena untuk pertama kalinya, tidak ada seorang pun yang merebut peranku sebagai seorang ibu. Bayiku memang akan dibesarkan oleh dua tangan yang berbeda, tetapi ia akan tumbuh dengan satu hal yang tidak pernah kurang sejak hari pertama ia dilahirkan, yaitu cinta.
