Aku melanjutkan makan malamku dengan kegugupan luar biasa. Mas Arsya tampak seperti pria yang baik. Setelah makan, kami berdua mencuci piring dan gelas kotor bersama.

Aku tidak sanggup mengangkat wajahku. Kata-kata Wulan menusuk jauh lebih dalam daripada yang ingin kuakui. Selama seminggu terakhir aku benar-benar percaya bahwa semua yang terjadi adalah pengorbanan seorang istri yang mencintai suaminya, seseorang yang rela berbagi demi menghadirkan seorang anak ke dalam keluarga mereka. Namun pagi itu aku sadar, di matanya aku tidak lebih dari seorang perempuan miskin yang disewa untuk menjalankan tugas.

“Aku paham, Mbak,” jawabku lirih.

“Bagus.”

Wulan tersenyum tipis, lalu berbalik menuju ruang makan seolah pembicaraan kami hanyalah sesuatu yang biasa.

Aku berdiri mematung beberapa saat. Dadaku sesak. Rasanya ingin menangis, tetapi aku menahannya. Aku tidak boleh lupa siapa diriku. Sejak awal aku memang datang ke rumah ini karena membutuhkan uang untuk biaya pengobatan ibuku dan sekolah adikku.

Saat aku kembali ke kamar, Mas Arsya baru selesai mandi.

“Kamu kenapa?” tanyanya begitu melihat mataku yang memerah.

“Nggak apa-apa.”

“Kamu habis nangis?”

Aku buru-buru menggeleng.

Ia menghampiriku, lalu mengusap pelan sudut mataku.

“Wulan ngomong apa?”

Aku terkejut. “Mas tahu?”

“Wajahmu selalu jujur.”

Aku menarik napas panjang.

“Mbak cuma mengingatkan kalau aku ada di sini buat… menjalankan perjanjian.”

Mas Arsya terdiam cukup lama.

“Aku minta maaf.”

Aku mengangkat kepala.

“Kenapa Mas yang minta maaf?”

“Karena semua ini terjadi akibat keputusan kami.”

Aku memaksakan senyum.

“Nggak apa-apa. Aku tahu dari awal.”

Namun, entah mengapa, setelah percakapan itu, hubungan kami berubah. Mas Arsya menjadi lebih pendiam. Ia tidak lagi sering memelukku atau menggodaku seperti beberapa hari sebelumnya. Sebaliknya, Wulan justru tampak semakin ramah di depan suaminya.

Di depan Arsya, ia memanggilku dengan lembut.

“Lita, nanti bantu Mbak bikin jus, ya.”

“Iya, Mbak.”

Namun setiap kali hanya ada kami berdua, tatapannya kembali dingin.

Suatu malam aku mendengar mereka bertengkar.

“Aku nggak nyaman lagi sama semua ini, Wulan.”

“Itu salah kamu sendiri.”

“Aku mulai menyakitinya.”

“Dia dibayar.”

“Aku nggak pernah menganggap dia barang.”

Aku buru-buru menjauh dari depan pintu. Jantungku berdegup kencang.

Hari-hari berikutnya menjadi semakin canggung. Aku memilih lebih banyak berada di dapur atau taman belakang.

Suatu siang, ketika sedang menyiram bunga, seorang perempuan tua datang bersama seorang sopir.

“Lho… siapa kamu?”

Aku menoleh.

“Saya Lita, Bu.”

Perempuan itu menatapku dari atas sampai bawah.

“Kamu yang dinikahkan sama Arsya?”

Aku mengangguk pelan.

“Ternyata masih muda.”

Belum sempat aku menjawab, Wulan keluar dari rumah.

“Mama.”

Mereka berpelukan.

Barulah aku tahu perempuan itu adalah ibu Mas Arsya.

Beliau memandangku cukup lama sebelum akhirnya berkata, “Masuk.”

Di ruang tamu suasananya terasa tegang.

“Kamu ikhlas?”

Pertanyaan itu membuatku bingung.

“Saya…”

“Wulan bilang kamu setuju.”

Aku mengangguk.

“Iya, Bu.”

Beliau menghela napas.

“Kalau suatu hari nanti hati kamu terluka, jangan salahkan Arsya sepenuhnya. Anak saya tidak pernah menginginkan pernikahan ini.”

Aku menoleh kepada Arsya yang sejak tadi diam.

Ia sama sekali tidak membantah.

Malam itu aku sulit tidur.

Apakah benar selama ini Arsya hanya menjalankan kewajiban?

Lalu semua perhatian, pelukan, dan tatapan hangat itu apa artinya?

Aku berusaha melupakan pertanyaan-pertanyaan itu.

Sebulan berlalu.

Tubuhku mulai terasa mudah lelah. Aku juga sering mual setiap pagi.

Wulan justru terlihat sangat bahagia.

“Besok kita ke rumah sakit.”

Aku mengangguk.

Hasil pemeriksaan membuat seluruh ruangan hening.

“Selamat, Bu. Kehamilannya sudah lima minggu.”

Aku spontan menutup mulutku.

Aku hamil.

Air mata langsung mengalir tanpa bisa kutahan.

Wulan menggenggam tanganku.

“Terima kasih, Lita.”

Kalimat itu terdengar hangat, tetapi entah kenapa tidak sampai ke hatiku.

Sesampainya di rumah, ia langsung menyiapkan kamar lain untukku.

“Mulai malam ini kamu tidur sendiri.”

Aku mengangguk.

Mas Arsya hendak mengatakan sesuatu, tetapi Wulan lebih dulu memotong.

“Perjanjian kita selesai.”

Aku melihat Arsya mengepalkan tangannya.

“Lita masih butuh pendamping.”

“Aku bisa mengurusnya.”

“Dia lagi hamil.”

“Aku juga perempuan.”

Malam itu Arsya tidak datang ke kamarku.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku benar-benar merasa sendirian.

Hari-hari berikutnya Wulan berubah drastis.

Ia membawaku ke dokter, membeli vitamin, bahkan menyiapkan makanan bergizi.

Namun semua perhatian itu terasa seperti perhatian seseorang kepada sebuah kandungan, bukan kepada ibunya.

Yang selalu ia tanyakan hanyalah satu.

“Bayinya sehat?”

Tidak pernah sekalipun ia bertanya bagaimana perasaanku.

Sementara itu, Arsya mulai sering pulang larut.

Aku pernah melihatnya duduk sendirian di taman belakang.

“Kamu belum tidur?” tanyaku.

Ia tersenyum lelah.

“Belum.”

Kami duduk berdampingan.

“Lita.”

“Iya.”

“Kalau suatu saat nanti kamu bebas… kamu mau hidup seperti apa?”

Aku tersenyum kecil.

“Aku cuma pengin ibu sembuh, adikku lulus kuliah, terus buka warung makan kecil.”

“Sesederhana itu?”

“Iya.”

Ia tertawa pelan.

“Lita.”

“Hm?”

“Maaf.”

Aku tidak menjawab.

Aku tahu kata maaf itu menyimpan banyak hal yang tidak sanggup ia ucapkan.

Memasuki bulan ketiga kehamilan, aku mulai merasakan gerakan kecil di dalam perutku.

Aku sering mengusapnya diam-diam.

“Nak…”

Air mataku selalu jatuh setiap kali berbicara sendiri.

Aku tahu bayi ini nanti bukan milikku.

Perjanjian yang kutandatangani menyebutkan dengan jelas bahwa setelah lahir, hak asuh sepenuhnya berada di tangan Wulan dan Arsya.

Aku hanyalah ibu biologis.

Tidak lebih.

Suatu sore aku tanpa sengaja mendengar percakapan dua pembantu lama keluarga itu.

“Kasihan Bu Lita.”

“Iya. Padahal Pak Arsya sekarang malah lebih perhatian sama dia.”

“Bu Wulan juga sebenarnya tahu.”

“Tapi dia nggak bisa punya anak.”

“Katanya bukan cuma itu.”

“Maksudmu?”

“Dokter pernah bilang rahim Bu Wulan sehat.”

“Lalu?”

“Yang bermasalah justru…”

Mereka langsung diam ketika melihatku.

Hatiku berdegup kencang.

Malam itu aku diam-diam membuka laci meja kerja Arsya untuk mencari buku kehamilan yang pernah ia simpan.

Namun yang kutemukan justru sebuah map rumah sakit.

Aku tidak berniat membacanya.

Benar-benar tidak.

Tetapi sebuah kalimat membuatku membeku.

Infertilitas berat pada pihak pria.

Peluang memiliki keturunan secara alami sangat kecil.

Aku membaca nama pasiennya.

Arsya Pradana.

Tanganku gemetar.

Kalau begitu…

Aku membuka halaman berikutnya.

Di sana tertulis hasil program bayi tabung menggunakan donor.

Aku terduduk lemas.

Pikiranku kosong.

Kalau Arsya tidak mungkin memberikan keturunan secara alami…

Lalu…

Bayi yang sedang kukandung ini…

Berasal dari siapa?

Pintu ruang kerja tiba-tiba terbuka.

Arsya berdiri di sana.

Wajahnya langsung pucat melihat map yang ada di tanganku.

“Lita…”

Suaranya bergetar.

Aku perlahan mengangkat kepala.

“Mas…”

Air mataku jatuh tanpa suara.

“Kalau ini benar…”

Aku menggenggam map itu erat-erat.

“…siapa sebenarnya ayah dari anak yang sedang aku kandung?”

Ruangan itu mendadak sunyi.

Arsya tidak langsung menjawab.

Di belakangnya, Wulan berdiri dengan wajah yang sama pucatnya.

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenal mereka, tidak ada lagi kebohongan yang bisa mereka sembunyikan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang